My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 107 Penduduk Pulau


__ADS_3

Dimitri dan Joa baru saja tiba di sebuah pulau yang baru saja mereka beli. Kedatangan dua pria itu disambut hangat oleh Nenek Su. Ternyata Dimitri sengaja membeli pulau yang aman dan tidak terlalu jauh dari kota untuk dijadikan tempat tinggal para penduduk pulau. Termasuk Nenek Su.


Kini semua orang memandang Dimitri dengan wajah ceria. Mereka tidak perlu khawatir lagi karena di pulau itu sudah ada akses internet. Kapan saja mereka dalam bahaya maka salah satu dari mereka bisa segera menghubungi pasukan White Snake untuk melindungi mereka.


"Tuan, terima kasih. Rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup. Anda ini pria yang sangat baik. Saya doakan semoga pernikahan anda dengan Nona Quinn berjalan lancar. Sampaikan juga salam kami kepada Nona Quinn," ucap Nenek Su.


"Anda tidak perlu memuji saya seperti itu. Bukankah Saya pernah berjanji kepada kalian semua. Selama saya masih hidup kalian semua akan aman," jawab Dimitri. Pria itu memperhatikan satu persatu wajah penduduk desa. Tidak ada yang kurang satupun. Meskipun ada beberapa yang tidak bisa hadir, tetapi Dimitri merasa lega karena bisa memindahkan semua penduduk desa ke pulau pribadinya yang baru dia beli ini.


"Tuan Robin sudah menceritakan semuanya kepada kami. Anda bahkan rela mengorbankan satu-satunya nyawa yang anda miliki demi kebebasan kami. Anda benar-benar malaikat bagi kami, Tuan. Entah dimana lagi kami menemukan pria seperti anda. Kami doakan agar anda panjang umur."


Nenek Su bicara dengan kedua mata berkaca-kaca. Hal itu membuat Dimitri jadi tidak tega. Dia langsung memegang kedua lengan Nenek Su dan memandangnya sambil tersenyum.


"Saya sudah pernah bilang kalau saya menganggap kalian sudah seperti saudara sendiri. Sejak dulu saya tidak pernah memiliki keluarga yang utuh. Berada diantara kalian membuat saya seperti memiliki keluarga. Jadi jangan pernah katakan kalau apa yang saya lakukan selama ini tidak memberi keuntungan bagi saya.


Justru saya merasa kalau saya lah yang terlalu banyak diberi keuntungan atas hadirnya kalian semua. Karena harta benda bisa dicari dan bisa dibeli sedangkan keluarga tidak bisa dicari di manapun. Terutama orang-orang yang benar-benar tulus menyayangi saya seperti kalian semua," jawab Dimitri. Pria itu terlihat tulus dengan apa yang baru saja dia katakan. Tidak terlihat kebohongan sedikitpun di sana.


"Tuan, sejak pertama kali kita bertemu Saya sudah menganggap Anda seperti anak saya sendiri. Akan tetapi saya tidak berani untuk mengakui hal itu mengingat status sosial kita sangat jauh berbeda. Tapi jika memang Anda semua menganggap kami semua sebagai keluarga anda itu membuat saya sangat terharu.


Mulai detik ini anda bisa menganggap saya sebagai ibu anda. Saya tidak membutuhkan harta sepeserpun dari Anda Tuan. Saya hanya ingin anda menceritakan kelelahan dan masalah yang anda miliki kepada saya. Saya janji pasti akan membantu anda mencari jalan keluarnya layaknya seorang ibu yang sedang menasehati putranya."


Dimitri tersenyum mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nenek Su. Pria itu langsung memeluknya. Disambut dengan sorak tepuk tangan semua penduduk desa yang kini juga ada di sana. Mereka semua sangat terharu sampai-sampai kedua mata mereka berkaca-kaca.


Bukan hanya penduduk desa saja yang terharu. Tetapi Joa si wanita tangguh yang sikapnya seperti es juga terlihat menahan air mata. Pria itu bangga sekali bisa memiliki atasan seperti Dimitri. Pria itu memberinya banyak pelajaran yang begitu berarti selama ini.


"Oh iya. Bagaimana dengan rumah baru yang sudah dibangun? Apakah kalian semua menyukainya?" Kali ini Joa yang angkat bicara.


