My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 159 Cemburunya Joa


__ADS_3

Joa memberhentikan mobil di parkiran restoran yang menjadi tempat bertemunya Sherin dan juga Xander. Saat mobil sudah berhenti dengan sempurna, Sherin cepat-cepat turun dari sana tanpa mau mengucapkan satu kata pun terhadap Joa. Wanita itu berjalan dengan langka yang begitu gusar. Dia benar-benar kesal atas perlakuan Joa di mobil tadi.


Joa terus saja memandang Sherin sampai wanita itu masuk ke dalam restoran. Bukan segera pergi justru Joa turun dari mobil dan berjalan masuk menuju restoran tersebut. Ternyata dia ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Sherin dan juga Xander.


Sherin segera menghampiri Xander yang sudah menunggunya di kursi yang tidak jauh dari pintu masuk. Wanita itu lalu duduk sambil mengukir senyuman ramah. Dia tidak mau Xander tahu kalau sebenarnya dia baru saja bertengkar dengan Joa.


"Sepertinya wajahmu terlihat sangat lelah. Kau butuh istirahat yang cukup Sherin. Jangan terlalu memaksakan diri. Bukankah perusahaanmu kini sudah di handle dengan perusahaan Dimitri? Lalu masalah berat apa lagi yang sekarang kau pikirkan?" tanya Xander dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak ada kak. Seperti yang kakak bilang tadi, sepertinya aku kelelahan dan hanya butuh istirahat saja." Sherin mengambil buku menu lalu memilih beberapa makanan yang akan ia santap siang ini. Begitupun dengan Xander karena memang pria itu juga baru saja tiba dan belum memesan makanan atau minuman apapun.


Bersamaan dengan itu Joa masuk ke dalam restoran. Namun ada yang aneh dari penampilan pria tersebut. Dia menggunakan masker dan kacamata hitam serta topi. Pria itu memandang ke arah Sherin sebelum memilih kursi yang ada di belakang Sherin. Dari posisi itu dia bisa mendengar jelas obrolan antara Sherin dan juga Xander.


Xander mengambil ponselnya yang berdering. Pria itu membaca pesan yang baru saja masuk. Alisnya saling bertaut setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Dimitri sahabatnya.


"Joa juga ada di restoran. Dia duduk tepat di belakang Sherin. Sekarang kau harus melakukan tugasmu dengan baik agar rencana kita semua berhasil."


"Dia benar-benar sahabat yang merepotkan!" umpat Xander kesal. Dia kembali meletakkan ponselnya di atas meja sebelum menyebutkan beberapa jenis makanan dan minuman yang akan ia santap siang ini. Begitupun dengan Sherin. Detik itu Sherin sama sekali tidak curiga dengan Xander.


"Sherin, semalam itu kau sempat pergi ke London bersama dengan Quinn. Sebenarnya apa yang kalian lakukan di sana?" Xander mulai basa basi.


Sherin diam sejenak. Sebenarnya dia tidak mau menceritakan masalah Zack Lee kepada Xander. Namun karena posisinya sudah seperti ini mau tidak mau dia harus jujur.


"Kak, sebenarnya aku memiliki masalah besar kemarin. Jadi tanpa sengaja aku menembak seorang wanita lalu abangnya ini balas dendam padaku. Dia ingin membunuhku. Dimitri dan Joa membantuku dalam hal ini. Tapi Kakak tenang saja karena masalahnya sudah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan sekarang," jelas Sherin sambil tersenyum bahagia.


"Benarkah? Kenapa kau bisa merahasiakan masalah besar ini dariku? Apakah kau sudah tidak menganggapku sebagai kakakmu lagi?" protes Xander kesal. Pria itu jadi lupa dengan tujuan utamanya berada di restoran tersebut.


"Kak, maafkan aku karena sudah merahasiakan semua ini dari kakak. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku tahu semalam itu Kakak sedang sibuk dengan perusahaan. Jadi aku tidak mau menambah beban pikiran Kakak." Sherin memegang tangan Xander. Berharap pria itu mau mengerti kondisinya.


"Baiklah, kali ini kau aku maafkanmu. Tetapi jika kau mengulanginya lagi aku akan menghukummu!" sahut Xander.


"Terima kasih Kak. Aku sangat menyayangi kakak. Kakak adalah kakak terbaik yang ada di dunia ini," puji Sherin dengan senyum mengembang.


Joa masih tetap tenang saat menguping pembicaraan Xander dan Sherin. Pria itu memesan beberapa menu agar tidak ada yang curiga.


Setelah makanan yang dipesan oleh xander dan Sherin datang, tidak lama kemudian makanan yang dipesan Joa juga tiba. Mereka bertiga sama-sama melahap makan siang mereka dari meja yang berbeda.


