
"Biarkan aku yang berbicara dengannya sayang. Sepertinya Dimitri tidak pernah mendapatkan intimidasi dari orang lain. Kau tahu bagaimana karakterku. Melihatnya yang seperti ini membuat sadar dan teringat diriku yang lalu. Tenanglah. Kau hanya cukup mendengarkannya saja. Tuan Dimitri. Apa yang kau lakukan di rumahku?"
Kali ini Luca berbicara sebagai seorang ayah. Pria itu bijaksana duduk berhadapan dengan Dimitri. Terlihat Dimitri menarik nafas panjang. Kemudian pria itu memperbaiki letak duduknya. Matanya pun menatap lurus ke depan tanpa gugup lagi. Seolah tidak pernah terjadi kejadian sebelumnya.
"Benar, Tuan Luca. Kedatangan saya ke rumah ini adalah untuk meminang Quinn sebagai tunangan saya. Saya memang tidak memiliki kualitas yang lebih baik dari pria lainnya. Akan tetapi saya bisa menjamin bahwa saya dapat menjaganya dengan baik. Kami sudah menjadi pasangan. Saat ini saya memberanikan diri untuk meminta izin kepada Anda.
Saya bisa saja menjalin hubungan di belakang anda tanpa sepengetahuan Anda berdua. Akan tetapi saya tidak berani apabila saya tidak jujur terhadap kedua orang tua yang begitu dicintai oleh kekasih saya. Saya sadar apabila saya memiliki banyak kekurangan. Namun meski begitu saya tetap memberanikan diri untuk mencintai Putri Anda berdua dengan tulus dan sepenuh hati." Dimitri berucap dengan lantang. Tidak ada kegugupan lagi di sana.
Pria itu tidak lagi terbata-bata saat berbicara. Baik Luca maupun Tiffany cukup terkejut dengan perubahan Dimitri. Namun dua orang itu sempat terkesima dengan ketegasan Dimitri. Dia memang pria yang sempurna. Tidak sepantasnya mereka terus mengingat keburukan Dimitri hingga mengabaikan kebaikan yang pernah dia perbuat terhadap Quinn.
"Mengapa kau tidak meminta Quinn dan berniat untuk menikahinya? Apakah kau ingin bermain-main dengan hubungan kalian berdua? Dengar, aku tidak akan memaafkanmu apabila kau hanya ingin bermain-main dengan putriku!" Tiffany lagi-lagi memotong pembicaraan antara Luca dan Dimitri. "Pertunangan itu hanya sekedar tukar cincin. Bertunangan sama saja seperti pacaran. Kalian berdua tidak bisa sering-sering berduaan karena kami sebagai orang tua akan menjaga putri kami dengan ketat. Tetapi jika kau memutuskan untuk menikahi putri kami, mungkin kami akan mempertimbangkannya lagi."
Meski begitu Luca sama sekali tidak terganggu. Pria itu terdiam dan menantikan jawaban dari Dimitri. Sejujurnya Luca juga ingin tahu mengapa Dimitri tidak langsung meminta untuk menikah dengan putrinya.
Dibandingkan dengan rasa penasaran Luca dan Tiffany nyatanya Quinn justru semakin terpesona dengan Dimitri. Pria yang baru saja menjalin hubungan dengannya itu mengikuti permintaannya yang masih belum ingin menikah.
"Sepertinya benar jika Dimitri adalah orang yang akan menepati janjinya. Bahkan Dimitri selalu bicara jujur. Di saat seperti ini pun Dimitri juga mengatakan yang sebenarnya. Walaupun dia tidak memojokkan diriku yang sudah meminta hal itu." Quinn membatin dalam hati.
Wanita itu semakin tersentuh dengan perlakuan Dimitri padanya. Sebab Quinn memang ingin berkencan dengan Dimitri terlebih dahulu sebelum akhirnya dia siap untuk menikah.
