My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 140 Kualitas Buruk


__ADS_3

Joa mendorong semua berkas yang sempat tersusun rapi di hadapannya. Kepalanya seperti mau pecah membaca satu persatu laporan yang kini disajikan. Bukan hanya tidak mengerti, tetapi dia juga malas membaca satu persatu dari berkas tersebut. Namun semua ini adalah tugas yang diberikan oleh Dimitri. Joa tidak berani untuk menolaknya. Meskipun dia tersiksa untuk melaksanakannya.


Pintu terbuka lebar lalu Robin masuk dengan satu berkas di tangannya. Pria itu memandang ekspresi wajah Joa sejenak sebelum meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja.


"Kenapa belum selesai juga. Kau sudah menghabiskan waktu hampir satu jam tapi tidak mendapatkan hasil sedikitpun," protes Robin. Pria itu berlalu pergi menuju ke bar mini yang ada di ruangan tersebut lalu menuang air ke dalam gelas dan meneguknya dengan rakus.


"Aku tidak bisa melakukan semua pekerjaan ini. Apa kau bisa membantuku?" Joa juga beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduk. Pria itu lebih tertarik untuk meneguk alkohol yang ada di bar mini dari botolnya langsung.


"Jangan terlalu banyak minum. Nanti kau bisa mabuk lagi," sindir Robin sambil tersenyum.


Joa kali ini lebih tenang. Pria itu tidak langsung marah ketika Robin meledeknya. "Robin, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa terbebas dari perusahaan ini?"


Robin diam sejenak. Pria itu juga tidak tahu harus apa. "Tuan Dimitri sudah pulang dari bulan madunya. Tidak lama lagi dia akan mengambil alih semua tugas yang selama ini kau kerjakan. Jadi kau tidak perlu berpikir yang aneh-aneh lagi." Robin berusaha membuat Joa tetap tenang.


"Bagaimana kalau pada akhirnya Bos Dimitri memutuskan agar aku yang memegang perusahaan ini untuk selama-lamanya? Entah kenapa aku memiliki firasat seperti itu saat ini." Wajah Joa terlihat sangat tegang. Hanya itu yang saat ini dia takuti. Bukan lagi musuh bersenjata yang begitu mematikan.


"Kau terlalu percaya diri Joa!" Robin tertawa mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Joa. "Di antara kita berdua, hanya kau yang bisa diandalkan untuk menjaga keutuhan White Snake. Aku yakin Tuan Dimitri tidak mungkin sering-sering terjun untuk memantau bisnis kita. Dia butuh tangan kanan yang bisa diandalkan. Dan tugas itu akan diserahkan kepadamu. Urusan perusahaan biar aku yang atasi," ucap Robin berbangga diri.


"Kau benar. Seharusnya aku tidak perlu berpikir berlebihan. Tidak lama lagi pasti Bos Dimitri akan datang ke ruangan ini dan mengambil alih tugasnya. Lalu dia memintaku untuk kembali ke markas." Joa bisa kembali tenang setelah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Robin.


"Seperti ini baru Joa yang aku kenal. Ayo kita minum lagi," ajak Robin penuh semangat.


Saat dua pria itu sedang asyik berbincang, pintu ruangan kembali terbuka lebar. Dua pria itu sempat kaget ketika melihat Dimitri muncul dengan setelan jas yang begitu rapi. Namun mereka senang karena sebentar lagi keputusan yang mereka harapkan akan segera diucapkan Dimitri.


"Selamat pagi Bos," siapa Joa sambil menunduk hormat.


"Selamat pagi, Tuan. Senang melihat anda kembali ke perusahaan," sapa Robin yang tidak kalah sopannya dari Joa.


"Aku merasa beruntung karena memiliki dua orang hebat seperti kalian. Perusahaanku mengalami kemajuan pesat sejak kalian ambil alih."


Dimitri tertarik dengan minuman yang ada di bar mini. Joa langsung mengambil gelas kosong dan menuang anggur merah ke dalam gelas. Dia lalu memberikannya kepada Dimitri. "Bersulang?" tawar Dimitri. Dia meletakkan gelas di depan. "Untuk keberhasilan perusahaan kita."


Robin dan Joa saling memandang sebelum bersulang dengan Dimitri. Tiga pria itu terlihat sangat happy. Mereka tersenyum seperti tidak ada lagi beban di hidup mereka.