Setelah makanan yang mereka pesan benar-benar habis, Xander kembali ingat dengan tujuan utamanya mengundang Sherin ke restoran tersebut. Kali ini dia harus berhasil membuat Joa dan Sherin bersatu. Karena jika dia sampai gagal, Dimitri akan terus menerornya dan memaksanya untuk terus membantunya.


"Sherin, Ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu." Wajah Xander berubah serius.


"Hal penting apa? Kenapa wajah Kak Xander jadi berubah seperti itu?" tanya Sherin khawatir.

__ADS_1


"Sherin, apa aku ini pria yang baik?"


Sherin mengangguk setuju. "Ya. Kak Xander adalah pria yang sangat baik. Bukan hanya baik tetapi kak Xander tampan, kaya dan juga sangat pengertian. Kak Xander tipe pria yang sangat diidam-idamkan oleh kebanyakan wanita," puji Sherin.


"Apa nanti kau mau menikah dengan pria yang sepertiku?"


"Jelas saja impianku adalah menikah dengan pria yang baik seperti Kak Xander. Tetapi sepertinya jodohku tidak seperti Kak Xander. Sangat sulit menemui pria sebaik Kak Xander dan sesabar Kak Xander." Tiba-tiba Sherin kembali ingat dengan Joa. Pria itu mudah emosi dan itu membuat Sherin selalu merasa kesal.


"Aku juga sulit untuk menemukan wanita yang cocok denganku," ucap Xander.


"Tipe wanita idaman Kak Xander seperti apa? Nanti akan aku bantu untuk mencarikannya. Tetapi aku tidak janji akan menemukannya dalam waktu dekat." Sherin tertawa kecil.


"Sepertimu. Aku menyukai wanita yang ceria," jawab Xander.


Sherin tersenyum manis mendengarnya. "Kak Xander bisa saja."


Joa mulai geram. Rasanya ia ingin cepat-cepat membawa Sherin pergi dari sana agar mereka berdua tidak mengobrol lagi. Ternyata dia tidak sanggup melihat Sherin dan Xander akrab seperti ini. Mereka tertawa dan membicarakan banyak hal yang kedengarannya sangat menarik. Joa tidak mau lama-kelamaan nanti justru Sherin menjadi tertarik kepada Xander dan akhirnya mau menerima perjodohan itu.


"Sherin, bagaimana kalau kita menikah saja?"


"Uhuk uhuk!"


"Ini bukan sebuah lelucon. Aku benar-benar ingin menikah denganmu. Apakah kau tidak mau menikah denganku? Bukankah kau bilang aku ini adalah pria yang baik. Kita juga bukan saudara kandung. Jadi tidak ada larangan bagi kita berdua untuk menikah." Xander terus saja memaksa Sherin karena memang seperti itu rencananya.


Sherin diam dengan wajah yang sangat bingung. Wanita itu tidak menyangka jika masalahnya akan menjadi serumit ini.


"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan memberikanmu waktu," sambung Xander lagi ketika Sherin tidak memberikan respon apapun. "Sial! Kau benar-benar kurang kerjaan Dimitri! Sekarang mau di letak dimana wajahku? Pasti sekarang Sherin berpikir yang aneh-aneh!" umpat Xander di dalam hati.


Sherin mengukir senyum manis setelahnya. "Kak, Kak Xander tidak perlu menunggu karena aku sudah memiliki jawabannya sekarang juga."


Joa memasang kupingnya lebar-lebar agar bisa mendengar jelas jawaban yang akan diucapkan oleh Sherin. Ini merupakan momen yang sangat menegangkan. Jika Sherin sampai setuju untuk menikah dengan Xander, maka habislah sudah harapan Joa untuk bersama dengannya. Karena dia tidak mungkin memaksa wanita itu lagi.


"Kak Xander memang pria yang sangat baik. Seperti yang aku bilang tadi kalau Kak Xander itu adalah idaman para wanita. Tetapi maafkan aku. Aku tidak bisa menikah dengan Kak Xander karena aku sudah menganggap Kak Xander seperti kakakku sendiri. Posisi Kak Xander sangat istimewa di hatiku."


Joa tersenyum mendengar penolakan yang diucapkan Sherin. Pria itu kini bisa bernapas lega.


"Tapi, Sherin. Aku hanya ingin menikah denganmu. Apapun keputusanmu aku akan tetap menikahimu!" Xander sebenarnya mengumpat di dalam hati karena harus menyebutkan kalimat itu. Kalimat yang sudah sejak lama diajarkan oleh Dimitri.


"Kenapa kak Xander memaksaku? Pernikahan bukanlah sebuah permainan yang jika kita bosan kita bisa mengakhirinya dengan mudah. Pernikahan adalah janji sepasang kekasih yang saling mencintai untuk hidup semati dan diantara kita dua tidak ada yang saling mencintai.


