
"Viana, akhirnya kau datang juga." Tiffany segera menyambut kedatangan Viana dan keluarganya.
Dua wanita itu saling berpelukan sebelum akhirnya bersama-sama masuk ke dalam rumah. Xander melirik Ayah kandungnya sekilas sebelum melangkah masuk. Pria itu seperti sudah tidak sabar untuk melihat Quinn malam ini.
"Papi tahu dia pasti wanita yang sangat cantik. Sampai-sampai kau bisa berubah seperti ini Xander," sindir Tuan Jeremi. Dia terlihat sangat senang melihat putranya semangat seperti itu.
"Dia bukan hanya cantik. Tapi dia juga wanita yang unik. Ada banyak sekali wanita cantik yang selama ini aku temui. Namun, tidak ada yang seperti Quinn," sahut Xander dengan nada yang pelan agar semua orang tidak mendengar apa yang ia bicarakan.
"Viana, kita langsung ke meja makan aja ya. Sekarang sudah waktunya makan malam. Kalian semua pasti lapar. Aku juga sudah menyiapkan makanan spesial untuk kau dan keluargamu," ucap Tiffany. Wanita itu tidak mau melepas lengan sahabatnya. Diaa membawanya menuju ke meja makan.
Di meja makan Luca sudah duduk dengan ponsel di tangannya. Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja ketika melihat tamu yang dinanti-nanti oleh istrinya telah tiba. Untuk menunjukkan rasa hormatnya Luca segera beranjak dari kursi yang ia duduki.
"Selamat datang tuan Jeremy. Silahkan duduk." Luca yang saat itu sedang menyambut kedatangan ayah kandung Xander.
Xander segera mengulurkan tangannya di depan Luca. Begitupun dengan Tuan Jeremy. Tiga pria itu sempat melakukan obrolan ringan sebelum ketiganya duduk di kursi meja makan.
"Di mana Quinn? Kenapa dia belum ada di sini?" tanya Viana khawatir. Dia tidak mau sampai makan malam itu gagal karena Quinn tidak hadir di antara mereka.
"Quinn masih ada di kamarnya. Sebentar lagi dia juga akan turun. Kau ini seperti tidak pernah muda saja. Pasti dia mengatur penampilannya agar terlihat menarik di depan Xander malam ini," sahut Tiffany.
"Oh ya, kau benar. Kita akan tunggu Quinn tiba di sini. Sebelum memulai makan malamnya." Viana memandang ke arah putranya lagi. Dari situ Ia bisa tahu kalau putranya itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Quinn.
Dari arah tangga terlihat seorang wanita turun dengan begitu elegan. Balutan gaun hitam panjang yang menjuntai hingga ke mata kaki membuatnya terlihat sangat feminim. Rambutnya digerai indah dan dibuat sedikit bergelombang. Polesan make up natural membuatnya tetap terlihat istimewa.
Xander mengukir senyuman melihat Quinn muncul. Pria itu semakin tidak sabar untuk melamar Quinn. Dia Ingin secepatnya Quinn menjadi istrinya. Di usianya yang sekarang, Xander tidak lagi memiliki niat untuk berpacaran. Pria itu ingin segera membangun rumah tangga dengan wanita yang ia cintai.
"Quinn! Kau benar-benar bidadari. Bahkan ibumu saja kalah cantiknya darimu," puji Viana.
"Terima kasih, Tante," ucap Quinn. Wanita itu duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Malam itu Tiffany sengaja mengatur kursi agar Quinn duduk di samping Xander. Karena memang meja makannya berbentuk lingkaran. Jadi di sana duduknya semua berdampingan. Setiap dua bangku jaraknya dekat begitupun seterusnya.
__ADS_1
"Xander, katakan sesuatu untuk Quinn. Kenapa kau diam saja!" protes Viana ketika putra sambungnya itu tidak mengatakan satu kata pun ketika Quinn muncul.
"Aku tidak tahu harus bicara apa, Mam. Quinn benar-benar sempurna." Pujian yang baru saja diucapkan oleh Xander sama sekali tidak membuat Quinn melayang. Wanita itu terlihat biasa saja dan telah siap untuk memulai makan malamnya.
