
Audy duduk di lantai sambil menangis. Sedangkan Aldo berdiri tidak jauh dari Audy. Pria itu mengancing satu persatu kancing kemejanya. Dia bahkan tidak lagi mau mengeluarkan satu katapun. Pria itu kembali mengingat rencana yang sudah ia persiapkan bersama dengan Leonzio. Jika tanpa bantuan pria itu, mungkin detik ini Xander dan White Snake sudah membawa Audy pergi dari sisinya.
"Persiapkan dirimu, secepatnya kita akan menikah!" ucap Aldo sebelum pergi. Audy hanya bisa menangisi nasipnya yang begitu menyedihkan.
Beberapa hari yang lalu ...
Aldo dan Leonzio tanpa sengaja bertemu di sebuah tempat yang memang menjadi tempat berkumpulnya para gangster. Di sana Aldo dan Leonzio saling sapa. Meskipun Aldo kini membenci Leonzio karena Audy. Akan tetapi dia tidak mau sampai bermusuhan dengan pemimpin Cosa Nostra tersebut.
"Apa kabar Aldo? Sepertinya kau memiliki masalah besar saat ini." Leonzio kembali meneguk minumannya. "Apa kau sudah menolongnya? Apa sekarang dia bersamamu?" Meskipun sempat mengusir dan terlihat sangat membenci Audy. Nyatanya Leonzio masih mengkhawatirkan adik tirinya tersebut.
"Ya. Dia ada di mansionku. Bersama dengan seorang pria," jawab Aldo. "Apa Audy memiliki teman pria selama ini?" Tiba-tiba saja Aldo tertarik untuk menyelidikinya.
"Pria?" Leonzio menaikan satu alisnya. "Xander?" tebaknya asal saja. Katana memang sejauh ini hanya Xander yang ia pikirkan. Cuma pria itu yang pernah dekat dengan Audy.
"Ya. Kau mengenalnya?" Aldo semakin tertarik untuk membahas soal Xander dan Audy.
"Tidak!" sahut Leonzio. Sepertinya dia malas menjelaskan. Pria itu memutuskan untuk beranjak dari kursi dan pergi dari sana.
"Aku akan meminta anak buahku untuk membantumu mencari adik kandungmu. Tapi, aku ingin kau membantuku satu hal," teriak Aldo hingga membuat Leonzio berhenti.
Memang Leonzio sendiri mengakui kalau soal penyelidikan, Aldo sangat hebat. Buktinya saja dalam waktu singkat seseorang yang berani menghancurkan kapal barangnya kini sudah tertangkap.
"Dia bukan pria biasa. Dia dilindungi oleh geng mafia bernama White Snake. Tapi kau jangan khawatir, aku akan mengurus White Snake. Kau urus saja Xander. Tanpa bantuan White Snake, pria itu hanya sampah!"
Aldo tersenyum puas. "Oke, deal!"
...***...
Joa sangat marah ketika tahu kalau semua ini hanya jebakan. Musuhnya kali ini tidak memiliki dendam pribadi dengannya. Melainkan dengan Xander. Namun karena Xander adalah kakak iparnya, mau tidak mau Joa harus membereskan masalah ini.
__ADS_1
"Dimana Leonzio? Kenapa dia tidak muncul di sini? Apa dia takut?" ujar Joa.
"Hadapi kami jika kau ingin bertemu dengan bos!" sahut pria itu sebelum maju untuk bertarung dengan Joa.
Joa bersiap-siap menyambut pria itu. Dia menyimpan dulu senjata apinya karena kali ini Joa hanya membutuhkan belatih.
Pria itu langsung menyerang wajah Joa. Akan tetapi Joa berhasil menghindar. Setelahnya dia menendang kaki musuhnya dengan sangat kuat. Tetapi pria itu sangat kuat meskipun penampilannya terlihat tidak menyakinkan. Bahkan ketika Joa menendangnya, dia sama sekali tidak kesakitan sedikitpun.
Joa memutar otak untuk mengalahkan musuh. Pria itu berusaha menusukkan belatih yang ia genggam. Akan tetapi musuhnya sangat lihai dalam menghindar. Joa lagi-lagi dibuat pusing untuk menemukan cara mengalahkan musuhnya.
"Aku harus bisa mengalahkannya. Apapun caranya! Pasti ada kelemahannya," batin Joa. Pria itu berusaha menghajar musuhnya lagi. Namun lagi-lagi pria itu terlihat sangat tenang seperti tidak ada masalah di sana. Bahkan pukulan Joa seperti pukulan anak kecil yang tidak ada apa-apanya.
