My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 209 Kehamilan Quinn


__ADS_3

Quinn langsung ditangani oleh Dokter kandungan. Semua orang yang ada di sana terlihat sangat khawatir. Terutama Dimitri yang kini tidak bisa bernapas dengan tenang lagi. Dia takut terjadi sesuatu terhadap anak pertamanya. Dia juga tidak mau istrinya sampai jatuh sakit.


"Dok, tolong periksa putri saya. Dia sedang mengandung anak pertamanya," ujar Tiffany dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu tidak mau diam saja seperti yang lainnya. Sebagai seorang ibu, dialah yang lebih banyak bicara.


"Nyonya, tenanglah. Kami akan memeriksa kondisi Nona Quinn," ujar Dokter kandungan itu sebelum masuk ke dalam IGD.


Sherin memandang ke arah Joa. Wanita itu sendiri juga sangat mengkhawatirkan Quinn. Namun dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Karena Sherin tahu bukan hanya dirinya saja yang mengkhawatirkan Quinn. Tetapi semua orang yang menyayangi Quinn, pasti akan mengkhawatirkannya.


"Tante, sebaiknya sekarang kita doakan saja semoga tidak terjadi sesuatu terhadap Quinn." Sherin mengusap punggung Tiffany. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat Tiffany kembali tenang.


"Ya, Sherin. Semoga Quinn dan anak yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja. Tante juga kaget kenapa tiba-tiba Quinn seperti ini. Bukankah sebelumnya dia baru saja menemui dokter dan Dokter bilang kalau kandungan Quinn baik-baik saja."


Tiffany masih ingat betul beberapa hari yang lalu putrinya sempat menelepon dan memberi tahu Tiffany kondisi kandungnya yang baik-baik saja. Hal itu membuat Tiffany sedikit lega. Karena setelah mendengar kabar Quinn dan Dimitri mendapat masalah, dia tidak bisa lagi tidur dengan nyenyak. Bahkan saat Luca meminta izin untuk pergi, Tiffany tidak lagi menghalangi.


Sherin memandang ke depan. Dokter Fei berjalan menghampiri mereka semua. Pria itu sendiri juga bingung melihat Dimitri dan yang lain ada di sana. "Ada apa? Siapa yang sakit!" Dokter Fei berdiri di samping Dimitri menagih sebuah penjelasan.


"Quinn tiba-tiba saja meringis kesakitan dan pingsan. Fei, cepat lihat bagaimana keadaan Quinn di dalam," perintah Dimitri. Rasanya pria itu ingin sekali segera masuk ke dalam untuk melihat langsung kondisi istrinya. Tapi, ada aturan rumah sakit yang harus dia patuhi.


"Baiklah. Aku akan memeriksa keadaan di dalam." Dokter Fei segera masuk ke dalam IGD. Padahal tadinya ia ingin pulang karena jam tugasnya sudah habis.


Setibanya di dalam ruangan, Dokter Fei memperhatikan Dokter Kandungan yang kini sedang sibuk memeriksa kondisi Quinn. "Bagaimana keadaan pasien, Dok?"


Dokter kandungan itu memandang ke arah Dokter Fei. "Anda kenal dengan pasien, Dok?" tanya Dokter Kandungan yang saat itu masih fokus dengan pemeriksaannya.


"Ya." Dokter Fei memeriksa denyut nadi Quinn untuk memastikan kondisi wanita itu. "Apa ada hal yang serius?"


Dokter kandungan menggeleng pelan. "Pasien hanya butuh istirahat. Sepertinya pasien terlalu banyak beban pikiran hingga dia stress. Saya akan meresepkan vitamin untuk pasien. Sejauh ini kondisi pasien dan anak yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja."


Jawaban yang baru saja di dengar oleh Dokter Fei membuat pria itu kembali tenang. "Terima kasih, Dok. Saya akan sampaikan informasi ini kepada keluarga pasien."


