My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 37 Perdebatan Sengit


__ADS_3

"Quinn, ini mommy. Tolong buka pintunya. Mommy ingin bicara." Tiffany mengetuk pintu kamar Quinn berulang kali.


Wanita itu sangat khawatir dengan putrinya. Terlebih perdebatannya dengan Luca yang sengit. Tak berapa lama Quinn membuka pintu kamarnya. Begitu pintu terbuka terlihat Quinn mengerucutkan bibirnya.


Sepertinya Quinn masih kesal dengan sikap Luca. Tiffany masuk ke dalam kamar Quinn. Lalu Quinn menutup pintu kamarnya.


"Kalau Mommy datang ke kamarku hanya untuk membela Daddy, lebih baik Mommy keluar," ucap Quinn.


Tiffany duduk di sofa panjang yang ada di kamar Quinn. Wanita itu tersenyum sambil menepuk sofa yang kosong di sampingnya di sana.


"Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi padamu nak?" Tiffany bertanya dengan lembut dan hati-hati pada putrinya. Wanita berusia paruh baya itu tidak ingin membuat Quinn tersinggung.


"Aku sudah mengatakan semuanya, Mommy. Apalagi yang Mommy inginkan dariku?" Quinn kesal karena Tiffany masih belum mempercayainya. Namun saat Quinn melihat Tiffany tersenyum kekesalan yang perlahan memudar.


"Karena kau menceritakan kepada kami dengan emosi. Sedangkan kau bisa bercerita kepada mommy pelan-pelan. Mommy tidak ingin kau merasa bahwa kami tidak memberikan kebebasan. Sebenarnya mommy juga kecewa karena Daddy-mu terlalu over protektif. Tapi bagi orang seperti kita harusnya kau paham dengan ketakutan daddy-mu." Tiffany ingin mendekatkan diri pada Quinn tambah.


Untuk itulah mengapa Tiffany ingin mendengarkan cerita saat Quinn terdampar di pulau kecil. Yang mana membuat Quinn tidak bisa menghubungi keluarganya. Terlihat Quinn menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Quinn memutuskan untuk menceritakan semua yang terjadi saat Quinn berada di pulau. Tiffany sangat terkejut mendengarnya.


"Begitulah. Mengapa aku sangat berterima kasih kepada Tuan Dimitri. Karena dia memang sudah membantuku. Dan apa yang terjadi memang salah paham Mom." Quinn berbicara dengan ekspresi sedih. Mendengar penjelasan dari Quinn membuat Tiffany menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya itu mulai mengerti.


Akan tetapi Tiffany menatap tajam ke arah Quinn yang bersedih. Putrinya itu menjadi lebih murung dari sebelumnya. Tentu saja itu semua menyita perhatian Tiffany. Semenjak kepergian Dimitri Tiffany memang sedikit bersedih.

__ADS_1


"Apakah kau mencintai laki-laki tadi?" tanya Tiffany.


"Mommy bicara apa sih? Belum tentu juga Tuan Dimitri menyukaiku. Intinya aku hanya kesal pada Daddy karena membatasi pertemananku. Aku tahu daddy khawatir. Tapi kalau seperti ini terus siapapun yang dekat dengan Quinn pasti mereka akan takut terlebih dahulu. Apa mau kalau putri tercinta Mommy ini lajang seumur hidup?" Quinn mulai berpikiran buruk.


Saking kesalnya Quinn kepada Luca. Sehingga pikiran Quinn bercabang kemana-mana. Padahal Quinn juga belum memikirkan masa depannya. Hanya saja pertemuannya dengan Dimitri seolah memiliki sesuatu yang baru.


"Melihat watak dari Daddy- mu kemungkinan dia akan bertindak. Lebih baik kau menjaga jarak sementara waktu. Supaya orang itu tidak terluka karena sikap daddy-mu yang menyebalkan itu." Tiffany pun berdiri dari tempat duduknya. Wanita itu pun tersenyum sebelum akhirnya ia pergi menuju ke pintu kamar Quinn.


