My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 216 Pernikahan Xander


__ADS_3

Akhirnya hari yang dinanti semua orang telah tiba. Hari ini adalah hari minggu. Semua tamu undangan yang dari dalam maupun luar kota sudah berkumpul. Bahkan rekan bisnis Xander yang ada di luar negeri juga sudah tiba.


Kali ini pesta pernikahan Xander dan Audy sangat mewah dan berkesan. Semua orang mereka undang untuk hadir di hari bahagia mereka.


Di lokasi pernikahan, terlihat keberadaan Quinn dan Dimitri bersama dengan bayi mereka yang sudah berusia 3 minggu. Sepatu suami istri itu terlihat asyik bermain dengan Romeo. Beberapa kerabat dekat mereka juga ada di sana. Mereka mengucapkan selamat atas kelahiran anak pertama Quinn.


"Dimana pengantin wanitanya? Kenapa lama sekali?" protes Sherin sambil sesekali memandang ke arah pintu masuk.


Xander yang sudah menunggu sejak tadi juga terlihat sangat gelisah. Pria itu gugup. Dia takut melakukan kesalahan di hari pentingnya.


Di ruang ganti, Audy sudah siap untuk menemui Xander di lokasi akad. Wanita itu memakai gaun pengantin berwarna putih yang di desain secara khusus oleh perancang ternama.


Gaun pengantin itu sangat pas di tubuh Audy. Dia terlihat sangat cantik seperti seorang Ratu yang ingin menemui sang Raja.


Pintu terbuka lebar. Audy tahu kalau itu pasti pelayan yang menjemputnya. Karena memang Audy tidak mungkin pergi sendiri. Dia akan kerepotan membawa gaun yang sekarang ia kenakan.


Namun wanita itu di kaget melihat seseorang yang kini berdiri di hadapannya. Dia adalah Leonzio. Pria itu berdiri di hadapan Audy dengan setelan yang rapi. Dia tersenyum ramah. Seperti tidak ada lagi kebencian di wajahnya.


"Audy, apa kau tidak merindukanku?" tanya Leonzio. Pria itu segera membuka kedua tangannya.


Audy tersenyum bahagia melihat Leonzio berdiri dihadapannya. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. "Kakak? Apa aku bermimpi? Apa ini benar Kak Leonzio?" tanya Audy masih dengan ekspresi tidak percaya.


Leonzio mengangguk. "Ya, ini aku."


Audy segera melangkah untuk memeluk Leonzio. Namun dia terlihat kesulitan hingga pada akhirnya Leonzio yang berjalan mendekati Audy. Mereka berpelukan untuk melepas rindu.


"Maafkan kakak," ucap Leonzio. "Aku telah salah paham sampai-sampai mengambil keputusan yang membuatmu kecewa. Aku benar-benar kakak yang bodoh. Maafkan aku Audy. Aku harap kau mau memaafkanku," ucap Leonzio bersungguh-sungguh.


"Aku sudah memaafkan Kakak bahkan sebelum kakak hadir di sini. Kak, ini benar-benar hadiah terindah yang tidak pernah aku bayangkan. Kakak harus tahu satu hal bahwa sejak kemarin aku terus saja memikirkan Kakak. Aku berharap kakak bisa datang di hari pernikahanku untuk menggantikan papa. Tapi aku segera menyadarkan diriku sendiri kalau semua itu tidak akan mungkin pernah terjadi." Wajah Audy kembali sedih. Ia masih tidak menyangka kalau kini Leonzio berdiri di hadapannya.


"Ini semua berkat Xander. Beberapa hari yang lalu dia menghubungiku. Awalnya aku tidak mau bicara dengannya. Tetapi dia berusaha keras untuk meyakinkanku agar percaya dengan semua yang ia katakan. Bahkan bukti-bukti yang sebenarnya sudah ia kirimkan ke Roma.


Aku sama sekali tidak menyangka kalau Aldo sejahat itu. Dia tega menipuku. Jika saja saat ini dia masih hidup mungkin dia akan tewas di tanganku.


Kau dan Xander memang pasangan yang serasi. Kau tidak salah memilih suami, Audy. Maafkan aku karena sempat membuat masalah hingga kau harus tinggal di rumah ini," ucap Leonzio.


"Kak, pernikahanku akan segera dimulai. Sekarang ayo kita pergi untuk menemui Xander." Audy memandang wajah Leonzio.

