
"Hai, Quinn. Apa yang sedang kau lakukan?" sapa Xander ketika dia sudah ada di dalam ruangan tempat Quinn dirawat. Quinn yang terlihat asik dengan layar laptopnya memutuskan untuk menghentikan kegiatannya. Wanita itu menutup laptopnya lalu mengukir senyuman di depan Xander.
"Hanya bermain sosial media saja. Aku jenuh karena terlalu lama berada di rumah sakit. Tempat ini sangat-sangat membosankan. Aku rindu pekerjaan dan semua rutinitas harianku," jawab Quinn apa adanya.
"Kau memiliki akun sosial media?"
Quinn menggeleng. "Tanpa harus memiliki akun aku bisa melakukan segalanya. Bagaimana denganmu? Apakah kau suka bermain sosial media?" tanya Quinn ingin tahu. Wanita itu melirik ke arah Xander sejenak sebelum mengalihkan pandangannya.
"Waktuku yang berharga akan aku manfaatkan untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Aku tidak pernah memiliki waktu untuk memainkan ponselku hanya untuk hal-hal yang tidak penting," jawabnya mantap.
"Rata-rata pemikiran pembisnis seperti itu. Daddy juga melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Oh iya di mana Tante Viana? Apa dia tidak ikut ke rumah sakit?"
"Mama dan Papa pergi ke luar kota. Mereka harus menghadiri pesta pernikahan anak dari salah satu rekan bisnis papa. Apa aku boleh duduk di kursi ini?" Xander menunjuk kursi yang letaknya sangat dekat dengan tempat tidur Quinn.
"Tentu saja. Siapapun bisa duduk di sana tanpa izin."
"Terima kasih." Tanpa menunggu lama Xander segera duduk di kursi itu dan memandang wajah Quinn yang kini jaraknya sangat dekat dengannya.
"Xander, bukankah kau sudah cukup lama berteman dengan Dimitri. Menurutmu dia seperti apa?"
Xander mengernyitkan dahinya karena bingung. "Seperti apa? Apa yang ingin kau ketahui tentang Dimitri?"
"Apa saja. Selama beberapa hari ini aku tidak tenang karena memikirkannya. Selain aku apa ada wanita lain juga yang sedang mengkhawatirkannya?"
Xander tertawa geli mendengar pertanyaan Quinn. "Kau cemburu?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin tahu apa hanya aku satu-satunya wanita yang ada di hatinya atau ada wanita lain. Tapi sebagai sahabat kau pasti akan menutupi keburukannya." Quinn memajukan bibirnya dan menunduk.
"Kau salah Quinn. Sebagai sahabat justru aku akan menceritakan keburukan Dimitri di depanmu agar kau tidak menyukainya lagi. Bukankah aku dan Dimitri adalah saingan?" Xander memandang ke arah lain. Rasanya dia senang sekali bisa mengobrol santai seperti ini bersama Quinn.
__ADS_1
"Kau ini!" Quinn menyipitkan kedua matanya menatap wajah Xander hingga membuat Xander kembali tertawa geli.
"Dimitri bukan pria yang mudah membuka hatinya untuk seorang wanita. Dia lebih tertarik untuk menghabiskan seluruh waktu yang ia miliki untuk bermain dengan geng mafia miliknya. Bahkan urusan perusahaan saja sering diserahkan kepadaku. Sejauh ini hanya kau wanita yang paling dikejar-kejar olehnya. Sisanya justru wanita itu yang mengejar-ngejar Dimitri dan mengemis cintanya. Itulah yang membuatku sangat frustasi. Jika saja sainganku bukan Dimitri, mungkin aku akan berjuang mendapatkan hatimu sampai titik darah penghabisan."
Quinn diam sejenak. Banyak sedikitnya dia percaya dengan apa yang dikatakan Xander. "Aku sangat tersanjung mendengar ceritamu ini. Kami menjadi dekat ketika kami berdua sama-sama ada di pulau. Oh iya apakah kau tahu tentang pulau yang selama ini sering dikunjungi oleh Dimitri?"
"Pulau? Apa maksudmu sebuah pulau pribadi untuk liburan?"
"Bukan. Di Pulau itu ada penduduk desa yang selama ini dibantu oleh Dimitri. Mereka semua sangat menyayangi dan menghormati Dimitri karena berkat bantuan Dimitri mereka bisa hidup layaknya orang kota. Dimitri juga dipandang sebagai seorang pahlawan karena selama ini Dimitri telah melindungi mereka dari para penjahat yang ingin merebut Pulau mereka."
"Soal itu aku sama sekali tidak tahu. Dimitri tidak pernah cerita soal pulau. Tapi aku tahu kalau dia pernah mengambil beberapa bahan pembuat senjata dan bahan peledak di suatu tempat. Tapi aku tidak terlalu banyak tanya soal itu."
