
Seperti di sambar petir di siang bolong. Dimitri masih tidak menyangka kalau semudah itu Quinn mengatakan kalimat semenyakitkan itu. Apa yang dia lakukan sudah cukup benar. Bahkan Luca sendiri setuju dengan keputusan yang di ambil oleh Dimitri. Tetapi tidak dengan Quinn. Kekasihnya itu justru mengancam Dimitri dengan ancaman yang begitu menyakitkan.
"Setidakberarti itulah aku dimataku Quinn? Sampai-sampai kau lebih membela orang yang mencelakaimu daripada aku kekasihmu?"
Quinn memalingkan wajahnya. Sebenarnya dia tidak tega mengatakan kalimat sekejam itu. Bahkan bisa dibilang detik ini juga Quinn menyesal karena sudah mengucapkannya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Quinn tidak mau meminta maaf secepat itu.
"Oke, jika itu keputusanmu. Quinn, kau harus tahu kalau aku tidak akan membebaskan wanita itu. Bahkan mungkin aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Terserah kau mau berkata apa. Aku ini memang pria kejam. Bahkan lebih kejam dari yang kau tahu!" Dimitri yang juga sudah di sulut api emosi segera beranjak dari kursi. Sepertinya keinginan untuk membujuk Quinn sudah sirna.
Di saat Dimitri hampir tiba di depan pintu, pintu itu justru terbuka lebar. Luca dan Tiffany muncul di sana. Tiffany memandang wajah Dimitri sejenak sebelum menghampiri Quinn. Wanita itu sama sekali tidak sadar jika ada masalah di sana. Berbeda dengan tatapan Luca. Tatapan menyelidik pria itu berhasil membuat Dimitri memalingkan wajah emosinya.
"Maaf, Tuan. Saya harus pergi," ucap Dimitri dengan penuh kesopanan.
"Ada yang ingin saya bicarakan denganmu Dimitri." Luca melirik Tiffany pertanda dia pamit sebentar. Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan ruangan tempat Quinn di rawat.
Setelah pintu tertutup rapat, Quinn meneteskan air mata. Hal itu membuat Tiffany bingung.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?" Tiffany segera memeluk putrinya berusaha untuk menenangkannya.
"Mom, aku salah. Dia pasti marah padaku." Quinn menangis semakin pilu hingga membuat Tiffany panik minta ampun.
"Sayang, cepat ceritakan sama Mommy. Apa ini berhubungan dengan Dimitri?" Tiffany memegang kedua pipi putrinya lalu menatapnya dengan serius.
__ADS_1
Quinn mengangguk. "Aku terlalu emosi. Aku juga gak tahu kenapa aku seemosi itu tadi Mom. Sekarang dia pergi tanpa mau bicara lagi."
"Apa yang terjadi sayang?" Tiffany duduk lalu memegang tangan putrinya. Dia berusaha membujuk Quinn agar bisa kembali tenang. Segelas air di atas nakas dia ambil lalu dia berikan kepada Quinn.
"Minumlah. Tenangkan pikiranmu sebelum cerita sama Mommy."
"Mom, aku ... Aku." Quinn masih belum tenang. Napasnya tersengal. Dia menangis sampai senggugukan. "Aku mau mengejar Dimitri Mom."
"No, sayang. Dokter Fei melarangmu banyak bergerak. Itu hanya akan mempercepat racun di dalam tubuhmu. Biarkan obat yang diberi Dokter Fei bekerja."
"Sejahat itu racun di tubuhku sampai aku tidak boleh bergerak sedikitpun?" tanya Quinn tidak percaya.
"Bahkan lebih buruk sayang. Mommy dan Daddy tidak bisa mengatakan yang sebenarnya terjadi. Sebaiknya kau juga jangan memaksa kami untuk mengatakannya." Tiffany menyelipkan rambut Quinn di balik telinga. "Kalian bertengkar ya? Mommy pikir itu biasa. Kau tidak perlu membesarkannya."
