
"Quinn, kenapa kau melamun? Pekerjaanmu masih banyak tuh. Kayaknya kau butuh lembur?" Sherly membuatkan kopi untuk Quinn.
Benar sekali. Sudah 2 minggu Quinn menghilang dan tentunya itu membuat pekerjaannya menumpuk. Meski ada yang membantunya, tapi tetap saja ada beberapa pekerjaan penting tidak bisa digantikan oleh siapapun.
"Hei! Kopi americano buatanku pasti bisa membuatmu sedikit tenang." Sherly menarik kursi yang ada di depan meja Quinn.
"Terima kasih, Sherly. Kau memang sahabat terbaik. Seperti yang kau lihat. Pekerjaanku menumpuk. Tapi, aku tidak ingin lembur. Badanku masih sakit semua. Setidaknya aku harus memikirkan kesehatanku juga." Quinn menyesap secangkir kopi americano buatan Sherly.
Senyuman Quinn terbit di bibirnya. Wanita itu perlahan mulai tenang. Berbeda dengan Quinn yang mulai rileks. Mimik wajah Sherly berbanding terbalik dengan Quinn. Ekspresi wajah Sherly yang tak biasa itu membuat Quinn tertarik.
"Mengapa kau melihatku seperti itu? Kau tidak sedang jatuh cinta padaku kan? Maaf, tapi aku ini masih normal!" Quinn salah paham. Namun, meski begitu Quinn masih menikmati kopi buatan Sherly.
"Kalau ada gosip tidak jelas tentang dirimu, kau bisa mengabaikannya, Quinn. Jangan mendengarkan ocehan mereka. Semenjak kau pergi ada banyak orang yang mengincar posisimu. Tapi para pemegang saham tidak ada yang berani berkomentar tentang dirimu. Apa kau paham Quinn?" Sherly memberikan peringatan kepada Quinn.
Memang benar semenjak Quinn pergi dan tidak ada kabar apapun tentangnya, posisi yang kosong itu membuat semua orang bermuka dua mengincarnya. Sherly sangat kesal karena dia adalah orang yang selalu menjadi sasaran pertanyaan dari orang-orang.
__ADS_1
Sebenarnya Sherly juga tidak tahu tentang kepergian Quinn. Akan tetapi Sherly mengatakan jika Quinn sedang memiliki masalah yang harus diselesaikan. Walaupun Sherly tidak mengatakan detailnya, tetapi orang-orang mengira kalau Quinn akan dipecat atau mengundurkan diri.
"Itu bukan hal baru lagi. Posisi yang aku miliki memang posisi yang lumayan. Jadi aku tidak terkejut tentang hal itu. Terima kasih atas peringatan darimu ini. Aku akan tetap berhati-hati. Begitu kan maksudmu?" Quinn menebak jika saat ini Sherly sedang mengkhawatirkannya.
Tampak sekali dari raut wajah Sherly yang gelisah itu. Melihat Sherly resah, Quinn lalu menggenggam tangan Sherly. Benar saja. Sherly juga kaget saat Quinn menggenggam tangannya.
"Jangan terlalu diambil hati. Kau tahu aku orang yang seperti apa. Tenanglah, Sherly." Quinn berusaha untuk menenangkan Sherly.
"Entah mengapa firasatku tidak enak, Quinn. Aku takut ada yang menaruh dendam padamu karena kau datang lagi ke perusahaan ini," tutur Sherly.
Tring…tring…tring..
"Ada pesan masuk di ponselmu, Quinn," ucap Sherly.
Quinn mengambil ponsel yang terletak di atas meja. Matanya melebar ketika Quinn mengetahui siapa yang mengirim pesan. Quinn juga mengabaikan wajah kebingungan Sherly
__ADS_1
"Siapa yang mengirim pesan sehingga kau sampai seperti itu?" tanya Sherly.
"Dimitri. Dia mengajakku bertemu. Sherly, sepertinya lain kali saja aku mentraktirmu. Hari ini aku mendadak memiliki janji dengan Dimitri," sahut Quinn.
"Apa maksudmu kau akan berkencan dengan Dimitri itu?" kesal Sherly.
"Ya, mungkin saja begitu. Dimitri mengajakku bertemu bukannya itu juga ajakan berkencan?" Quinn dengan cepat membalas pesan yang dikirimkan oleh Dimitri.
"Quinn! Kau lagi-lagi mengabaikan aku!" rengek Sherly. "Hati-hati dengan pria hidung belang. Aku tidak mau kau sakit hati lagi! Bagaimanapun juga, aku sakit hati jika kau sakit hati."
"Hentikan tangisan buayamu, Sherly! Apa kau tidak tahu kalau aku ini sedang merajut masa depanku? Siapa tahu dia Dimitri Huberg! Kau pasti akan bahagia melihat temanmu berpacaran dengan orang hebat!" Quinn semakin melebarkan senyuman begitu melihat ekspresi menyebalkan Sherly.
"Hmm. Aku tahu. Jadi intinya kau sedang jatuh cinta pada Dimitri itu, Quinn?" tebak Sherly.
Quinn menahan gerakkannya. Entah kenapa perkataan Sherly kini membuka lebar pikirannya. "Sherly, aku harus pergi." Tidak mau banyak komentar lagi, Quinn segera pergi meninggalkan meja kerjanya. Sambil berjalan wanita itu kembali bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa mudah sekali bagiku untuk jatuh hati?"
__ADS_1