
DUARR DUARRR
Sungguh di luar prediksi. Bukan bermesraan dan menghabiskan waktu di dalam kamar, justru Quinn dan Dimitri latihan menembak di tepi pantai. Pengantin baru itu terlihat sangat menikmati aktifitas mereka.
Quinn yang hanya mengenakan pakaian renang memang terlihat seksi siang itu. Sesekali Dimitri terlihat tergoda, namun dia tidak mau melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati sejak awal.
"Sayang, aku menyerah. Kau lebih hebat dariku. Aku akui!" Dimitri meletakkan senjata yang tadi ia gunakan untuk menembak di atas meja. Pria itu duduk di kursi santai lalu memandang ke arah istrinya lagi. "Kita akhiri saja permainannya."
"Tidak!" tolak Quinn mentah-mentah. "Aku tahu kalau sejak tadi kau hanya mengalah padaku. Aku ingin permainan yang sesungguhnya. Aku ingin kau mengeluarkan semua kemampuan yang kau miliki. Cepat kalahkan aku jika kau bisa!" tantang Quinn.
Wanita itu lagi-lagi menembak buah apel yang ada di depannya sembari menunggu Dimitri kembali ke posisinya. Dia ingin tahu sehebat apa kemampuan suaminya dalam bidang menembak. Apakah sehebat Luca?
Dimitri mengambil jus jeruk yang ada di meja lalu meneguknya hingga setengah gelas. Setelah itu dia mengambil senjata apinya dan kembali menembak.
Quinn menahan gerakannya ketika melihat aksi suaminya. Wanita itu tersenyum puas. Dimitri berhasil menembak buah apel yang jaraknya lumayan jauh dari posisi mereka. Bahkan sejak tadi Quinn tidak berhasil menaklukkannya.
__ADS_1
"Sayang, kau benar-benar hebat!" puji Quinn kegirangan.
Dimitri tersenyum melihat istrinya bahagia. Pria itu berjalan mendekat lalu memeluknya dari belakang. "Lalu, mana hadiahku?" bisiknya mesra.
Quinn tersipu malu mendengarnya. Wanita itu mengangkat senjata apinya lalu mengincar buah apel yang posisinya juga cukup jauh. Dengan hati-hati dia membidik sebelum akhirnya.
DUARRRR
Dimitri memandang apel yang terpental tanpa ekspresi. Kini Quinn juga bisa melakukan apa yang dia lakukan. Sudah pasti, dia tidak akan mendapatkan hadiah dari istrinya.
Dimitri memandang ke lautan sejenak sebelum ke arah Quinn lagi. "Berenang mungkin."
Quinn mengernyitkan dahinya. Dia tidak menyangka kalau sesederhana itu permintaan suaminya. "Yakin?"
"Ya. Tapi setelah kita bersenang-senang di kamar." Sambung Dimitri lagi. Pria itu mengangkat tubuh Quinn lalu meletakkannya di pundak sebelah kanan.
__ADS_1
"Sayang, kau mengerjaiku!" protes Quinn sembari menggerakkan kakinya. Dia mengangkat kepalanya agar tidak dalam posisi terbalik. "Turunkan."
"Tidak akan. Ini bulan madu kita. Biar aku yang berkuasa," sahut Dimitri. Dia sama sekali tidak menerima penolakan.
"Bagaimana kalau di vila masih ada orang?" Quinn kembali ingat dengan pak tua dan rekannya yang bertugas membersihkan Vila. Saat mereka pergi ke pantai, semua orang itu masih ada di sana.
"Aku yakin mereka semua sudah pergi." Dimitri mendorong pintu dengan tangannya. Pantai yang tadi dikunjungi Quinn dan Dimitri adalah pantai pribadi. Satu-satunya akses jalan untuk bisa tiba di situ melalui kamar yang ditiduri Quinn dan Dimitri.
Setibanya di dalam kamar, Dimitri segera meletakkan Quinn di atas tempat tidur. Pria itu berdiri di hadapan Quinn. Dia seperti sudah tidak sabar untuk mencumbu istrinya.
"Sayang, tunggu-"
Quinn tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena Dimitri sudah keburu menciumnya. Namun dengan sekuat tenaga Quinn melepas cumbuan mesra suaminya. Setelah itu dia memegang wajah Dimitri dan memaksanya miring ke samping. Di sana terlihat seorang wanita yang sedang memegang sapu sambil menutup mata. Melihat ada orang dikamarnya, Dimitri terlihat murkah. Dia segera berdiri dengan tangan di pinggang.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa belum pergi!" protesnya. Antara kesal dan malu. Ya, seperti itulah yang kini dirasakan oleh Dimitri.
__ADS_1
Berbeda dengan Quinn yang justru tertawa geli melihatnya. Dia sama sekali tidak merasa marah apa lagi malu. Wanita itu hanya merasa geli melihat ekspresi suaminya. "Dimitri, bagaimana aku tidak semakin cinta padamu. Setiap harinya selalu ada cerita menyenangkan yang kau berikan padaku," gumam Quinn di dalam hati.