My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 197 Jebakan


__ADS_3

Di waktu yang bersamaan. Joa sudah tiba di markas musuh yang akan dia serang malam ini. Sejak siang dia sudah melakukan aksinya. Namun sayangnya, pemimpin dari gangster itu belum berhasil dia temukan. Begitupun dengan Robet dan adiknya yang tadinya ingin diselamatkan oleh Joa.


"Bos, siang ini Vila sempat kedatangan tamu tidak diundang," ucap pengawal Joa.


"Bagaimana dengan Sherin?" tanya Joa khawatir.


"Nona Sherin baik-baik saja. Sekarang penjagaan di sana mulai diperketat, Bos," jawab pria itu apa adanya.


Kali ini Joa tidak memberikan respon lagi. Mendengar kabar kalau istrinya baik-baik saja menurut Joa itu sudah cukup. Sekarang saatnya dia menyelesaikan misi yang sudah tersaji di depan mata.


Beberapa penjaga di sana menyadari kehadiran Joa. Dia cepat-cepat mengirimkan alarm bahaya hingga semua preman yang ada di wilayah tersebut keluar dari tempat persembunyiannya.


Joa terlihat tenang melihat musuhnya muncul secara berbondong-bondong. Pria itu justru masih sempat-sempatnya memainkan senjata api yang ada di tangannya.


"Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya salah satu pria berbadan tegap. Karena mereka melihat Joa hanya sendirian, jadi mereka berpikir kalau itu bukan sebuah ancaman. Mereka tidak tahu kalau semua pasukan Joa sedang sembunyi dan kapan saja bisa muncul jika ada perintah dari Joa.


"Aku ingin bertemu dengan pemimpin kalian. Sepertinya dia sangat tertarik denganku sampai-sampai tidak melepaskan hidupku sampai detik ini!" ujar Joa.


Pria itu membisikkan sesuatu ke rekannya. Setelahnya, dia kembali memandang Joa. "Kami tidak akan membiarkanmu masuk. Bos tidak bisa di ganggu!" ujarnya. "Pergilah dari sini jika kau tidak mau mati!" ancamnya lagi.


Joa kali ini tidak bisa tinggal diam. Dia memandang satu persatu musuhnya sebelum menyerang sendirian. Bahkan Joa belum memberi perintah agar anak buahnya keluar. Hingga membuat semua pasukan White Snake khawatir.


"Rasakan ini!" umpat Joa. Satu persatu musuh dia hajar hingga babak belur. Bahkan tidak sedikit yang patah tulang dan tewas.


Namun memang jumlah musuh seperti tidak ada habisnya. Inilah saatnya Joa mengeluarkan pasukan miliknya.


Mendengar kode sebuah tembakan yang diberikan Joa membuat semua pasukan White Snake yang bersembunyi keluar. Mereka segera menembak ke arah musuh tanpa ampun. Musuh tidak memiliki persiapan apapun hingga dalam waktu lima menit saja, jumlah musuh berkurang sampai 75%.

__ADS_1


Dari musuh yang berhasil selamat, ada yang lari untuk memberi tahu informasi ini kepada bos mereka. Joa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera mengikutinya saat pasukan White Snake masih sibuk bertarung.


Robet tersentak kaget mendengar pintu kamarnya terbuka lebar. Adik perempuannya yang juga ada di sisi Robet segera berlari dan memeluk Robet. Anak kecil itu memandang ke depan.


"Tuan, ada apa?"


"Bantu kami. Markas kami di serang." Pria itu melempar busur panah kepada Robet. Bersamaan dengan itu adik Robet di tarik dan dijadikan sanderaan agar Robet tidak kabur.


Robet yang memang merupakan anak kecil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa sedih melihat adiknya. Anak kecil itu segera keluar mengikuti seseorang yang baru saja menjemputnya.


Di sisi lain, Joa bersembunyi dibalik dinding ketika musuh yang ia ikuti memasukkan password agar pintu besar nan tinggi didepan terbuka lebar.


"Gawat. Jika pintu itu tertutup rapat, aku tidak akan bisa masuk." Joa mencari cara agar bisa masuk namun tidak ketahuan. Pria itu memandang ke atas dan melihat ada camera cctv. Kali ini Joa benar-benar harus waspada. Dia tidak mau musuhnya kabur lagi.


