My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 114 Tugas Dadakan


__ADS_3

Sherin dan Joa baru saja tiba di lokasi pesta. Mereka berdua saling memandang satu sama lain sebelum akhirnya berpisah. Ya, sebisa mungkin mereka memperlihatkan ekspresi kalau mereka masih bermusuhan. Sherin berjalan ke arah Quinn sedangkan Joa berjalan ke arah Dimitri.


"Kenakan saja kau Sherin? Kau ini suka sekali menghilang tanpa kabar!" protes Quinn. "Aku tadi ingin meminta bantuanmu. Tapi kau tidak ada di sampingku." Quinn memajukan bibirnya hingga membuat Sherin segera memeluk wanita itu.


"Maafkan aku. Aku keluar untuk mencari udara segar. Pemandangan di lantai dansa membuat mataku sakit," dusta Sherin lagi.


"Yakin?" Quinn tidak percaya begitu saja. Karena jelas-jelas tadi dia melihat sendiri ketika Sherin dan Joa pergi bersama meninggalkan lokasi pesta.


"Kau tidak percaya padaku?" Sherin menunjukkan wajah yang serius agar cerita bohongnya tidak sampai ketahuan.


"Kau berkencan ya sama Joa?" bisik Quinn sambil tersenyum.


"Quinn, tidak ada hubungannya dengan dia," sahut Sherin cepat. Namun wanita itu tidak berani memandang wajah Quinn secara langsung hingga membuat Quinn semakin yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan Sherin.

__ADS_1


"Ya, ya. Aku percaya. Mungkin semua ini hanya kebetulan saja. Kau dan Joa keluar di waktu yang sama dan kembali di waktu yang sama pula." Quinn memutar bola matanya.


"Ya, mungkin itu hanya kebetulan saja," sahut Sherin lagi. "Kenapa tadi kami harus masuk secara bersamaan sih," umpatnya di dalam hati.


"Joa, besok pagi kau yang memimpin rapat," perintah Dimitri sambil berjalan menuju ke arah meja berisi minuman.


"Saya, Bos?" Joa berhenti dan menunjuk wajahnya sendiri. "Anda yakin?"


Dimitri tersenyum mendengarnya. Memang selama ini Joa belum pernah memimpin rapat. Jika Dimitri sibuk, biasanya Robin yang mengambil alih. Tapi entah kenapa big boss itu sekarang memintanya untuk memimpin rapat. Joa kurang yakin dengan kemampuannya sendiri.


"Kenapa tidak Robin saja Bos?" tanya Joa dengan penuh hati-hati.


"Malam ini Robin akan berangkat ke luar kota. Aku juga sudah memberinya tugas. Aku ini baru saja menikah. Kenapa kalian tidak bisa dihandalkan!" Dimitri membanting gelas kosong di atas meja hingga membuat Joa tersentak dan segera menunduk. Kini pria itu tahu kalau Dimitri marah.

__ADS_1


"Maafkan saya, Bos. Besok saya akan berusaha semaksimal mungkin saat rapat," jawab Joa pada akhirnya. Meskipun tidak tahu apa-apa saja yang harus dia lakukan besok, tetapi setidaknya malam ini dia tidak mau membuat Joa marah.


"Bagus. Jawaban seperti itu yang aku inginkan sejak tadi." Dimitri segera pergi meninggalkan Joa sendirian di sana. Sambil berjalan pria itu tersenyum membayangkan ekspresi Joa tadi.


"Ini semua demi kebaikanmu juga Joa. Maafkan aku karena terlalu memaksamu tadi. Tetapi aku ingin kau bisa mengendalikan segalanya. Termasuk masalah yang ada di perusahaan," batin Dimitri.


Sherin melirik ke arah Joa yang kini di tinggal sendirian oleh Dimitri. Melihat ekspresi wajah Joa yang tidak bersemangat membuat Sherin khawatir.


"Kenapa dia? Apa Dimitri baru saja memarahinya karena tadi pergi meninggalkan lokasi pesta? Tapi masa iya hal sepele seperti itu aja bisa membuatnya marah," gumam Sherly di dalam hati. Dia memandang ke arah Quinn yang kini sedang berbincang dengan Nichole.


"Quinn, aku mau ambil minum. Apa kau juga mau?"


"Ya. Bawakan aku satu," jawab Quinn. Sherly mengangguk sebelum berjalan menuju ke meja minuman. Wanita itu sengaja ke sana karena memang di situlah tempat Joa berada saat ini.

__ADS_1


"Tidak salah lagi. Sepertinya dia memang dalam masalah," batin Sherly yang kini melihat Joa melamun. Bahkan pria itu tidak lagi menyadari keberadaannya.


__ADS_2