
Joa melebarkan kedua matanya melihat anak panah kini meluncur ke arah mereka. Pria itu segera menarik Sherin dan menyembunyikannya di belakang. Saat anak panah semakin dekat, dengan tenang Joa menangkap anak panah tersebut.
"Apa yang terjadi?" tanya Sherin bingung. Dia mengintip dari balik tubuh Joa. Saat tidak menemukan apapun di sana, dia segera keluar. "Apa terjadi sesuatu?"
Joa mengangkat anak panah yang baru saja dia tangkap di depan Sherin hingga membuat wanita itu melebarkan kedua matanya. "Panah? Ada yang ingin mencelakai kita?" Wanita itu semakin panik.
"Aku pasti akan membunuhnya!" umpat Joa. Pria itu merasa geram karena ada yang sudah mengganggu momen bulan madunya.
"Lepaskan!" teriak anak kecil yang jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi Joa dan Sherin berada.
"Joa, itu White Snake? Mereka juga ada di sini?" Sherin awalnya berpikir kalau hanya mereka berdua yang ada di Padang rumput tersebut.
"Mereka menjaga kita secara diam-diam," jawab Joa. Dia memegang tangan Sherin dan membawanya ke tempat pasukan White Snake berkumpul.
"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" tanya Joa ke anak kecil yang baru saja di tangkap oleh pasukan White Snake. Dari busur panah yang dipegang anak itu, Joa sudah bisa menilai kalau anak kecil itu yang ingin mencelakainya.
"Paman, aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Biasanya di tempat ini tidak pernah ada orang," ucap anak kecil itu dengan wajah ketakutan.
"Benarkah? Darimana aku tahu kalau kau tidak bohong?" Joa berjongkok karena anak kecil itu memang sangat pendek. Usianya sekitar 7 tahun. Dia anak laki-laki yang tampan.
"Paman, apa Paman orang jahat?" tanya anak kecil itu sembari melirik senjata api yang kini di genggam pasukan White Snake.
Joa meminta anak buahnya untuk menyembunyikan senjata api tersebut. "Siapa namamu?"
"Robet, Paman," jawabnya mantap.
"Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Sendirian!" tanya Joa lagi.
"Paman, di sini adalah tempat bermainku. Aku suka sekali memanah burung di sini," jawab Robet dengan wajah polosnya.
"Kau suka membunuh?" tebak Joa sembari menaikan satu alisnya.
"Joa, kenapa kau bicara seperti itu? Dia hanya anak kecil!" protes Sherin. Dia memaksa Joa berdiri lalu mendorong suaminya agar menjauh. Setelahnya Sherin menatap anak kecil di depannya. "Robet, pergilah. Ibumu pasti sedang mencarimu," ucap Sherin dengan lembut.
Anak kecil itu hanya mengangguk saja. Dia memandang ke arah Joa sebelum memutar tubuhnya dan pergi. Joa segera mengangkat senjata apinya. Melihat Joa ingin menembak anak kecil itu, Sherin segera menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuhnya?" protes Sherin.
__ADS_1
"Bagaimana kalau dia mata-mata?" jawab Joa.
"STOP JOA! Dia hanya anak kecil. Walaupun dia seorang mata-mata apa kau tega membunuhnya?" teriak Sherin mulai emosi. "Joa, kita tidak memiliki bukti yang kuat. Bagaimana kalau tuduhanmu tidak benar? Kau hanya akan membunuh orang yang tidak bersalah."
"Sherin, kau tidak tahu bagaimana kehidupan di dunia kami." Joa masih membela diri.
"Oke, aku memang tidak tahu. Tapi, apa harus menyelesaikan masalah dengan cara membunuh? Dia anak kecil Joa. Aku yakin dia tidak bersalah meskipun dia di atur oleh orang lain. Selama ini hidupmu selalu dipenuhi dengan permusuhan, itulah yang membuatmu sulit untuk mempercayai orang lain."
Joa menghela napas panjang. Bulan madu romantis yang sudah ia persiapkan sekarang harus gagal karena munculnya anak kecil misterius itu. "Maafkan aku."
Sherin kini juga bisa bernapas lega melihat suaminya sudah kembali tenang. "Sekarang kita harus bagaimana?"
Joa melirik anak buahnya yang masih berdiri di sana sebelum memandang Sherin lagi. Bersamaan dengan itu, anak buah Joa segera pergi meninggalkan mereka berduaan.