Saat pintu terbuka lebar, pria itu segera masuk ke dalam. Joa juga berlari kencang. Namun kali ini Joa sudah mengenakan sebuah mantel hitam agar terlihat seperti komplotan musuh. Joapun berhasil masuk tanpa kendala apapun.


Di dalam sana Joa dibuat tercengang karena pintu yang baru saja dia masukin bukan menuju ke sebuah ruangan. Akan tetapi sebuah lapangan luas yang Joa sendiri tidak tahu dimana ujungnya. Pria itu berhenti di tengah-tengah dengan wajah bingung. Bahkan musuh yang tadi dia ikuti sudah menghilang entah kemana.


Joa berjalan ke tepian dengan hati-hati. Dia meraba sesuatu yang ada di depannya. Meskipun masih terlihat seperti lapangan luas, nyatanya kini Joa berhasil menyentuh sebuah dinding. Dia meraba dinding itu dan berjalan perlahan.


Sampai beberapa meter kemudian, Joa berhenti karena menemukan handle pintu. Tanpa menunggu lagi Joa segera membuka pintu itu dan masuk ke dalam.


Setibanya di dalam, Joa segera mengangkat senjata apinya untuk jaga-jaga kalau ada musuh yang sudah menyambutnya. Akan tetapi kini dia justru masuk ke ruang monitor. Dari dalam situ Joa bisa melihat rekaman cctv yang ada wilayah tersebut.


"Siapa kau?" Seseorang tiba-tiba muncul.


Joa segera menerjang pria itu dan menghajarnya. Bahkan dia tidak memberikannya kesempatan hidup. Dalam waktu singkat Joa berhasil menguasai ruangan monitor. Pria itu duduk di kursi yang tersedia dan memeriksa satu persatu layar monitor untuk memahami wilayah tersebut.

__ADS_1


"Kenapa jumlah mereka tidak ada habisnya. Bukankah tadi mereka sudah hampir kalah?" protes Joa ketika melihat pasukan White Snake masih sibuk bertarung.


Tatapan Joa beralih ke arah Robet yang kini berdiri di atas gedung dan sedang memanah. Kedua mata pria itu melebar ketika tahu orang-orang yang dipanah Robet adalah pasukan White Snake.


"Gawat! Aku harus cepat. Jangan sampai White Snake menembak anak kecil ini!"


Joa melihat tombol berwarna merah yang ada di dekat keyboard. Pria itu tertarik untuk mencobanya. Dia menekan tombol itu. Namun tidak terjadi sesuatu di sana. Joa sendiri tersenyum tipis setelahnya.


"Aku harus segera pergi." Joa memperhatikan lagi layar monitor dan ingin mencari ruangan yang sama seperti di layar monitor.


Setibanya di ruangan tadi, Joa tertegun melihat musuh sudah berkumpul. Tetapi ruangan itu sudah terlihat nyata. Tidak ada lagi lapangan luas seperti yang Joa lihat sebelumnya.


PROKK PROKK


Seseorang tepuk tangan dengan kencang. Joa memperhatikan kerumunan yang bergeser untuk memberi jalan. Seorang pria muncul dengan penampilan yang sangat mengagumkan.


Ada banyak sekali emas yang kini melekat pada tubuhnya. Bukan hanya itu saja, pakaian yang ia kenakan sangat bersih dan terawat. Dia seperti pria kaya raya yang sangat sombong.


"Joa. Akhirnya kita bertemu juga," ujar pria itu dengan tatapan yang tajam.


Joa memperhatikan pria itu dengan serius. Akan tetapi dia tidak tahu sebenarnya siapa seseorang yang kini berdiri di depannya. Kenapa bisa mengenalnya namun Joa sendiri tidak kenal.


"Siapa kau? Kenapa kau ingin membunuhku!" tanya Joa tanpa basa-basi.


"Aku?" Pria itu menunjuk dirinya sendiri sebelum tertawa kencang. "Kau tidak kenal denganku?"


Joa masih bersikap tenang. "Apa itu penting?" sahut Joa.

__ADS_1


Pria itu terdiam. Dia mengepal kuat tangannya. "Selamat datang diwilayah Cosa Nostra."


"Cosa Nostra? Leonzio?"


__ADS_2