
Waktu berjalan dengan sangat cepat hingga tidak terasa usia kandungan Quinn saat ini sudah menginjak 3 bulan. Wanita itu sudah berhasil melewati trimester pertama dalam perjalanan kehamilannya. Quinn bisa melewati masa kehamilannya dengan begitu tenang karena Dimitri selalu ada di sisinya. Pria itu menjadi suami siaga yang siap kapan saja membantuku jika menemukan kesulitan.
"Sayang, apakah kau ingin jalan-jalan? Hari ini cuaca terlihat sangat cerah. Menghirup udara segar di luar akan terasa sangat menyenangkan," tawar Dimitri sambil mengusap rambut Quinn yang panjang.
"Aku malas keluar-keluar. Setiap kali sudah ada di luar rumah aku ingin cepat-cepat kembali ke kamarku dan tidur. Aku merasa menjadi seperti seorang pemalas sejak hamil ini," tolak Quinn. Wanita itu mencari posisinya untuk melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda meskipun jelas-jelas kini bukan waktunya tidur.
"Bagaimana kalau kita makan sesuatu di cafe atau di restoran? Apa tidak ada makanan yang kau inginkan?" Dimitri terus membujuk Quinn agar bergerak.
Karena memang dokter tidak menyarankan jika Quinn harus berbaring seharian di atas tempat tidur seperti itu. Meskipun dalam keadaan hamil tapi Quinn tetap harus bergerak. Itu semua demi kesehatan anak yang ada di dalam kandungannya juga.
"Tiba-tiba aku ingin makan sate. Tapi aku ingin kau yang memasak sate itu." Quinn kembali duduk dengan posisi menghadap ke arah Dimitri. "Tapi kau tidak pandai memasak. Bagaimana mungkin kau bisa membuatkan aku sate?"
"Aku bisa memasak apa saja yang kau inginkan. Tetapi ada syaratnya," jawab Dimitri dengan tatapan penuh arti.
"Apa syaratnya? Cepat katakan karena aku sudah tidak sabar ingin sekali memakan sate buatanmu," pinta Quinn.
"Kau harus menemaniku selama aku memasak sate ini. Aku tidak mau kau tidur di kamar ini sedangkan aku ada di bawah untuk memasak. Aku tidak akan bisa memasak dengan tenang jika kau tidak ada disisiku." Kali ini Dimitri berhasil menemukan kalimat yang tepat untuk mengajak Quinn keluar dari kamar.
Meskipun dia sendiri tidak yakin jika rencana ini akan berhasil. Karena melihat ekspresi Quinn yang terlihat tidak bersemangat setelah mendengar penawarannya itu.
"Tapi aku senang berada di kamar. Aku tidak mau keluar kemanapun. Aku hanya ingin makanan itu datang ke kamar. Kenapa aku tidak boleh tidur di kamar ini saja seharian? Aku tidak mau melakukan hal apapun lagi," ujar Quinn dengan wajah memelas hingga akhirnya membuat Dimitri menjadi tidak tega.
"Apa seperti ini bawaan orang hamil? Tapi aku tidak bisa memaksanya. Aku tidak tega melihat wajahnya yang seperti ini," batin Dimitri di dalam hati.
"Sayang, kau mau tidak memasakkan sate untukku? Aku sudah tidak sabar untuk melahapnya. Buat yang enak ya?" pinta Quinn lagi.
Kali ini wanita itu merayu sambil memeluk suaminya. Ada kecupan cinta juga yang ia daratkan di bibir Dimitri.
"Baiklah. Tapi ingat. Jangan pergi kemanapun selama aku tidak ada di sisimu. Jika kau ingin tidur, tidur saja di atas tempat tidur ini!" ujar Dimitri memperingati.
Quinn mengukir senyuman. "Oke Bos! Aku janji tidak akan turun dari tempat tidur sampai sate pesananku tiba. Sekarang cepat pergi ke dapur dan buatkan aku sepiring sate. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya."
