
"Quinn, kau harus makan. Mengapa kau tidak mau makan? Apa karena makanannya tidak enak?" Tiffany khawatir melihat Quinn yang terus merenung. Wanita itu sudah membujuk Quinn sejak siang hari. Namun, putrinya tetap saja menolak untuk makan.
"Kau belum makan sejak siang tadi. Bagaimana kau bisa sembuh, Quinn? Kau saja tidak mau makan begini!" gerutu Tiffany.
Luca melirik Quinn dengan tajam. Pria itu menghela napas panjang lantaran dia tidak bisa menegur Quinn. Sebab, Viana, Jeremy dan Xander masih ada di ruangan ini. Rasanya tidak enak bila berteriak pada Quinn.
"Benar, Quinn. Kau harus makan. Nanti perutmu sakit. Kau itu baru saja sembuh. Malah nggak mau makan. Seharusnya kau segera memulihkan dirimu," sela Viana.
"Apakah kau memikirkan Dimitri?" tebak Xander.
"Dia belum menghubungiku sejak kemarin. Apa yang sedang dia lakukan? Aku yakin dia mendapatkan masalah sehingga dia belum muncul juga. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," kata Quinn.
"Hanya karena dia kau menjadi seperti ini, Quinn. Padahal di sini ada orangtua dan adikmu juga. Tapi kau secara terang-terangan mengkhawatirkan Dimitri. Mengapa dadaku menjadi sesak begini?" Xander membatin kecewa.
Dibandingkan dengan yang lainnya, Luca adalah orang paling mengerti keadaan saat ini. Sebab, Dimitri sebelumnya sudah memberikan petunjuk padanya. Luca pun menatap keluar jendela ruang VVIP itu. Pandangannya menerawang jauh.
"Meskipun dia memberitahuku tapi aku yakin dia sedang berusaha mencari penawar racun untuk Quinn," batin Luca.
"Sayang, kenapa kau melamun?" Tiffany menyentuh paha Luca. Membuat pria itu tersentak kaget lantaran Tiffany menyentuhnya tanpa aba-aba.
"Quinn belum makan juga?" tanya Luca.
Brak!
__ADS_1
Saat Tiffany ingin menyahut pertanyaan Luca, terlihat pintu rumah sakit terbuka lebar-lebar. Dimitri datang mendekati Quinn. Luca berdecih. Dia kesal karena Dimitri baru saja muncul.
"Dimitri!" teriak Quinn riang.
"Quinn, bagaimana keadaanmu? Mengapa kau malah duduk begini? Seharusnya kau membaringkan tubuhmu dengan nyaman di atas ranjang pesakitan ini. Ayo, tidurlah lagi." Dimitri membantu Quinn untuk merebahkan tubuhnya.
"Dimitri, aku tidak apa-apa. Bagaimana kabarmu? Daddy bilang kau memiliki urusan yang penting. Kau membuatku khawatir," omel Quinn.
"Ssst! Aku tidak memiliki banyak waktu. Aku datang ke sini untuk memastikan keadaanmu. Syukurlah keadaanmu sudah membaik. Tidurlah. Kau kan habis makan dan minum obat," ucap Dimitri.
"Dia tidak mau makan. Karena menunggu kabar darimu," sela Xander.
"Quinn, kau harus makan. Biarkan Xander membantumu sebentar. Aku harus menyelesaikan satu masalah. Aku akan memastikan bahwa kau aman dari segala jenis racun. Kumohon, kau menurut kali ini jika kau mencintaiku," tutur Dimitri.
Quinn terdiam cukup lama. Matanya menatap liar pada sosok Dimitri yang saat ini berdiri di dekatnya. "Baiklah. Aku akan menjadi anak yang baik. Pergilah. Ingat, aku akan selalu menantikan keadaanmu."
"Ke tempat Joa berada," titah Dimitri.
"Baik, Tuan."
Mereka pun akhirnya bergegas menuju ke tempat Joa menahan Sherly. Di sebuah rumah mewah yang terletak di pinggiran kota itu, mobil Dimitri berhenti. Pria itu pun turun dari mobil dan berjalan cepat menuju penjara bawah tanah tempat Sherly berada.
"Tuan, Anda sudah datang," sambut Joa.
__ADS_1
"Di mana wanita itu?" tanya Dimitri.
Joa berbalik badan. Kemudian dia menunjuk di mana Sherly sedang berada di balik jeruji besi. Wanita itu terdiam dengan pandangan mata kosong. Seolah sudah pasrah jika hari ini adalah hari pemakamannya.
Joa membukakan pintu supaya Dimitri bisa masuk ke dalam penjara. Dimitri menyeringai ketika ia melihat keadaan Sherly saat ini sedang kacau.
"Kau sangat kacau rupanya." Dimitri berkacak pinggang.
"Katakan saja apa yang membuatmu tergesa-gesa menemuiku," ketus Sherly.
"Saat-saat seperti ini rupanya kau masih saja sombong ya." Dimitri yang kesal mencekik leher Sherly. Membuat wanita itu susah bernapas.
"Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu?" tanya Dimitri.
"Ke-kenapa aku harus memberitahumu? Se-sedangkan aku hari ini akan mati," jawab Sherly.
"Kau memang biadab! Apa kau tahu karena ulahmu ini Quinn sekarat?" bentak Dimitri.
Sherly tidak menjawab. Membuat Dimitri semakin mengeratkan cekikan lehernya.
"Apa kau melupakan segala kebaikan dari Quinn selama ini?" lirih Dimitri.
Sherly seketika melebarkan mata. Ya, dia tidak akan pernah lupa bagaimana Quinn memperlakukannya dengan baik. Apalagi Quinn selalu menolongnya tanpa Sherly minta sekalipun. Sebenarnya Sherly juga menyayangi Quinn selayaknya saudara. Tapi, rasa bencinya pada Luca yang sudah menyebabkan ia kehilangan keluarga terlalu besar.
__ADS_1
"Quinn…" Sherly memanggil nama Quinn dengan lirih. "O-orang yang sudah memberiku perintah dia bernama Tuan Nio."
"Hah? Siapa? Tuan Nio?"