
PRANGGG
Sherin kaget bukan main ketika gelas yang sempat dia genggam terlepas dan kini pecah berkeping-keping di lantai. Firasatnya jadi tidak karuan. Wanita itu melirik jam yang kini masih menunjukkan pukul 12 siang.
"Apa yang terjadi? Kenapa Joa tidak memberi kabar lagi," protes Sherin.
Saat ini wanita itu justru kepikiran suaminya yang sedang melakukan misi untuk mengalahkan musuh. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sebenarnya orang yang membutuhkan pertolongan saat ini adalah Xander.
Cepat-cepat Sherin mengambil ponselnya untuk menghubungi Joa. Meskipun rasanya mustahil Joa akan mengangkat telepon di saat situasi genting, akan tetapi tidak ada salahnya mencoba.
Sherin duduk di kursi sambil mengutak-atik ponselnya. Pelayan muncul lalu membersihkan pecahan kaca di lantai. Sherin memandang ke depan sejenak sebelum kembali fokus ke layar ponselnya. Dalam sekejap wanita itu menurunkan layar ponselnya bahkan ketika panggilan ke telepon Joa belum tersambung.
Sherin baru sadar kalau pelayan yang kini ada di depannya bukan pelayan yang biasa membersihkan tempat itu. Secara perlahan Sherin meraba sofa yang ia duduki dan mengambil pistol di balik bantal.
Ada beberapa titik yang memang digunakan Joa untuk menyimpan pistol. Sherin tahu dimana titik itu berada. Kini wanita itu sudah siap melawan musuh yang berpura-pura menjadi pelayan.
Pelayan berbaju abu-abu itu terlihat tenang ketika membersihkan pecahan kaca di lantai. Tidak sedikit dia memandang ke arah Sherin. Dari gerak-geriknya dia terlihat seperti pelayan yang biasa beberes rumah. Akan tetapi Sherin tetap waspada.
"Kemana perginya pelayan yang biasa?" tanya Sherin akhirnya. Dia memberanikan diri karena sudah memiliki persiapan.
Pelayan itu menahan gerakannya. Dia mengangkat kepalanya secara perlahan hingga membuat jantung Sherin berdebar tidak karuan.
Saat mereka saling memandang wajah satu sama lain. Tiba-tiba pelayan itu melempar pecahan kaca yang sempat dia kutip dan kumpulkan di pengki ke arah Sherin.
Sherin melebarkan kedua matanya sebelum melompat dan menjatuhkan tubuhnya ke samping. Di detik itu dia menembak kaki pelayan. Gerakannya sangat cepat. Bahkan pelayan itu tidak memiliki kesempatan untuk mengeluarkan senjata.
Suara tembakan terdengar jelas dari luar. Pasukan White Snake yang bertugas menjaga Sherin segera masuk ke dalam. Mereka memandang pelayan yang kakinya terluka sebelum menangkapnya.
Sherin berdiri dengan napas yang tidak karuan. Wanita itu melangkah mendekat. "Siapa kau? Apa kau di kirim seseorang untuk membunuhku!"
Sherin masih tetap memegang senjata apinya untuk jaga-jaga. "Apa kau pikir aku ini wanita bodoh?" Sherin melirik pasukan White Snake lalu berdiri. "Bunuh dia. Jangan beri dia kesempatan untuk bernapas lagi!" perintah Sherin.
Pasukan White Snake kaget mendengar perintah dari Sherin. Selama ini Sherin yang mereka kenal justru selalu menghambat rencana Joa karena tidak tegaan. Tetapi kali ini justru wanita itu mengeluarkan peringatan yang cukup mencengangkan.
"Baik, Nona," jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Tolong maafkan saya. Saya di suruh oleh seseorang," pinta pelayan palsu itu dengan wajah memelas.
"Apa kau juga akan minta maaf jika tadi berhasil membunuhku?" sahut Sherin. "Cepat bawa dia pergi!" perintah Sherin sekali lagi.
Pasukan White Snake segera menyeret wanita itu dengan paksa. Tidak peduli dengan darah yang bercecer di lantai.
Sherin terduduk lemas setelahnya. Dia mengusap dadanya karena masih tidak menyangka akan mendapatkan situasi seperti sekarang.
"Aku menikah dengan pemimpin mafia. Aku tidak bisa menjadi Sherin yang lemah lembut dan pemaaf. Suamiku akan berada dalam bahaya jika aku menjadi wanita lemah." Sherin segera mengambil ponselnya lagi dan menekan nomor Joa. Kali ini dia benar-benar ingin mendengar suara suaminya.
...***...
Di sisi lain, Xander di paksa berlutut di hadapan Aldo dan anak buahnya. Audy yang masih berdiri tidak jauh dari posisi Xander, hanya bisa berdiri dengan wajah bingung. Dia tidak tahu harus apa. Bahkan kakaknya yang selama ini melindunginya juga sudah tidak ada dipihaknya lagi.
Aldo memandang ke arah Audy lalu tersenyum tipis. "Audy, menurutmu harus kita apakan pria ini? Akan sangat membosankan jika membunuhnya terlalu cepat," ujar Aldo.
"Bebaskan dia," sahut Audy. "Masalah ini tidak ada hubungannya dengan Xander."
"Ckckck. Tidak ada?" Aldo memandang ke arah Xander lagi. Kali ini tatapannya menjadi sangat menakutkan. "Habisi pria ini!'