"Kami sangat menyukainya Tuan. Sekarang kami sudah memiliki listrik. Bahkan sebuah kapal yang bisa kami gunakan kapan saja jika kami ingin pergi ke kota. Kehidupan kami yang sekarang jauh lebih sempurna daripada kehidupan kami yang dulu," jawab salah satu penduduk desa. "Kami juga bisa membawa anak kami mencari pendidikan yang lebih layak di kota. Ternyata apa yang pernah anda katakan benar. Tidak ada salahnya mencoba. Jika gagal, itu juga bukan akhir dari segalanya. Bukan juga halangan untuk mencoba lagi!"


"Sebenarnya itu bukan kata-kataku. Tetapi itu kalimat yang sering diucapkan Bos Dimitri di depanku," jawab Joa. Dia memandang ke arah Dimitri sebelum tersenyum.


Joa merasa puas dengan hasil kerja bawahannya. Memang bisa dibilang pulau itu dibeli tanpa ada rencana apapun. Mereka berhasil membebaskan orang-orang penduduk pulau yang menjadi tawanan Tuan Nio, di saat itu juga Joa berpikir keras untuk mencari tempat tinggal yang baru bagi mereka.


Kebetulan salah seorang pengusaha yang cukup terkenal mengalami kebangkrutan hingga pada akhirnya pria itu menjual salah satu aset yang ia miliki. Aset berharga Itu adalah sebuah pulau yang sekarang ditempati para penduduk desa.


Joa mengeluarkan uang yang jumlahnya sangat fantastis hanya untuk membeli pulau itu. Namun pada akhirnya semua terbayar juga. Melihat senyum bahagia di wajah penduduk desa serta senyum puas di bibir Dimitri membuat Joa merasa kalau kerja kerasnya tidak sia-sia.


"Tuan, Ayo kita ke dalam. Ada sebuah sambutan yang sudah kami persiapkan untuk Anda berdua," ajak Nenek Su tanpa rasa segan lagi. Wanita tua itu menarik tangan Dimitri dan membawa pria itu pergi menuju ke kediamannya. Diikuti oleh penduduk desa yang lain.


Setibanya di dalam rumah, Nenek Su memaksa Dimitri untuk duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Ternyata wanita itu sudah memasak beberapa menu yang akan dijadikan santapan Dimitri dan Joa siang ini. Ada banyak aneka menu di sana.

__ADS_1


"Tuan, makanan ini kami masak dengan penuh cinta. Semoga saja anda menyukainya," ucap Nenek Su dengan senyum ceria.


"Kelihatannya sangat enak. Kebetulan sekali saya sangat lapar," dusta Dimitri dengan senyum menyakinkan.


Sebenarnya tadi di pesawat Dimitri sudah makan. Namun untuk menghargai kerja keras Nenek Su dan penduduk desa yang lain, pria itu mengisi piring kosong yang ada di hadapannya dengan beberapa menu yang sudah disajikan di sana.


Karena Dimitri dan Joa masih merasa kenyang, pada akhirnya mereka tidak sanggup untuk menghabiskan semua hidangan yang ada di meja.


"Apa anda sudah selesai, Tuan? Kenapa tidak dihabiskan semua?" tanya Nenek Su.


"Makanan ini terlalu banyak untuk kami," sahut Joa. Dia tahu kalau Dimitri tidak akan memiliki alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Nenek Su. Yang ada Dimitri akan memaksakan diri untuk menghabiskan semua makanan yang sudah dihidangkan.


"Baiklah. Kalau begitu saya akan membereskan meja ini."


Nenek Su dibantu oleh seorang wanita untuk membereskan semua makanan yang tersisa. Setelah semua rapi dan bersih Nenek Su kembali duduk di meja makan untuk berbincang-bincang dengan Dimitri dan juga Joa.


"Nek, Saya mengundang Anda dan semua penduduk desa yang ada di sini untuk hadir di acara pernikahan saya nanti. Masalah penjemputan akan diatur oleh Joa. Kalian semua hanya perlu mempersiapkan diri," ucap Dimitri.


Kedua mata Nenek Su terlihat berbinar. Dia senang sekali bisa mendapatkan undangan dari Dimitri. "Apakah itu benar Tuan?" tanya Nenek Su masih dengan wajah tidak percaya. Sebenarnya ia sudah sangat merindukan Quinn, namun wanita tua itu tidak mau merepotkan Dimitri.