"Aku sudah putuskan. Perusahaan ini akan menjadi milikmu, Joa!"


"Uhukkk uhuukk!"

__ADS_1


Bukan hanya Joa saja yang tersedak karena kaget. Tetapi Robin juga. Dua pria itu saling memandang dengan ekspresi tidak percaya.


"Kau tenang saja Robin. Aku tetap adil terhadap kalian berdua. Aku akan menyerahkan perusahaan yang ada luar kota kepadamu. Bukankah kau pernah bilang kerja di perusahaan itu terasa sangat menyenangkan?" sambung Dimitri lagi tanpa beban sedikitpun. Berbeda dengan dua pria di depannya.


Joa segera meletakkan gelas yang masih penuh isinya. "Bos, sepertinya ada yang salah di sini."


"Tidak, Joa." Dimitri menepuk pelan pundak Joa. Dia berekspresi seperti seorang pahlawan yang baru saja menyelamatkan Joa dari dalam jurang. "Kau sangat berjasa selama ini. Rasanya memberikan perusahaan ini kepadamu belum sama jika dibandingkan dengan pengorbananmu selama ini."


"Bos, bukan begitu maksud saya. Jika saya memimpin perusahaan ini, lalu bagaimana dengan White Snake?"


"Kau memikirkan White Snake? Kau memang benar-benar hebat Joa. Bukankah selama ini aku memimpin perusahaan sambil memimpin geng mafia kita. Kau tahu sendiri kalau tidak ada masalah di sana," sahut Dimitri dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Itu karena selama ini Saya dan Robin juga membantu Anda. Lalu bagaimana dengan saya? Siapa yang nantinya akan membantu saya!" protes Joa yang hanya berani di dalam hati saja.


"Tuan, saya tahu kalau Joa tidak bisa menyampaikan kalimat ini kepada Anda langsung. Untuk itu saya memilih untuk mewakilinya!" Robin mengatur napasnya lagi. Pria itu melirik Joa sebelum memandang Dimitri. "Joa tidak memiliki kemampuan apapun di dalam perusahaan. Dia merasa tertekan selama duduk di bangku perusahaan ini, Tuan.


Hidupnya selama ini sangat bebas. Dia juga bukan tipe pria yang sabar. Baru beberapa hari di perusahaan sudah hampir 20 karyawan kita dipecat olehnya dan 15 orang babak belur karena ia pukul. Belum lagi beberapa karyawan yang memutuskan untuk mengundurkan diri secara tiba-tiba karena takut dengan Joa."


"Seburuk itu?" tanya Dimitri tidak percaya. Pria itu memandang ke arah Joa untuk menagih sebuah penjelasan. Dia berharap Joa berkata kalau apa yang dikatakan oleh Robin itu hanya lelucon semata.


"Maafkan saya, Bos. Saya memang benar-benar tidak berguna. Hanya beberapa hari di perusahaan saja sudah membuat anda rugi banyak." Joa menunduk dengan wajah bersalah. Sementara di dalam hati pria itu merasa sangat senang karena akhirnya Robin membelanya di depan Dimitri. Rasanya Joa ingin melompat kegirangan.


"Karena saya tidak mau mengganggu bulan madu anda bersama dengan Nona Quinn, Bos," sahut Joa apa adanya. Karena memang hanya itu alasan yang bisa ia gunakan saat ini.


"Joa, kau ini sebenarnya menganggap aku apa? Dasar payah!" umpat Dimitri kesal. Pria itu berjalan ke sofa lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. "Kau pasti merasa tertekan karena aku telah memaksamu mengurus perusahaan ini. Tapi kau tenang saja. Mulai sekarang kau terbebas dari beban perusahaan."


Joa terlihat bersemangat. "Apa benar, Bos?" tanyanya tidak percaya.


Dimitri mengangguk. "Sepertinya perusahaan hanya cocok di pegang oleh Robin. Kau lebih pantas ada di markas White Snake."


Joa memandang ke arah Robin. Pria itu ingin mengucapkan rasa terima kasihnya terhadap sahabatnya tersebut.


Dimitri tersenyum melihat Joa. Pria itu lalu meneguk lagi minumannya yang masih tersisa. "Hampir saja aku salah mengambil keputusan dan membuat Joa menderita," gumam Dimitri dengan perasaan yang lega.


