My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 213 Pesta Pertunangan


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu. Quinn masih belum sadarkan diri. Namun saat ini wanita itu tidak lagi berada di dalam ruang ICU. Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Selama seminggu ini Dimitri dengan setia menemani istrinya. Bahkan tidak sedetik pun ia meninggalkan wanita itu.


Hari ini adalah pesta pertunangan Xander dan Audy. Hari bahagia yang sangat dinanti-nanti oleh Quinn. Namun kini wanita itu tidak dapat menghadirinya. Quinn masih memejamkan mata. Dia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


"Dia seperti orang yang sedang tidur. Kondisinya benar-benar sudah stabil. Dokter juga tidak tahu apa yang sudah menyebabkan Quinn sampai detik ini belum mau membuka mata," ucap dokter Fei menjelaskan. Pria itu kembali memandang ke arah Dimitri. "Aku harus pergi ke pesta pertunangan Xander. Secepatnya aku akan kembali."


Dokter Fei segera memutar tubuhnya. Dia melirik jam di pergelangan tangan sebelum melangkah lagi. Tiba-tiba saja ia mendengar Dimitri mengeluarkan suara. Sudah hampir satu minggu ini dokter Fei tidak lagi mendengar suara sahabatnya. Dimitri seperti pria bisu setelah Quinn koma.


"Katakan kepada Xander kalau aku tidak bisa datang. Aku dan Quinn akan selalu mendoakannya," ucap Xander tanpa memandang.


Dokter Fei menggangguk. Ada senyum bahagia di bibirnya. "Aku akan sampaikan pesanmu ini kepada Xander. Jangan lupa makan, karena untuk menjaga Quinn kau juga membutuhkan banyak tenaga," ucap Dokter Fei menasehati.


"Hemm," gumam Dimitri.


Baru hari ini Dimitri sendirian menjaga Quinn di dalam ruangannya. Biasanya selalu ada Tiffany maupun Luca yang juga menemaninya. Bahkan terkadang Malvin dan Nichole juga datang untuk menemaninya. Tetapi hari ini semua orang justru mengkhawatirkan keadaan Tiffany.


Kondisi Tiffany yang semakin hari semakin lemah membuat Luca memutuskan untuk membawa Tiffany pulang ke rumah. Dia ingin istrinya lebih banyak istirahat dan tidak terus-terusan memikirkan Putri mereka. Meskipun sebenarnya Luca sendiri ingin selalu ada di samping putrinya.


"Sayang, sampai kapan kau seperti ini? Aku sangat merindukan suaramu. Tolong bangun. Apa kau tidak ingin melihat malaikat kecilmu?" tanya Dimitri. Pria itu kembali menunduk sedih. "Bahkan sampai detik ini aku masih belum memberikannya nama. Aku masih menunggumu bangun," sambung Dimitri lagi.


Quinn masih belum memberikan respon apapun. Dimitri benar-benar kecewa. Sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dimitri hanya memegang tangan Quinn dan mengusapnya sambil terus meminta agar istrinya itu membuka mata.


Seseorang masuk ke dalam ruangan. Dimitri memandang ke arah pintu sebelum kembali mengalihkan pandangannya. Dia melihat Joa yang sudah mengenakan pakaian yang sangat rapi. Pria itu tahu kalau Joa pasti akan menghadiri pesta pertunangan Xander.


"Bos, apa anda sudah makan?" tanya Joa. Pria itu memberikan makanan yang ia bawa. "Ini makanan kesukaan anda. Saya harap anda mau menghabisinya." Joa meletakkan makanan yang dia bawa di atas nakas yang ada di dekat Dimitri.


"Kenapa kau ada di sini? Sana pergilah ke pesta pertunangan Xander dan pastikan pesta pernikahan mereka berjalan dengan lancar," perintah Dimitri kepada Joa.


"Sherin meminta saya untuk datang ke sini. Dia ingin saya menemani anda," jawab Joa apa adanya. "Sebagian pasukan White Snake berjaga-jaga di pesta pertunangan Tuan Xander. Jadi, saya tidak bisa meninggalkan rumah sakit ini Bos." Pria itu juga merasa tidak nyaman untuk menghadiri pesta pertunangan Xander di saat kondisi Quinn seperti sekarang.


"Kau tidak perlu memikirkan keadaanku. Aku baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku dengan baik." Dimitri mengambil makanan yang baru saja dibawa oleh Joa sebelum membukanya. Kali ini pria itu tidak banyak protes lagi. Dia langsung melahap makanan tersebut. "Aku harus tetap hidup untuk menjaga istriku," ucap Dimitri sebelum memasukkan suapan pertamanya.


"Bos, Anda belum memberi nama pada Bos kecil," tanya Joa dengan sangat hati-hati.


"Biar Quinn saja yang memberi nama," jawab Dimitri dengan santai. "Aku tidak tahu nama apa yang bagus untuk putraku."


"Kalau begitu saya permisi dulu Bos. Saya ingin melihat keadaan bos kecil." Joa menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Di depan ruangan Joa melihat beberapa pengawal yang selama ini ia tugaskan menjaga Dimitri. Tanpa banyak bicara Joa segera melangkah menuju ke ruangan bayi.


Pria itu berdiri di depan kaca sambil memperhatikan box bayi yang masih belum juga memiliki nama. Selama ini seperti itulah cara Joa untuk menjaga bos kecilnya. Dia tidak berani untuk memandangnya lebih dekat bahkan tidak berani untuk menggendongnya.

__ADS_1


Dokter sudah mengizinkan anak Quinn dan Dimitri untuk dibawa pulang. Akan tetapi Dimitri lebih tenang jika anaknya itu juga masih berada di rumah sakit bersama dengannya menjaga Quinn. Dia tidak mau putranya dibawa pergi karena itu hanya akan membuat Dimitri menjadi tidak tenang.