Anak buah Aldo dengan senang hati menghajar Xander. Namun Xander juga tidak tinggal diam saja. Pria itu berusaha mengeluarkan semua kemampuan bela diri yang ia miliki untuk memenangkan pertarungan.
"Aldo, aku mohon. Jangan lakukan ini." Kedua mata Audy mulai berkaca-kaca. Dia tidak mau sampai Xander tewas. Dia tidak mau kehilangan pria itu.
Aldo seperti tidak goyah. Pria itu dengan santainya menikmati pertunjukan di depannya. Hatinya sangat sakit ketika mengetahui kalau Xander dan Audy saling mencintai. Pria itu cemburu sekaligus marah. Kenapa dia membiarkan Xander tetap hidup. Seharusnya dia membunuh saingannya itu sejak pertama kali mereka bertemu.
BRUG.
Xander terjatuh ketika sebuah balok mendarat di pundaknya. Rasanya sangat sakit dan kini Xander mulai kehilangan kekuatannya. Sekujur tubuhnya seperti sangat lemah dan sulit untuk melawan lagi.
Dua pria memegang masing-masing tangan Xander dan memaksa pria itu berdiri. Seorang pria lainnya berjalan mendekati Xander sebelum akhirnya menghajar pria itu habis-habisan.
"Aldo, please Aldo. Jangan lakukan ini. Aku akan lakukan apapun yang kau inginkan. Tolong lepaskan Xander," lirih Audy dengan tetes air mata yang semakin deras. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia benar-benar takut.
"Tanpa kau menawarkan diri, mulai sekarang aku akan melakukan hal apapun yang aku suka," sahut Aldo.
__ADS_1
Audy terus memberontak. Namun cengkraman anak buah Aldo sangat kuat. "Sekarang aku harus bagaimana?" batin Audy.
Melihat darah segar keluar dari mulut dan hidung Xander membuat Audy lemas. Wanita itu hanya bisa menangis. Dia tidak memiliki kemampuan apapun untuk menolong pria itu.
Xander memandang Audy sambil tersenyum. Pria itu tahu kalau nyawanya sudah di ujung tanduk. Akan tetapi dia tidak bisa menyerah begitu saja. Sekali lagi Xander mengumpulkan kemampuannya dan memberontak.
Kali ini cekalan dua pria yang ada di samping Xander terlepas. Dengan mudahnya dia menghajar pria yang sejak tadi memukulnya.
Audy sedikit bernapas lega melihat Xander berhasil lolos. Namun tiba-tiba Aldo mendekatinya dan memegang tangannya.
"Aldo, lepaskan aku. Aku tidak mau pergi!" protes Audy.
Xander masih berjuang melawan anak buah Aldo. Meskipun mustahil, tapi dia akan berusaha untuk mengalahkan mereka dan membawa Audy pergi dari sana.
Aldo mendorong Audy tidak jauh dari lokasi pertarungan. Tubuh Audy terasa sakit ketika tubuhnya membentur dinding.
Tiba-tiba saja Aldo mendekat dan mencium Audy dengan paksa. Tepat di hadapan Xander.
"Aldo, apa yang ingin kau lakukan?" tolak Audy. Dia berusaha menghindar dari Aldo. Kepalanya geleng ke kanan dan ke kiri dengan cepat agar bisa menghindari ciuman Aldo.
"Jika kau terus menolak, aku akan membunuh pria itu sekarang juga!" ancam Aldo.
Audy terdiam. Wanita itu memandang wajah Aldo dan memejamkan mata. Bersamaan dengan itu, ada seulas senyum di bibir Aldo. Pria itu segera mencium Audy dengan kasar. Dia sengaja melakukan semua itu untuk membuat Xander cemburu. Dia ingin Xander merasakan rasa sakit yang dia rasakan ketika tahu kalau Audy dan Xander saling mencintai.
Xander mengepal kuat tangannya. Ketika ingin berlari ke arah Aldo, seseorang menembak kakinya hingga dia terjatuh di lantai. Tidak mau menyerah. Xander berdiri lagi dan berjalan dengan tertatih-tatih. Namun seseorang menembak kakinya lagi sampai dia terjatuh lagi.
"Audy, aku pasti akan membawamu pergi dari sini," batin Xander dengan penuh keyakinan. Kali ini pria itu bergerak dengan kedua kaki diseret di lantai.
Sangat menyedihkan memang. Namun, kemampuan Xander memang tidak sebanding dengan komplotan mafia yang kini ada di hadapannya.
Pria itu berusaha mendekati Audy. Ketika sudah semakin dekat, Audy memandang wajahnya. Wanita itu menangis. Dia tidak tega melihat Xander seperti itu.
"Tolong lepaskan dia. Meskipun harus melayanimu, aku rela," ucap Audy memberi penawaran.
Aldo merasa puas mendengar penawaran dari Audy. Pria itu melirik Xander yang sudah tidak berdaya. "Oke, Baby. Kau yang memintanya. Pria ini akan aku bebaskan jika servismu bagus," ujar Aldo sebelum menggendong Audy dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
Xander mengepal kuat tangannya dan menggertakkan giginya. Di saat yang bersamaan, seorang pria memukul kepala Xander.
Xander tergeletak di lantai. Samar-samar dia masih bisa melihat punggung Aldo yang menggendong Audy, sebelum akhirnya semua gelap.