...***...


Di sisi lain, Sherin baru saja tiba di perusahaan yang belum lama ini dia rintis. Wanita itu terlihat sangat bersemangat karena bisa menginjakkan kaki di perusahaan miliknya lagi. Meskipun tidak begitu besar. Tetapi masa depan Sherin bergantung pada perusahaan tersebut.

__ADS_1


"Nona, ini buruk. Para investor menarik kembali saham mereka. Mereka tidak mau bekerja sama dengan kita. Kita mengalami kerugian yang besar," ucap seorang wanita yang kini berjalan berdampingan dengan Sherin. "Semua uang kita habis."


"Kenapa bisa seperti itu?" Sherin segera duduk di kursi kerjanya. "Bukankah mereka sudah sepakat? Apa mereka belum tanda tangan?"


"Belum, Nona. Jadi mereka masih bisa berubah pikiran," sahut wanita di depan Sherin.


"Bukankah waktu itu aku memintamu untuk mengurus semuanya?" Sherin terlihat marah. Meskipun semua ini karena kesalahannya sendiri. Tetapi tetap saja Sherin tidak mau mengakuinya.


"Lalu, jika sudah seperti ini kita harus bagaimana? Kita butuh dana yang besar untuk menyempurnakan bangunan perusahaan ini. Belum lagi kita harus menyiapkan uang untuk menggaji karyawan. Kenapa kau tidak bisa dihandalkan!" Sherin terus saja marah-marah sampai sekretaris pribadi yang baru bekerja beberapa minggu dengannya itu merasa sakit hati.


"Nona, sebenarnya ada hal lain yang ingin saya sampaikan," ucap wanita itu hati-hati.


"Apa? Katakan sekarang juga!" Sherin membuka laptopnya untuk memeriksa laporan perusahaan.


"Saya mau mengundurkan diri, Nona."


Sherin kaget bukan main mendengarnya. "Mengundurkan diri? Kenapa?" Sherin beranjak dari kursi lalu mendekati wanita tersebut. "Kau marah padaku?"


"Tidak seperti itu, Nona. Hanya saja, saya tidak sanggup mengurus perusahaan ini sendirian. Anda terlalu sibuk dengan urusan pribadi anda. Sampai-sampai anda tidak peduli dengan masalah yang ada di perusahaan." Wanita itu terpaksa mengatakan yang sebenarnya agar Sherin tidak salah paham. "Apa anda lupa kalau perusahaan ini anda bangun dari nol. Belum banyak orang yang mengenal perusahaan anda."


Sherin terdiam. Apa yang dikatakan sekretaris pribadinya benar. Wanita itu tidak bisa membela diri lagi.


"Kau benar. Perusahaan ini baru saja dibangun. Usianya masih sangat muda. Seharusnya aku tidak membiarkannya begitu saja." Sherin memandang sekretaris pribadinya. "Beri aku kesempatan. Aku akan berubah. Kau jangan pergi. Aku tidak bisa mencari penggantimu secepat ini?" ucap Sherin dengan penuh rayuan.


"Nona, tetapi ...."


"Saya akan menaikkan gajimu. Bagaimana?" tawar Sherin lagi. Kali ini bujukannya berhasil membuat keputusan wanita itu goyah.


"Baiklah, Nona. Tapi anda harus janji untuk lebih mementingkan urusan perusahaan daripada urusan lain. Jika anda masih sama, perusahaan kita akan gulung tikar," ucap wanita itu menasehati.


"Baiklah. Aku janji." Sherin mengukir senyum manis. Wanita itu lalu kembali duduk di kursi kerjanya. "Oh ya, apa kita tidak ada jadwal rapat hari ini?" Sherin bisa duduk dengan tenang. Sambil menunggu jawaban, dia membuka file yang ada di laptop.


"Tidak ada, Nona. Besok pagi baru kita ada rapat dengan investor yang berasal dari China. Sebenarnya hari ini. Tetapi tiba-tiba dia membatalkannya karena ada urusan lain."


Sherin mengangguk. "Oke, aku besok akan datang lebih awal agar tidak terlambat. Kau tenang saja," ucap Sherin sambil tersenyum. "Kalau boleh tahu siapa nama klien kita?"


"Tuan Zack Lee, Nona."

__ADS_1


"Zack Lee?"


__ADS_2