"Baiklah." Dimitri mengusap pucuk kepala Quinn sebelum turun dari tempat tidur. Pria itu memandang ke arah Quinn sejenak sebelum keluar dari kamar.
Setelah berada di luar kamar barulah pria itu kini mulai pusing karena memang dia tidak tahu bagaimana cara memasak sate. Bahkan memakannya saja tidak pernah karena memang sate merupakan makanan yang paling dibenci oleh Dimitri.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Kenapa tiba-tiba ingin makan sate itu terlintas di dalam pikirannya!" Dimitri mulai bingung. Pria itu segera berjalan menuju ke tangga. Ia mencari koki yang biasa bekerja di rumahnya.
"Tuan. Ada yang bisa saya bantu? Kenapa tiba-tiba Anda ke dapur?" tanya ketua pelayan yang memang tugasnya selalu di dapur.
"Quinn memintaku untuk membuat sepiring sate. Tapi aku belum pernah membuat sate sebelumnya. Aku takut rasanya tidak sesuai dengan selera Quinn," ujar Dimitri dengan wajah yang sangat frustasi.
"Kalau begitu saya akan membantu Anda memasak sate. Memang Nona Quinn sangat menyukai sate. Sebelum hamil dia pernah beberapa kali meminta para koki untuk memasak sepiring sate hanya untuknya sendiri. Mungkin Anda tidak menyadarinya karena saat itu Anda sedang tidak ada di rumah."
__ADS_1
"Benarkah? Lalu apalagi makanan yang biasa disukai oleh Quinn? Selama denganku dia tidak pernah memilih-milih makanan. Jadi aku tidak tahu sebenarnya makanan apa yang menjadi favoritnya." Dimitri penasaran dengan makanan yang disukai oleh istrinya. Sebab Quinn jarang sekali memilih makanan.
"Biasanya sebelum makan siang tiba, Nona Quinn suka meminta koki untuk membuatkan salad sayur. Dia tidak suka memakan lauk dengan sayur secara bersamaan," jelas kepala pelayan itu.
"Apa ada lagi?" Dimitri duduk di kursi yang ada di dapur.
"Nona Quinn tidak menyukai makanan pedas. Tetapi dia juga sangat membenci makanan manis. Namun anehnya ketika bersama dengan Anda makanan pedas maupun manis ia lahap sampai habis. Terkadang saya sendiri juga heran melihatnya. Karena Nona Quinn bisa berubah dalam hitungan detik saja." Kepala pelayan itu mengambil bahan-bahan yang ada di dalam kulkas.
Ada ayam dan juga beberapa bumbu yang memang akan digunakan untuk memasak sate. Tidak lupa kepala pelayan itu mengambil tusuk sate yang ada di lemari.
"Apa semua bahannya sudah lengkap?" tanya Dimitri dengan penuh antusias. Pria itu kini siap untuk memasak sate.
"Sudah Tuan. Anda hanya perlu mengikuti apa yang saya ajarkan. Saya jamin Anda pasti bisa membuat sate yang sangat lezat untuk Nona Quinn," ucap kepala pelayan itu dengan penuh percaya diri.
Dimitri menggulung lengan kemejanya agar bisa bergerak dengan bebas. Pria itu berdiri di depan meja dapur lalu mengolah ayam yang akan ia jadikan sate. Beberapa pelayan yang ingin ke dapur harus menahan langkah kaki mereka. Mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sosok pria tangguh yang biasa memimpin geng mafia itu kini akhirnya terjun juga ke dapur hanya karena ingin membuat sate untuk istrinya.
Di dalam kamar, Quinn terlihat sangat gelisah. Padahal tadinya ia merasa sangat mengantuk sekali hingga menolak untuk ikut dengan Dimitri ke dapur. Tetapi kini ketika suaminya tidak ada justru wanita itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia duduk di atas tempat tidur dan memandang ke arah pintu.
