
Quinn dan Dimitri akhirnya bisa bernapas dengan lega ketika Sherin sudah memberi kabar. Meskipun Joa belum menghubungi Dimitri secara langsung, akan tetapi mendengar kabar yang diberikan Sherin sudah membuatnya jauh lebih tenang sekarang.
"Sayang, mereka sudah berada di tempat yang aman. Sekarang saatnya kita fokus dengan bulan madu kita," bisik Dimitri. Pria itu memeluk istrinya dari belakang. Mengecupnya dengan penuh cinta.
"Ya. Kau benar. Beberapa hari ini bulan madu kita terlihat berantakan. Tapi, aku mulai bosan dengan tempat ini," jawab Quinn tanpa memandang.
Dimitri mengernyitkan dahi mendengar jawaban istrinya. "Bosan? Maksudmu kau bosan di vila ini? Kau tidak menyukai pantai?"
Quinn mengangguk setuju. "Ya. Memang aku akui kalau tempat ini sangat privasi. Hanya kita berdua yang ada di vila ini. Kita bisa bersenang-senang dan melakukan hal apapun yang membuat kita bahagia. Tapi, aku merasa sepi. Pantai ini terlihat sangat membosankan. Bagaimana kalau gunung saja? Udara dingin juga tidak buruk."
Quinn berusaha untuk mengajak suaminya pindah tempat. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman berada di pulau pribadi itu. Memang pelayan yang ada di sana cukup ramah kepada mereka. Tetapi entah kenapa dia merasa kebahagiaannya tidak sempurna selama bulan madu di pulau.
"Gunung? Ide yang bagus. Tapi sebelum kita pindah tempat aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu. Tapi karena sekarang sudah malam, sebaiknya besok pagi saja," ucap Dimitri. Pria itu beranjak dari sana tanpa mau menceritakan kira-kira kejutan apa yang sudah dia persiapkan besok.
"Sayang, jangan buat aku tidak bisa tidur," rengek Quinn. Wanita itu beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah Dimitri. Kali ini Quinn yang memeluk suaminya dari belakang. "Aku ingin tahu sekarang."
"Nggak boleh," jawab Dimitri sambil tersenyum. Dia mengusap tangan Quinn yang kini melingkari perutnya. "Sayang, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
__ADS_1
Quinn tersenyum bahagia mendengarnya. Wanita itu memejamkan mata sembari merasakan hembusan angin laut di malam hari. "Kau juga sangat mencintaimu, suamiku."
...***...
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Matahari kembali bersinar menerangi bumi. Kicauan burung terdengar dengan jelas saat lagi telah tiba. Dimitri yang baru saja selesai mandi terlihat sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. pria itu belum menggunakan baju. Dimitri terlihat semakin keren dengan celana pendek berwarna hitam yang saat itu ia kenakan.
Melihat Quinn belum juga bangun membuat Dimitri tersenyum. Pria itu segera naik ke atas tempat tidur untuk mengganggu istrinya. Dimitri tidak mau menunda lagi. Dia ingin segera memberitahu kejutan yang sudah ia persiapkan sejak pertama kali tiba di pulau tersebut kepada istrinya.
"I love cantikku," bisik Dimitri mesra.
"Sayang, cepat bangun dan mandi. Kau tidak mau melihat kejutan dariku?"
Kali ini kalimat yang baru saja diucapkan Dimitri berhasil membuat Quinn membuka matanya lebar-lebar. Wanita itu bahkan duduk dengan sendirinya. "Ya, aku harus segera mandi," ucap Quinn penuh semangat. Dia memandang Dimitri lalu menyipitkan kedua matanya. "Ini semua karenamu. Kau tidak membiarkanku tidur tadi malam!" protes Quinn dengan tatapan penuh arti.
"Sorry." Dimitri hanya bisa tersenyum paksa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ayo cepat mandi sana."
"Baik, Boss!" sahut Quinn sebelum turun dari tempat tidur.
__ADS_1
Di sisi lain, Sherin sedang sarapan di meja makan bersama dengan Viana dan juga Xander. Hari ini Jeremi tidak ada di rumah karena harus menghadiri sebuah acara penting. Tadinya Viana juga ingin ikut. Namun dia lebih mementingkan untuk bertemu dengan Sherin.
"Sayang, tolong jangan ulangi lagi. Apa kau tahu bagaimana khawatirnya Tante kemarin? Tante berulang kali menemui Tante Tiffany untuk meminta bantuannya. Begitupun dengan kakakmu Xander. Tapi kami semua tidak ada yang berhasil menemukan jejakmu," protes Viana. Meskipun tidak lahir dari rahimnya, tetapi dia sudah menganggap Sherin seperti putri kandungnya sendiri.
"Maaf, Tante." Sherin memandang ke arah Xander. "Maafkan aku Kak. Memang kejadiannya tidak di sangka-sangka. Beruntung kami masih selamat." Rasanya Sherin masih tidak percaya ketika dia memikirkan saat terdampar di pulau terpencil bersama Joa kemarin. Semua itu terjadi seperti sudah direncanakan.
"Sherin, kenapa harus Joa? Bukankah kalian bermusuhan?" Kali ini Xander justru ingin mengetahui hubungan yang ada di antara Sherin dan Joa.
"Itu karena aku tahu kalau Joa pria yang hebat. Jadi aku memintanya untuk menemaniku. Hitung-hitung aku memiliki bodyguard gratis," sahut Sherin tanpa mau menjelaskan perasaannya yang sebenarnya.
"Benarkah hanya sesederhana itu perasaanmu terhadap Joa?" Xander masih tidak percaya.
"Kakak gak percaya padaku ya? Aku ini memang suka sekali berubah pikiran. Jadi wajar saja kemarin aku bermusuhan dan sekarang berteman lagi dengan Joa." Sherin memandang ke arah Viana. "Tante, apa aku boleh pergi? Aku mau belanja beberapa barang di mall," bujuk Sherin.
"Boleh. Tapi Tante temani ya?" tawar Viana. Rasanya dia tidak mau membiarkan Sherin pergi sendirian lagi.
Sherin menghela napas kasar. "Hmm, baiklah." Wanita itu meneguk jus jeruk yang ada di meja. "Padahal tadinya aku ingin menemui Joa. Mungkin lain kali saja," batin Sherin di dalam hati.
__ADS_1