"Saya tidak ingin terlalu bermain-main. Akan tetapi saya juga tidak bisa memaksa Quinn untuk segera menikah dengan saya. Lantaran dia belum siap memasuki jenjang itu. Namun lebih begitu saya ingin mematenkan kepemilikan atas Quinn sehingga pria manapun tidak bisa berusaha untuk mendekatinya. Maksud saya ini tentang hubungan kami saat ini. Asalkan saya mendapatkan izin dari Anda berdua, saya cukup puas. Karena setelah ini kami ingin bersama-sama saling memahami satu sama lainnya," ungkap Dimitri. Hanya itu alasan yang bisa ia ucapkan agar kedua orang tua Quinn bisa mengerti.
Luca menghela napas. "Jadi, kalian berdua ingin bertunangan?"
"Iya, Dad! Aku setuju dengan keputusan ini. Kami berdua akan menjalani hubungan ini pada jenjang pertunangan," sela Quinn. Wanita itu bicara dengan penuh semangat. Berbeda jauh dengan ekspresinya ketika keluarga Xander melamarnya kemarin.
"Tapi, Quinn. Ini terlalu cepat!" Tiffany masih tidak rela untuk melepaskan putrinya bersama dengan Dimitri. Tiffany melihat sendiri bagaimana Dimitri langsung bersikap mesum terhadap putrinya. Hal itu dikarenakan Dimitri mencium Quinn dengan berani dan bahkan itu di depan matanya sendiri. Tiffany menatap tajam pada Dimitri. Pria itu menjadi sedikit gelisah karena tiba-tiba Tiffany menatapnya tajam.
"Mommy jangan bicara seperti itu! Bukankah Daddy juga sudah memberikan izin?" Quinn tidak terima karena Tiffany mendadak bersikap aneh.
Tiffany memilih mengalihkan pandangan. Wanita itu enggan untuk melihat ke arah putrinya. Sebab, sejak kemarin Quinn terus saja membela Dimitri.
__ADS_1
"Tuan, ini minumannya." Seorang pelayan datang membawa nampan. Dia pun meletakkan 4 cangkir berisi kopi di atas meja.
"Kopi?" tanya Tiffany bingung.
"Oh, sepertinya pelayan itu salah paham. Tadi aku minta dibuatkan kopi. Tapi itu untuk diriku sendiri. Bukan untuk kita berempat." Luca memandang 4 cangkir kopi itu. Namun, Luca terkejut ketika Quinn meminumnya.
"Quinn, kau suka kopi?" tanya Luca.
"Em? Iya. Sahabatku sering membuatkan aku kopi. Dia tahu dan sangat paham bahwa pekerjaanku sangat banyak! Itu karena Daddy sering memberikan pekerjaan menumpuk padaku." Quinn tak lagi melanjutkan pembicaraannya. Sebab, wanita itu tiba-tiba saja merasa pusing.
"Quinn, kau baik-baik saja?" Dimitri mulai panik.
"Tuan! Tubuh Quinn sangat lemas! Tunggu! Bukannya tadi kau baik-baik saja, Quinn? Mengapa tiba-tiba?" Luca ikut panik. Pria itu menggendong putrinya dan segera membawanya ke lantai 2.
"Nyonya, bisakah saya meminta tolong? Telepon dokter pribadi saya. Dia akan cepat datang saat mengetahui saya sakit secara mendadak. Dan jangan lupa untuk menyebutkan alamat rumah Anda!" Dimitri mengeluarkan ponselnya dan segera memberikannya pada Tiffany.
Tiffany menganggukkan kepala ketika ponsel Dimitri dalam keadaan menelpon seseorang. Setelah meminta tolong pada Tiffany, Dimitri berlari mengejar Luca. Pria itu sangat takut bila Quinn akan sakit parah. Namun, sebelumnya Quinn sehat-sehat saja.
Luca menendang pintu kamar Quinn. Setelahnya, Luca menidurkan Quinn di atas ranjangnya. Walau begitu, Luca tetap berusaha membangunkan Quinn. Pun sama halnya dengan Dimitri. Pria itu panik bukan main.
"Sayang, panggil dokter!" teriak Luca.
"Aku sudah memanggil salah satu dokter! Dia akan datang. Ah, tubuh Quinn demam! Bagaimana ini? Dia tidak pernah sakit sebelumnya! Tuan Dimitri, apa sebelumnya Quinn mengeluh sakit?" Tiffany yang panik meminta jawaban dari Dimitri.
