
Luca berhasil menerobos masuk ke dalam. Bersama dengan Joni, mereka bisa mengalahkan musuh yang berusaha menghalangi jalan mereka. Saat ingin naik tangga, Luca melihat seseorang yang berlari seperti ingin kabur. Luca yang cerdas tidak langsung mengejarnya.
"Kau kejar pria itu. Aku akan tetap naik ke atas. Tetap berhati-hati karena ada banyak jebakan di tempat ini," perintah Luca kepada Joni. Joni hanya mengangguk saja. Pria itu bergegas pergi karena tidak mau kehilangan jejak.
Luca menahan langkah kakinya dan memandang ke sekeliling. Dia mengkhawatirkan keadaan Dimitri saat ini. Suara tembakan dan ledakan yang berasal dari lokasi sampai rumah cukup memekakan telinga. Dia takut jika calon menantunya itu celaka.
Namun sekarang Luca tidak bisa menemui Dimitri dan membantu pria tangguh itu. Dia harus segera menemukan Nio dan memberi pria itu pelajaran atas apa yang sudah dia lakukan.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dia ingin masalah ini segera selesai sebelum langit berubah gelap.
"Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku," ucap Luca sambil melangkah perlahan menuju ke atas. Hingga tidak lama kemudian pria paruh baya itu tiba di sebuah kamar kosong. Namun Luca tidak langsung pergi. Dari beberapa ruangan yang sebelumnya ia periksa. Ruangan itulah yang paling mencurigakan.
"Tidak mungkin dia menghilang begitu saja. Aku tahu pria licik seperti dia pasti bersembunyi di suatu tempat rahasia."
Luca meraba dinding kamar itu dengan begitu teliti. Hingga akhirnya pria itu mencurigai sebuah dinding yang tidak padat. Dia memperhatikan dari atas sampai bawah. Sampai akhirnya Luca bisa membuka dinding tersebut yang tidak lain adalah pintu tersembunyi.
"Kau pikir aku orang bego yang bisa dengan mudah kau tipu?" ujar Luca dengan senyuman sinis di bibirnya. Pria itu melangkah turun dengan tangga yang ada di sana.
Luca melangkah secara hati-hati dan tetap waspada. Dia tidak mau sampai terjebak di sana. Hingga pada akhirnya Luca berhenti dan melihat seorang pria yang sedang duduk santai seolah memang sudah tahu akan kedatangannya. Pria itu menyambut Luca dengan senyuman dibibirnya.
"Selamat datang di kediamanku, Tuan Luca. Senang bertemu dengan anda," ucap Tuan Nio. Dia menuang anggur merah ke dalam gelas kosong yang telah disediakan.
"Wajahnya memang sangat mirip dengan Neo. Tetapi jika diperhatikan lebih lama, ada perbedaan di antara mereka. Ini pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan Nio. Waktu itu aku hanya mendengar cerita tentang dia melalui Nio," batin Luca di dalam hati.
"Kenapa berdiri saja? Duduk, Tuan." Ada tawa riang yang terdengar. Pria itu seperti sedang bahagia hari ini.
"Aku tidak suka banyak basa-basi. Katakan saja, sebenarnya apa yang kau inginkan? Kenapa kau mencelakai putriku? Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan dendam yang terjadi di antara kita!"
"Putriku juga tidak ada hubungannya dengan anda. Kenapa dia harus celaka?" sahut Tuan Nio cepat. Kali ini sorot mata pria itu terlihat jelas kalau sudah dipenuhi dengan dendam.
"Aku tidak pernah meminta mereka datang dan mencelakai putrimu. Semua terjadi begitu saja tanpa rencana apapun!" pertegas Luca lagi. Meskipun dia tahu penjelasan itu akan sia-sia. Tetapi dia tetap berjuang untuk berdamai dengan Tuan Nio.
__ADS_1
"Ckckck," decak Tuan Nio. Pria itu berdiri dan berjalan menuju ke posisi Luca. "Hebat sekali anda. Jika bukan karena putri anda sakit, detik ini anda tidak akan mungkin ada di sini bukan?"
"Aku butuh penawarnya. Berikan padaku penawarnya atau-"
"Atau apa? Kau akan membunuhku? Dan kau pikir aku takut?" sahut Tuan Nio cepat.
"Tidak!" Luca mengangkat senjata apinya dan mengarahkannya ke kepala Tuan Nio. "Aku tahu orang sepertimu tidak akan memiliki rasa takut."