Luca memperhatikan Xander dan Quinn secara bergantian. Pria itu tahu kalau putrinya tidak menyukai Xander. Ada seulas senyum di sana.
"Dia sama sepertiku. Jika tidak suka maka akan terlihat jelas di wajahnya. Bahkan untuk berpura-pura baik saja dia tidak mau," batin Luca di dalam hati.
Makan malam itu berjalan lancar. Ketika semua menu telah habis dilahap para pelayan dari dapur muncul untuk membereskan meja makan. Kali ini tibalah di acara inti. Kedatangan Viana dan suaminya memang bukan tanpa alasan. Mereka akan melamar Quinn malam ini juga. Mengingat putra mereka sendiri juga sudah sangat tergila-gila terhadap Quinn.
"Tuan Luca, perusahaan Anda semakin berkembang saja. Anda dan putri Anda benar-benar hebat dalam memimpin perusahaan. Dalam keadaan apapun perusahaan kalian tetap stabil," puji Tuan Jeremy. Dia sengaja membuka obrolan seperti itu agar suasana di sana tidak canggung.
"Anda juga hebat. Begitupun dengan putra anda. Di usianya yang sekarang dia sudah memiliki satu perusahaan besar," puji Luca gantian.
Di situ Quinn merasa sangat bosan. Hingga akhirnya dia lebih memilih untuk membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk.
"Quinn, apakah kau mau menemaniku untuk mencari udara segar di luar? Jika aku lihat kembali di sana, sepertinya ada kolam ikan. Akan sangat cocok jika kita duduk-duduk di pinggiran kolam ikan sambil menikmati malam yang cerah ini," ajak Xander. Dia juga tidak mau jika Quinn mendiamkannya seperti itu.
"Tunggu, Xander. Kau ini terburu-buru sekali mengajak Quinn untuk berduaan. Ada informasi penting yang ingin mami dan Papi sampaikan kepada orang tua Quinn. Dan Quinn juga harus mendengarnya," tolak Viana.
"Tuan Luca, putri Anda memang benar-benar putri yang sangat hebat. Cantik dan sangat berbakat. Putra saya telah jatuh hati padanya sejak pertama kali bertemu. Bisa saya jamin kalau putra saya ini adalah pria yang setia dan mapan. Saya yakin putra saya, Xander. Pasti bisa membahagiakan Quinn. Menuruti semua yang diinginkan oleh Quinn nantinya." Apa yang diucapkan oleh Tuan Jeremy membuat firasat Quinn semakin tidak enak. Wanita itu terlihat gelisah. Bahkan untuk bernapas saja ia merasa kesulitan.
"Dia adalah satu-satunya putri yang kami miliki. Kami menjaganya seperti berlian yang begitu berharga. Tidak sembarang orang bisa memilikinya. Bukan hanya saya dan istri saya saja yang menjaga Quinn yang selama ini. Tetapi dua adiknya yang laki-laki juga menjaga kakaknya dengan penuh cinta. Saya tahu maksud dari ucapan Anda barusan itu apa. Namun, di sini saya juga tidak bisa mengambil keputusan karena putri sayalah yang akan menjalaninya. Sebagai orang tua saya hanya bisa memberi saran. Mereka berdua baru saja kenal. Sebaiknya kita beri waktu kepada mereka untuk saling dekat dan mengenal sifat satu sama lain. Tidak perlu terlalu terburu-buru. Putri kami juga akan tetap di rumah ini dia tidak akan pergi kemana-mana." Luca mengungkapkan semua yang ada di dalam hatinya.
Tiffany mengernyitkan dahi mendengar jawaban Luca. Sebenarnya wanita itu juga setuju jika keputusan ini diambil sendiri oleh Quinn. Sebagai orang tua mereka juga tidak bisa memaksa putri mereka untuk menikah dengan pria pilihan mereka.
Akan tetapi Tiffany tidak setuju jika Luca bilang kalau semua ini terlalu terburu-buru. Karena bagi Tiffany semakin cepat justru semakin baik. Toh, mereka sendiri juga sudah tahu kalau calon menantu mereka adalah pria yang baik.
