
Audy duduk di bawah pohon sambil menekuk kakinya. Wanita itu memandang ke depan dengan tatapan kosong. Kini mereka sudah tiba di tempat yang diinginkan oleh Audy. Akan tetapi Xander melihat kalau wanita itu tidak bahagia. Bahkan saat pertama kali turun dari mobil Audy meminta Xander untuk tidak mengikutinya.
"Tuan, hutan ini sangat jauh dari kota. Anda yakin tempat ini aman?" tanya pria itu sembari mengawasi keadaan sekitar.
"Sepertinya ini tempat untuk menenangkan diri. Bukan tempat bersembunyi. Pergilah. Cari sesuatu yang bisa kita makan. Jangan lupa cari baju ganti. Kita tidak tahu sampai kapan ada di sini." Xander memandang gubuk sederhana yang ada di depannya. "Hati-hati dan pastikan tidak ada satu orangpun yang mengikutimu," perintah Xander.
Pengawal pribadi Xander menunduk hormat. "Saya akan segera kembali, Tuan. Jika anda dalam bahaya, segera hubungi saya."
"Kau tenang saja." Xander memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sebelum memandang ke arah Audy. Sedangkan pengawal pribadi Xander segera pergi dari sana.
Audy menghapus air mata yang tiba-tiba menetes. Melihat wajah Audy yang sedih seperti itu membuat Xander tidak tega. Secara perlahan dia berjalan mendekati posisi Audy berada saat ini.
Audy melirik Xander sebelum memalingkan wajahnya. "Aku sudah bilang, biarkan aku sendiri."
"Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini. Jika sejak awal kau sudah memutuskan untuk menyelesaikan masalahmu sendiri, untuk apa melibatkanku?"
Audy kehabisan kata-kata mendengar ucapan Xander. "Maafkan aku karena harus menyusahkanmu lagi."
"Aku sudah terbiasa." Xander duduk di samping Audy. Kini mereka berdua sama-sama memandang ke depan. Lebih tepatnya hutan belantara yang terlihat menakutkan. Bisa saja dibalik semak itu ada binatang buas yang bersembunyi.
"Apa kau sibuk?"
"Tidak." Xander memandang ke arah Audy lagi. "Kau sudah bertunangan?" Sebenarnya dia ragu untuk menanyakan kalimat seperti itu. Akan tetapi dia harus mengetahui status Audy sekarang.
"Sudah," dusta Audy. Dia masih belum mau menceritakan masalah yang sebenarnya.
Xander mengangguk. "Pria itu pasti mencarimu sekarang. Tunangannya yang hilang. Belum lagi kakakmu yang ketua Cosa Nostra itu. Semua orang yang ada di Roma pasti sedang sibuk mencarimu," ucap Xander.
"Itu tidak mungkin." Audy menatap wajah Xander. Kedua matanya masih berkaca-kaca. "Seseorang muncul dan mengatakan kalau aku bukan adik kandungnya. Dia kakak tiriku. Aku sama sekali tidak percaya kalau ternyata ibuku selingkuhan Daddy. Dan parahnya wanita yang selama ini aku panggil mommy juga tidak mengetahuinya. Seseorang menukarkanku dengan Audy yang asli." Audy tersenyum pahit. "Seharusnya itu bukan namaku."
Xander kaget mendengar cerita Audy. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Audy bisa mengalami masalah seberat ini.
"Tapi kau tidak sendirian. Ada aku di sini." Xander memegang pundak Audy dan menariknya. Pria itu memeluk Audy dengan hati-hati sambil mengusap rambutnya. "Bukan kau yang salah Audy. Kau tidak perlu menangis dan menyesali takdir yang sudah terjadi."
"Kak Leonzio terlihat kecewa. Dia bahkan tidak peduli ketika aku pergi," ucap Audy lagi.
"Kenapa kau berlari seperti ada seseorang yang mengejarmu?" tanya Xander dengan ekspresi wajah yang serius.
Audy baru saja sadar kalau ada sesuatu yang masih ia tutupi dari Xander. Wanita itu mengepal kuat tangannya. "Aku hanya tidak mau ada yang melihatku," jawab Audy pelan.
Xander mengangguk. Dia menepuk pundaknya. "Kemarilah. Aku bisa menjadi tempatmu bersandar, Audy. Keluarkan semua kekesalanmu. Dengan begitu kau akan merasa lega."
Audy menjatuhkan kepalanya di pundak Xander. "Terima kasih. Terima kasih banyak."