"Setelah sadar, pasien boleh pulang," ucap Dokter Kandungan itu lagi sebelum pergi. Dokter itu tidak lewat dari pintu masuk. Hingga dia tidak akan bertemu dengan Dimitri dan juga yang lainnya.


Dokter Fei memandang Quinn untuk beberapa saat sebelum keluar. Ada banyak suster dan Dokter jaga diruangan itu. Jadi Dokter Fei tidak perlu khawatir meninggalkan Quinn.


"Fei, bagaimana?" tanya Dimitri ketika dia melihat Dokter Fei kembali muncul.


"Quinn baik-baik saja. Dokter bilang dia hanya terlalu banyak pikiran," jawab Dokter Fei apa adanya.


"Quinn pasti memikirkan perkataanku tadi. Astaga. Aku yang sudah membuat putriku celaka," ujar Tiffany dengan wajah bersalah.


"Sayang, jangan seperti itu. Kau tidak salah. Quinn juga baik-baik saja. Di sini tidak ada yang salah. Tidak ada yang boleh menyalahkan diri sendiri juga!" jelas Luca. Dia hanya ingin semua orang fokus dengan kesehatan Quinn. Bukan saling menyalahkan karena itu sama sekali bukan solusi yang tepat.


"Apa aku boleh menemui Quinn?" pinta Dimitri kepada Dokter Fei.


"Tentu. Tapi hanya satu orang saja yang boleh masuk. Setelah Quinn sadar, Quinn sudah diperbolehkan pulang," jelas Dokter Fei lagi.


Dimitri memandang ke arah Tiffany. "Mom, Dimitri masuk ya," izin Dimitri sebelum masuk ke dalam ruangan bersama dengan Dokter Fei.

__ADS_1


Sherin bisa duduk lagi karena Dokter Fei bilang kalau Quinn baik-baik saja. Wanita itu bersandar di pundak Joa. Kedua matanya terasa sangat berat sekali. Dia butuh istirahat.


"Sherin, pulanglah. Kau terlihat sangat kelelahan," ucap Tiffany. "Biar Tante dan Paman Luca yang menjaga Quinn di sini. Ada Dimitri dan Nichole juga. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya."


"Ya, Tante. Sherin memang sangat lelah sekali. Sherin pamit ya Tante," ucap Sherin sambil tersenyum. Wanita itu memeluk Tiffany sejenak. "Sherin pulang dulu ya Tante."


Tiffany mengangguk. "Hati-hati di jalan ya."


Sherin segera pergi bersama dengan Joa. Tadinya Joa ingin berpamitan dengan Dimitri. Akan tetapi pria itu tidak ada di sana. Setelah Sherin menghilang di balik lorong, Tiffany duduk di kursi yang tadi sempat diduduki Sherin. Wanita itu memandang ke arah pintu IGD.


"Quinn telah menikah dengan pria pilihannya. Pria yang ia cintai. Lalu, apa lagi yang harus dipikirkan oleh Quinn? Mommy tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakakmu," ujar Tiffany. "Suaminya juga kaya. Sejauh ini semua baik-baik saja. Kenapa dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri agar tidak sampai jatuh sakit seperti ini."


"Mom, mungkin ini efek dari masalah di Roma. Saat itu Kak Quinn sangat kelelahan karena harus berlari dan bertarung," jawab Nichole.


"Tapi bukankah Quinn sudah periksa setelah pulang dari Roma? Nichole, apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari Mommy?" tuduh Tiffany asal saja.


"Tidak ada, Mom." Nichole menghela napas kasar. "Mommy jangan memandangku seperti itu. Jika ada yang harus dicurigai, orang itu adalah Daddy." Nichole melirik ke arah Luca sejenak sebelum menunduk.


"Sayang, kau menyembunyikan sesuatu?" Kali ini Tiffany ingin mendesak suaminya agar mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tidak ada. Aku sama sekali tidak tahu," jawab Luca dengan sungguh-sungguh. Tiffany akhirnya menyerah. Wanita itu kembali duduk di kursi.