"Quinn sayang, seperti apa yang dikatakan Daddy tadi. Xander dan keluarganya datang ke sini bukan hanya sekedar makan malam. Mereka ke sini ingin melamarmu. Mommy tahu kalau belum ada cinta di hatimu untuk Xander. Tetapi Mommy yakin kalau sudah ada cinta di hati Xander untukmu. Semua keputusan kembali lagi padamu, Nak," putus Tiffany.
Tiffany menyerahkan semuanya kepada Quinn. Kini semua orang yang ada di sana memandang ke arah Quinn. Karena mereka sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Quinn langsung.
__ADS_1
"Aku ...." Quinn memandang ke arah Nichole yang kini berlari dengan wajah panik menuju ke tempat mereka berada.
"Nichole, apa yang terjadi?" tanya Quinn. Wanita itu segera beranjak dari kursi yang ia duduki dan menyambut kedatangan adiknya.
"Kak, Tuan Dimitri. Dia ...." Nichole tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Napasnya memburu cepat hingga membuatnya sesak.
"Dimitri? Apa kau baru saja bertemu dengannya? Dia ada di mana?" tanya Quinn mulai khawatir.
Xander yang saat itu mendengar nama Dimitri terlihat kecewa. Padahal momen ini adalah momen penting baginya. Tetapi Dimitri justru merusak semuanya meskipun pria itu tidak hadir di antara mereka.
"Tadi saat dalam perjalanan pulang menuju ke sini saya melihat Tuan Dimitri bertarung dengan segerombolan orang bersenjata. Mereka bahkan membawa samurai. Sedangkan Tuan Dimitri sendiri bertarung dengan tangan kosong," ucap Nichole pada akhirnya.
"Apa?" Quinn melebarkan kedua matanya. Dia kaget bukan main mendengar informasi yang baru saja dibawakan oleh adik kandungnya tersebut.
"Quinn, pria itu bukan lagi urusanmu. Biarkan saja dia menyelesaikan urusannya sendiri. Tidak mungkin orang-orang itu datang untuk menyerangnya jika sebelumnya dia tidak membuat masalah!" Tiffany berusaha memperingati Quinn agar tidak pergi dan meninggalkan rumah. Selain khawatir dengan keadaan putrinya sendiri ia juga tidak mau sampai rencana penting ini gagal.
Quinn justru mengabaikan apa yang baru saja dikatakan oleh Tiffany. Wanita itu memandang ke arah Xander sejenak.
"Maafkan Aku," ucapnya sebelum pergi.
"Quinn!" teriak Tiffany. Wanita itu memandang ke arah suaminya yang sejak tadi diam saja. Biasanya justru Luca sendirilah yang paling bersemangat untuk melarang putrinya agar tidak pergi dan menemui bahaya. "Kenapa kau diam saja? Cepat cegah putri kita agar tidak pergi dari rumah. Dia akan bertarung!" Tiffany mengguncang lengan suaminya.
"Tiffany, kau sendiri yang bilang padaku agar tidak terlalu keras terhadap putriku. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Biarkan saja dia pergi dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan hati keinginan hatinya," sahut Luca.
"Tapi bukan seperti itu maksudku." Tiffany merasa lemas hingga pada akhirnya ia kembali duduk di kursi. Wanita itu terlihat sedih karena gagal mencegah putrinya pergi. Viana segera menghampiri Tiffany. Wanita itu mengusap punggungnya agar kembali tenang.
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan kita bisa mengatur pertemuan ini lagi. Nanti kau bisa sakit," bujuk Viana.
"Papi, Xander mau ikut Quinn." Xander juga segera pergi mengejar Quinn. Rasanya pria itu akan tidak tenang jika membiarkan wanita pujaannya pergi menghadapi bahaya sendirian. Ditambah lagi ada sahabatnya yang di sana yang memang juga sangat ia sayangi.
Luca dan Jeremy saling memandang. Sebagai seorang ayah, mereka tidak tahu harus bagaimana. Jika langsung turun tangan dan membantu masalah anak mereka, maka selamanya anak mereka tidak akan mandiri.
__ADS_1
"Saya yakin, Anda tidak akan membiarkan putri Anda turun tangan langsung, Tuan," ucap Jeremy.
Luca menatapnya dengan tatapan penuh arti. "Dia wanita yang hebat tanpa bantuanku juga dia pasti akan baik-baik saja!"