My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 214 Pelayan Gadungan


__ADS_3

Pelayan wanita itu lagi-lagi mengirimkan hasil rekaman yang berhasil ia ambil. Namun sayangnya kali ini wanita itu tidak sadar kalau sejak tadi ada Sherin yang sedang memperhatikannya. Sherin memang belum melakukan tindakan apapun. Kini tujuan wanita itu untuk mencari tahu sebenarnya apa yang sudah direncanakan oleh pelayan gadungan yang kini bekerja di kediaman Xander.


Tidak lama setelah mengirimkan video rekaman tersebut, Aldo segera menelepon pelayan wanita itu. Tanpa menunggu lagi pelayan itu segera mengangkat telepon dari Aldo. Sesekali dia memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan kalau di sana aman. Tidak ada yang sedang menguping pembicaraan mereka.


"Halo, Tuan. Saya sudah melakukan semua yang anda perintahkan. Makanan dan minuman yang saat ini diantar ke kamar Nona Audy juga sudah saya beri obat yang anda berikan kemarin. Bukan hanya itu saja, semua air minum yang ada di rumah ini juga sudah saya beri obat. Siapa saja yang meminumnya pasti akan langsung tertidur. Anda tenang saja malam ini juga pasti kita bisa membawa Nona Audy pergi dari rumah ini. Setelah acara pertunangan selesai, kita akan beraksi," ucap pelayan wanita itu dengan jelas hingga membuat Sherin kaget bukan main.


"Siapa yang sudah memasukkan pelayan gadungan ini ke rumah. Mama dan papa benar-benar ceroboh. Untung saja aku bisa mengetahui kejahatannya lebih dulu. Kalau tidak bagaimana? Tapi tadi dia bilang dia sudah memberikan sesuatu ke makanan dan minuman yang ada di kamar Kak Audy. Kali ini aku tidak bisa diam lagi. Aku harus mengambil tindakan," gumam Sherin di dalam hati.


Dia segera pergi menjauh dari sana agar pelayan itu tidak curiga. Sherin cepat-cepat menghubungi nomor Joa. Hanya suaminya yang bisa ia mintai pertolongan untuk saat ini. Di luar acara pertunangan masih belum selesai. Sherin tidak mungkin memberitahu informasi ini kepada Xander. Karena informasi ini hanya akan membuat pesta pertunangan Xander menjadi berantakan.


"Sayang, apakah kau baik-baik saja?" tanya Joa di dalam telepon. "Apa kau sudah makan?"


"Aku baik-baik saja. Tapi sepertinya ada masalah di sini," jawab Sherin. Dia memandang ke belakang untuk memastikan kalau kini tidak ada satu orang pun yang sedang menguping pembicaraannya. Setelah benar-benar aman, Sherin kembali melanjutkan obrolannya. "Joa, aku takut."


"Masalah apa?" Dari nada bicara Joa terdengar sangat khawatir.


"Ada mata-mata di rumah ini. Aku baru saja mendengar dia berbicara dengan seseorang di dalam telepon. Sebenarnya aku tidak tahu siapa yang sudah membayarnya. Tetapi sepertinya target utama mereka saat ini adalah Kak Audy. Mereka ingin membawa Kak Audy pergi dari rumah ini," jawab Sherin dengan nada bicara yang sangat pelan agar tidak ada yang dengar.


"Audy? Itu berarti semua masalah ini berhubungan dengan Aldo." Joa bisa langsung mengambil kesimpulan karena anak buahnya sudah memberi kabar kalau sekarang Aldo sudah tidak ada di rumah sakit lagi. Bahkan keberadaan pria itu sudah tidak bisa ditemukan. Kecurigaan Joa semakin besar ketika Sherin meneleponnya seperti ini.


"Aldo? Dia sudah ada di kota ini?" tanya Sherin kaget. "Lalu apa yang harus aku lakukan jika dia tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku mungkin bisa bertarung dengannya. Tapi aku tidak yakin bisa menang. Sayang, cepat ke sini," rengek Sherin. Kali ini dia ingin suaminya segera datang untuk menemuinya.


