
Xander memandang ke samping melihat Audy muncul dengan pakaian yang sudah terganti. Wanita itu mengenakan gaun berwarna putih dengan rambut di gerai panjang. Penampilannya sangat sederhana akan tetapi berhasil menggoda Xander hingga pria itu tidak berkedip memandangnya.
"Tidak bisa aku pungkiri. Dia memang cantik. Sayangnya dia pembuat masalah. Dan ... Suka berbohong," batin Xander.
"Ayo," ajak Audy. Wanita itu melangkah lebih dulu ke pintu keluar.
Xander juga beranjak dari sofa. Pengawal White Snake menjaga Audy dengan sangat ketat karena tidak mau sampai wanita itu kabur.
Audy melirik ke arah pengawal yang menjaganya sebelum mendengus kesal. "Mereka tidak perlu menjagaku seperti pencuri!" umpat Audy sebelum masuk ke dalam mobil.
Xander juga segera masuk dari sisi yang berbeda. Mereka duduk berdampingan di belakang. Supir yang ada di depan segera melajukan mobil ketika Audy dan Xander sudah tiba di dalam.
Audy memandang ke arah Xander takut-takut. Wanita itu ingin bicara sesuatu. Akan tetapi dia tidak berani untuk mengatakannya. Sedangkan Xander terlihat tidak peduli dengan Audy. Bahkan memandang wajahnya juga tidak. Dia seperti menghindari obrolan dengan Audy.
"Ada satu cara yang tiba-tiba saja kepikiran saat tadi saya ganti baju," ucap Audy pada akhirnya.
Xander memandang ke arah Audy. "Cara?" Dia terlihat ragu dengan ide Audy. Selama ini keinginan wanita itu justru menjadi petaka bagi orang lain.
Audy mengangguk. Dia mengatur napasnya sebelum melanjutkan kata-katanya. "Bukankah anda masih sendiri? Bagaimana kalau kita nikah kontrak saja? Anda juga tidak mau kan menikah beneran dengan saya?"
Xander kaget bukan main mendengar tawaran Audy. Bisa-bisanya kalimat seperti itu keluar dari mulut Audy. "Apa maksudmu? Nikah kontrak?"
"Jika aku menikah dan menetap di kota ini. Pasti tidak ada yang berani mendekatiku. Mereka pasti berpikir dua kali untuk mencelakaiku. Kakak juga bisa tenang karena aku sudah menemukan pria yang tepat. Setelah keadaan kembali normal, kita berpisah.
Saya tahu ini terdengar sangat konyol. Tetapi saya menyukai anda. Saya tertarik dengan Anda. Saya ingin menjadi istri anda. Meskipun anda tidak merasakan hal yang sama dengan saya.
Saya janji akan menjadi istri yang baik. Tidak merepotkan anda sama sekali ketika kita sudah menikah nanti," ucap Audy dengan sungguh-sungguh.
"Bahkan mungkin aku akan membuat anda jatuh cinta padaku. Aku ingin sekali dicintai pria seperti anda Tuan Xander," gumam Audy yang hanya berani di dalam hati saja.
__ADS_1
"Maaf. Aku tidak bisa. Aku akan menikah dengan orang yang aku cintai. Pernikahan kontrak seperti ini sangat tidak masuk akal. Semua orang akan kecewa kepadaku karena aku sudah membohongi mereka semua. Lebih baik kau pulang saja. Dengan begitu masalah selesai!" ketus Xander. Kali ini keputusannya benar-benar tidak bisa diganggu gugat.
Audy yang sudah tidak memiliki rencana cadangan lagi hanya bisa menunduk sedih. Kini dia hanya bisa pasrah menerima keputusan yang sudah diambil oleh Leonzio.
Xander tahu kalau kini Audy merasa sangat sedih. Pria itu juga mendengus kesal melihatnya. Meskipun tidak banyak, tetapi dia ingin memberi nasehat kepada Audy agar tidak sedih lagi.
"Terkadang hidup ini memang tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Ada kalanya kita harus gagal dulu baru bahagia. Audy, dilihat dari sikap kakakmu. Sepertinya dia sangat menyayangimu. Dia tidak mungkin menikahkanmu dengan pria yang jahat," ucap Xander sambil memandang.
"Pria itu mencintaiku. Sudah lama dia jatuh cinta padaku tetapi aku tidak pernah membalas perasaannya. Entah kenapa dia bisa menemukan cara hingga membuat Kak Leonzio bersikap seperti ini." Audy kembali menatap Xander untuk membujuk pria itu.
"Tuan Xander, saya sadar kalau saya sudah jatuh cinta kepada anda. Sejak pertama kali bertemu. Tapi seperti yang sekarang anda rasakan. Anda tidak mau menikah dengan saya karena anda tidak mencintai saya. Begitupun dengan perasaan saya terhadap pria yang sudah disiapkan untuk menjadi calon suami saya. Saya tidak bisa menikah dengannya. Lalu, kenapa anda tega memaksa saya?"
Xander memijat kepalanya yang terasa pusing. "Audy, masalahnya ini sudah melibatkan keselamatan keluargaku. Tolong jangan disamakan. Keadaan kita jauh berbeda. Kau baru saja kenal denganku. Tidak mungkin bisa secepat itu jatuh cinta. Kau ini seorang wanita. Setidaknya kau memiliki rasa gengsi untuk mengakui perasaanmu! Jangan merendahkan harga dirimu seperti ini!"
