My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 186 Manjanya Bumil


__ADS_3

Quinn mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membesar. Wanita itu tersenyum bahagia sambil membayangkan betapa imutnya anak yang akan ia lahirkan nanti. Rasa pegal dan tidak nyaman yang setiap harinya semakin bertambah. Kini sudah tidak terasa lagi. Quinn seperti sudah tidak sabar menyambut kelahiran anak pertamanya.


Dimitri muncul dari dapur dengan segelas susu di tangannya. Pria itu juga bahagia melihat istrinya hari ini tidak terlalu rewel dari biasanya.


"Sayang, minum dulu ya susunya. Ini masih hangat," bujuk Dimitri. Selama hamil hanya minum susu yang membuat Quinn merasa malas. Entah kenapa, dia sangat membenci susu selama hamil ini. Padahal sebelumnya dia biasa saja setiap kali melihat susu.


"Kenapa banyak sekali? Tidak bisakah gunakan gelas yang lebih kecil?" protes Quinn.


"Maksudmu gelas cocktail?" ledek Dimitri.


"Tidak masalah jika muat," sahut Quinn dengan santainya.


"Sayang, minum ya. Ini demi kesehatan anak kita. Jika aku bisa mewakilinya, pasti sudah aku minum." Dimitri mengusap perut Quinn sebelum mengecupnya dengan mesra.


"Hemm, baiklah," jawab Quinn dengan berat hati. Wanita itu meneguk susu buatan suaminya secara perlahan. Susu rasa vanila itu memang membuat Quinn merasa mual.

__ADS_1


Namun, dia lebih tidak suka lagi jika susu yang dia minum ada rasanya. Seperti cokelat atau kacang hijau. Dimitri sudah mencoba segala macam merek susu. Namun tidak ada satu susupun yang cocok di lidah Quinn.


"Apa tidak bisa diganti vitamin saja? Sayang, aku bosan minum susu." Quinn meletakkan gelas yang sudah kosong di meja. Kali ini waktunya dia merengek agar tidak dipaksa minum susu lagi.


"Sayang, turuti saja apa yang dikatakan Dokter. semua demi kesehatan anak kita," jawab Dimitri dengan senyuman hingga membuat Quinn hanya bisa memajukan bibirnya.


Suara langkah kaki yang sangat gusar terdengar semakin jelas. Quinn dan Dimitri memandang ke arah depan. Sebuah lorong yang menghubungkan mereka ke ruang utama.


Terlihat Sherin dan Joa yang muncul sambil bergandengan tangan. Mereka berdua terlihat sangat mesra meskipun kini penampilan mereka terlihat berantakan.


"Aku yang memintanya," jawab Dimitri. Pria itu beranjak dari sofa untuk menyambut Joa dan Sherin.


"Quinn, apa kabar? Apa yang sedang kau lakukan?" sapa Sherin. Dia melepas lengan Joa lalu berjalan menghampiri Quinn di sofa.


Joa memandang ke arah Sherin sejenak sebelum menunduk hormat di depan Dimitri. "Semua sudah beres, Bos," ucap Joa.

__ADS_1


"Kau membawa Sherin?" tanya Dimitri tidak percaya.


"Jika tidak saya tidak akan bisa pergi," jawab Joa apa adanya.


Dimitri mengangguk. "Maafkan aku. Terima kasih karena kau sudah membantuku Joa. Ayo duduk. Kau pasti lelah. Aku akan meminta pelayan untuk membawakan minuman dingin dan makanan ringan. Sherin dan Quinn juga asyik bercerita. Jangan pulang terlalu cepat." Dimitri rasanya senang sekali jika ada yang mengajak Quinn mengobrol. Wanita itu terlihat jauh lebih ceria dan bersemangat.


"Quinn, kira-kira anakmu ini cewek atau cowok?" tanya Sherin penasaran.


"Aku meminta Dokter untuk merahasiakannya. Kami ingin tahu jenis kelamin anak kami ketika dia lahir," jawab Quinn sembari mengelus perutnya.


"Benarkah? Tapi aku penasaran. Jika dia cewek, aku akan belikan banyak gaun pink untuknya," ujar Sherin penuh semangat.


"Lalu, jika anakku cowok?" tanya Quinn sambil mengernyitkan dahi.


"Aku akan membelikannya banyak mainan. Bukankah anak cowok suka bermain?" jawab Sherin.

__ADS_1


Dimitri memandang ke arah Joa yang terlihat lebih ramah dari biasanya. Perubahan itu membuat Dimitri bahagia. "Sejak menikah dia memiliki banyak sisi positif," batin Dimitri di dalam hati.


__ADS_2