My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 100 Menebus Dosa


__ADS_3

Sherin menunduk malu sambil membalut luka di tangan Joa dengan perban. Sejak tadi wanita itu belum ada mengeluarkan satu katapun. Dia merasa sangat malu dan juga merasa bersalah.


Tidak jauh dari posisi mereka berada, ada Robin yang sejak tadi mengamati keduanya. Sedangkan Quinn dan Dimitri. Mereka kembali ke lokasi pesta untuk melanjutkan acara lainnya sampai pesta berakhir.


"Dasar wanita gila! Kalau saja dia bukan teman Nona Quinn, mungkin detik ini aku tidak mau disentuh olehnya," umpat Joa di dalam hati.


Sherin meletakkan tangan Joa dengan hati-hati di atas sofa sebelum beranjak.


"Kau mau kabur?" tanya Joa dengan ekspresi yang serius.


"Aku ingin mengambil obat. Luka ini juga harus diobati dari dalam," jawab Sherin apa adanya. Wanita itu segera pergi untuk mengambil obat dan juga segelas air putih. Saat Sherin sudah tidak ada di sana, Robin tertawa kegirangan. Perut pria itu sampai sakit karena tertawa terlalu keras.


"Joa, kau ini konyol sekali! Kenapa kalian bisa sampai berkelahi?" Robin berusaha menyudahi tawanya melihat ekspresi Joa yang begitu menakutkan.


"Sudah aku bilang. Dia yang salah!" Joa mengambil ponselnya lalu menekan pasukan miliknya. Dia melekatkan ponselnya di telinga. "Bagaimana? Apa kalian berhasil menangkapnya?"


"Ya, bos. Sekarang dia bersama kami. Apa yang harus kami lakukan?" tanya pria di seberang sana.


"Bawa dia ke penjara bawah tanah. Setelah mendapat perintah dari Bos Dimitri baru kalian bisa mengambil tindakan," jawab Joa. Dia memutuskan panggilan telepon itu ketika Sherin sudah muncul di sana.


"Minumlah." Sherin memberikan beberapa bulir obat dan segelas air putih.


Bukan menerima pil tersebut, justru Joa memamerkan luka pada tangan kanannya.


"Kenapa? Apa kau mau bilang kalau kau tidak bisa memegang gelas?" protes Sherin. Wanita itu lupa kalah seharusnya dia bersikap baik dan menunjukkan rasa bersalahnya.


"Bukankah tanganku seperti ini karena ulah anda, Nona?" sahut Joa. Pria itu meletakkan ponselnya sebelum beranjak dari sofa.


"Tunggu!" Sherin menahan Joa. "Duduklah. Biar aku bantu meminum obat ini." Pada akhirnya Sherin kalah lagi. Meskipun tidak ikhlas. Tetapi pada akhirnya wanita itu juga yang memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Joa.


"Oke. Sekarang pergilah!" usir Joa dengan entengnya.


"Kau mengusirku?" Lagi-lagi Sherin tersinggung.


"Ya," jawab Joa singkat.


Robin pura-pura fokus dengan ponselnya seolah-olah dia tidak melihat apa yang terjadi di sana. Padahal yang sebenarnya terjadi, pria itu membuka lebar telinganya agar bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Sherin dan Joa.


"Oke. Sepertinya lukamu juga tidak parah. Permisi!" ketus Sherin sebelum pergi.

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Joa. Sherin menahan langkah kakinya dengan wajah kesal.


"Apa apa lagi? Bukankah kau baru saja mengusirku?"


"Jangan pernah muncul dihadapanku lagi?" ketus Joa dengan satu alis di angkat ke atas.


Sherin mengepakkan kedua tangannya dengan napas yang memburu cepat. Wanita itu berusaha tetap sabar sebelum akhirnya pergi meninggalkan Joa dan Robin di dalam sana.


Setelah Sherin pergi, Robin memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu memperhatikan sahabatnya yang kini sudah bersiap-siap untuk pergi.


"Joa, kau mau kemana?"


"Markas!" sahutnya.


"Lalu, bagaimana dengan Bos Dimitri?"


"Di tempat ini ada banyak sekali jagoan. Musuh yang nekad ke sini adalah musuh gila. Bisa dibilang mereka hanya akan mengantarkan nyawa ke tempat ini."


Penjelasan Joa cukup masuk akal. Namun tetap saja Robin tidak mau Joa pergi meninggalkannya sendiri di rumah itu.


"Sebentar lagi acara selesai. Sebaiknya kita tunggu saja sampai Bis Dimitri pulang."