Perkataan Xander membuat Audy tersinggung. Wanita itu ingin marah. Namun dia berusaha sabar. "Semoga seumur hidup anda, anda tidak pernah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Semoga seumur hidup anda, anda tidak pernah di tolak oleh wanita yang anda cintai. Semoga seumur hidup anda. Anda tidak pernah merasakan bagaimana menikah dengan seseorang yang tidak anda cintai!"
Doa yang baru saja diucapkan Audy berhasil membuat Xander tersentuh. Bagaimana tidak? Xander sendiri pernah parah hati ketika cintanya di tolak oleh Quinn. Dia sendiri juga jatuh cinta pada pandangan pertama dan langsung tergila-gila saat itu.
"Aku sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan hatinya. Aku bahkan rela mengemis balasan cintanya. Tapi pada akhirnya aku gagal. Sepertinya memang inilah takdirku. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang aku cintai," gumam Audy di dalam hati.
...***...
Sherin dan Joa sudah ada di sebuah ruangan luas yang ada di mansion Leonzio. Bukan hanya mereka berdua saja. Akan tetapi Leonzio juga ada di sana.
Ternyata mereka sedang menunggu kehadiran Xander dan juga Audy. Leonzio baru saja mendapat kabar kalau mereka berdua sudah tiba di bandara dan sekarang dalam perjalanan menuju ke mansion.
Pintu tinggi berwarna cokelat tua itu terbuka lebar. Xander dan Audy muncul di sana. Mereka berjalan masuk ke dalam. Posisi Audy ada di depan Xander.
Leonzio tersenyum melihat adiknya pulang. Begitupun dengan Joa dan Sherin yang merasa sangat lega karena akhirnya Xander berhasil membawa Audy.
__ADS_1
"Audy, kemarilah." Leonzio membuka kedua tangannya. Dilihat dari sikap dan cara bicaranya. Dia seperti seorang pria yang sangat mencintai adik kandungnya.
Audy terlihat berat untuk masuk ke dalam pelukan kakaknya. Wanita itu hanya berdiri sembari memalingkan wajahnya.
Leonzio menurunkan tangannya ketika menyadari kalau Audy tidak mau berhambur ke dalam pelukannya.
"Kau marah sama kakak? Kita sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Audy, lihatlah penampilanmu yang sekarang. Kau tidak terawat!" protes Leonzio. Karena memang setahu dia kalau Audy itu wanita yang sangat mencintai fisiknya. Selalu merawatnya dengan sebaik mungkin. Itulah yang membuatnya merasa sombong. Merasa paling cantik sedunia.
"Semua sudah tidak berguna lagi. Untuk apa aku cantik, jika aku gagal mendapatkan hati pria yang aku cintai." Audy melirik ke arah Xander sebelum berlari masuk. Dia ingin ke kamarnya tanpa peduli dengan obrolan Xander dan kakak kandungnya itu.
Melihat Audy sudah tidak ada di sana, Joa segera angkat bicara. "Tuan, sesuai dengan perjanjian awal. Saya dan keluarga saya harus pergi hari ini juga."
Leonzio mengangguk sambil tersenyum. "Tuan Joa, jangan salah paham. Saya melakukan semua ini agar Audy kembali." Terlihat jelas kalau dia tidak mau bermusuhan dengan Joa dan White Snake.
"Oke. Kami permisi." Joa mengulurkan tangan pertanda kalau tidak ada permusuhan di sana.
Leonzio segera menyambut uluran tangan Joa. "Jika tidak sibuk, saya mengundang anda untuk hadir di pesta pertunangan adik saya satu minggu lagi."
"Maafkan saya, Tuan. Saya sama sekali tidak menolak undangan anda. Akan tetapi waktunya bertepatan dengan pesta pernikahan saya. Saya harap anda tidak salah paham."
Leonzio tertawa mendengarnya. "Baiklah. Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi."
Xander hanya diam mematung saja di sana. Pria itu segera keluar ketika Joa sudah selesai bicara. Sherin segera berlari dan merangkul lengan kakaknya itu.
"Kak, kenapa sedih? Kakak memikirkan sesuatu?" tebak Sherin.
"Tidak ada. Ayo kita pulang. Mama dan papa pasti sangat mengkhawatirkan kita."
Sherin mengangguk sebelum masuk ke dalam mobil. Begitupun dengan Joa. Mereka bertiga segera meninggalkan mansion mewah milik Leonzio.
__ADS_1
Dari kamar yang ada di lantai atas, Audy memandang mobil yang ditumpangi Xander dengan wajah sedih. Wanita itu masih berpikir kalau semua ini adalah mimpi.
"Aku mati-matian kabur meninggalkan tempat ini. Akan tetapi kini aku kembali dengan suka rela karena dia. Tuan Xander, anda harus tahu kalau saya melakukan semua ini karena saya cinta sama anda. Saya tidak mau membuat anda berada dalam kesulitan. Seperti inilah pengorbanan cinta saya kepada pria yang saya cintai."