"Lalu bagaimana dengan dokter Fei? Bukankah kalian bertiga juga bersahabat? Kalian bertiga memiliki karakter yang berbeda kenapa bisa sampai berteman sedekat Itu?"
"Ceritanya cukup panjang. Intinya Kami bertiga saling membutuhkan hingga akhirnya Kami bertiga dekat. Quinn, sekarang sudah waktunya kau untuk minum obat. Apa mau aku bantu?"
Quinn memandang ke arah pintu. Dia mulai merasa gelisah ketika ibu kandungnya tidak kunjung kembali. Padahal seharusnya wanita paruh baya itu sudah ada di ruangan ini sambil membawa makanan yang dipesan oleh Quinn.
"Aku memikirkan mommy. Bukankah seharusnya mommy sudah tiba di sini. Tapi kenapa sekarang mommy tidak juga muncul."
"Mungkin tante Tiffany ke toilet. Aku bisa membantumu untuk minum obat."
Quinn mengangguk setuju. Xander segera mengambil obat di atas nakas dan segelas air putih. "Quinn, Ini obatnya."
Quinn segera menerima buliran obat yang diberikan oleh Xander lalu meneguknya. Setelah itu dia mengambil laptopnya untuk mengetahui keberadaan ibu kandungnya saat ini. Xander yang tidak mengerti memilih duduk diam sambil memperhatikan layar laptop Quinn.
"Aneh," ucap Quinn dengan wajah khawatir.
"Apanya yang aneh Quinn?"
__ADS_1
"Aku menghitung waktu di mana mommy keluar dari kamar ini lalu memeriksa beberapa CCTV yang seharusnya dilalui oleh mommy. Tetapi di sini tidak terlihat mommy. Jika seperti ini bagaimana caranya aku mengetahui keberadaan mommy."
"Apa bisa seperti itu?" tanya Xander tidak percaya. Pria itu sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya Quinn ahli dalam teknologi.
"Gawat! Sepertinya seseorang telah mengirimkan virus ke laptopku hingga Aku gagal untuk mengetahui keberadaan mommy." Quinn cepat-cepat menutup layar laptopnya ketika dia sadar kalau usahanya sia-sia. "Xander, cepat keluar dan temui mommy. Sekarang mommy dalam bahaya."
Xander segera beranjak dari kursi yang ia duduki. Jelas saja pria itu tidak mau menuruti permintaan Quinn begitu saja. Jika dia pergi maka tidak akan ada yang menjaga Quinn saat ini.
"Xander, Kenapa kau masih di sini. Cepat berlarilah dan cari mommy. Bawa dia ke sini. Ke hadapanku. Aku tidak tenang sekarang."
"Quinn, bukannya aku tidak ingin menuruti permintaanmu. Tetapi bagaimana kalau semua ini sudah direncanakan oleh seseorang? Dimitri berpesan padaku agar aku selalu menjagamu. Apapun keadaannya aku tidak akan meninggalkanmu. Terlebih lagi ketika aku tahu kalau sekarang keluargamu dalam bahaya."
Quinn yang geram memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur. Namun dengan cepat Xander menahan gerakannya. "Quinn, kau baru saja meminum obat. Seharusnya kau ini istirahat bukan turun dari tempat tidur."
"Jika kau tidak ingin menolongku, aku akan mencari mommy sendirian."
"Quinn, Jangan keras kepala. Tenanglah. Dengan marah masalah tidak akan selesai." Xander berusaha tetap tenang menghadapi Quinn. Meskipun begitu dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Tiffany.
"Apa yang dilakukan pengawal? Kenapa mereka bisa sampai kecolongan."
"Quinn, belum tentu tante Tiffany saat ini berada dalam bahaya. Kau bilang kalau kau tidak berhasil melacak keberadaannya melalui CCTV karena seseorang mengirimkan virus ke laptopmu. Bagaimana kalau saat ini Tante Tiffany masih baik-baik saja?"
PRANGGG
Xander dan Quinn dibuat kaget ketika kaca jendela yang begitu besar pecah dan hancur berantakan. Seseorang sengaja melempar benda yang cukup besar dan berat hingga berhasil memecahkan kaca jendela tersebut.
Xander segera bersiap untuk melindungi Quinn dari bahaya. Sedangkan Quinn sendiri segera mengambil pistol yang selama ini disiapkan oleh Luca di bawah bantal.
Tiga orang pria bertopeng muncul dengan menggunakan tali. Mereka bertiga sama-sama memiliki senjata. Xander yang sendirian terlihat tenang meskipun kini lawannya dalam jumlah yang lebih banyak darinya.
__ADS_1
"Xander, apakah kau bisa menghadapi mereka sendirian? Jika tidak aku akan turun untuk membantumu."
"Quinn, tetap di tempat tidurmu. Aku bisa menghadapi mereka sendirian!"