
Dari sekian banyak waktu selama pesta pernikahan yang dilalui Quinn dan Dimitri, detik ini adalah momen yang paling mereka tunggu-tunggu. Ya, setelah acara resepsi selesai dan semua tamu pulang, sepasang suami istri itu masih menginap di salah satu kamar hotel. Dekorasi di dalamnya sudah disiapkan untuk pengantin baru.
Kelopak mawar merah bertabur di atas ranjang. Ada lilin-lilin kecil di lantai berbentuk I Love You. Belum lagi bak mandi yang dipenuhi taburan bunga. Aroma bunga memang sudah memenuhi kamar pengantin tersebut.
Quinn berdiri memperhatikan kamar yang akan dia tiduri malam ini. Di sampingnya ada Dimitri yang kini tersenyum penuh arti. Berbeda dengan Dimitri. Kali ini Quinn justru terlihat kebingungan karena dia lupa membawa baju ganti. Rasanya tidak mungkin dia tidur dengan mengenakan gaun pengantin. Apa lagi tanpa busana.
"Sayang, ayo kita masuk." Dimitri mendekati Quinn lalu menggendong istrinya.
"Kenapa harus di gendong? Jaraknya sangat dekat," protes Quinn. Meskipun begitu, terlihat jelas kalau wanita itu bahagia mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari suaminya.
"Karena ini malam pertama kita," sahut Dimitri dengan penuh semangat. Tanpa permisi lagi, pria itu langsung saja mendaratkan bibirnya di bibir Quinn. Quinn sendiri tidak mau diam saja. Wanita itu membalas ciuman suaminya hingga mereka bercumbu untuk waktu yang lama.
"Aku mau mandi. Apa kau mau menemaniku?" tawar Dimitri. Pria itu meletakkan Quinn di ujung tempat tidur. Dia berjongkok di depan istrinya lalu membantunya membukakan sepatu high heels yang dikenakan oleh Quinn saat resepsi tadi.
"Aku ...." Quinn bingung harus jawab apa. Sebenarnya dia masih malu-malu. Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya Quinn seintim ini dengan seorang pria.
__ADS_1
"Kenapa?" Dimitri meletakkan sepatu di lantai lalu meminta Quinn berdiri dihadapannya. "Kau malu?"
Quinn menggeleng ragu-ragu. Dia menghela napas sebelum mengalungkan kedua tangannya di leher Dimitri. "Ayo kita mandi."
Dimitri tersenyum mendengar jawaban istrinya. Dia membuka resleting gaun pengantin yang dikenakan oleh Quinn. Ketika ingin menurunkan gaun itu, tiba-tiba Quinn mencegahnya.
"Apa boleh aku sendiri yang melakukannya?" pinta Quinn dengan debaran jantung yang tidak karuan. Bahkan napasnya mulai tidak normal.
"Oke." Bukan pergi justru Dimitri membuka jas yang ia kenakan di depan Quinn. Lalu jemarinya membuka satu persatu kancing kemeja. Hingga akhirnya pria itu memamerkan dada bidangnya yang gagah. Tato White Snake yang terlukis indah di dada bidang Dimitri membuat Quinn tidak bisa mengedipkan mata lagi.
Melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan membuat Dimitri semakin gemas. Pria itu mengangkat tubuh Quinn lalu meletakkannya di pundak.
Bukan menurunkan Quinn justru pria itu menepuk bokong istrinya. Quinn langsung melebarkan kedua matanya. Dia kembali memberontak. Namun dengan santai Dimitri membawanya ke kamar mandi.
"Dimitri!"
__ADS_1
"Panggil aku sayang," protes Dimitri gantian.
Quinn menyerah. "Sayang, turunkan aku."
"Oke, Baby." Dimitri segera menurunkan Quinn. Namun pria itu tidak tinggal diam. Lagi-lagi dia menarik dagu istrinya dan menciumnya dengan posesif. Tangannya membuat gaun Quinn terlepas sempurna.
Quinn yang sudah dimabuk kepayang tidak lagi sadar dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Hingga saat Dimitri membawanya masuk ke dalam bak mandi, detik itu Quinn baru ingat kalau kini dia hanya memakai pakaian dalam saja.
"Dimitri!" protesnya lagi.
Dimitri menaikan satu alisnya sebelum mendekati Quinn. Dengan cepat Quinn mengucapkan satu kata yang disukai Dimitri. "Sayang, ayo kita mandi. Hanya mandi," ucap Quinn dengan senyuman manis.
Dimitri kembali mundur lalu bersandar dengan santai. "Mulai besok jika kau masih memanggilku dengan nama, detik itu juga aku akan melahapmu, Baby."
Quinn menyipitkan kedua matanya. "Baru kali ini aku takut di ancam."
__ADS_1
Dimitri lalu tersenyum lagi. "I love you."
"I love you to, sayang."