Satu hari sebelumnya ....
__ADS_1
Pesta pertunangan itu terlihat sangat mewah dan megah. Bagaimana tidak. Seorang pria bernama Aldo yang akan bertunangan dengan Audy merupakan pria kaya yang sangat disegani. Dilihat dari tamu undangan yang hadir juga kebanyakan berasal dari kalangan bangsawan.
Dari arah tangga terlihat Audy yang baru saja turun. Gaun putih yang ia kenakan membuatnya terlihat anggun. Bukan hanya calon suami Audy saja yang kagum. Bahkan semua tamu undangan yang hadir memuji kecantikan Audy pagi itu.
"Nona, jangan membuat masalah lagi. Kasihan Tuan Leonzio," bisik pelayan wanita yang kini mendampingi Audy. Audy hanya diam saja. Dia memandang ke arah Aldo yang sudah menantinya di depan tangga.
Ketika Audy sudah tiba di bawah, Aldo mengulurkan tangannya dan langsung mendapat sambutan manis dari Audy. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke tempat bertukarnya cincin.
Dari kursi para tamu, terlihat Leonzio yang kini bisa bernapas lega karena sampai acara pertunangan tiba adiknya tidak melakukan kesalahan lagi. Pria itu bersulang dengan beberapa rekannya untuk merayakan hari bahagia ini. Rasanya dia sudah bisa membayangkan bagaimana kebebasan yang akan dia dapatkan setelah Audy menikah nanti.
Audy berdiri menghadap ke arah Aldo. Serangkaian acara sudah dilewati dan kini waktunya untuk bertukar cincin. Audy tertegun memandang wajah Aldo yang nyatanya berubah menjadi wajah Xander. Rasanya sulit sekali bagi Audy untuk melupakan wajah cinta pertamanya.
"Audy, aku mencintaimu," ucap Aldo mesra. Dia memang pria yang sangat ditakuti. Tapi di depan Audy dia selalu menunjukkan sifatnya yang lembut dan pengertian. Aldo mengambil tangan Audy ketika kotak cincin sudah dibuka. Saat Aldo ingin menyematkan cincin itu, tiba-tiba Audy menarik tangannya dan membuat cincin itu terjatuh.
Semua tamu undangan kaget. Termasuk Leonzio. Berbeda dengan Aldo yang justru tersenyum melihatnya seolah tidak ada masalah di sana.
"Kau masih belum siap bertunangan denganku?" tanya Aldo. Pria itu menatap Audy dengan tatapan penuh cinta. Tidak ada sedikitpun amarah di sana.
"Maafkan aku." Audy menunduk.
Di detik itu juga seorang wanita tua muncul untuk menghancurkan acara pertunangan tersebut. Dia membawa banyak bukti untuk membuat Leonzio percaya dengan semua yang ia katakan.
Aldo awalnya ingin mengusir wanita tua itu. Akan tetapi Leonzio mencegahnya. Aib keluarga Cosa Nostra dibongkar di depan semua orang.
Audy tidak bisa menahan air matanya. Dia turun dan berjalan mendekati Leonzio. Wanita itu ingin memegang tangan Leonzio. Akan tetapi Leonzio justru menepis tangan Audy dan mendorongnya sampai Audy hampir terjatuh.
"Tapi kalau bukan karena wanita ini, aku tidak akan berpisah dengan adik kandungku yang asli!" ketus Leonzio. Pria itu menatap jijik ke arah Audy sebelum pergi.
"Kakak!" teriak Audy dengan derai air mata.
"Stop, Audy. Jangan mengejarnya!" cegah Aldo. Akan tetapi Audy tetap mengejar Leonzio untuk memperbaiki hubungan di antara mereka.
Acara pertunangan itu gagal total. Wanita tua yang tadi membawa informasi dalam perlindungan anak buah Leonzio. Aldo sendiri sebenarnya ingin membunuhnya. Tetapi itu sangat sulit.
Malam harinya keadaan masih memanas. Leonzio memerintahkan semua orang untuk menyelidiki kasus yang sudah cukup lama terjadi itu.
Audy lagi-lagi muncul berharap bisa bicara baik-baik dengan Leonzio. Akan tetapi pria itu masih sama seperti tadi siang. Dia bahkan tega mengusir Audy dari mansion mewah yang sejak bayi ditempati oleh Audy.