"Saya tidak tahu tepatnya, Nyonya. Akan tetapi belakangan ini memang Quinn selalu mengeluhkan sakit. Badannya sering tidak enak badan. Dan saya tidak tahu mengapa begitu. Hanya saja, terkadang Quinn baik-baik saja. Sebentar. Saat aku bertarung dengan Quinn, aku sangat yakin sekali bila Quinn memiliki tubuh dan stamina yang luar biasa. Namun, mengapa tiba-tiba dia bisa pingsan begini?" tanya Dimitri bingung.
"Aku tahu kalau Quinn memang belakangan ini sering lelah. Apa mungkin karena pekerjaannya?" Tiffany masih saja panik. Dia bahkan tanpa sadar berbicara lembut pada Dimitri.
"Sepertinya memang karena pekerjaannya. Tunggu dokter saja," ucap Luca. Pria itu langsung saja menyalahkan dirinya sendiri mengingat putrinya jadi sakit karena tugas menumpuk yang selama ini Ia berikan.
Akhirnya mereka bertiga hanya bisa menunggu kedatangan dokter keluarga Dimitri. Walaupun mereka tidak tenang.
__ADS_1
"Dimana dia? Kenapa lama sekali!" Dimitri yang tidak sabar segera menekan nomor dokter itu lagi. Namun kali ini tidak ada jawaban. Hal itu membuat Dimitri semakin kesal.
"Tuan, dokternya sudah tiba," ucap pelayan wanita dari arah pintu. Dia keluar lagi lalu muncul seorang pria berpakaian tidak seperti dokter. Awalnya Luca curiga. Namun saat ini dia tidak memiliki waktu banyak untuk mencurigai seseorang. Dia berusaha berpikir positif mengenai dokter yang kini tidak berseragam dokter tersebut.
"Dokter Fei! Kenapa lama sekali!" protes Dimitri.
Dokter muda itu terburu-buru begitu mendengar kabar jika pemilik ponsel pingsan. Tapi, begitu sampai di lokasi, nyatanya malah Dimitri masih sehat dan bugar.
"Kau sehat?" tanya Fei. "Lalu siapa yang sakit?"
"Ya, periksa kekasihku!" Dimitri menyeret Fei untuk segera mendekat ke ranjang Quinn. Fei tadinya heran. Sebab Dimitri tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
"Sepertinya kau mulai waras," gumam Fei.
Dokter muda itu memeriksa denyut nadi Quinn. Kemudian memeriksa keadaan Quinn. Luca dan Tiffany tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan dokter keluarga Dimitri.
"Bagaimana?" tanya Luca tidak sabar.
"Dokter, bagaimana keadaan putri saya? Tolong, katakan dengan jelas!" Tiffany pun tidak sabar.
"Nona ini sepertinya kelelahan saja. Sepertinya dia tidak bisa tidur dan memiliki banyak pikiran. Saya akan meresepkan vitamin supaya dia segar lagi. Untuk sementara waktu, jangan membebankan sesuatu yang berat padanya. Bisa saja dia berpikir terlalu keras belakangan ini," jelas Fei.
Luca bernapas lega. "Syukurlah."
"Mungkin karena kemarin kita terlalu mendesak Quinn, Sayang. Jadi, ke depannya jangan mengusik hubungan putri kita dan Dimitri. Kita akan membahasnya nanti saat Quinn benar-benar siap." Luca memegang kedua lengan Tiffany. Mereka berdua saling berhadapan.
"Ini memang salah kita. Terlebih, aku. Aku tidak menyangka kalau itu membebani Quinn." Tiffany menatap sendu ke arah Quinn yang memejamkan kedua mata. Sungguh, hatinya sangat sakit melihat putri tercintanya itu tergolek tak berdaya seperti ini.
"Jadi, dia kekasihmu yang baru?" tanya Fei. Pria itu bertanya dengan suara yang berbisik. Walaupun begitu, Luca dan Tiffany masih dapat mendengarkannya sebab posisi mereka berempat sangat dekat.
"Jangan banyak bicara. Berikan saja resep obat dan vitamin untuk kekasihku atau aku akan merobek mulutmu jika kau banyak bicara," kesal Dimitri.
__ADS_1