
"Tuan Luca, tunggu!" Dimitri menarik tangan Luca.
"Apa? Kenapa kau…" Saat Luca ingin bertanya, Dimitri sudah membungkam mulutnya. Pria berusia paruh baya itu hanya bisa melebarkan mata.
Namun, Luca tak berani bersuara ketika melihat ekspresi Dimitri yang tegang. Luca juga penasaran dengan situasi aneh itu. Hingga Dimitri menoleh ke arah Luca.
"Tuan Luca, diamlah. Jangan bersuara. Sebab, di depan sana ada pemandangan yang mungkin saja menjadi kunci untuk kita," bisik Dimitri.
Luca menganggukkan kepalanya. Kemudian Dimitri melepaskan tangannya. Kini Dimitri dan Luca sama-sama menatap tajam ke depan. Luca terkejut bukan main saat seseorang yang mengenakan baju serba hitam tengah mencekik leher teman Quinn. Bahkan kedua kaki wanita itu tidak lagi menapak ke lantai.
Baik Dimitri maupun Luca tak dapat melihatnya dengan jelas karena cahaya di sekitar yang remang-remang. Walaupun Luca menyipitkan mata, Luca tetap tidak mampu mengenali wajah pria itu.
__ADS_1
"Khek! Ke-napah Anda me-laku-kan ini?" tanya Sherly.
"Tentu saja karena kau sudah tidak berguna lagi. Selain kau gagal membunuh target, kau benar-benar tidak bisa membalas budi padaku! Padahal aku sudah memberikan keluargamu uang yang banyak! Tapi, mengapa kau ragu untuk membunuh putri Luca itu? Aku sudah sabar menunggumu selama ini. Sayangnya, tuan kita tidak bisa menunggu lagi," ucap orang misterius itu.
"Ti-tidak! Anda ha-rus mem-beri-kan sa-ya kesem-patan la-gih!" pinta Sherly.
"Kesempatan kau bilang? Aku ada di posisi ini karenamu! Ingat, Sherly. Aku sudah memberimu banyak kesempatan! Kau juga memiliki banyak waktu untuk membunuhnya! Tapi, kau bodoh sekali sudah melewatkan semua waktu berharga itu! Jadi, aku akan mengakhiri hidupmu saja!" Pria itu kembali mencekik leher Sherly dengan kuat.
Susah payah Sherly bernapas. Namun, tiba-tiba saja Sherly terjatuh setelah dia berani menancapkan sebuah pisau di tangan pria misterius itu. Sherly pun kini terbebas. Wanita itu berulang kali terbatuk
"Apa?" Luca berucap lirih. Pria itu terkejut sekali mendapati kenyataan tersebut.
__ADS_1
"Saya bilang, saya membutuhkan waktu! Saya tidak akan pernah melupakan hal itu. Dan saya juga mengingat dengan jelas bagaimana ibu saya berutang cukup banyak kepada Anda. Sa-saya hanya membutuhkan waktu sedikit lagi! Tolong, biarkan saya hidup!" pinta Sherly.
Wanita itu menangis dan memohon. Namun, sepertinya pria itu menutup mata. Dia pun bersiap untuk menembak kepala Sherly.
"Tidak! Siapapun tolong aku!" jerit Sherly.
"Tidak akan ada yang menolongmu wanita jahat!" Saat pria misterius itu hendak menarik pelatuk, tiba-tiba saja tubuh Sherly terkena muncratan darah. Kedua mata wanita itu melebar dan juga wajahnya pun memucat. Napas Sherly seolah tercekat begitu melihat tubuh pria itu terjatuh tepat di depan matanya.
"Apa yang…terjadi?" tanya Sherly dengan lirih.
Tanpa Sherly tahu bila di depannya sudah ada Luca dan Dimitri. Dua pria itu keluar dari persembunyiannya. Hal itu semakin membuat Sherly ketakutan. Sherly mulai menyadari jika Dimitri dan Luca yang sudah menembaki tubuh pria di depannya tadi.
__ADS_1
Tapi, seingatnya telinganya tidak mendengar suara tembakan apapun. Mungkinkah dua orang di depannya itu menggunakan senjata api yang dilengkapi dengan peredam suara. Tubuh Sherly semakin bergetar ketakutan.
"Nah, sekarang waktunya kau menjelaskan semuanya, Nak!" ucap Luca.