Memang aku akui kalau aku sangat menyayangi Kak Xander. Tapi itu hanya sebuah kata sayang. Bukan cinta dan aku yakin Kak Xander juga merasakan hal yang sama sepertiku. Tidak ada cinta di hati Kak Xander untukku karena semua bisa dilihat dari cara Kak Xander menatapku selama ini."

__ADS_1


"Apakah kau sudah menemukan pria yang benar-benar mencintaimu?" Xander mulai menyelidiki perasaan Sherin.


"Sampai detik ini aku belum berhasil menemukan pria yang benar-benar mencintaiku. Tetapi aku sudah mencintai seorang pria. Namun sayangnya cintaku tidak terbalas olehnya," ucap Sherin dengan ekspresi wajah yang semakin serius.


Joa merasa tertampar atas pernyataan yang baru saja diucapkan oleh Sherin. Sebagai seorang pria dia merasa tidak berguna. "Sebagai seorang pria Aku sangat lemah karena tidak pernah mengungkapkan perasaanku di depan Sherin. Kini dia memandangku dan berpikir kalau aku tidak pernah mencintainya. Padahal yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu. Aku sangat mencintainya. Hanya saja aku sangat sulit untuk mengakui perasaan ini," batin Joa.


"Untuk apa mempertahankan pria yang tidak mencintaimu? Buang saja dia dari dalam hatimu untuk selama-lamanya!" ujar Xander dengan ekspresi wajah yang semakin serius.


Ternyata kalimat itu berhasil memancing emosi Joa. Pria itu nggak bisa bersabar lagi. Dia segera beranjak dari kursinya lalu memutar tubuhnya dan berdiri di samping Sherin.


"Tuan, anda tidak perlu memaksa Sherin seperti ini. Jika dia menolak Anda, sebaiknya anda berhenti mengejarnya!" ketus Joa dengan wajah menahan amarah.


Sherin kaget bukan main ketika melihat Joa ada di sana. Berbeda dengan Xander yang justru bahagia karena dengan begitu tugas dia telah selesai. "Apa sejak tadi Kau ada di sana? Kau menguping pembicaraan kami?" Xander juga beranjak dari kursi yang sejak tadi dia duduki.


"Joa, apa itu benar? Apa sejak tadi kau menguping pembicaraan kami? Bukankah seharusnya kau pergi setelah mengantarkanku?" Sherin juga beranjak dari sana.


"Jangan mengalihkan topik pembicaraan!" sahut Joa. Pria itu kembali memandang Xander dengan tatapan yang begitu tajam. "Tuan, di hati Sherin hanya ada nama saya dan itu tidak akan mungkin bisa disingkirkan oleh siapapun."


"Hai, percaya diri sekali kau! Dari mana kau tahu kalau ada namamu di hatiku ini?" protes Sherin tidak terima.


"Bukankah memang seperti itu? Kau saja tidak mau mengakuinya!" sahut Joa dengan nada tidak bersahabat.


Xander memijat kepalanya karena pusing melihat Sherin dan Joa yang kini berdebat. Semua ini di luar prediksi Quinn dan Dimitri. Tadinya mereka berpikir kalau setelah ini Sherin dan Joa sama-sama mengakui perasaannya. Bukan mengakui perasaan, justru dua anak manusia itu berdebat dan saling menyalahkan.


"Kalian urus saja masalah kalian sendiri. Aku ingin pergi dari sini!" ketus Xander sebelum pergi.


Joa kembali diam. Pria itu baru sadar kalau dia baru saja melakukan sebuah kesalahan. Berulang kali Dimitri menasehatinya agar berbicara lebih lembut ketika ada di depan Sherin. Namun pada kenyataannya Joa masih belum berhasil mengontrol emosinya hingga akhirnya kejadian ini terulang kembali.


"Kau benar-benar menyebalkan Joa?" ketus Sherin sebelum pergi.


Joa mengumpat sebelum berlari mengejar Sherin. "Sherin, tunggu!"


Sherin melangkah lebih cepat lagi untuk mencari taksi. Wanita itu ingin segera pergi dari sana. Tetapi dengan cepat Joa menarik tangan Sherin dan memberhentikan wanita itu.


"Ada apa lagi? Aku lelah jika harus berdebat denganmu."


"Maafkan Aku," ucap Joa dengan ekspresi wajah yang dipenuhi penyesalan.


"Maaf? Tapi maaf untuk apa? Joa, sebaiknya Kau tidak perlu mengatakan kata maaf jika besoknya kau ulangi lagi. Sekarang jangan halangi aku. Biar aku pergi. Aku butuh waktu dan tempat untuk menenangkan pikiran." Sherin segera melangkah pergi ke pinggiran jalan untuk memberhentikan taksi.


"Maafkan aku karena tidak pernah mengakui perasaanku sampai detik ini," teriak Joa. Hal itu membuat Sherin menahan langkah kakinya. Dia ingin mendengar lagi kira-kira kalimat apa yang akan dikatakan oleh Joa. "Sherin, sebenarnya aku telah jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2