"Sepertinya aku harus tanya langsung sama Quinn setelah dia sadar," batin Tiffany di dalam hati.


...***...


"Sekarang apa kau senang?" ledek Dimitri. Pria itu mengambil segelas air putih lalu memberikannya kepada Quinn. "Jangan ulangi lagi. Aku tidak mau sampai kau celaka sayang ...."


"Maafkan aku." Quinn meneguk minuman itu secara perlahan. "Aku memang tidak menyembunyikan apapun darimu. Aku jujur," sambung Quinn lagi. Karena dari gaya Dimitri memandangnya, Quinn sudah tahu kalau kini Dimitri curiga padanya.


"Kau tidak berbohong? Sayang, Dokter bilang kau banyak pikiran!" ucap Dimitri lagi.


Quinn menghela napas panjang. "Sebenarnya aku memikirkan semuanya. Sayang, entah kenapa setelah hamil aku merasa kalau kau tidak perhatian lagi padaku. Apa seperti ini bawaan ibu hamil?"


Suara langkah kaki membuat Quinn dan Dimitri memandang ke pintu. Mereka melihat Tiffany dan Luca muncul di sana. Memang orang tua Quinn memutuskan untuk menginap karena mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Quinn.


"Sayang, kau belum tidur? Ini Mommy buatkan susu," ucap Tiffany. Wanita itu segera duduk di samping Quinn untuk memberikan susu buatannya.


"Terima kasih, Mom," jawab Quinn sambil menerima segelas susu tersebut. Dia melirik ke arah Dimitri sejenak sebelum meneguknya secara perlahan.


"Dad, sebaiknya Daddy sama Mommy istirahat saja. Biar aku yang menjaga Quinn," pinta Dimitri. Dia juga tidak mau mertuanya sampai jatuh sakit.


"Dimitri, ada hal penting yang ingin Mommy tanyakan." Ekspresi wajah Tiffany berubah serius. Hal itu membuat Dimitri dan Quinn menjadi tegang. Bahkan Quinn tidak jadi menghabiskan susu yang ada di tangannya.


"Ada apa, Mom?" tanya Quinn hati-hati.


"Dimitri, semalam saat Quinn memeriksakan kandungannya ke Dokter, apa kau ikut?" Tiffany memandang ke arah Dimitri yang saat itu tidak jauh darinya.

__ADS_1


Quinn langsung mematung mendengarnya. Kini wanita itu lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya. Luca memperhatikan gerak-gerik putrinya yang mencurigakan. Hal itu membuatnya semakin yakin kalau telah terjadi sesuatu saat ini yang dengan sengaja disembunyikan oleh Quinn sendiri.


"Nggak, Mom," jawab Dimitri dengan wajah menyesal. "Waktu itu kakiku tidak bisa jalan. Jadi aku meminta Quinn untuk pergi bersama pengawal. Quinn juga melarangku untuk ikut," jawab Dimitri dengan penuh rasa bersalah.


"Itu berarti kau tidak tahu hasil pemeriksaannya?" tanya Tiffany lagi.


Dimitri mengangkat kepalanya. "Apa terjadi sesuatu dengan kandungan Quinn, Mom?"


Tiffany kali ini memandang ke arah putrinya. "Kau masih mau merahasiakannya dari kami semua Quinn?"


Quinn menghela napas dengan kasar. Wanita itu merasa terjebak hingga tidak bisa menghindar lagi. Dia juga merasa yakin kalau orang tuanya itu sudah mengetahui apa yang selama ini dia sembunyikan.


"Mom, aku takut." Quinn tiba-tiba memeluk Tiffany.


"Sayang, ada apa?" Dimitri semakin khawatir. "Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?"