Sebuah busur panah meluncur ke arah Joa. Kali ini Joa tidak menyadarinya. Ternyata Robet sudah ada di atas dan ingin membunuh Joa. "Paman, maafkan aku," batin Robet dengan perasaan menyesal.
Pria yang ada di depan Joa melirik ke arah Robet. Hal itu membuat Joa curiga hingga dia memandang ke belakang dan menyadari keberadaan anak panah yang kini meluncur ke arahnya. Dengan cepet Joa menghindar hingga anak panah itu mendarat di kaki musuhnya.
"Aargh!" teriak pria itu kesakitan. Momen itu dimanfaatkan Joa untuk menyerang lagi. Dia menusukkan anak panah itu lebih dalam lagi.
Di saat bersamaan, pasukan White Snake muncul. Pertarungan besar itu tidak bisa dihindari lagi. Mereka semua saling menembak dan memukul. Begitupun dengan Joa yang kini masih belum berhasil melumpuhkan musuhnya.
Dari atas Robet terlihat kebingungan. Anak kecil itu memanfaatkan situasi itu untuk membawa adiknya pergi. Kali ini dia tidak peduli lagi dengan keadaan di sana.
Joa memandang ke arah Robet yang pergi meninggalkan gedung. Dia tersenyum puas sebelum menghajar lagi pria yang ada di hadapannya.
"Bos, awas!" teriak pasukan White Snake.
Joa memandang ke depan dan melihat sebuah peluru meluncur ke arahnya. Dengan cepat Joa menarik musuh yang tadi sempat bertarung dengannya. Joa menggunakan pria itu sebagai tameng.
Kali ini rencana Joa berhasil. Peluru itu mendarat di dahi musuh hingga dia tidak lagi bisa bergerak. Joa melempar pria itu sambil tersenyum puas. Setelah itu Joa memilih untuk segera pergi dari sana. Dia tahu kalau pasti telah terjadi sesuatu terhadap Xander. Dia tidak mau terjebak di tempat itu terlalu lama.
__ADS_1
...***...
Xander berbagai di sebuah ruangan rumah sakit yang ada di Roma. Pria itu memang masih berada di wilayah Cosa Nostra. Akan tetapi kini tidak ada satu anggota Cosa Nostra pun yang mengetahui keberadaannya.
"Audy ...," igau Xander.
Wanita yang menolong Xander terlihat cemburu. Dia memegang tangan Xander dan mengusapnya lembut. "Tuan, ini saya. Bukan Audy."
Xander membuka kedua matanya secara perlahan. Dia kaget ketika melihat wanita di depannya bukan Audy. "Nona Elin? Kenapa anda bisa di sini?"
"Seharusnya saya yang bertanya, kenapa anda bisa ada di sini dan dalam keadaan seperti ini?" tanya Nona Elin dengan ekspresi wajah yang serius. "Tuan, apa Audy yang anda maksud itu adalah Audy mantan sekertaris pribadi saya?"
Xander kembali ingat kalau Audy sempat bekerja dengan Nona Elin. Pria itu memilih untuk menyembunyikan identitas asli Audy. "Tidak. Mereka wanita yang berbeda."
Nona Elin kini bisa bernapas lega. "Syukurlah. Tidak mungkin juga anda kenal dan dekat dengan Audy yang saya kenal," ujarnya sambil tertawa kecil.
"Nona Elin, apa saya boleh meminjam ponsel? Saya ingin menghubungi seseorang."
"Tentu saja, Tuan." Nona Elin segera mengeluarkan ponsel miliknya dan memberikannya kepada Xander.
Xander menekan nomor Sherin. Hanya nomor Sherin yang ia ingat diluar kepala. Tidak beberapa lama panggilan telepon itu tersambung.
"Halo, siapa ini?"
Xander kini bisa bernapas lega karena dia bisa mendengar suara Sherin. "Sherin, ini aku."
"Kak Xander? Ini nomor siapa?"
"Sherin, hubungi Quinn. Katakan padanya aku membutuhkan bantuannya."
__ADS_1
"Baik, Kak. Kakak jaga diri baik-baik." Panggilan telepon itu segera terputus. Xander menurunkan ponselnya sambil tersenyum. Tidak lama lagi bala bantuan akan datang. Xander sudah tidak sabar untuk membawa Audy pergi meninggalkan Roma.
"Audy, tunggu aku."