"Tapi sayang, anak kecil tadi memang mata-mata yang dikirim musuh. Lihatlah anak panah ini. Ada racun di sini. Dia pasti ingin mencelakaiku. Sekarang aku harus menyelidiki keberadaan musuhku. Mereka pasti sudah tahu kalau aku ada di tempat ini," gumam Joa yang hanya berani di dalam hati saja.
"Lupakan. Sekarang ayo kita ke sana," ajak Sherin sembari menarik tangan suaminya. Mereka berdua sama-sama menuju ke pohon itu lagi.
***
Setibanya di lokasi, Robet memandang seorang pria yang kini sudah menunggunya. Pria itu tersenyum melihatnya.
"Kau berhasil anak kecil?" tanya pria berbadan gemuk itu.
"Aku ...." Robet terlihat ketakutan. Dia tidak berani berbohong tidak berani juga untuk jujur.
"Ingat! Adikmu ada di tangan kami," ancam pria itu lagi.
Robet berlutut dihadapan pria berbadan besar itu. Dia semakin takut ketika mengetahui adiknya kini ada di tangan orang-orang jahat.
"Paman, aku pasti berhasil memanah paman itu. Tolong jangan celakai adikku," ucapnya dengan wajah memohon.
"Baiklah. Kali ini aku beri satu kesempatan lagi. Jika gagal, kau akan kehilangan adikmu untuk selama-lamanya!" Pria itu segera pergi meninggalkan Robet.
Robet menangis setelahnya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Hidupnya sangat sial ketika dia dan adik perempuannya harus bertemu dengan sekelompok gangster yang memiliki dendam dengan Joa.
Robet memang jago memanah. Dia selalu berhasil melumpuhkan target yang dia inginkan. Namun, ini pertama kalinya bagi Robet memanah seorang manusia. Akan tetapi dia tidak memiliki pilihan lain lagi.
__ADS_1
Dari kejauhan, pasukan White Snake segera pergi meninggalkan lokasi. Rasanya mereka sudah tidak sabar untuk memberi tahu Joa informasi penting ini.
Di sisi lain, Audy dan Xander sedang makan malam. Di meja makan itu hanya ada mereka berdua. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dinner. Xander terus mengajak Audy bercanda hingga akhirnya wanita itu membalas perbuatan Xander.
"Kalau aku makan manis, nanti manisku akan bertambah. Berbeda denganmu, Xander. Meskipun kau memakan gula satu kilo, wajahmu tetap saja terlihat jelek," sindir Audy. Ada seulas senyum di sana.
"Benarkah? Tapi kenapa kau bisa tergila-gila denganku?" balas Xander tidak mau kalah.
"Itu karena aku buta," sahut Audy. Wanita itu meletakkan sendok dan garpu yang sempat dia genggam. "Tapi sekarang aku sudah tidak buta lagi."
"Benarkah?" Xander beranjak dari kursi yang ia duduki hingga membuat Audy mengernyitkan dahinya.
"Apa yang mau kau lakukan?" protesnya.
"Berdirilah." Xander memaksa Audy berdiri tanpa peduli kalau wanita itu belum menyelesaikan makan malamnya. "Lihat aku."
Audy terdiam lalu memandang wajah Xander. "Untuk apa? Wajahmu tidak ada bedanya. Tetap jelek," ledek Audy lagi.
"Jika kau sanggup memandangku selama 5 menit tanpa berpaling, itu berarti kau memang sudah tidak tertarik lagi padaku," tantang Xander dengan wajah yang serius.
"Untuk apa? Nggak! Aku nggak mau," tolak Audy. Dia tidak berani.
"Kau takut?" Xander masih belum mau melepaskan tangan Audy.
"Tidak," jawab Audy penuh keyakinan.
"Mulai dari sekarang!" Xander menatap wajah Audy dengan penuh cinta. Berbeda dengan Audy yang terlihat kebingungan. Wanita itu seperti sangat gelisah. Dia tidak sanggup berlama-lama memandang wajah Xander karena itu semua hanya akan menimbulkan getaran aneh yang membuat Audy semakin tersiksa.
"Kenapa? Apa kau mulai tidak sanggup memandang wajahku?" ujar Xander dengan senyum yang begitu puas.
"Aku tidak pernah takut dengan tantangan apapun," sahut Audy. Kali ini dia membenarkan posisi berdirinya lalu memandang Xander dengan serius.
Xander mengangkat tangannya dan mengusap pipi Audy. "Aku mencintaimu Audy," batin Xander.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang merekam apa yang mereka lakukan untuk dikirimkan kepada Aldo. Pria itu terlihat geram melihat Audy menghianati bosnya.
"Kalian berdua pantas di hukum mati!" umpatnya penuh emosi.
__ADS_1