"Quinn ingin melahirkan anak kalian dengan cara normal. Tapi Dokter bilang Quinn harus di operasi karena posisi anak kalian sungsang!" sahut Tiffany.


Dimitri juga kaget mendengar berita ini. Sekarang usia kandungan istrinya sudah delapan bulan. Tidak lama lagi wanita yang dicintainya itu akan melahirkan anak pertama mereka.


Memang sejak awal Quinn selalu bilang kalau dia ingin melahirkan anaknya dengan cara normal. Wanita itu takut sekali berada di ruang operasi. Belum lagi efek operasi itu akan membuat Quinn tidak bisa bergerak sebebas dulu lagi.


Dia wanita yang aktif. Quinn tidak mau berubah menjadi wanita yang hanya diam saja di rumah setelah operasi. Dia tahu betul bagaimana kehidupan suaminya. Quinn ingin selalu berada di samping Dimitri setiap kali mereka dihadapkan sebuah pertempuran.


"Sayang, kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Sejak kapan kau mengetahui informasi ini!" Dimitri berlutut di depan Quinn. Memegang tangan wanita itu dan mengusapnya dengan lembut. Meskipun Quinn salah karena sudah menyembuhkan informasi penting ini darinya. Akan tetapi Dimitri tidak bisa marah pada istrinya itu.


"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa dia katakan.


"Jika saja Dokter Kandungan itu tidak di desak oleh Dokter Fei, mungkin kami semua tidak akan tahu bagaimana kondisimu Quinn. Quinn, ini masalah yang penting. Dokter Fei bilang kau tetap memaksakan diri untuk melahirkan normal apapun resikonya. Apa kau sadar dengan ucapan mu itu? Itu sama saja kau bunuh diri. Kau dan anak yang ada di dalam kandunganmu tidak akan selamat!" ketus Tiffany dengan wajah kesal. Dia sangat menyayangi putrinya. Tidak mau sampai putrinya celaka.


"Tapi Mom. Dokter kandungan bilang kalau sekarang teknologi sudah sangat canggih. Mereka bisa membantuku untuk melahirkan anak ini dengan cara normal meskipun posisi anakku tidak benar," sahut Quinn membela diri.


"Tetap saja resikonya sangat besar Quinn jika dibandingkan ketika bayi itu ada pada posisi yang benar. Mommy mau kau melahirkan dengan cara dioperasi. Kami tidak mau dengar alasan apapun lagi. Ini semua demi kebaikanmu," ujar Tiffany tanpa mau di bantah lagi.


"Nggak bisa Mom. Aku nggak bisa operasi. Dokter bilang setelah operasi aku juga harus menjaga diriku. Aku tidak bisa bertarung lagi!" sahut Quinn dengan nada yang semakin tinggi yang menunjukkan kalau wanita itu mulai emosi.


"Bertarung? Untuk apa bertarung?"


Dimitri dan Luca masih belum bisa mengeluarkan kata. Mereka takut salah bicara dan membuat dua wanita yang kini ada di hadapan mereka semakin marah.


"Apa Mommy lupa kalau Dimitri itu memiliki banyak sekali musuh?" jawab Quinn. Bahkan dada wanita itu sudah naik turun yang menandakan kalau dia tidak bisa bernapas dengan normal lagi.


"Bukankah sudah ada Joa. Sudah ada White Snake. Kalian bisa mengandalkan mereka. Untuk apa turun tangan lagi? Quinn, mommy tetap tidak setuju. Kau harus operasi!" ketus Tiffany mantap. Dia tidak mau keputusannya itu dibantah lagi oleh putrinya.


"Nggak, Mom!" teriak Quinn.


"Jangan keras kepala Quinn." Tiffany melipat kedua tangannya di perut. "Sejak awal inilah yang Mommy takutkan jika kau menikah dengan pria berbahaya seperti Dimitri! Bahkan setelah menikah kau tidak bisa hidup dengan tenang."

__ADS_1


"TIFFANY!"


__ADS_2