"Anda yakin mau membunuh saya?" Tuan Nio mengeluarkan ponselnya lalu memamerkan video yang merekam keadaan Tiffany saat ini. Wanita paruh baya itu dalam keadaan terikat dan mulut di sumpal kain. Kesulitan bergerak dan berada di tempat yang kotor dan sempit.
"Tiffany?"
"Dia istri anda?" ledek Tuan Nio.
"Berani sekali kau menyentuh istriku!" Amarah Luca memuncak. Dia tidak langsung menembak Tuan Nio. Pria paruh baya itu menarik kerah baju Tuan Nio dan memukulnya dengan pukulan yang mematikan.
BRUAKKK
"Apa segini saja kemampuanmu?"
Luca menggertakkan giginya. Pria itu sudah tidak sabar membunuh musuh dihadapannya. Hingga saat tangan itu ingin melayang, Dimitri muncul di sana dan menghentikan Luca.
"Stop, Dad."
Luca menahan gerakannya namun tidak memandang ke arah Dimitri. "Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Manusia seperti dia tidak pantas hidup."
"Benar. Dia memang pantas mati. Tapi tidak secepat ini." Dimitri melangkah mendekat. "Bagaimana kalau kita buat dia merasakan apa yang dirasakan oleh Quinn?"
Tuan Nio melebarkan kedua matanya mendengar perkataan Dimitri. Pria itu ingin memberontak dan kabur tetapi dengan cepat Joa menahannya dan memaksanya berlutut dihadapan Dimitri.
"Ini adalah racun yang sama dengan racun yang anda berikan kepada Quinn. Namun dosisnya cukup tinggi karena sengaja dibuat untuk menyiksa manusia seperti anda!"
__ADS_1
Senyum simpul terukir di bibir Dimitri. Tanpa menunggu lagi pria itu menyuntikkan cairan racun yang dikirimkan oleh Dokter Fei. Setelah seluruh racun itu masuk ke tubuh Tuan Nio, secara diam-diam Joa meletakkan alat pelacak di tubuh Tuan Nio agar mereka tahu kemana saja pria itu bergerak.
"Dad, sekarang sebaiknya kita tinggalkan saja pria ini. Dia akan mati mengenaskan di tempatnya berada!" Dimitri melipat kedua tangannya dan memandang jijik ke arah Tuan Nio.
Bersamaan dengan itu, racun di tubuh Tuan Nio mulai bereaksi. Pria itu kesulitan bernapas dan merasa kesakitan. Luca cukup puas melihatnya. Hingga akhirnya dia mau meninggalkan tempat itu bersama Dimitri.
Dimitri berjalan lebih dulu. Diikuti Luca dibelakangnya. Joa sendiri masih memperhatikan Tuan Nio sebelum akhirnya dia melihat ke arah ponselnya dan melangkah pergi.
Wajah Joa terlihat panik ketika melihat Tuan Nio mendekati posisi mereka. Pria itu memutar tubuhnya lalu sebuah tusukan mendarat di tubuh Joa.
Dimitri dan Luca yang melihat kejadian itu terlihat sangat geram. Luca secara spontan mengeluarkan senjata apinya. Namun Dimitri mencegah Luca agar tidak menembak.
"Jangan!"
DUARRR
Tembakan Luca meleset ketika Dimitri dengan cepat memegang tangan pria itu. Joa yang masih sadar berusaha merebut belatih yang digunakan Tuan Nio untuk menusuknya.
Dimitri langsung memukul Tuan Nio sampai akhirnya pria itu pingsan dan tergeletak di bawah. Secepat mungkin Dimitri mendekati Joa dan memeriksa luka di tubuh pria itu.
"Tenanglah. Aku pasti bisa mengatasinya." Dimitri menekan nomor Dokter Fei. beruntung kali ini panggilan telepon pria itu langsung tersambung. "Fei, bagaimana caranya menghentikan pendarahan?"
"Siapa yang terluka?" Suara Dokter Fei terdengar sangat khawatir.
"Joa."
"Gunakan kain untuk mengikat area yang terluka. Jika terlalu lebar butuh jahitan. Apa posisi kalian jauh dari rumah sakit?"
"Aku bisa menjahitnya. Bukankah kau pernah mengajariku?" ucap Dimitri dengan penuh percaya diri.
"Kau yakin bisa melakukannya?" tanya Dokter Fei ragu.
__ADS_1
Dimitri memandang ke arah Tuan Nio yang masih pingsan dan calon mertuanya yang berdiri di sana. "Aku akan mencobanya. Bantu aku mengatasinya."