My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 117 Negosiasi


__ADS_3

Di saat Quinn dan Dimitri sibuk bermesraan. Di waktu yang bersamaan, Joa dan Sherin sedang bernegosiasi perihal kencan yang diminta oleh Sherin. Joa kurang setuju karena Sherin mengajaknya berkencan ke luar negeri. Ya, ternyata wanita itu tidak menginginkan kencan biasa. Dia justru ingin berlibur seperti yang dilakukan oleh Quinn. Karena tidak memiliki pacar, dia terpaksa memanfaatkan kehadiran Joa.


"Tidak!" sahut Joa sebelum kembali fokus ke layar laptopnya. "Jika hanya sekedar makan malam, aku bisa. Tapi untuk keluar negeri, aku tidak bisa. Bos Dimitri akan pergi bulan madu. Urusan perusahaan dan White Snake ada di tanganku."


"Oke," sahut Sherin. Dia turun dari meja. "Aku sudah tebak sejak awal kau pasti akan menolaknya. Aku akan cari pria lain saja. Bye!"


Sherin segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Joa memperhatikan punggung Sherin sampai wanita itu benar-benar menghilang.


"Wanita aneh!" umpat Joa. Pria itu kembali fokus dengan layar laptopnya. Alisnya saling bertaut melihat ponsel Sherin tertinggal di atas meja. Bahkan berkas yang tadi dibawa wanita itu saat rapat juga masih tergeletak di atas meja Joa. "Sepertinya dia akan kembali lagi untuk mengambil benda ini."


Joa semakin santai. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. "Paling lama juga 5 menit. Biasanya wanita akan segera sadar kalau ponselnya ketinggalan."


5 menit. 10 menit berlalu. Bahkan sekarang sudah 30 menit tapi Sherin tidak juga kembali. Joa mulai gelisah. Pria itu mengambil ponsel Sherin lalu memperhatikannya. Dia ingin memastikan kalau ponsel itu memang ketinggalan. Bukan sengaja ditinggal.


"Ini aneh. Kenapa seorang wanita tidak menggunakan password di ponselnya? Dia benar-benar wanita yang ceroboh."


Tanpa sengaja Joa menekan galery yang ada di ponsel Sherin. Pria itu tertegun melihat foto-foto yang ada di sana. Joa terlihat seperti pencuri sekarang. Dia memandang ke pintu sejenak sebelum memperhatikan satu persatu foto yang ada.

__ADS_1


Wajah cantik Sherin terlihat sempurna. Wanita itu memang jarang foto. Namun kumpulan foto di situ sudah berhasil membuat Joa kagum. Ketika mendengar seseorang berjalan mendekat, Joa segera meletakkan ponsel itu di atas meja.


"Permisi, Tuan."


"Masuk!" perintah Joa.


Seorang pria masuk ke dalam. Pria itu menunduk hormat di depan Joa. "Tuan, Nona Sherin meminta saya untuk mengamankan ponselnya yang ketinggalan."


"Apa dia marah? Bahkan dia tidak mau balik lagi," gumam Joa.


"Saya juga mau mengajukan cuti, Tuan."


Pria itu menggaruk kepalanya karena malu. "Saya akan menemani Nona Sherin berlibur, Tuan. Dia bilang saya hanya menemaninya saja. Soal biasa Nona Sherin yang akan tanggung."


Joa menggeram. Rasanya dia ingin sekali membentak pria di depannya karena ingin pergi bersama Sherin. "Sekarang dimana dia?"


"Nona Sherin, Tuan?"

__ADS_1


"Ya." Joa beranjak dari kursi kerjanya. Pria itu mengepal kuat ponsel Sherin.


"Ada di bawah, Tuan," jawab pria itu.


Joa segera berjalan ke pintu. Sebelum pergi dia menahan langkah kakinya sejenak. "Aku tidak akan memberimu izin untuk cuti. Jika kau tetap memaksakan diri untuk pergi, sebaiknya segera persiapkan surat pengunduran dirimu!" ancam Joa. Pria itu segera menghilang.


"Apa-apaan ini? Kenapa Tuan Joa melarangku cuti?"


Sherin duduk di sofa yang ada di dekat pintu masuk. Wanita itu memperhatikan rangkaian bunga yang ada di dekatnya. Sesekali ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Kenapa dia lama sekali!"


Sherin mengernyitkan dahi melihat Joa yang muncul di sana. Wanita itu segera beranjak lalu melipat kedua tangannya. "Ada apa? apa itu ponselku?"


"Kau mau kemana?"


"Kemana?" Sherin jadi bingung.


Joa berjalan mendekati Sherin. Dia mengambil tangan Sherin sebelum meletakkan ponselnya di sana. Lalu pria itu menatap wajah Sherin dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca. "Jika kau sudah menentukan tempat dan waktunya, kabari aku. Aku akan menemanimu!"

__ADS_1


"Serius?"


__ADS_2