My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 208 Belum Berubah


__ADS_3

Leonzio baru saja tiba di rumah sakit yang menjadi tempat Aldo dirawat. Pria itu tidak datang sendirian. Ada banyak sekali pasukan Cosa Nostra yang ikut dengannya. Sejak kejadian kemarin, pasukan Cosa Nostra kini menjaga Leonzio lebih ketat lagi.


Orang kepercayaan Aldo yang saat itu berjaga-jaga di depan pintu masuk rumah sakit segera menyambut kedatangan Leonzio. Mereka bahkan menunduk hormat dan membimbing Leonzio menuju ke ruangan tempat Aldo dirawat.


Setelah naik dengan menggunakan lift. Leonzio akhirnya tiba di tempat Aldo berada. Ruangan super mewah itu terlihat sangat tenang dan dingin. Leonzio melangkah perlahan karena tidak mau mengusir ketenangan Aldo. Seorang suster wanita yang bertugas untuk merawat Aldo memilih untuk menyingkir dan memberikan ruang kepada Leonzio untuk melihat keadaan Aldo lebih dekat lagi.


"Apa dia masih belum sadar?" tanya Leonzio kepada suster yang ada di sana.


"Belum, Tuan," jawab perawat wanita itu apa adanya.


Leonzio duduk di kursi yang telah disediakan. Sebenarnya dia juga tidak mau repot-repot mengunjungi Aldo seperti ini karena dia tahu pasti Aldo sangat marah padanya karena kejadian kemarin. Akan tetapi Leonzio tidak mau bermusuhan dengan pria itu. Dia masih membutuhkan bantuan Aldo untuk mencari keberadaan adik kandungnya yang hilang.


Leonzio sudah tidak tahu mau bagaimana lagi mencari keberadaan adik kandungnya. Sejauh ini orang yang ia suruh belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Hanya Aldo satu-satunya harapan Leonzio.


"Sampai kapan dia seperti ini? Apa tidak ada cara lain untuk membuatnya segera sembuh?" Lagi-lagi Leonzio bertanya kepada suster tersebut.


"Pihak rumah sakit sudah mengupayakan segala cara untuk menyelamatkan nyawa Tuan Aldo. Ada benturan di kepala Tuan Aldo yang membuatnya harus mengalami pendarahan yang hebat. Belum lagi luka tembakan di beberapa bagian tubuhnya. Tapi saat ini Tuan Aldo sudah berhasil melewati masa kritisnya. Kami yakin secepatnya Tuan Aldo pasti akan segera sadar," jawab suster tersebut.


Leonzio segera mengeluarkan kartu nama miliknya lalu memberikan kartu nama itu kepada perawat wanita tersebut. Tidak hanya kartu nama saja, tetapi Leonzio memberikan sejumlah uang. "Kabari aku jika Aldo sudah sadar. Aku akan kembali datang ke tempat ini setelah mendapat informasi darimu."


Perawat wanita itu terlihat senang mendapat uang yang begitu banyak dari Leonzio. Dia bahkan sampai menunduk hormat. "Terima kasih Tuan. Saya pasti akan segera menghubungi anda," ucap perawat wanita itu dengan sungguh-sungguh.


Leonzio memandang ke arah Aldo sejenak sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut. Percuma saja dia berlama-lama di ruangan itu karena Aldo belum juga bisa diajak bicara.


Setelah pintu kembali tertutup rapat, perawat wanita itu segera menyembunyikan uang dan kartu nama yang tadi diberikan oleh Leonzio. Dia tidak mau sampai Aldo mengetahuinya.


"Tuan, Saya tidak akan mungkin mengkhianati anda. Saya janji tidak akan memberitahu pria tadi jika anda sudah sadar," ucap perawat wanita itu sambil menunduk ketakutan. Sebenarnya suster itu juga tidak tahu harus berbuat apa. Tapi dia tahu sendiri kalau Aldo telah menyimpan senjata api di bawah bantalnya. Jika pria itu tidak suka, dia bisa dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain.


"Anda harus percaya pada saya. Jika tadi saya menolak kartu nama Tuan yang tadi. Dia pasti akan curiga." Suster wanita itu terus saja menyakinkan Aldo agar percaya padanya.


Tidak lama kemudian Aldo membuka matanya secara perlahan. Pria itu memang baru saja sadar. Lebih tepatnya sekitar 1 jam yang lalu sebelum Leonzio tiba di rumah sakit. Tetapi satu-satunya orang yang mengetahui kalau Aldo sudah sadar adalah perawat wanita tersebut.