"Apa Dimitri benar-benar bisa memasak sate untukku? Aku yakin dia pasti meminta koki untuk membuatnya," gumam Quinn di dalam hati.
Wanita itu segera turun dari tempat tidur. Ia berjalan dengan hati-hati menuju ke arah pintu. Memastikan kalau di lantai tidak ada air atau benda apapun yang bisa membuatnya terpeleset.
Setelah tiba di depan pintu Quinn membuka pintu kamarnya secara perlahan. Beberapa pengawal yang diutus Dimitri untuk berjaga-jaga di sana terlihat sangat khawatir ketika melihat Quinn keluar dari kamar.
"Nona, apa yang Anda lakukan? Anda mau ke mana?" tanya pengawal itu dengan penuh hormat.
"Iya tuh. Bos Dimitri ada di dapur. Tapi sebaiknya Anda tidak perlu turun ke bawah," ujar pengawal itu.
Selama ini setiap kali ingin turun ke lantai bawah Dimitri selalu menggendong Quinn agar wanita itu tidak turun dengan menggunakan tangga. Kali ini mereka benar-benar tidak mengizinkanku untuk turun sendiri ke bawah.
"Aku akan baik-baik saja. Aku ingin menemui suamiku," ucap Quinn sebelum melangkah menuju ke arah tangga.
"Nona, jangan Nona!" teriak salah satu pengawal.
Sedangkan pengawal lainnya berdiri di depan tangga dan membuat pagar agar Quinn tidak bisa lewat. Mereka benar-benar menjaga Quinn dengan sebaik mungkin untuk melindungi anak yang kini ada di dalam kandungan Quinn agar tidak sampai celaka.
"Apa yang kalian lakukan? Aku ini hanya sedang mengandung bukan sakit keras. Kenapa kalian melarangku untuk turun dengan menggunakan tangga?" Quinn terlihat protes. Meskipun begitu ia tidak tega untuk marah-marah kepada pengawal yang ada di depannya.
Satu pengawal segera turun ke bawah untuk menyampaikan kejadian ini kepada Dimitri. Karena mereka tidak tahu sampai berapa lama bisa menahan Quinn seperti itu.
Di dapur, Dimitri siap untuk membakar sate yang sudah diolah. Melihat sate buatannya membuat Dimitri menjadi ingin segera mencicipinya. Kepala pelayan yang sejak tadi ada di samping Dimitri juga tersenyum puas melihat hasil kerja Dimitri.
"Saya yakin saat ini rasanya pasti sangat lezat. Nona Quinn pasti menyukainya," ucap kepala pelayan itu dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Bos! Gawat Bos!" pengawal yang tadi ada di lantai atas kini sudah tiba di dapur. Dengan keringat berkucur deras pria itu berdiri di hadapan Dimitri.
"Ada apa?" tanya Dimitri khawatir. Dia tahu kalau pengawal yang kini berdiri di hadapannya bertugas untuk menjaga berjaga-jaga di depan pintu kamar tidurnya.
"Nona Quinn ingin turun ke bawah sekarang Nona Quinn sudah ada di depan tangga," ucap pengawal itu cepat karena memang mereka tidak memiliki waktu banyak.
"Quinn mau turun?" Dimitri langsung panik mendengarnya. Pria itu meninggalkan sate yang sudah ada di atas panggangan begitu saja. Ia segera berlari menuju ke arah tangga.
Sambil menjejaki kaki menuju ke lantai atas pria itu terus memandang istrinya yang kini berdiri di depan tangga dengan wajah kesal. Ketika tiba di lantai atas Dimitri segera memegang tangan Quinn dan meminta para pengawal yang ada di sana untuk menyingkir.
"Sayang, aku sudah bilang jangan turun tangga. Jika kau ingin turun kau bisa bicara padaku. Biar aku gendong. Tangga ini sangat tinggi terlalu berbahaya bagi wanita hamil sepertimu." Dimitri terlihat protes karena memang dia sangat mengkhawatirkan keselamatan istrinya saat ini.