"Kemungkinan kau akan mendapatkan hukuman. Jangan terlalu banyak protes dan membuat daddy marah." Setelah mengatakan itu Tiffany pergi meninggalkan kamar Quinn.


Ia setidaknya sudah mengerti keadaan Quinn. Baginya itu sudah cukup. Karena Tiffany sadar bahwa putrinya itu memiliki hak-hak yang terbatas.


Malam pun kian larut. Quinn mendapatkan pesan email dari seseorang. Quinn yakin jika itu pesan dari Dimitri. Quinn tersenyum saat ia mengetahui bahwa Dimitri mengirimkan pesan.


Entah jam berapa Quinn merasa mengantuk setelah berkirim pesan dengan Dimitri. Wanita itu pun beranjak tidur. Malam yang larut itu pun semakin dingin. Quinn pun tidur dengan nyenyak setelah sekian lama Quinn terjebak dan harus tinggal di sebuah gubuk.


Keesokan harinya Quinn bangun dengan wajah yang lebih baik dari sebelumnya. Wanita itu menutupi sisa-sisa lebam di wajahnya dengan bedak yang sedikit lebih tebal dari biasanya.


Sebab hari ini Quinn memiliki rencana untuk membeli ponsel. Setelah Quinn merasa persiapannya sudah selesai wanita itu pun beranjak dari kamarnya. Ia sangat senang karena ini sarapan pertamanya setelah sampai di rumah. Quinn merindukan masa seperti ini. Walaupun terkadang orang-orang di rumah ini cukup menyebalkan.


"Apakah kau akan pergi?" Luca bertanya setelah sekian lama ia terdiam.

__ADS_1


"Iya, Dad. Hari ini rencananya aku mau beli ponsel baru. Ponselku soalnya hilang. Aku butuh ponsel untuk bekerja," ucap Quinn.


Luca menarik sudut bibirnya. Membuat perasaan Quinn menjadi tidak enak. Cukup lama Quinn terdiam menunggu Luca menjawab kalimatnya.


"Quinn, sepertinya untuk sementara waktu kau di rumah saja. Biar daddy yang akan mencari ponsel baru untukmu. Lebih baik kau di rumah istirahat," kata Luca.


"Apa maksudnya, Dad? Daddy sedang memberikan hukuman untukku?" tanya Quinn bingung.


"Terserah kau ingin mengatakan apa. Tapi, aku rupanya aku terlalu memberikan kebebasan untukmu, Quinn. Jadi, mulai hari ini kau tidak perlu datang ke perusahaan dan diamlah di rumah," tegas Luca.


Semua penghuni ruang makan itu membisu. Tidak ada yang berani menyahut. Namun, tidak bagi Quinn. Wanita itu semakin kesal bukan main.


"Dad! Aku sudah dewasa! Apa yang bikin Daddy begini? Aku tidak terima! Aku akan tetap bekerja di perusahaan! Jangan menghalangiku, Dad!" sentak Quinn.


Brak!


Luca menggebrak meja. Dua adik Quinn yang takut itu menundukkan kepala. Tiffany pun enggan untuk melerai perdebatan. Karena Luca sangat keras kepala. Semalam suntuk Tiffany mengajak Luca untuk berdamai dengan Quinn. Tapi, nyatanya malah Luca semakin marah.


"Aku takut, kalau begini terus, kapan Quinn akan menikah?" Tiffany membatin dan memejamkan kedua matanya.


"Beraninya kau membantah orang tua, Quinn!" sarkas Luca.

__ADS_1


"Jika Daddy memberikan hukuman padaku, apa aku harus membocorkan data perusahaan kepada rival musuh Daddy? Quinn tidak pernah membantah ataupun durhaka pada orang tua. Quinn hanya menuntut keadilan dan hak yang harus Quinn dapatkan!" Quinn pun membela diri.


Situasi ini semakin menegangkan. Ayah dan anak itu begitu enggan untuk saling mengalah. Baik Luca dan Quinn terlalu kepala batu.


__ADS_2