
Sherin terlihat duduk santai menikmati ombak dilautan. Sesekali wanita itu tertawa ketika air laut membasahi kakinya. Tidak jauh dari posisi Sherin ada Joa yang kini duduk dengan santai. Pria itu menjaga Sherin dari bahaya. Entah kenapa hari ini firasat Joa mengatakan kalau mereka dalam bahaya. Maka dari itu dia tidak pernah mau meninggalkan Sherin sedikitpun.
"Joa, apa yang kau pikirkan?" tanya Sherin. Wanita itu memandang ke Joa sekilas sebelum ke depan lagi. "Ayo kita berenang. Siapa tahu nanti kita bisa tiba di kota," ucap Sherin sambil tertawa. Wanita itu merasa kalau dia baru saja mengatakan sesuatu yang cukup mustahil.
Joa mendengus kasar. Pria itu memandang ke belakang dan melebar kedua matanya. Dia segera berdiri dan berlari menghampiri Sherin.
"Sherin, berdiri!" perintah Joa.
"Ada apa?" protes Sherin. Wanita itu mengikuti arah pandang Joa sebelum terperanjat kaget melihatnya.
Segerombolan pria bersenjata kini muncul menghampiri mereka. Joa tidak tahu apa tujuan mereka. Namun pria itu tetap waspada dan siap membela diri jika bahaya menyerang.
__ADS_1
"Siapa kalian?" tanya salah satu pria berbadan tegap. Pria itu tidak mengenakan baju hingga tato yang ada di tubuhnya terlihat jelas. Rambutnya yang sengaja dipanjangkan kini dikuncir.
"Kami terdampar di pulau ini. Maafkan kami jika kedatangan kami mengganggu kalian. Tapi kami tidak memiliki niat untuk mencari musuh," jawab Joa.
Joa berusaha menyembunyikan senjatanya agar tidak terlihat. Pria itu tidak mau sampai segerombolan orang di depannya salah paham dan berpikir kalau Joa dan Sherin akan mengancam nyawa mereka.
"Apa buktinya? Apa kalian tahu kalau pulau ini milik kami. Tidak sembarang orang boleh menginjakkan kaki di sini!" ketus pria itu. Dia terlihat tidak suka melihat Joa dan sudah tidak sabar untuk menghabisinya.
Pria bertato itu memandang ke arah samping dan membisikkan sesuatu kepada rekannya. Setelah memberi perintah, pria di sampingnya itu pergi seperti ingin melakukan sesuatu.
"Jika anda tidak keberatan, apa boleh kami meminta tolong? Kami butuh tumpangan untuk tiga di kota. Setelah kami berhasil tiba di kota, kami akan memberi bayaran kepada anda," tawar Sherin. Wanita itu melipat kedua tangannya dan tersenyum.
__ADS_1
"Maaf. Tapi siapapun orangnya jika sudah menginjakkan kaki di pulau ini, orang itu harus mati!" Pria bertato itu segera mengangkat senjata apinya. Dia siap untuk menembak Joa dan Sherin secara bergantian.
Joa masih belum melakukan tindakan apapun. Pria itu terlihat tenang meskipun kini nyawanya sudah di ujung tanduk. Berbeda dengan Sherin yang kini sudah terlihat gelisah. Tidak mau mati secepat itu, dia segera mundur dan berlindung di balik tubuh Joa.
"Sepertinya kalian bukan orang biasa." Pria bertato itu menurunkan senjata apinya.
"Kami tidak tahu apa yang membedakan orang yang luar biasa dengan orang yang biasa," ucap Joa dengan sorot mata yang semakin tajam.
Pria bertato mengangguk mendengarnya. "Biasanya mereka akan berlutut dan memohon kepadaku agar aku tidak menembak mereka. Tetapi kali ini aku melihat pemandangan yang berbeda. Bukan takut justru kalian seperti ingin menantang," jelas pria bertato.
"Kalau begitu kita buat saja aturan permainan. Jika kami menang, beri kami satu kapal. Jika kami kalah kami akan menyerahkan nyawa kami untuk kalian. Bagaimana?" tantang Joa.
__ADS_1
Sherin terlihat tidak setuju. Pria itu merangkul lengan Joa lalu menggoyangkannya. "Kau yakin?"