Audy pergi saat hujan turun dengan deras. Dia terus saja menyalahkan takdir. Aldo berhasil menemui Audy dan membawanya ke kediamannya. Pria itu lagi-lagi memperlakukan Audy dengan baik. Dia seperti tidak peduli dengan masa lalu Audy seperti apa.
Sayangnya wajah Xander muncul dimana-mana hingga membuat Audy sulit untuk membuka hatinya. Dia tidak bisa mencintai Aldo. Dia juga tidak mau menyakiti Aldo.
Pagi harinya saat Aldo pergi Audy memanfaatkan kesempatan itu sampai akhirnya bertemu dengan Xander.
...***...
__ADS_1
"Audy, kau baik-baik saja?"
Pertanyaan Xander memecah lamunan Audy. Wanita itu mengangguk lalu tersenyum. "Sebaiknya kau pergi saja dari sini. Jika memang ada urusan bisnis, cepat selesaikan dan pergilah."
"Kau mengusirku?" tanya Xander dengan satu alis di angkat.
"Aku tahu Aldo pria yang baik. Tapi, aku tidak yakin dia tetap bersikap baik ketika tahu kalau kau adalah pria yang sudah tersemat di dalam hatiku," batin Audy.
Xander memalingkan wajahnya ketika Audy terus memandangnya. "Bagaimana kalau kita pergi dari kota ini? Kita bisa melakukan banyak hal."
Audy tidak setuju. Dia tidak mau menyusahkan hidup Xander lagi. Apa lagi sekarang posisinya musuh Audy kakak tirinya sendiri. Seseorang yang sangat berkuasa di Roma.
"Jangan. Lebih baik kita tidak pernah bertemu lagi," ucap Audy pada akhirnya.
Xander kaget mendengarnya. Pria itu menatap wajah Audy dengan serius. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Audy akan mengatakan kalimat seperti itu. Hati Xander sangat sakit ketika mendengarnya.
Audy memegang pipi Xander dan meneteskan air matanya. Dengan beraninya wanita mencium Xander lebih dulu. Mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan.
Xander membalas ciuman Audy. Pria itu juga sudah tergila-gila dengan Audy. Rasanya sentuhan seperti ini membuatnya semakin gila.
"Pergilah. Aku bisa menyelesaikan masalahku!" Audy mendorong tubuh Xander. Wanita itu lalu berdiri. Ketika ingin pergi Xander cepat-cepat memegang tangan Audy. Menahannya agar tidak pergi kemanapun.
"Aku akan selalu ada di sisimu Audy. Aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja," ucap Xander dengan ekspresi yang serius.
"Kenapa? Kenapa kau tidak katakan kalimat seperti ini kemarin? Saat aku mengajakmu menikah? Sekarang keadaannya sudah tidak sama," jawab Audy.
"Masih sama," ujar Xander penuh keyakinan.
"Jika saja waktu itu kita menikah, maka aku tidak perlu bertemu dengan Aldo. Xander, kau tidak tahu seperti apa keadaanku sekarang." Audy mendorong tubuh Xander lagi. "Pergilah. Aku tidak mau kau celaka."
"Audy, apa kau tidak mau menikah denganku? Ayo, aku akan membawamu pulang dan kita akan menikah di sana," ucap Xander pada akhirnya.
"Nggak, Xander! Nggak!" teriak Audy. Suara wanita itu mulai serak. "Semua sudah terlambat. Keluargamu akan mendapat masalah besar. Tidak! Aku tidak mau sampai hal itu terjadi!"
"Audy, kau tidak perlu khawatir. Aku siap menghadapi siapapun asal kau ada di sisiku!" Xander kini posisinya membujuk Audy.
Audy menggeleng. Dia memandang ke arah jalan. Beberapa mobil hitam muncul di sana. Audy segera melangkah mundur untuk memberi jarak dengan Xander.
Aldo turun dari salah satu mobil yang berhenti. Pria itu melepas kaca mata hitamnya lalu berjalan ke arah Audy.
Audy tahu kalau Aldo pasti bisa menemukan keberadaannya saat ini. Wanita itu melirik ke arah Xander. Dia berharap Xander tidak melakukan kesalahan saat ini.
"Siapa dia?" tanya Aldo dengan ekspresi dinginnya.
"Anda tunangan Audy?" tanya Xander untuk kembali memastikan.
__ADS_1
Aldo mengangguk. "Lalu, siapa anda?"
Xander mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. "Saya Xander. Saya calon suami Audy!"