My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 123 Hilang


__ADS_3

Sherin meletakkan kedua tangannya di pinggang lalu mendengus kesal melihat Joa. "Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan selain duduk santai seperti ini? Kita ini sedang terdampar di sebuah pulau terpencil.


Tanpa memiliki ponsel atau apapun itu yang bisa menghubungkan kita dengan orang-orang yang ada di luar sana. Lalu kau hanya duduk santai tanpa memikirkan sesuatu. Apa kau senang tinggal di pulau ini?" ketus Sherin kesal.


Suatu malam Sherin mengajak Joa untuk makan malam di sebuah kapal pesiar. Liburan yang ingin dilewati wanita itu memang bukan liburan biasa. Dia tidak peduli jika harus mengeluarkan uang yang begitu banyak asalkan bisa bersenang-senang dengan Joa.


Sayangnya malam itu mereka berdua sama-sama mabuk hingga tanpa sadar mereka masuk ke dalam sekoci dan sekoci itu terlepas dari talinya dan jatuh ke lautan. Keesokan paginya mereka baru sama-sama sadar dan sudah terdampar di sebuah pulau yang mereka sendiri tidak tahu itu di mana.


"Lalu apa yang bisa aku lakukan? Bukankah semua ini idemu? Jadi pikirkan cara keluar dari tempat ini. Aku tidak mau pusing-pusing memikirkannya," jawab Joa dengan santai sebelum akhirnya pria itu memejamkan mata lagi.


"Joa, jangan seperti itu!" Sherin berlari mendekati Joa lalu menarik tangan pria itu. "Maafkan aku karena memaksamu untuk mabuk."

__ADS_1


"Bukan hanya memaksaku mabuk tetapi kau juga mabuk!" perjelas Joa lagi.


Sherin memajukan bibirnya. "Ya, aku akui kalau aku yang salah. Tapi bisakah kau membantuku untuk memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat ini? Bukankah kau ini pria yang hebat dan selalu bisa diandalkan oleh Tuan Dimitri. Kenapa sekarang kau terlihat lembek!"


"Kita masih terdampar selama beberapa hari. Belum juga sebulan. Setahun. Keadaan kita juga masih baik-baik saja. Jadi apa yang harus aku takutkan? Jika haus kita bisa minum air laut dan jika lapar kita bisa menangkap ikan lalu memasaknya."


Sherin menyipitkan kedua matanya. "Joa, terkadang candamu sama sekali tidak lucu. Lalu kau ingin seumur hidupmu tinggal di pulau seperti ini?" ketus Sherin mulai kesal.


"Apakah kau melupakan bosmu itu? Apakah kau ingin melupakan White Snake? Aku yakin detik ini mereka semua pasti sangat mengkhawatirkanmu karena kau belum memberi kabar kepada mereka."


"Justru itu aku masih bisa tidur dengan tenang di sini karena aku masih memiliki White Snake. Sebentar lagi mereka akan datang dan menolong kita. Jadi sebaiknya sebelum mereka datang, kita nikmati dulu momen di tempat ini!"

__ADS_1


"Kau memang menyebalkan!"


Sebenarnya apa yang baru saja dikatakan Joa berbeda jauh dengan apa yang kini pria itu pikirkan. Kepalanya pusing sampai-sampai mau pecah ketika dia sadar kalau kini terdampar di Pulau terpencil.


Memang senjata yang selalu ia bawa masih ada. Tapi tetap saja tanpa ponsel mereka tidak bisa meminta bantuan. Ditambah lagi sebelum mereka pergi ke kapal Joa belum memberitahu Robin maupun Dimitri di mana keberadaannya.


Pria itu terus saja mengumpat di dalam hati karena sudah membuat Robin dan Dimitri khawatir. Namun dia sendiri juga tidak menyangka masalahnya akan sebesar ini. Mau menyalakan Sherin juga percuma.


"Ya sudah kalau gitu kita duduk saja di sini sambil berdoa," ucap Sherin dengan wajah pasrah. Wanita itu duduk di samping Joa lalu memandang ke arah lautan lepas.


Joa memandang ke arah Sherin sejenak sebelum memandang ke depan. "Sebenarnya sampai detik ini aku juga masih tidak menyangka kalau aku mau menuruti semua permintaanmu," batin Joa di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2