__ADS_1


Leonzio mengangguk. "Bagaimana dengan penampilanku? Apakah aku sudah cocok untuk mendampingi pengantin wanita?" Leonzio memutar tubuhnya agar Audy bisa menilai penampilannya saat ini.


"Kak Leonzio sangat keren. Semua orang pasti akan segan melihat Kak Leonzio. Dilihat dari penampilan Kak Leonzio, Kak Leonzio terlihat seperti pria sukses," puji Audy.


"Kau ini terlalu berlebihan. Sekarang ayo kita temui Xander." Leonzio memberikan lengannya kepada Audy. Tanpa menunggu lagi Audy segera merangkul lengan kakak kandungnya. Mereka berdua melangkah secara perlahan menuju ke lokasi pernikahan.


...***...


Pintu dibuka dengan lebar. Semua tamu undangan memandang ke arah pintu. Audy dan Leonzio berdiri di sana. Mereka melangkah secara perlahan menuju ke posisi Xander berada.


Semua tamu undangan berdiri. Mereka terlihat bahagia menyambut kedatangan pengantin wanita. Beberapa tamu undangan justru memuji kecantikan Audy saat itu.


Audy melirik tamu undangan yang jumlahnya begitu banyak dengan perasaan yang campur aduk. "Kak, bagaimana penampilanku? Kenapa semua orang memandangku seperti itu?" bisik Audy.


"Itu karena mereka semua kagum melihat kecantikanmu," jawab Leonzio sambil tersenyum. Pria itu terus saja melangkah ke depan sambil memandang adik iparnya. Begitupun dengan Audy yang kini memandang wajah pria yang akan segera menjadi suaminya.


"Xander, aku serahkan adikku kepadamu. Aku minta kepadamu untuk menjaganya dan melindunginya seumur hidupmu. Mencintainya dan membimbingnya agar bisa menjadi istri yang patuh dengan suami. Tolong jangan pernah kecewakan hatinya," ucap Leonzio sebelum menyerahkan Audy.


Audy terharu mendengar kak yang baru saja dikatakan oleh Leonzio.


"Ya, Kak. Aku janji akan menjaga Audy. Aku akan membelinya, mencintainya serta menyayanginya seumur hidupku," jawab Xander tanpa ada sedikitpun keraguan di sana.


Tanya undangan bertepuk tangan dengan wajah yang bahagia ketika Xander dan Audy telah sah menjadi suami istri. Di kursi, Viana terlihat haru melihat pemandangan di depannya.


"Pa, mama tidak menyangka kalau akhirnya Xander menikah. Tadinya mama pikir dia akan menjadi perjaka tua. Memang kalau sudah jodoh nggak kemana ya pa," ucap Viana sembari menghapus air mata bahagia yang menetes di pipinya.


"Ya. Seperti kita bukan? Kita berjodoh," jawab Jeremy.


Viana hanya tersenyum saja mendengarnya. Ia merangkul lengan suaminya dan mereka berdua sama-sama melangkah ke tempat Xander berada untuk mengucapkan selamat. Begitupun dengan Sherin dan Joa. Mereka segera beranjak dari kursi untuk mengucapkan selamat.


"Dimitri! Fei! Kemarilah!" teriak Xander ketika dua sahabatnya itu masih asyik duduk di kursi mereka.


Dimitri menggendong Romeo dan membawanya ke depan bersama dengan Quinn. Begitupun dengan Dokter Fei. Pria itu juga ikut bersama dengan Dimitri.


Xander memberi kode kepada cameraman yang ada di sana. "Fotokan kami semua. Aku ingin semua orang yang aku sayangi berada dalam satu frame," lintas Xander.


Quinn mengernyitkan dahi mendengar permintaan Xander. Wanita itu tidak pernah kepikiran untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Xander saat pernikahannya dulu.

__ADS_1


Mereka semua mengatur posisi agar terlihat rapi ketika di foto. Posisi Romeo ada di tengah karena memang dialah icon kebanggaan semua orang saat itu. Sedangkan posisi Dokter Fei berada di samping Xander. Pria itu awalnya mengumpat Xander karena kini posisinya hanya dia yang tidak memiliki pasangan. Namun Xander seperti tidak peduli.


Dokter memandang ke arah Leonzio yang kini berdiri di samping Audy. Pria itu baru saja sadar kalau masih ada Leonzio yang kini juga tidak memiliki pasangan. Pria itu kini bisa tersenyum dengan manis.


"Oke siap. Satu ... Dua ... Tiga!"


Cekrek!


...***...