"Astaga, kenapa aku tidak kepikiran sampai ke situ. Sekarang ayo kita ke markas. Sepertinya kehadiran kita sudah tidak dibutuhkan lagi." Dua pria itu segera pergi. "Oh iya, ngomong-ngomong. Bukankah Nona Sherin itu wanita yang cantik? Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia hebat bertarung juga. Sangat cocok denganmu."


"Berhentilah bicara atau aku akan meninggalkanmu!" ancam Joa. Robin hanya tersenyum saja. Pria itu merangkul pundak Joa sambil mengukir senyuman penuh arti.


...***...


Sherin duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan di sana. Wanita itu masih belum bisa melupakan kejadian ketika dia menuduh Joa sebagai penyusup. Mau minta maaf rasanya dia sangat gengsi. Ditambah lagi sikap Joa yang memang sangat menyebalkan.


"Sherin, kau di sini rupanya. Sejak tadi aku terus mencarimu." Quinn duduk di samping Sherin lalu menatap wanita itu sambil tersenyum. "Apa kau masih memikirkan Joa?"


"Joa namanya?" tanya Sherin balik yang dijawab dengan anggukan oleh Quinn.


"Quinn, aku malu!" Sherin menutup wajahnya sendiri dengan tangan. "Sekarang semua orang pasti memandangku sebagai wanita gila."


"Sherin, itu hanya ada di dalam pikiranmu. Justru kamu semua kagum padamu. Meskipun kau seorang wanita, tetapi kau bisa mengalahkan Joa yang ilmu bela dirinya sangat diperhitungkan," puji Quinn.


"Quinn, kau berlebihan." Sherin menjatuhkan kepalanya di pundak Quinn. "Aku seperti ini karenamu. Bukankah kau sendiri yang bilang. Sebagai seorang wanita harus bisa menjaga dirinya sendiri."

__ADS_1


"Ya. Itu benar. Tetapi aku sama sekali tidak menyangka kalau kau sudah sehebat ini." Quinn mengusap punggung Sherin. "Kau hebat Sherin. Hebat sekali!"


"Jangan berlebihan memujiku. Nanti aku bisa besar kepala." Sherin tersenyum bahagia.


"Sherin, ayo pulang."


Tiba-tiba Xander sudah muncul dihadapan mereka berdua. Pria itu memandang Quinn sejenak sebelum menatap wajah Sherin lagi. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi. Karena saat peristiwa itu berlangsung Xander ada di lokasi yang sangat jauh.


"Kak Xander." Sherin segera beranjak. Dia berdiri di depan Xander sambil tersenyum. "Apa urusan Kak Xander sudah selesai?"


Xander mengangguk. "Sudah."


"Kau mau pulang ke rumah Xander? Apa kau tidak mau menginap di rumah ini?" tanya Quinn sedih.


"Quinn, besok-besok kita bisa tidur bareng lagi. Malam ini aku ingin menginap di rumah Kak Xander." Sherin mengukir senyuman lalu memandang ke arah Xander lagi. "Ayo kak."


Xander mengangguk. "Quinn, dimana Dimitri?"


"Dia ada di depan," jawab Quinn pelan. "Xander, apa kau baik-baik saja? Kelihatannya kau kurang istirahat."


"Quinn, kau tidak perlu mengkhawatirkan Kak Xander. Ada aku di sisinya sekarang!" ucap Sherin dengan penuh percaya diri. Xander sendiri hanya tersenyum saja.


"Quinn, cepat temui Dimitri. Jangan bengong sendirian di tempat ini."


"Baiklah." Quinn pergi duluan. Xander dan Sherin juga segera berangkat menuju mobil yang terparkir.


"Sudah berapa lama kau dan Quinn saling kenal?" tanya Xander sambil berjalan


"Sejak kami berusia 10 tahun," jawab Sherin apa adanya.


"Sudah lama juga. Tapi kenapa baru ini aku melihatmu? Apa saat pernikahan mama dan papa kau tidak hadir?"


"Ya. Waktu itu aku ada acara penting yang tidak bisa diwakilkan oleh siapapun." Sherin berdiri di hadapan Xander. "Kak, apa kakak mau membantuku?"


"Tentu saja jika aku bisa melakukannya," jawab Xander tanpa keberatan.


"Aku ingin mempelajari dunia bisnis lebih jauh lagi. Apa Kak Xander mau membimbingku?"


Xander diam sejenak. Pria itu tidak pernah memiliki adik. Sifat Sherin membuatnya ingin memperlakukan wanita itu layaknya adik kandung. "Tentu. Sekarang ayo kita pulang."

__ADS_1


"Terima kasih, Kak!" teriak Sherin kegirangan.


__ADS_2