Aldo sendiri meminta perawat wanita itu untuk merahasiakan masalah ini dari semua orang. Termasuk pengawal yang kini berjaga-jaga di depan ruangan. Aldo ingin tahu, siapa yang benar-benar bekerja untuknya dan siapa yang menjadi penghianat. Saat ini jumlah pasukannya tidak sebanyak dulu lagi. Aldo harus benar-benar selektif mencari orang yang bisa dipercaya.


"Bagus!" ucap Aldo sambil tersenyum tipis. Dia tidak mau Leonzio terus mendesaknya untuk mencari keberadaan adik kandung Leonzio yang hilang. Karena memang mereka tidak akan pernah menemukannya.


"Aku akan merahasiakan masalah ini dari semua orang. Setelah kondisiku benar-benar pulih, Aku akan segera pergi meninggalkan rumah sakit ini. Kali ini tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghalangi rencanaku. Sebelum Aku berhasil mendapatkan Audy kembali, Leonzio tidak boleh tahu kalau Audy adalah adik kandungnya!"


...***...

__ADS_1


Sherin dan Quinn tertawa keras ketika mendengar cerita lucu yang baru saja diceritakan oleh Nichole. Kini mereka ada dikediaman Luca. Tiffany yang mengundang mereka untuk makan malam. Wanita paruh baya itu sangat mengkhawatirkan keadaan menantu dan putrinya. Tiffany juga mengundang Sherin karena wanita itu sudah menganggap Sherin seperti putri kandungnya sendiri.


"Nichole, kau itu benar-benar payah. Kenapa kau tidak mengajak Leonzio untuk bernegosiasi seperti yang dilakukan oleh Daddy? Kenapa kau langsung menyerangnya. Jelas saja kau langsung kalah. Leonzio itu pria yang sangat hebat," protes Quinn.


"Kak, aku tidak kepikiran lagi untuk mengajak pria itu bernegosiasi. Tapi aku benar-benar kaget melihat kemampuannya. Aku akui dia memang sangat cocok memimpin Cosa Nostra Astra," ujar Nichole. Rasanya sekujur tubuhnya kembali terasa sakit setiap kali ia mengingat kejadian di Roma.


"Ternyata kalian kumpul di sini. Mommy tadi mencari kalian ke mana-mana," ujar Tiffany yang baru saja muncul. Ada Luca di samping wanita paruh baya itu. Meskipun sepasang suami istri itu sudah tidak muda lagi. Akan tetapi mereka tidak malu-malu untuk memamerkan kemesraan mereka.


"Mommy sini duduk dekat aku. Hanya aku sendiri yang tidak memiliki pasangan," pinta Nichole sambil menarik kursi untuk diduduki oleh Tiffany. Sedangkan Luca memilih untuk duduk di dekat Dimitri dan Joa.


"Mommy, sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba Mommy mengumpulkan kami seperti ini? Apa Ada hal penting yang ingin Mommy sampaikan?" tanya Quinn dengan wajah yang sangat serius.


"Tidak ada. Sejak kau menikah dan pergi dari rumah ini. Rumah ini terasa sangat sunyi. Mommy sengaja membuat acara seperti ini untuk mengobati rasa rindu Mommy," jawab Tiffany sambil tersenyum.


"Apa Mommy sedang menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Quinn lagi. Wanita itu tidak percaya begitu saja dengan jawaban ibu kandungnya.


"Sesuatu apa? Memangnya sejak kapan Mommy bisa menyembunyikan sesuatu darimu? Sejak dulu Mommy tidak bisa memiliki rahasia karena kau bisa dengan mudah untuk mengetahuinya," jawab Tiffany dengan santai.


"Quinn, Mommy dan Daddy ingin memberi tahu sebuah informasi penting." Kali ini Luca yang angkat bicara. Melihat ekspresi pria paruh baya itu menjadi serius membuat semua orang tidak lagi berani mengeluarkan suara.


Luca menghela napas panjang. Dia seperti sedang memikirkan sebuah masalah yang sangat besar hingga sulit untuk mengatakannya.


"Ini tentang Nichole," jawab Luca sambil memandang putranya.


Quinn memandang ke arah Nichole. Begitupun dengan semua orang yang ada di meja panjang tersebut. "Ada apa dengan Nichole? Nichole, jika ada masalah cerita sama kakak."


"Nichole, cepat katakan. Tidak sepantasnya kita merahasiakan semua ini dari kakakmu," ujar Luca.


"Nichole, ada apa sebenarnya?" Quinn terlihat semakin gelisah.


"Kak, maafkan aku. Tapi aku lulus kuliah di Belanda. Mulai besok aku akan menetap di sana sampai kuliahku selesai," jawab Nichole sambil tersenyum bahagia.