"Aku akan segera ke sana. Jangan pernah biarkan Audy sendirian. Kita tidak tahu sudah ada berapa banyak anak buah Aldo di rumah itu," ucap Joa memperingati.


"Baiklah." Sherin segera memutuskan panggilan teleponnya. Wanita itu cepat-cepat kembali ke lokasi pesta. Dia ingin berada di dekat Audy untuk menjaga kakak iparnya tersebut.


Setibanya di lokasi pesta Sherin dibuat bingung ketika ia tidak lagi menemukan Audy ada di sana. Hanya terlihat Xander yang sedang asyik mengobrol dengan rekan kerjanya. Wanita itu cepat-cepat menghampiri Xander untuk menanyakan keberadaan Audy.


"Kak, di mana Kak Audy? Kenapa Kak Audy tidak ada di samping kakak?" tanya Sherin sambil mencari-cari.


"Audy tadi pamit mau ke toilet," jawab Xander dengan santai. Dia sama sekali tidak curiga.


"Toilet?"


Sherin langsung melebarkan matanya dengan wajah yang sangat panik. Wanita itu cepat-cepat berlari menuju ke toilet. Ekspresi Sherin yang begitu mengejutkan membuat Xander menjadi tidak tenang. Hingga akhirnya pria itu juga memutuskan untuk mengikuti Sherin dari belakang.


Audy baru saja keluar dari toilet. Wanita itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada terlihat gerak-gerik yang begitu mencurigakan di sana. Dia bahkan kini masih bisa tersenyum manis di depan Sherin.


"Kak Audy!" teriak Sherin sebelum berlari lebih kencang lagi. Wanita itu segera berdiri di samping Audy dan memegang tangannya. "Kakak baik-baik saja?" Sherin memeriksa seluruh tubuh Audy."


"Sherin, ada apa?" tanya Audy bingung.

__ADS_1


Xander yang baru saja tiba juga segera mendekati Sherin. Pria itu ingin menagih sebuah penjelasan dari adiknya.


"Sherin, ada apa? Kenapa wajahmu panik seperti itu?" Xander memandang ke arah Audy. "Audy, apa kau baik-baik saja?"


"Kak, tidak terjadi sesuatu di sini. Sejak tadi aku tidak memiliki waktu untuk mengobrol dengan Kak Audy. Aku merasa kesal. Jadi sekarang aku putuskan untuk menculik Kak Audy," sahut Sherin tanpa mau menjelaskan situasi yang sebenarnya. Bahkan wanita itu tertawa agar Audy dan Xander percaya dengan jawabannya.


"Kau ini. Tapi tingkah lakumu membuatku menjadi khawatir. Sekarang ayo kita ke depan. Tamu undangan masih berkumpul di sana. Tidak enak jika kita menghilang seperti ini ketika tamu belum pulang," ajak Xander.


Mereka bertiga sama-sama meninggalkan tempat itu menuju ke lokasi pesta. Sherin memperhatikan keadaan sekitar dengan begitu waspada. Dia sengaja tidak mau menceritakan yang sebenarnya terjadi karena Sherin tahu kalau saat ini ada yang sedang menguping pembicaraan mereka.


Setibanya di lokasi pesta beberapa rekan kerja Xander terlihat mengucapkan selamat. Audy terlihat bahagia saat itu. Hingga tidak lama kemudian pesta pertunangan itu pun berakhir.


Kini yang tersisa hanya Tuan rumah saja dan beberapa pelayan yang memang bekerja di rumah tersebut. Mereka semua terlihat sibuk untuk merapikan kembali rumah yang sempat berantakan. Sedangkan Xander dan Audy memutuskan untuk ke kamar dan beristirahat.


Sherin mulai mengumpat di dalam hati karena Joa tidak juga muncul. Wanita itu sudah berhasil menukar makanan yang ada di kamar Audy dengan makanan yang baru. Namun dia tidak tahu bagaimana rencana musuh.


"Sekarang sudah waktunya tidur. Aku tidak mungkin mengganggu Kak Audy. Dia pasti akan curiga jika tiba-tiba aku masuk ke dalam kamarnya. Tapi aku juga tidak mungkin pergi dari tempat ini." Sherin berjalan ke sana kemari dengan perasaan yang bimbang.