Xander dan Audy meletakkan foto pernikahan mereka di dinding kamar. Mereka tersenyum bahagia sambil melihat foto yang sudah terpajang di dinding. Kali ini mereka justru lebih memilih untuk memasang foto pernikahan mereka bersama dengan Quinn dan juga yang lainnya.


"Kau terlihat sangat cantik. Senyummu membuatku semakin tergila-gila," puji Xander. Pria itu memeluk istrinya dari belakang. "Terima kasih karena sudah hadir di dalam hidupku. Terima kasih sayang."


Audy tersenyum manis mendengarnya. Dia berputar lalu memeluk tubuh Xander. "Terima kasih juga karena sudah memberikanku orang tua yang lengkap dan teman-teman yang tulus menyayangiku."


"Setelah ini kita mau tinggal di mana? Apakah kau tidak keberatan jika kita tetap tinggal di rumah ini bersama dengan mama dan papa?" tanya Xander dengan hati-hati. Dia juga tidak mau memaksa Audy untuk tinggal di rumah itu bersama dengan kedua orang tuanya.


"Sayang, justru aku ingin bilang padamu. Kalau aku tidak mau dipisahkan dari mama. Aku selama ini sangat merindukan kasih sayang seorang mama dan papa. Sekarang ketika aku sudah memilikinya, aku tidak mau dipisahkan lagi. Aku ingin kita tinggal di sini. Merawat kedua orang tua kita ketika mereka sakit. Karena aku juga ingin diperlakukan seperti itu juga ketika memiliki anak nanti," jawab Audy. Dia Ben tulus mengatakannya. Sejak bertemu dengan Viana, Audy sudah merasakan kecocokan di sana. Dia sangat menyayangi mama mertuanya itu. Sampaikan tidak mau berpisah.


"Benarkah? Mama pasti senang mendengarnya. Kemarin mama sempat bilang kalau mama tidak akan memaksa kita untuk tinggal di rumah ini. Mama ingin kita itu tinggal di tempat yang menurut kita tempat itu nyaman," jelas Xander.


"Dan aku nyaman di rumah ini. Aku tidak mau pergi dari rumah ini," jawab Audy sambil memeluk Xander.


Xander mengecup pucuk kepala Audy. "Bagaimana dengan kado yang aku berikan? Apa kau menyukainya?" Xander penasaran. Selama beberapa hari ini istrinya itu tidak ada memakai kado yang dia berikan saat pesta pertunangan waktu itu. Xander penasaran sebenarnya Audy suka atau tidak dengan kado yang ia berikan.


"Kado?" tanya Audy dengan ekspresi wajah bingung karena memang Audy sama sekali tidak ingat dengan kado itu. Audy masih menyimpannya di dalam lemari dan sampai detik ini belum pernah memeriksa lemari itu lagi. Karena terlalu sibuk mengurus pernikahan, Audy jadi melupakannya. "Astaga. Kado itu!"


Audy segera melepas pelukannya di tubuh Xander dan berlari meninggalkan kamar. Kado itu ada di kamar yang sebelumnya ditempati Audy.


Xander yang bingung segera mengejar Audy. Pria itu juga ingin tahu sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh istrinya.


Audy segera menerobos masuk ke dalam ketika para pelayan sedang sibuk membereskan kamar tidurnya. Langkah wanita itu langsung tertuju pada lemari yang ada di sudut ruangan.


"Kenapa aku bisa sampai lupa? Aku benar-benar bodoh!" umpat Audy pada dirinya sendiri. Dia segera menggeser pintu lemari. Terlihat jelas kado pemberian Xander yang masih tergeletak tapi di sana. Belum ada satu orangpun yang berani menyentuhnya. Audy segera mengambil kado tersebut.


Bersamaan dengan itu, Xander muncul di kamar. Pria itu tersenyum melihat Audy memegang kado yang dia berikan. "Kau belum membukanya?"

__ADS_1


Audy menggeleng sambil tersenyum. "Maafkan aku. Semoga saja isinya nggak makanan," ucap Audy. Xander hanya tertawa geli melihat kelakuan istrinya yang ceroboh. Melihat Xander tertawa, Audy juga ikut tertawa. Para pelayan yang sebelumnya ada di ruangan itu memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


"Oke, sekarang aku mau membuka kadonya." Audy meletakkan kado itu di atas tempat tidur. Dia membukanya secara perlahan. Audy langsung tertegun melihat hadiah spesial yang diberikan Xander untuknya. "Darimana kau tahu kalau aku sangat menginginkan benda ini?"


__ADS_2