My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 47 Saling Kenal


__ADS_3

"Ya, dia sahabat yang tadi aku bilang. Dia adalah pemilik club' ini," jawab Xander.


Dimitri merangkul pinggang Quinn. "Xander, dia adalah wanita yang kemarin aku ceritakan. Namanya Quinn!"


Xander mematung. Pria itu memandang ke arah Quinn lagi dengan tatapan kecewa. "Kenapa harus Dimitri lagi yang menang? Gak! Kali ini aku harus menang. Aku tidak mau mengalah lagi. Quinn harus menjadi milikku!" batin Xander.


"Kenapa kau melamun?" Dimitri memukul pundak Xander. Sedangkan Quinn hanya diam saja karena tidak tahu harus bagaimana. Rencananya gagal total dan dia tidak memiliki rencana cadangan kali ini.


"Jelas saja aku kenal. Dia datang ke sini bersama denganku," sahut Xander. "Quinn, kenapa kau tidak bisa kalau kau kenal dengan Dimitri?"


Dimitri yang kaget segera memandang Quinn yang kini hanya menunduk saja. "Quinn, apa dia pria yang tadi kau ceritakan?" bisik Dimitri. Quinn menjawab dengan anggukan.


"Dimitri, maafkan aku. Bukannya aku tidak menghargaimu. Tetapi orang tua Quinn mempercayai Quinn padaku. Jadi, aku bertanggung jawab penuh terhadapnya. Aku akan mengantarkan Quinn pulang. Sepertinya dia juga sudah tidak nyaman berada di sini."


Xander memegang tangan Quinn dan ingin segera membawanya pergi. Namun Dimitri juga menariknya hingga wanita itu tidak bisa melangkah.


"Aku saja. Biar aku yang mengantarkan Quinn pulang," ucap Dimitri dengan sorot mata yang tajam. Dia tidak suka sesuatu yang menjadi miliknya di sentuh oleh orang lain. Terutama Quinn!


"Dimitri, keadaannya tidak sama. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menuruti perkataanmu." Xander berusaha bicara baik-baik dengan Dimitri.


"Lepaskan! Quinn milikku! Kau tahu itu!" Nada bicara Dimitri mulai berbeda.

__ADS_1


"Berhentilah berdebat! Aku bisa pulang sendiri. Apa kalian pikir aku ini cacat?" ketus Quinn kesal. Wanita itu segera menghempaskan tangan Dimitri dan juga Xander yang masih memegang erat tangannya.


"Quinn? Berhentilah!" teriak Xander dan Dimitri. Mereka berdua segera mengejar Quinn.


Quinn berjalan dengan perasaan kesal. Wanita itu ingin segera memanggil taksi agar bisa pulang ke rumah. Dia tidak mau lagi berurusan dengan dua pria tersebut. Entah itu Dimitri maupun Xander.


"Quinn." Dimitri berhasil meraih tangan Quinn dan mencegah wanita itu pergi lebih jauh lagi. "Jika kau ingin pulang, ayo aku antar. Tapi sebelumnya, pakai ini." Lagi-lagi Dimitri melepas jas yang ia kenakan dan menutupi tubuh Quinn.


Xander berdiri tidak jauh dari posisi Quinn dan Dimitri berada. Hal itu membuat Quinn tidak tega melihatnya. Bagaimanapun juga Xander tidak salah. Dia adalah pria baik yang kebetulan jatuh cinta pada Quinn.


"Sepertinya aku pulang dengan Tuan Xander saja. Mommy akan marah jika aku tidak pulang dengannya." Quinn melangkah maju untuk memanggil dan mengajak Xander pulang. Akan tetapi, tiba-tiba saja Dimitri menarik tangan Quinn dan memeluknya.


"Quinn, apapun yang terjadi. Kau hanya boleh bersamaku."


"Quinn juga belum memilih Dimitri sebagai kekasihnya. Itu berarti kesempatanku masih banyak."


...***...


"Quinn, kenapa cepat sekali? Bukankah kau baru saja pergi?" tanya Tiffany ketika melihat putrinya sudah pulang ke rumah.


"Mom, Quinn capek." Quinn memandang ke arah Xander. "Terima kasih."

__ADS_1


Xander mengangguk. Pria itu memandang ke arah Tiffany. "Tante, saya permisi dulu."


"Xander, lain kali mainlah ke sini. Quinn butuh teman. Dia juga butuh seseorang untuk menjaganya," ucap Tiffany penuh semangat.


"Mommy!" ujar Quinn tidak suka.


"Baiklah Tante. Selamat malam." Xander segera pergi meninggalkan kediaman Luca.


Melihat mobil Xander sudah jauh membuat Quinn memutuskan untuk menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Mommy, aku tidak mau bertemu dengannya lagi."


"Kenapa Quinn?" Tiffany duduk di samping Quinn. "Apa Xander melakukan kesalahan? Jika memang ada, katakan saja."


"Gak ada, Mom. Hanya saja, dia terlalu baik untukku," sahut Quinn. Dia kembali mengingat kebersamaan mereka yang singkat ini. Dari cara bicara dan sikapnya memang Xander bisa dikatakan sebagai pria baik dan sopan.


"Quinn, lalu kenapa kau ingin menjauhinya?" Tiffany menyelipkan rambut Quinn di balik telinga. "Apa sudah ada pria lain dihatimu?"


Quinn mematung sebelum memandang ke arah Tiffany. "Entahlah, Mom. Quinn sendiri gak tahu. Tapi setiap kali dia ada di dekat Quinn, debaran ini menjadi tidak tenang."


"Siapa dia? Apa pria yang kemarin mengantarkanmu pulang?" Quinn hanya diam saja. "Quinn, kau harus tahu. Daddymu mengurung diri di ruang pribadinya karena masalah ini. Daddy tidak setuju dengannya. Jadi, mommy minta padamu untuk tidak menentang Daddymu lagi. Apapun yang terjadi. Apa kau mengerti?"


Quinn mengangguk. "Quinn ke kamar dulu Mom." Wanita itu beranjak lalu berjalan malas ke kamarnya. Sedangkan Tiffany segera beranjak dan melangkah menuju ke kamar tidurnya.

__ADS_1


"Aneh. Kenapa hatiku jadi seperti ini? Kenapa aku ingin protes ketika Mommy bilang agar aku menjauhi Dimitri? Apa ini artinya aku sudah jatuh cinta?"


__ADS_2