"Tidak. Aku tidak mau Kak Audy sampai diculik. Aku harus menjaga Kak Audy dengan sebaik mungkin." Ketika Sherin ingin melangkah menuju ke kamar Audy tiba-tiba ia mendengar suara tembakan. wanita itu segera menahan langkah kakinya dan mencari dimana sumber tembakan itu.


"Kenapa bisa ada suara tembakan? Apa jangan-jangan Joa sudah datang?" gumam Sherin di dalam hati.


Bersamaan dengan itu pintu kamar Audy terbuka. Ternyata wanita itu juga mendengar suara tembakan tersebut. Dia berlari dengan wajah yang sangat takut.


Tidak lama setelah Audy keluar dari kamarnya Xander juga muncul dengan wajah yang khawatir. "Audy, apa kau baik-baik saja?" Pria itu segera menarik Audy dan memeluknya. Dia tidak mau terjadi sesuatu kepada calon istrinya tersebut.


"Aldo pasti datang ke sini untuk mengambil Kak Audy," ucap Sherin pada akhirnya. Wajah wanita itu semakin gelisah. Terlebih lagi kini Joa tidak juga muncul dihadapannya.


"Aldo?" tanya Audy kaget.


"Dari mana kau tahu kalau Aldo sudah ada di kota ini?" Xander masih tidak percaya. Meskipun begitu, tetap saja dia khawatir.


"Kak Xander, ayo ikut denganku. Kita harus bersembunyi di tempat yang aman. Apa mama dan papa sudah berangkat ke rumah Tante Tiffany?" tanya Sherin sambil berjalan menuju ke tangga.


"Ya, Mama dan Papa sudah berangkat ke rumah Tante Tiffany. Tapi kita harus bersembunyi di mana?" tanya Xander bingung. Pria itu masih tetap menggenggam tangan Audy dengan sangat erat.


Mereka secepat mungkin turun ke lantai bawah. Sherin tidak bisa melanjutkan langkah kakinya lagi ketika melihat beberapa orang bersenjata kini berdiri di hadapannya.


"Sial! Aku kalah cepat dengan mereka," umpat Sherin di dalam hati. Wanita itu mengeluarkan senjata apinya begitupun yang dilakukan dengan Xander. Mereka sama-sama menembak lawan mereka.


Audy yang ketakutan segera bersembunyi di balik meja. Wanita itu memejamkan mata dan berdoa di dalam hati agar Sherin dan Xander bisa mengalahkan musuh.

__ADS_1


"Aku masih tidak habis pikir kenapa sampai detik ini Joa tidak juga muncul. Apa dia tidak mengkhawatirkan keselamatanku!" umpat Sherin di dalam hati. Wanita itu masih tetap menembak untuk mengalahkan musuh yang ada di hadapannya.


...***...


Di tempat lain. Di sebuah lapangan yang tidak jauh dari kediaman Xander, Joa dan Aldo sedang bertarung dengan begitu sengit. Ternyata Joa tidak juga muncul karena pria itu telah berhasil menemukan keberadaan Aldo. Tanpa pikir panjang lagi dia segera menghajar pria itu hingga babak belur. Kali ini tidak ada ampun lagi bagi Aldo. Joa bertekad untuk menghabisi nyawa pria itu.


"Sekarang kau berada di wilayah kekuasaanku. Kali ini kau tidak bisa berkutik lagi. Aku pasti akan membunuhmu!" umpat Joa dengan penuh dendam. Pria itu kembali menghajar Aldo hingga pria itu tergeletak di tanah.


Pasukan White Snake yang ikut dengan Joa sudah berhasil mengalahkan anak buah Aldo yang jumlahnya hanya hitungan jari. Kali ini Joa benar-benar puas melihat Aldo menderita.