"Sayang, itu keputusan yang terlalu gegabah. Dan untuk apa kau membela Sherly. Dia sangat jahat. Kau tidak perlu menganggap dia sebagai sahabat lagi. Dimitri mengambil keputusan yang tepat. Dia sangat menyayangimu sampai-sampai melakukan semua ini." Kali ini Tiffany justru ada di pihak Dimitri meskipun belum 100% memberi restu sebagai menantu.
"Mom, aku masih tidak menyangka kalau Sherly sejahat itu padaku. Selama ini kami berdua menjalani kehidupan yang sangat alami. Seperti tidak ada kebohongan di sana. Susah senang bersama. Kenapa Sherly setega itu? Bagaimana kalau dia di ancam Mom? Bagaimana kalau Sherly Mela semua ini karena memikirkan nyawanya sendiri?" ucap Quinn dengan nada yang pelan. Meskipun dia kecewa tapi tetap saja dia berusaha berpikir positif.
"Perbuatan Sherly tidak bisa dimaafkan sayang. Kau jangan egois. Dia harus di hukum!" Tiffany tetap setuju dengan keputusan Dimitri. "Jika dia sudah merencanakan semua ini selama bertahun-tahun, itu berarti selama bertahun-tahun ini sikapnya palsu. Kau harus kuat. Kau harus terima. Dan lupakan persahabatan ini."
Tiffany berbicara dengan begitu tegas. Quinn sendiri memilih diam. Dia menatap ke jendela dengan tatapan kosong. "Sudah waktunya minum obat. Kau harus sarapan Quinn. Tadi di rumah mommy sempat memasak makanan kesukaanmu. Kita makan ya. Soal Dimitri, pikirkan nanti. Mommy yakin dia tidak akan marah padamu. Karena pria yang benar-benar mencintai kita tidak akan semudah itu meninggalkan kita."
__ADS_1
"Nanti bantuin Quinn untuk minta maaf sama Dimitri Mom," pinta Quinn dengan wajah sedih.
"Ya, sayang. Sekarang makan dulu ya."
Di sisi lain, Dimitri dan Luca sudah berada di lantai atas rumah sakit. Mereka berdiri menghadap ke depan. Menatap cahaya matahari yang kini terasa menghangatkan tubuh.
"Maafkan saya, Tuan. Saya telah gagal menjaga Quinn." Dimitri membuka obrolan diantara mereka.
"Apa kalian bertengkar? Tapi saya pikir sebagai seorang ketua mafia, kau tidak akan menyerah semudah itu."
Dimitri menyunggingkan senyuman tipis. "Jelas saja. Saya tidak akan melepaskan Quinn begitu saja. Saya pergi karena tidak mau menyakitinya lebih jauh. Bagaimanapun juga, Sherly jauh lebih lama kenal dengan Quinn daripada aku. Mungkin persahabatan diantara mereka begitu kuat sampai Quinn bicara seperti itu."
"Quinn sudah tahu kalau Sherly dalang dari semua ini?" Luca menatap wajah Dimitri.
"Ya, Tuan. Dia membelanya dan meminta saya untuk membebaskannya."
"Quinn memang anak yang keras kepala. Kau harus bisa menerima kekurangannya. Jika kau tidak siap, sebaiknya mundur saja dari sekarang." Dimitri memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Quinn memiliki watak yang begitu keras karena aku dan istriku seperti itu. Jadi untuk menghadapi Quinn kita tidak perlu berdebat dengannya. Langkah yang kau ambil ini sudah cukup benar. Aku tahu sekarang di dalam sana dia pasti sedang menangis sambil memeluk ibunya. Dia itu anak yang cengeng jika sudah menyangkut soal hati."
Dimitri semakin menyesal karena sudah membuat Quinn sedih. Ini juga pertama kalinya ia mencintai seorang wanita. Pria itu tidak tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita. Dia butuh banyak belajar dari Luca yang tidak lama lagi akan menjadi mertuanya.
"Tuan, saya hampir lupa memberi tahu anda sebuah informasi. Orang yang berniat mencelakai Quinn juga bersekongkol dengan orang yang ada di perusahaan anda. Namanya Neo."
__ADS_1
"Tuan Neo kau bilang?"