"Benarkah?" Quinn sangat-sangat bahagia mendengar kabar baik itu. Dia tahu kalau sejak dulu adik kandungnya itu ingin sekali kuliah di Belanda. "Selamat Nichole. Selamat. Kakak senang mendengarnya. Kau harus jadi orang sukses. Buat Daddy dan Mommy bangga."


Quinn yang tidak sabar segera beranjak dari kursinya lalu memeluk Nichole dengan erat. "Selamat ya adikku." Wanita itu bahkan mengecup pipi Nichole hingga berulang kali seolah Nichole adalah bayi mungil yang menggemaskan.


"Kak, sudah sudah!" protes Nichole.


Dimitri tersenyum bahagia. Begitupun semua orang yang ada di sana. Namun pria itu mengernyitkan dahi ketika menyadari kalau Malvin tidak ada di sana. "Nichole, dimana Malvin? Apa dia sudah tidur?"

__ADS_1


Nichole mendengus kesal. "Malvin sangat sulit di atur. Sejak dia jatuh cinta sama seorang wanita, dia jadi jarang di rumah. Daddy sama Mommy saja sudah capek menasehati Malvin," jawab Nichole apa adanya.


"Benarkah?" tanya Quinn tidak percaya.


"Ya. Bukankah sejak dulu Malvin hanya mau mendengar kata-kata kakak saja?"


Quinn kembali duduk. Dia memandang ibu kandungnya yang terlihat sedih. "Mom, jangan pikirin soal Malvin. Biar aku yang mengurusnya. Mommy tenang aja ya," ucap Quinn.


"Mommy sama sekali tidak memikirkan tentang Malvin. Mommy hanya sedih karena sebentar lagi anak Mommy ada yang pergi meninggalkan rumah ini. Pertama kau Quinn, kedua Nichole. Malvin juga sudah jarang di rumah. Mommy tidak menyangka kalau di usia Mommy yang sekarang justru anak-anak Mommy tidak bisa berkumpul lagi di rumah ini."


"Jangan bicara seperti itu. Aku masih hidup. Kau tidak perlu merasa kesepian karena aku akan selalu menemanimu." Luca akhirnya angkat bicara.


"Apa yang dikatakan Daddy benar Mom. Cepat atau lambat, hubungan antara ibu dan anak pasti akan ada perpisahan. Entah itu berpisah karena anaknya sekolah atau menikah. Tetapi hubungan suami istri tidak akan pernah ada kata pisah kecuali maut yang memisahkan mereka.


Daddy masih hidup. Daddy bisa menjaga Mommy dan menghibur Mommy. Kami harap Mommy tidak perlu merasa kesepian lagi. Aku janji akan sering-sering mengunjungi Mommy agar Mommy tidak kesepian lagi. Nichole masih sangat muda. Masa depannya sangat panjang. Mommy tidak perlu bicara seperti ini karena perkataan Mommy hanya akan membuat Nichole berat untuk melangkah pergi." Quinn berusaha untuk menasehati Tiffany agar wanita paruh bayah itu tidak sedih lagi.


"Ya, seharusnya Mommy tidak perlu seperti ini. Maafkan Mommy," ucap Tiffany sambil tersenyum.


Quinn segera memeluk Tiffany begitupun dengan Nichole. "Kami sangat menyayangi Mommy."


Mommy juga sangat menyayangi kalian semua," jawab Tiffany sambil tersenyum.


"Ada apa ini?"


Perhatian semua orang tertuju kepada Malvin yang baru saja tiba di rumah. Pria itu terlihat bingung ketika melihat rumahnya ramai. Sejak awal dia tidak tahu kalau malam ini Tiffany mengundang Quinn dan juga Sherin untuk makan malam.


"Kakak ada di sini juga?" tanya Malvin lagi.


"Malvin, kebetulan sekali kau pulang. Ada banyak hal yang ingin Kakak tanyakan kepadamu!" Quinn segera berjalan menuju ke tempat Malvin berada. Baru beberapa meter melangkah tiba-tiba Quinn kembali berhenti. Wanita itu memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kram. "Anakku," ujar Quinn panik.


Melihat istrinya meringis kesakitan membuat Dimitri segera beranjak. Pria itu berlari kencang mendekati Quinn. "Sayang, ada apa?"


"Kakak?" Malvin juga segera mendekati Quinn. Begitupun dengan semua orang yang ada di sana. Mereka semua jadi khawatir.


"Perutku sakit," lirih Quinn. Wanita itu sampai mengeluarkan keringat yang begitu banyak karena menahan rasa sakit.


"Dimitri, cepat bawa Quinn ke rumah sakit!" perintah Tiffany dengan wajah khawatir.


Tanpa menunggu lagi, Dimitri segera menggendong Quinn. Dia membawanya pergi menuju ke rumah sakit. Pria itu terlihat sangat takut. "Sayang, bertahanlah. Kau pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2