"Kenapa kau harus menyambutku dengan cara seperti ini? Aku datang ke tempat ini bukan untuk mencari masalah denganmu. Aku hanya ingin bertemu dengan Audy dan mengucapkan selamat padanya. Bukankah hari ini adalah pesta pertunangannya dengan Xander? Jadi sebelum berpisah untuk selama-lamanya Aku ingin memberinya hadiah," ucap Aldo. Pria itu tidak tahu kalau sebenarnya Joa telah mengetahui rencana yang telah Ia persiapkan.


"Apa Kau pikir aku sebodoh itu? Kau sudah mengirim mata-mata ke kediaman Xander. Saat semua orang sedang istirahat di situlah kau berencana untuk membawa Audy pergi dari kota ini. Tapi sepertinya anak buahku bergerak lebih cepat dari orang bayaranmu itu. Sekarang kau tidak memiliki harapan lagi. Kau hanya sendirian di sini Aldo karena semua pengikutmu telah tewas di tanganku."


Aldo tertegun mendengarnya. Karena rencana besarnya sudah ketahuan pria itu tidak mau banyak basa-basi lagi. Dia segera mengeluarkan senjata apinya untuk menembak Joa. Bersamaan dengan itu Joa juga mengeluarkan senjata apinya dan segera menembak Aldo. Karena tidak mau sampai tertembak lagi Joa segera bersembunyi di balik pohon.


Pasukan White Snake juga tidak tinggal diam saja. Mereka segera menembak Aldo hingga pria itu tidak bisa lagi untuk berdiri. Di saat itu juga Joa keluar dan mengarahkan senjata apinya ke kepala Aldo. Kali ini tidak ada ampun lagi bagi Aldo.


"Kami sudah memberimu satu kesempatan untuk hidup tetapi ternyata kau menyia-nyiakan kesempatan berharga itu. Selamat tinggal Aldo," ucap Joa sebelum menarik pelatuknya dan menembak pria itu hingga tewas.


Sherin yang baru saja tiba di lokasi mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup melihat keadaan Aldo yang sekarang. Begitupun dengan Audy yang kini lebih memilih untuk menyembunyikan wajahnya. Dia memeluk Xander dengan sangat erat.


Joa memandang ke arah Sherin. Melihat istrinya baik-baik saja membuat pria itu bernapas lega. Dia segera berjalan menghampiri Sherin. "Apa ada yang terluka?"


Sherin memandang Joa lalu menggeleng kepalanya. Ia cepat-cepat memeluk suaminya itu karena terlalu rindu.


"Kau begitu menyebalkan Joa. Kenapa kau datang terlambat," protes Sherin kesal.


"Aku tidak datang terlambat. Aku datang tepat waktu. Hanya saja aku tidak bisa datang ke rumah Kak Xander karena aku berhasil menemukan Aldo di tempat ini," jawab Joa membela diri.


"Itu berarti sejak awal kalian sudah tahu kalau Aldo merencanakan semua ini? Kenapa kalian berdua tidak memberitahuku? Jika saja aku tahu sejak awal mungkin aku tidak akan meninggalkan Audy sendirian di kamarnya. Keputusan kalian ini sangat beresiko," protes Xander.


"Kak, justru jika Kakak sampai mengetahui rencana kami maka rencana kami akan gagal. Anak buah Aldo ada di mana-mana. Jika mereka sampai mengetahui rencana kita mereka akan membuat rencana baru yang kita tidak tahu," jawab Sherin membela diri.


"Ya aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sherin. Aldo itu pria yang sangat licik." Audy memandang ke arah Aldo. Kali ini ia tidak lagi bersimpati kepada pria itu. Justru ia merasa sangat puas melihat Aldo kini telah tewas.


"Aku dan Sherin harus kembali ke rumah sakit. Tadi Nona Quinn sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar."


"Benarkah?" tanya Xander dengan penuh antusias. Namun pria itu tidak bisa memutuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit karena ia juga harus memikirkan kondisi Audy. Calon istrinya itu pasti lelah karena pesta pertunangan mereka malam ini.


"Xander, ayo kita ikut dengan Joa dan Sherin ke rumah sakit. Aku juga ingin bertemu dengan Quinn," ajak Audy hingga membuat Xander tersenyum bahagia. Pria itu mengangguk cepat.

__ADS_1


"Ayo kita ke rumah sakit."


__ADS_2