"Tapi aku bisa jika hanya turun tangga saja," ucap Quinn yang masih tetap mempertahankan egonya.
"Oke begini saja. Bagaimana kalau kamar kita pindah ke lantai bawah dengan begitu kau tidak perlu naik turun tangga ketika ingin pergi ke dapur," tawar Dimitri memberi solusi.
"Aku tidak mau. Aku sudah terlanjur nyaman dengan kamarku yang sekarang. Aku tidak mau pindah kamar. Kalau begitu sekarang cepat gendong aku aku sudah tidak sabar untuk melihat sate buatanmu," pinta Quinn. Wanita itu mengangkat kedua tangannya. Karena meminta Dimitri agar segera menggendongnya.
Dimitri tersenyum melihat kelakuan istrinya. Pria itu segera menggendong Quinn dan membawanya turun ke lantai bawah dengan sangat hati-hati.
"Nanti ketika usia kandunganku sudah 9 bulan apakah kau masih sanggup untuk menggendongku?" tanya Quinn penasaran.
"Jelas aja aku sanggup. Aku ini pria yang sangat kuat," jawab Dimitri dengan penuh percaya diri.
Setibanya di dapur Dimitri cepat-cepat menurunkan Quinn dan berlari menuju ke tempat pembakaran sate. Pria itu bisa bernapas lega ketika melihat sate yang tadi ia bakar kini sudah ada di atas piring. Pria itu mencari kepala pelayan yang sejak tadi membantunya. Ternyata wanita paruh baya itu sengaja bersembunyi agar Quinn tidak tahu kalau proses pembuatan sate yang dilakukan oleh Dimitri dibantu olehnya.
"Sayang, lihatlah. Karena kau ingin turun sendiri dari tangga sampai-sampai Aku meninggalkan sate yang sedang aku bakar. bagaimana kalau sate ini sampai gosong? Ppakah kau masih tetap mau memakannya?" protes Dimitri.
Quinn segera mengambil sate yang sudah matang tanpa menunggu lagi. Wanita itu segera melahapnya. Ia mengangguk dengan wajah yang bahagia ketika merasakan sate buatan suaminya sangat enak. Wanita itu mengambil satu tusuk lagi sampai sate yang ada di piring benar-benar habis.
"Sayang, tapi kau tidak boleh banyak-banyak makan sate. Bukankah wanita hamil tidak boleh banyak-banyak memakan makanan yang belum matang sempurna seperti sate ini? Dann salad sayur yang selama ini kau makan ketika aku tidak ada di sampingmu," ucap Dimitri sambil membalik sate yang ada di pembakaran.
Quinn yang tadinya mengunyah sate itu dengan penuh semangat kini terlihat sedih. Ia duduk di kursi yang ada di samping Dimitri sembari memandang sate yang masih dibakar suaminya.
"Hampir semua makanan yang aku sukai tidak boleh aku makan ketika aku hamil. Sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan. Tapi aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku tidak sanggup untuk meninggalkan semua makanan itu. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatku sangat-sangat menginginkannya. Aku sampai tidak selera makan memakan makanan lain." Quinn memasang wajah sedih.
Dimitri menghela nafas kasar. Jika sudah memasang wajah memelas seperti itu lagi-lagi dia tidak bisa protes. "Ya sudah kalau begitu habiskan sate Big Boss ini."
"slSate Big Boss?" tanya Quinn dengan alis saling bertaut.
"Iya. Sate ini dibuat oleh Big Boss Snack White!" jelas Dimitri lagi. Quinn langsung tertawa mendengarnya.
"Maafkan aku, Big Boss. Tapi sate buatan Big Boss memang sangat enak," puji Quinn.
__ADS_1
Dimitri tersenyum melihat istrinya tersenyum ceria seperti itu. "Aku mencintaimu, Quinn. slSangat-sangat mencintaimu."
Quinn memegang tangan Dimitri. "Aku juga sangat mencintaimu suamiku."