My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 66 Pria Sejati


__ADS_3

Xander melajukan mobil yang ia tumpangi dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil itu juga ada Viana dan suaminya Jeremi. Mereka bertiga dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Di rumah tadi, Xander sudah menjelaskan keadaan Quinn secara singkat kepada orang tuanya.


Walaupun begitu, tetap saja Viana terlihat tidak puas. Wanita itu ingin mendengar cerita lengkapnya. Bagaimanapun juga, ini menyangkut kebahagiaan Tiffany sahabatnya. Segala hal yang berhubungan dengan Tiffany juga akan menjadi urusan Viana.


"Xander, bisakah kau jelaskan sekali lagi. Sebenarnya Quinn itu sakit apa? Kenapa tadi kau sempat bilang kalau penyakitnya susah untuk disembuhkan."


Viana memandang ke depan. Meskipun kini Xander tidak mungkin bicara sambil menatap wajahnya, akan tetapi Viana berharap Xander mau menjawab semua pertanyaan yang ia layangkan sebentar lagi.

__ADS_1


"Ya, Ma. Dokter Fdvei bilang terapi yang akan dijalani oleh Quinn tidak menjamin semua racun di tubuh Quinn akan hilang. Quinn harus meminum penawarnga. Jika tidak, maka organ vitalnya akan rusak dan dia tidak mampu bertahan hidup!" jelas Xander dengan wajah sedih. Masih sama seperti tadi, setiap kali membayangkan keadaan Quinn yang sekarang. Xander pasti selalu merasa sedih.


"Lalu, dimana kita bisa menemukan penawarnya? Tuan Luca keluarga yang kaya raya. Sudah pasti berapapun harga penawaran itu, pasti dia akan tembus. Tetapi jika memang harganya begitu mencekik, kita bisa membantu mereka," ucap Tuan Jeremi. Ternyata pria itu tidak bisa diam saja mendengar obrolan putra dan istrinya.


"Itu dia masalahnya. Sampai detik ini kami semua tidak tahu di mana letak penawarnya. Entah itu ada atau tidak juga kami tidak tahu. Quinn di celakai oleh sahabatnya sendiri. orang yang selama ini sangat dipercaya oleh Quinn bahkan sudah dianggap sebagai saudara. bukan baru hari ini saja tetapi sudah bertahun-tahun racun itu dikonsumsi oleh Quinn. itulah yang membuat dokter kesulitan untuk membersihkan racun yang ada di dalam tubuh Quinn."


Xander menambah laju mobilnya ketika mereka sudah memasuki jalanan lurus yang sepi. Tidak lama lagi mereka akan tiba di rumah sakit. Rasanya pria itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Quinn lagi.

__ADS_1


"Xander, lalu bagaimana denganmu? Apa kau masih ingin berjuang untuk mendapatkan Quinn?" Viana ingin tahu seperti apa perasaan putranya setelah tahu Quinn sakit parah.


"Aku ...." Xander kesulitan menjawab pertanyaan ibu sambungnya itu. "Sepertinya aku akan mundur. Dimitri adalah sahabatku, Ma. Sudah cukup lama kami kenal. Fei juga sudah memperingatiku. Di tambah lagi, Quinn sangat mencintai Dimitri. Aku tidak mau menjadi orang ketiga di antara mereka."


Wajah kecewa itu masih bisa terlihat jelas. Akan tetapi, sudah ada perasaan lega di dalam hati Xander ketika dia telah berhasil merelakan Quinn untuk sahabatnya.


"Kau yakin?" Tuan Jeremi sepertinya kurang setuju dengan keputusan putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Apa lagi yang bisa aku lakukan? Cinta mereka sangat kuat. Tetapi untuk saat ini, aku akan tetap ada di sisi Quinn. Aku akan menjaganya dan melindunginya. Papa sama mama tenang saja. Aku ini sudah dewasa. Jangan terlalu mengkhawatirkanku seperti itu." Xander berusaha tersenyum agar kedua orang tuanya tidak lagi kepikiran.


"Apa benar Xander dan Quinn tidak berjodoh?" batin Viana.


__ADS_2