My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 190 Berduaan


__ADS_3

"Kenapa?"


Audy menahan kakinya mendengar perkataan Xander. "Kenapa? Kenapa apanya?" tanya Audy balik.


Xander berjalan mendekati Audy. Dia berdiri di depan wanita itu. "Kenapa kau menolaknya? Saat bersama denganku kau justru terlihat sangat menikmatinya," jawab Xander dengan tatapan penuh arti. Audy langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Xander.


"Jangan kurang ajar! Aku juga tidak mau. Tapi kau memaksaku!" Audy memalingkan wajahnya karena tidak mau Xander melihat wajahnya yang merona malu.


"Benarkah?" Xander menaikan satu alisnya. Pria itu melangkah lebih dekat lagi dan sedikit menunduk agar bisa menatap jelas wajah cantik Audy. "Tapi aku tidak ada memaksamu. Kau duluan yang menciumku, Audy."


Wajah Audy semakin merah. Xander sangat menikmatinya. Pria itu tersenyum puas sebelum pergi meninggalkan Audy begitu saja.


"Dimana kamarku?" tanya Xander ke pelayan yang berdiri tidak jauh darinya.


"Mari, Tuan saya antar," sahut pelayan tersebut.


Audy mengepal kuat tangannya sebelum naik ke atas tangga. Tanpa bertanya wanita itu sudah tahu dimana letak kamar yang akan menjadi tempat istirahatnya.

__ADS_1


Pelayan wanita itu berhenti di depan pintu bercat warna putih yang tidak jauh dari ruang makan. Dia menunduk hormat. "Ini kamar anda, Tuan. Tuan Aldo meminta anda istirahat di kamar tamu yang ada di lantai satu. Tuan Aldo juga berpesan agar anda tidak pernah naik ke lantai atas," jelas pelayan wanita itu apa adanya.


"Baiklah." Meskipun Xander sendiri tidak tahu kapan Aldo mengatakan pesan itu kepada pelayan. Akan tetapi dia memilih untuk mengangguk dan segera masuk ke dalam.


Setelah tiba di dalam kamar, Xander segera mengunci pintu kamar dan menjauh dari pintu. Dia mengambil ponselnya dari dalam saku untuk menghubungi supir yang tadi bersama dengannya.


"Bos, apa anda baik-baik saja? Saya sangat mengkhawatirkan anda," tanya pria itu dikejauhan sana.


"Aku sengaja mematikan ponselku. Pulanglah. Aku sedang melakukan sebuah misi penting. Kau tidak perlu mengetahuinya."


"Tapi, Tuan. Nona Sherin sudah mengetahui hal ini."


"Maafkan saya, Tuan. Ponsel anda tidak bisa dihubungi. Jadi, saya menghubungi Nona Sherin untuk-"


"Ha, sudahlah. Nanti biar aku saja yang menghubungi Sherin!" Dengan wajah kesal Xander memutuskan panggilan telepon tersebut. Dia mendengus kesal dan duduk di atas tempat tidur. Jemarinya mengotak-atik ponsel mencari nomor Sherin. Tidak butuh waktu lama panggilan telepon itu langsung tersambung ke Sherin.


"Kakak, apa kakak baik-baik saja?" Nada bicara Sherin sangat khawatir.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Aku bersama dengan Audy," jawab Xander.


"Kakak sedang bersenang-senang dengan Audy? Kak, kenapa harus mematikan ponsel? Itu hanya membuat semua orang khawatir!" Sherin sangat marah saat itu. Bulan madunya jadi kacau setelah mendengar kabar Xander hilang.


"Maafkan aku. Aku sengaja mematikan ponselku agar baterainya tidak habis. Sherin, aku memiliki satu permintaan."


"Permintaan? Kakak mau minta apa dariku?"


"Aku akan mengirimkan posisiku berada saat ini. Setiap hari tepatnya jam 8 pagi, aku akan mengirim pesan singkat kepadamu. Jika aku tidak mengirimkan pesan lagi, cepatlah ajak Joa untuk menolongku," pinta Xander dengan suara yang pelan. Dia tidak mau ada yang menguping pembicaraannya.


"Apa kakak sedang melakukan sebuah misi yang berbahaya?" tebak Sherin yang lagi-lagi khawatir.


"Tidak. Sejauh ini aman-aman saja. Sherin, bisakah kau membantuku?"


"Tentu saja. Baiklah. Kalau begitu setiap jam 8 aku akan membuka ponsel untuk membaca pesan kakak."


"Terima kasih Sherin. Semoga bulan madumu menyenangkan," ucap Xander.

__ADS_1


"Kakak juga harus hati-hati. Meskipun aku tidak tahu apa yang sedang kakak lakukan, tapi satu pesanku. Jika keadaan sudah tidak menguntungkan, segera hubungi kami."


"Baiklah." Xander segera memutuskan panggilan telepon tersebut. Kini dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sambil memandang langit-langit kamar, pria itu kembali membayangkan wajah cantik Audy. "Audy ...."


__ADS_2