
"Akhirnya aku bisa berada di kamar ini. Aku benar-benar malu tadi. Astaga, untung air mata palsu ini bisa menetes. Apa jadinya kalau tadi aku gagal untuk pura-pura nangis. Sudah pasti Quinn tidak akan menyuruhku masuk ke kamar untuk beristirahat.
Dan mau tidak mau aku harus selalu berada di sisi Quinn dan melihat Joa di dekatku terus-menerus. Aku benar-benar malu. Kenapa tadi aku bisa menciumnya? Seperti tidak ada cara lain saja," protes Sherin pada dirinya sendiri.
Sherin memejamkan matanya secara perlahan. Wanita itu ingin istirahat sejenak agar bisa menenangkan pikirannya. Suara pintu terbuka membuatnya harus kembali membuka mata.
"Siapa?" tanya Sherin. Dengan malas dia kembali duduk di atas tempat tidur. Kedua matanya melebar melihat Joa sudah berdiri di dalam kamar yang menjadi tempatnya istirahat. "Kenapa kau bisa ada di sini? Bagaimana caranya kau bisa masuk ke kamar ini?"
"Kamarnya tidak dikunci. Siapa saja pasti bisa masuk ke dalam," jawab Joa dengan santai. Pria itu duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat tidur. Dia memperhatikan kamar hotel tersebut sebelum memandang ke arah Sherin.
"Lalu untuk apa kau masuk ke dalam? Perbuatanmu ini sangat tidak baik. Bisa-bisanya kau masuk ke dalam kamar seorang wanita tanpa izin." Sherin mengambil selimut putih yang ada di bawah kaki lalu menyelimuti tubuhnya agar tubuhnya yang kini memakai pakaian ketat tidak menjadi pemandangan gratis bagi Joa.
"Aku ke sini karena Bos Dimitri memintaku untuk meminta maaf padamu," jawab Joa masih dengan nada yang bersahabat.
Sherin kaget mendengar jawaban Joa. "Tunggu. Apa Dimitri tahu kalau tadi kita pergi berdua?"
Joa mengangguk. "Aku tidak bisa membohonginya."
Sherin terlihat semakin panik. Wanita itu segera turun dari tempat tidur. Masih dengan posisi selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. "Lalu kau ceritakan semua yang terjadi kepada Dimitri?" tanya Sherin lagi.
Joa mengangkat kepalanya karena kini posisi Sherin lebih tinggi darinya. "Ya."
"Dasar bodoh! Kenapa kau ceritakan semuanya! Bukankah itu sangat memalukan?" umpat Sherin kesal.
"Dari segi mananya yang memalukan?" Kini Joa juga berdiri hingga posisinya terbalik. Sherinlah yang harus mendongakkan kepalanya ke atas jika ingin menatap wajah Joa secara langsung. Karena saat itu Sherin tidak lagi menggunakan high heels. "Apa kau malu jika semua orang tahu kalau tadi secara sengaja kau menciumku di dalam mobil?" Joa kembali mengingatkan Sherin akan kejadian memalukan itu hingga membuat wajah Sherin memerah seperti tomat.
"Aku tidak ada menciummu. Maksudku aku tidak berniat untuk menciummu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau melajukan mobil itu dengan sangat cepat hingga membuatku sangat ketakutan. Lalu aku ingin berpegangan dengan tanganmu tetapi karena posisinya tidak seimbang pada akhirnya tanpa sengaja aku mendekati pipimu. Maksudku ciuman itu tidak disengaja. Jadi jangan berpikir kalau aku memang berniat dari awal untuk menciummu," dusta Sherin dengan ekspresi wajah yang menyakinkan.
Joa menyentil kepala Sherin karena geram. "Kau ini tidak memiliki bakat untuk berbohong tetapi berulang kali berusaha untuk membohongiku. Lain kali jika ingin mencari alasan carilah alasan yang lebih tepat agar lawan bicaramu bisa percaya."
