
"Bawa aku ke Perugia. Tiket pesawat dan segala berkas yang dibutuhkan akan aku urus. Tugasmu hanya diam dan turuti apa yang aku perintahkan. Bom ini akan meledak dalam hitungan 10 detik jika sudah aku aktifkan. Kau tidak akan memiliki kesempatan untuk kabur. Semua orang yang berjarak 10 meter dari posisi ledakan akan hancur!"
Ancaman itu memang cukup menyiksa Sherin. Kini wanita itu melajukan mobilnya menuju ke bandara. Mereka akan terbang ke Perugia. Sherin sendiri berharap kalau ada yang melihatnya dan menyampaikan keadaan ini kepada Joa maupun Xander. Hanya itu harapan Sherin saat ini.
Setibanya di bandara Sherin segera memberhentikan mobilnya. Dia memandang ponselnya lalu ingin memasukkannya ke dalam saku. Akan tetapi pria tua itu cukup cerdas. Dia merebut ponsel Sherin lalu membuangnya ke jalan.
"Apa yang kau lakukan?" protes Sherin.
"Ikuti perintahku!" ancam pria itu. "Pakai ini!" Pria itu mengeluarkan masker, kaca mata hitam dan topi. Benda itu akan menutupi identitas Sherin agar tidak ada yang curiga.
Sherin masih menuruti perintah pria tua itu. Dia lalu turun bersamaan dengan pria tersebut. "Gawat! Jika aku sudah ada di pesawat aku akan benar-benar dalam bahaya. Aku tidak tahu siapa yang sekarang membawaku. Bisa jadi dia anggota komplotan yang berbahaya.
Tapi melawan dia di tempat ini sama saja membuat orang yang tidak bersalah tewas. Belum lagi dengan nyawaku. Aku belum mau mati. Aku mau menikah dengan Joa. Lebih baik aku ikuti saja permainan pria breng*sek ini!" gumam Sherin di dalam hati.
__ADS_1
Wanita itu segera berjalan mengikuti pria tua itu. Sesekali dia memandang cctv. Sherin berharap Quinn juga turun tangan agar dia bisa segera ditemukan nantinya.
Sherin berjalan dengan langkah yang sangat berat. Semua seperti sudah direncanakan. Pria tua itu dengan mudah memiliki tiket pesawat agar bisa terbang ke Perugia.
"Kita tiba di waktu yang tepat. Sekarang ayo kita masuk ke pesawat. Ingat! Nyawa semua orang ada di tanganmu. Jadi berpikirlah dua kali sebelum bertindak!" ancam pria tua itu lagi.
Sherin tanpa sengaja melihat Zack Lee dan Peiyu yang juga ingin masuk ke dalam pesawat yang sama dengannya. Wanita itu langsung menundukkan kepalanya. Dia tidak mau pria itu menyadari kehadiran Peiyu. Wajah mereka sangat mirip. Jika pria tua itu melihatnya Peiyu, Sherin takut dia tahu kalau mereka saling kenal.
"Aku lapar," ujar Sherin.
Sherin segera menabrak tubuh Zack Lee dengan kasar. Hal itu membuat Zack Lee memandang ke arahnya. Bersamaan dengan itu, Sherin membuka kaca matanya dan memberi kode bahaya.
"Itu Sherin?" bisik Peiyu ragu. "Dia sama siapa?"
__ADS_1
Zack Lee segera meletakkan satu jarinya di bibir Peiyu. "Kita akan tahu nanti."
Peiyu hanya mengangguk saja. Kini mereka berjalan di belakang Sherin. Mereka naik di pesawat yang sama. Bahkan kursi mereka juga hanya berjarak tiga kursi saja. Dari cara pria tua itu memperlakukan Sherin, Zack Lee sudah tahu kalau kini Sherin di ancam. Dia dalam bahaya.
"Dimana senjataku?" bisik Zack Lee ke telinga Peiyu.
"Aman! Aku berhasil membawanya. Apa kita akan menggunakannya?" tanya Peiyu ragu. "Ini di pesawat. Dan sebentar lagi kita akan terbang." Wanita itu berusaha memperingati kekasihnya.
"Akan aku urus." Zack Lee segera berdiri. Pria itu ingin kembali memastikan kira-kira siapa yang bersama Sherin saat ini. Sejak tadi dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Zack Lee duduk di kursi kosong yang ada di dekat pria tua. Dia membaca koran sembari mencuri-curi agar bisa melihat wajah pria tua itu dengan jelas. Saat Zack Lee berhasil mengetahuinya, pria itu langsung memalingkan wajahnya.
"Dia Mr. Zeno. Kenapa dia bisa bersama dengan Sherin? Gawat! Dia tidak boleh sampai melihatku!" Zack Lee segera pergi. Bukan hanya Joa. Tetapi Zack Lee juga bermusuhan dengan pria tersebut. Kini dia tidak mau identitasnya diketahui.
__ADS_1
"Zack Lee dan Peiyu ada di pesawat ini juga. Aku harap mereka bisa membantuku. Dasar bodoh! Kenapa aku jadi terjebak seperti ini. Seharusnya aku menuruti perkataan Tante Viana untuk tidak keluar sampai pernikahanku tiba," umpat Sherin dengan penuh penyesalan.