"Tentu saja benar. Kapan saya berbohong?" sahut Dimitri.


"Terima kasih Tuan. Saya akan menyampaikan kabar baik ini kepada semua penduduk desa. Mereka semua pasti akan sangat senang mendengarnya," jawab Nenek Su. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana cantiknya Quinn dan tampannya Dimitri ketika mereka menjadi pengantin nantinya.


Dimitri melirik ponselnya yang berdering. Pria itu terlihat bersemangat melihat nama Quinn muncul di layar ponselnya.


"Saya permisi dulu," pamit Dimitri. Pria itu segera pergi keluar rumah agar bisa lebih leluasa bicara dengan Quinn.


"Halo, sayang. Apa kabar?" sapa Dimitri sambil tersenyum.


"Aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku? Kenapa lama sekali?" protes Quinn di kejauhan sana.


"Hari ini aku akan pulang. Apakah kau mau tahu dimana sekarang aku berada?"


"Tentu saja. Ini juga aku ingin bertanya." Quinn terbatuk-batuk hingga membuat Dimitri jadi khawatir.


"Apa kau sakit sayang?" Dimitri ingin sekali segera pulang untuk melihat keadaan Quinn secara langsung.


"Ini hanya batuk biasa. Dokter Fei sudah memeriksaku dan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Oh iya, tadi kau bilang kau ingin memberi tahuku dimana kau berada saat ini."

__ADS_1


"Coba tebak. Sekarang aku ada dimana?" Tiba-tiba saja Dimitri tertarik untuk meledek kekasihnya itu.


"Sayang, cepat katakan," rengek Quinn. Hanya membayangkan wajah Quinn yang sekarang saja sudah membuat Dimitri melayang.


"Aku ada di rumah Nenek Su."


" Nenek Su? Benarkah? Apa kau tidak berbohong?" Nada bicara Quinn berubah kuat. Wanita itu sangat senang mendengarnya.


"Ya. Apa kau mau bicara dengannya?"


"Tentu. Apa Nenek Su ada di sana? Cepat berikan ponselnya kepada Nenek Su."


"Baiklah. Tunggu ya. Aku masuk dulu." Dimitri masuk lagi ke dalam rumah. Di sana dia melihat Joa dan Nenek Su yang berbincang sambil tertawa lepas.


"Tuan, ada apa?" tanya Joa ketika Dimitri muncul dan hanya diam saja.


"Quinn mau bicara dengan anda." Dimitri segera memberikan ponselnya kepada Nenek Su. Wanita paruh baya itu langsung menyambut ponsel Dimitri dan melekatkannya di telinga.


"Halo, Nona."


"Nek, ini aku!" teriak Quinn. "Nenek apa kabar?"


"Saya baik, Non. Bagaimana dengan anda?" Nenek Su terlihat bahagia karena setelah sekian lama akhirnya dia bisa mendengar suara Quinn lagi.


"Saya juga sehat, Nek. Nek, saya sangat ingin bertemu dengan Nenek lagi."


"Ya, Nona. Nanti-"


"Jangan katakan pada Quinn soal undangan itu. Ini kejutan untuknya," bisik Dimitri agar Nenek Su tidak sampai keceplosan. Wanita tua itu akhirnya mengangguk setuju.


"Nanti pasti ada saatnya kita bertemu Nona."


"Ya. Dimitri sangat curang. Kalau aku tahu dia akan ke situ, aku pasti ikut kemarin. Sekarang dimana dia? Aku ingin memarahinya."


Nenek Su tertawa mendengarnya. Wanita itu kembali memberikan ponselnya kepada Dimitri.


"Sayang, aku mencintaimu. Nanti akan aku telepon lagi." Dimitri segera memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Dia tahu setelah ini Quinn akan benar-benar mengomel karena tidak membawanya ke Pulau dan mematikan ponselnya secara sepihak.


"Tuan, anda bisa istirahat di dalam kamar," tawar Nenek Su.

__ADS_1


"Tidak, Nek. Saya tidak bisa lama-lama berada di sini. Saya harus segera pulang menemui Quinn. Saya juga sudah sangat merindukannya."


Nenek Su tersenyum hangat mendengarnya. "Sampai detik ini saya masih tidak menyangka kalau mereka berdua berjodoh dan akan segera menikah," batin Nenek Su di dalam hati.


__ADS_2