Sherin mengusap dahinya yang baru saja di sentil Joa. "Bukankah tadi kedatanganmu ke ruangan ini karena disuruh Dimitri untuk minta maaf. Lalu kenapa lagi-lagi kau cari masalah denganku!"
__ADS_1
"Iya memang. Tadi sudah aku putuskan untuk meminta maaf karena melihatmu menangis. Sejak tadi aku berpikir sebenarnya apa yang sudah ku perbuat hingga membuat hatimu terluka dan sampai-sampai kau menangis. Tetapi setelah ku tahu kalau tangisan itu hanya tangisan palsu aku jadi berubah pikiran!"
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Nona Sherin yang terhormat, lain kali jangan suka mencari masalah dengan saya. Saya tidak suka memiliki masalah apalagi dengan seorang wanita." Joa merapikan jas yang ia kenakan. Pria itu berniat untuk segera pergi meninggalkan Sherin tanpa mau meminta maaf.
"Tunggu!" Sherin mengejar Joa. Wanita itu ingin meraih lengan Joa agar pria itu berhenti. Akan tetapi selimut yang ia peluk membuatnya tersandung. "Aahh!" pekik Sherin.
Joa melebarkan kedua matanya ketika tubuh Sherin terhubung ke depan tepat ke arah tubuhnya. Karena keseimbangan Joa tidak kuat pada akhirnya pria itu terdorong dan mereka berdua sama-sama terjatuh ke atas tempat tidur. Dengan posisi Sherin berada di atas tubuh Joa.
Namun kali ini Sherin berusaha keras untuk menahan kepalanya agar adegan ciuman seperti yang sebelumnya tidak terjadi lagi. Keduanya saling memandang satu sama lain untuk beberapa saat. Kali ini tatapan mereka berdua sama. Telah ada benih cinta di hati keduanya. Namun karena gengsi mereka berdua tidak mau mengakuinya dan lebih memilih untuk berdebat seolah mereka berdua sedang bermusuhan.
Joa yang biasanya langsung menyingkirkan orang yang tidak dia suka kini justru lebih memilih diam sambil menatap wajah cantik Sherin. Memang bisa dibilang kalau wanita itu sangat menyebalkan. Namun entah kenapa Joa tidak bisa membenci wanita itu seperti yang selama ini ia lakukan.
Pintu terbuka lebar karena Xander kembali masuk dengan sepiring makanan dan segelas minuman. Ternyata pria itu keluar hanya ingin mengambil makanan untuk Sherin. Makanan dan minuman yang ada di genggaman Xander terlepas hingga jatuh ke lantai ketika pria itu melihat tubuh Sherin ada di atas tubuh Joa.
"SHERIN! JOA!"
"Apa yang kalian lakukan? Joa, kenapa kau bisa ada di kamar ini?" tanya Xander dengan wajah yang masih kaget. "Sherin, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa ada di atas tubuh Joa tadi? Sejak kapan kalian saling kenal dan sampai seakrab itu?"
"Tuan, Saya permisi dulu. Bos Dimitri pasti sudah menunggu saya."
Joa tadinya ingin segera kabur agar ia bisa menghindari masalah yang terjadi di kamar itu. Akan tetapi Xander tidak melepaskannya begitu saja. Pria itu memegang tangan Joa dan menatapnya dengan begitu tajam.
"Tetap di sini sampai semuanya jelas!"
"Kak, biarkan Joa pergi. Tadi itu tanpa sengaja aku mendorong Joa hingga ia jatuh. Sebenarnya apa yang kakak lihat tidak seperti dengan apa yang kakak pikirkan." Sherin angkat bicara. Wanita itu juga tidak mau masalah ini semakin besar.
"Sherin, sejak aku memutuskan untuk menjadikanmu adikku. Sejak saat itu aku akan menjagamu dengan baik. Aku tidak suka jika kau seperti tadi. Apalagi berduaan dengan seorang pria di dalam kamar. Aku akan telepon Dimitri. Aku akan sampaikan padanya apa yang baru saja terjadi!"
