My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 79 Kita Sahabat


__ADS_3

Di lantai bawah Rumah Sakit tepatnya di kantin, Xander dan Dokter Fei sedang menikmati kopi pesanan mereka. Dua pria itu sengaja mengatur jadwal ketemuan karena mereka ingin membahas masalah kesehatan Quinn.


"Sejauh ini apa keadaan Quinn sudah mengalami kemajuan?" tanya Xander penasaran.


"Karena racun itu tidak lagi diteguk jelas saja kondisi Quinn mengalami kemajuan. Tetapi seperti yang sejak awal aku katakan. Untuk membersihkan seluruh racun yang sudah menyebar ke tubuh Quinn kita perlu penawarnya." Dokter Fei mengaduk kopi miliknya ketika baru saja memasukkan gula.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan jika Dimitri gagal mendapatkan penawarnya? Yang aku dengar dari Dimitri musuh yang sekarang mereka hadapi sepertinya tidak mungkin menyimpan penawar racun Quinn. Mereka pasti berpikir kalau cepat atau lambat Tuan Luca pasti akan datang menemuinya untuk mengambil penawar itu. Dan jika penawar racun itu sampai jatuh ke tangan Tuan Luca maka rencana besarnya akan gagal total. Aku yakin musuh ini tidak mungkin menyimpan penawarnya."


"Kalau begitu kita buat mereka membuat penawarnya yang baru," jawab Dokter Fei dengan santai.


Xander tertawa mendengar jawaban dokter Fei. Tadinya dia berpikir dokter muda itu hanya sekedar membuat lelucon saja. Sampai pada akhirnya Xander tertegun dan memikirkan sesuatu.


"Kenapa aku tidak memiliki pemikiran seperti itu kemarin. Aku harus segera menghubungi Dimitri dan menyampaikan idemu ini." Xander cepat-cepat mengambil ponselnya ingin menghubungi Dimitri. Namun dengan cepat juga Dokter Fei merebut ponsel Xander dan meletakkannya di meja.


"Jangan terburu-buru karena kita belum membuat racunnya. Setelah kita berhasil membuat racun yang sama seperti yang diminum oleh Quinn kita akan mengirimkannya ke Dimitri."


Xander tepuk tangan karena terlalu bahagia. "Kau hebat Fei! Tidak sia-sia selama ini aku bersahabat denganmu. Kau memang selalu bisa untuk diandalkan dalam kondisi apapun."


Dokter Fei menghela napas kasar. "Aku terbiasa berteman dengan kalian yang berandal ini. Jadi sikap baik budiku perlahan hilang."


"Jangan panggil aku brandal karena yang berandal di antara kita bertiga hanya Dimitri," sangkal Xander.

__ADS_1


"Tetapi tidak ada satu orang pun yang akan percaya jika kau katakan kalau Dimitri adalah seorang berandal," sahut Dokter Fei sambil menyeruput kopi miliknya.


"Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang ingin aku ceritakan padamu. Apakah kau masih memiliki waktu untuk mendengarkannya?"


"Sejak kapan kau meminta izin seperti ini? Biasanya kau langsung saja mengatakan maksud dan tujuanmu."


"Aku mengkhawatirkan nyawa Dimitri. Musuhnya sangat banyak dan setiap harinya bertambah banyak. Ditambah lagi sekarang mereka sudah tahu letak kelemahan Dimitri ada pada Quinn. Mungkin mereka tidak akan pernah berhasil menyentuh Quinn karena orang percayaan Tuan Luca pasti menjaga ketat Quinn.


Tetapi yang jadi beban pikiranku saat ini apa mungkin Dimitri berhasil menghadapi masalahnya sendirian. Tadinya aku sudah memutuskan untuk ikut bertarung dengannya melawan musuh. Tetapi dia justru memintaku untuk menjaga Quinn di rumah sakit."


"Itu sudah konsekuensi yang harus dia dapatkan. Dia tidak bisa menghindari lagi. Aku yakin Dimitri pasti bisa melewatinya. Dia pria yang sangat hebat dan cerdas." Sebenarnya Dokter Fei juga mengkhawatirkan sahabatnya itu. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Untuk masalah yang satu ini apakah kau tidak memiliki ide sedikitpun? Setidaknya pikirkan sebuah ide agar Dimitri kita baik-baik saja."


"Seperti tempat persembunyian, obat, racun atau apapun itu yang bisa membantu Dimitri."


"Racun? Obat?" Dokter Fei seperti ingat akan sesuatu. "Ya, aku memiliki ide."


Xander tersenyum puas mendengarnya. "Aku tahu kalau kau bisa selalu diandalkan."


...***...

__ADS_1


Xander menahan langkah kakinya ketika melihat Tiffany berdiri di depan kamar Quinn sambil menangis. Wanita paruh baya itu cepat-cepat menghapus air matanya ketika mengetahui Xander ada di dekatnya.


"Xander, sejak kapan kau berdiri di sana? Apakah kau mau menemui Quinn?"


"Tante baik-baik saja? Apakah tante menangis karena memikirkan keadaan Quinn? Bukankah Dokter Fei bilang kalau kondisi Quinn sudah stabil saat ini. Lalu apa yang tante pikirkan?"


"Dokter Fei bilang untuk saat ini tidak untuk selamanya. Ditambah lagi sekarang suamiku juga harus pergi untuk bertarung lagi setelah sekian lama ia menjauh dari geng mafia miliknya. Sebagai seorang ibu dan istri aku sama sekali tidak tenang. tetapi aku berusaha menyembunyikannya di depan Quinn agar Quinn juga tidak kepikiran," jawab Tiffany apa adanya.


"Sebaiknya Tante jangan menangis lagi. Lebih baik sekarang kita doakan agar Paman Luca bisa kembali dalam keadaan selamat."


Tiffany mengangguk setuju. "Xander, bukankah kau mau masuk?"


"Ya, Tante. Aku ingin bertemu dengan Quinn. Apa Quinn lagi tidur?"


Tiffany menggeleng. "Dia baru saja bangun. Tante harus ke bawah untuk membeli makanan. tolong jaga Quinn."


Xander mengangguk. " Baik, Tante. Saya masuk ya."


Xander segera masuk ke dalam ruangan tempat Queen dirawat. Sedangkan Tiffany melangkah menuju ke arah lift. Di samping wanita paruh baya itu ada seorang nenek yang juga melangkah menuju ke lift.


Tiffany memandang ke arah nenek itu sejenak sebelum masuk ke dalam lift yang telah terbuka. Beberapa pengawal yang dikirim Luca memperhatikan Tiffany sejenak sebelum kembali mengamankan lokasi di sana. Dia memberi tahu rekannya yang di lantai bawah agar menjaga Tiffany yang kini menuju ke lantai satu.

__ADS_1


Akan tetapi ketika lift terbuka, justru Tiffany tidak ada di sana. Lift itu kosong hingga membuat panik semua orang.


"Nyonya besar hilang!"


__ADS_2