"JANGAN!" teriak Joa dan Sherin bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kalian takut jika Dimitri sampai mengetahui hal ini? Aku akan menghukum Sherin dengan caraku sendiri sebagai seorang kakak. Dan kau juga tidak bisa bebas begitu saja. Aku akan meminta Dimitri untuk menghukummu. Setidaknya kau harus masuk rumah sakit setelah kejadian ini baru aku puas!" ketus Xander dengan wajah menahan emosi. Pria itu benar-benar tidak bisa diajak berdamai. Dia segera mengambil ponselnya dari dalam saku dan menghubungi nomor Dimitri. Meminta Dimitri untuk segera datang ke kamar tersebut.
Sebagai seorang pria Joa tidak bisa banyak bicara. Pria itu juga tidak tahu harus bicara apa. Berbeda dengan Sherin yang kini justru memberanikan diri untuk mendekati Xander dan berusaha untuk membujuk kakaknya tersebut.
"Kak, sudah aku bilang itu tadi hanya salah paham. Joa datang ke sini karena dia ingin minta maaf. Tadi dia membawa mobilku begitu saja. Aku tidak tahu kalau ternyata Joa memiliki urusan penting hingga akhirnya ia begitu terburu-buru. Karena aku takut mobil baruku hilang jadi tadi aku menangis. Hanya saja Aku tidak berani menceritakan semuanya kepada kakak karena aku takut kakak salah paham kepada Joa."
"Wanita ini ada saja alasan yang terpikirkan di kepalanya. Tapi mudah-mudahan dengan kebohongannya kali ini Tuan Xander percaya agar masalah ini tidak semakin rumit," gumam Joa di dalam hati.
"Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja. Biasanya Joa tidak pernah sendirian. Kenapa sekarang dia harus datang sendirian ke kamar ini. Seharusnya dia tahu jika ingin menemui seorang wanita Dia harus membawa teman agar orang lain tidak salah paham. Atau memang ada hubungan spesial di antara Kalian."
"Gak, Kak. Gak ada hubungan spesial apapun," jawab Sherin. "Bagaimana caranya agar Kak Xander percaya? Aku benar-benar kehilangan ide saat ini," batin Sherin.
Dimitri segera muncul di kamar itu bersama dengan Robin. Lagi-lagi pria itu berhasil untuk pergi menjauh dari Quinn tanpa dicurigai oleh istrinya sendiri. Dia menatap ke arah Joa sekilas sebelum memandang Xander.
"Ada apa? Kenapa kau memanggilku untuk datang ke sini?" tanya Dimitri.
"Apa benar kau yang menyuruh Joa untuk datang menemui Sherin?"
"Ya. Aku yang menyuruh Joa untuk datang menemui Nona Sherin. Aku memintanya untuk minta maaf atas kesalahan yang sudah dia perbuat," jawab Dimitri apa adanya.
Xander langsung terdiam mendengar jawaban dari Dimitri. Pria itu langsung memandang ke arah Sherin.
"Tuh, kan. Benar. Kakak sih tidak percaya sama penjelasanku," jawab Sherin sambil tersenyum.
"Memangnya ada apa? Apakah kau berfikir kalau Joa datang ke kamar ini karena memiliki niat jahat terhadap Nona Sherin?" tebak Dimitri. Ia sangat tahu bagaimana jalan pikiran sahabatnya itu.
"Sherin sekarang adalah adikku. Jadi masalah apapun yang dia hadapi akan berhubungan langsung denganku. Lain kali jika mau minta maaf izin denganku dulu karena aku tidak suka jika adikku ditemui secara pribadi seperti sekarang."
Dimitri menepuk pundak Xander. "Maafkan adikku. Terkadang adik-adik kita ini memang sangat merepotkan bukan?" tanya Dimitri sambil tersenyum penuh arti.
Xander sendiri hanya mendengus kesal. Dia juga tidak bisa memaksa Dimitri untuk menghukum Joa karena apa yang terjadi tidak seperti dengan apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
Sherin memandang ke arah Joa sekilas sebelum memandang ke arah lain. "Selalu saja ada masalah ketika kami bertemu," gumamnya di dalam hati.