"Bos kecil, bertahanlah. Sebentar lagi kau pasti akan bertemu dengan ibumu," ucap Joa sambil tersenyum bahagia.


...***...


Xander dan Audy akhirnya memutuskan untuk mengadakan acara pertunangan di rumah dan acara itu pun dilakukan sesederhana mungkin. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang mereka undang untuk ikut merayakan pesta pertunangan mereka. Bagaimanapun juga mereka menghargai Quinn yang kini masih terbaring koma. Mungkin jika saat ini Quinn baik-baik saja, mungkin pesta pertunangan itu sangat mewah dan megah.


Audy berdiri di depan cermin sambil tersenyum manis. Ekspresi wanita itu terlihat sangat bahagia. Berbeda jauh ketika ia harus menikah dengan Aldo waktu itu.


Audy mengambil kado yang sudah dipersiapkan Xander untuknya. Karena hari ini bertepatan dengan ulang tahun Audy, Xander pun tidak lupa untuk menyiapkan sebuah kado.


"Kalau saja waktunya tidak mepet mungkin aku sudah membuka kado ini." Audy membawa kado tersebut palu menyimpannya di dalam lemari. Pria itu menutup pintu lemari sebelum berjalan ke cermin lagi. Dia ingin memeriksa penampilannya sebelum keluar dan menemui Xander.


"Hari ini aku akan bertunangan dengan pria yang aku cintai. Meskipun aku tahu calon suamiku masih memikirkan sahabatnya, akan tetapi aku sangat bahagia hari ini. Apakah aku egois karena sekarang aku tersenyum bahagia ketika seorang wanita di sana masih tertidur dan belum sadarkan diri?


Quinn ... Aku harap kau segera sembuh. Kau harus segera bangun agar bisa kembali berkumpul dengan keluargamu. Meskipun kita baru bertemu sekali tetapi aku merasa yakin kalau kau adalah wanita yang baik. Rasanya tidak salah jika semua orang sangat menyayangimu bahkan begitu tulus mendoakan kesehatanmu," ucap Audy sambil memandang penampilannya di depan cermin.


"Audy, apakah kau sudah siap?"


Audy segera memutar tubuhnya. "Mama?" celetuk Audy. Sejak tadi pagi Viana meminta Audy untuk memanggilnya dengan sebutan Mama. Wanita paruh baya itu tidak mau dipanggil dengan sebutan tante lagi.


"Kenapa lama sekali? Xander sudah menunggumu sejak tadi. Begitupun dengan para tamu undangan. Karena memang tamu yang kita undang tidak terlalu banyak, jam segini mereka semua sudah berkumpul," jelas Viana.


"Sayang sekali hari ini Tante Tiffany juga tidak bisa hadir di pesta pernikahanmu. Padahal dia satu-satunya sahabat mama," ucap Viana sambil menunduk.


"Mama dan Tante Tiffany sahabatnya? Sudah berapa lama mama dan Tante Tiffany bersahabat?" tanya Audy. Sambil melangkah turun ke bawah, mereka berdua memutuskan untuk sambil mengobrol.


"Sudah lama sekali. Bahkan saat kami berdua sama-sama masih sendiri," sahut Viana sambil tersenyum. "Tiffany sudah seperti saudara kandung bagi Mama. Hari ini Mama sangat sedih melihat kondisi Tiffany. Rasanya mama merasa bersalah karena sudah bersenang-senang di sini sedangkan sahabat mama di sana sedang menangis sedih."


"Maafkan aku ma. Seharusnya aku dan Xander menunda pesta pertunangan kami sampai Quinn sadar," ucap Audy dengan wajah sedih. Dia terus merasa bersalah karena kini ada banyak sekali orang yang ingin menangis setiap kali memikirkan keadaan Quinn.


"Sayang, Kau tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Kami semua sama sekali tidak menyalahkanmu. Justru Kami merasa bersalah karena tidak bisa bahagia dengan maksimal di hari pertunanganmu dan Xander." kini justru Viana yang merasa bersalah.


"Mama, semoga Quinn segera bangun ya. Aku juga tidak mau di pesta pernikahanku nanti Quinn masih seperti ini," ucap Audy dengan mata berkaca-kaca.


Viana mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu segera memeluk Audy.


Dari kejauhan, seorang wanita dengan mengenakan pakaian pelayan merekam Audy secara diam-diam. Wanita itu lalu mengirimkan hasil rekamannya kepada Aldo. Karena tidak mau sampai ketahuan dia cepat-cepat pergi dari sana.


Xander tersenyum bahagia melihat Audy muncul dengan balutan gaun yang sangat indah. Meskipun masih saja memikirkan keadaan Quinn, tapi saat ini Xander berusaha untuk fokus dengan acara pertunangannya. Pria itu berjalan menghampiri Audy. Dia mengulurkan tangannya lalu membawa Audy ke panggung.

__ADS_1


"Bagaimana penampilanku?" tanya Audy dengan suara berbisik.


Xander tersenyum. Pria itu lalu berhenti dan memegang tangan Audy. "Audy Sayang ... malam ini kau terlihat sangat cantik. Aku merasa beruntung karena bisa menjadi kekasihmu. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menikah denganmu."


Ucapan Xander membuat hati Audy berbunga-bunga. "Xander, terima kasih karena kau mau menerimaku apa adanya. Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah aku bayangkan. Malam ini aku sangat bahagia. Aku berharap pesta pernikahan kita nanti bisa berjalan dengan lancar," ucap Audy dengan sungguh-sungguh.


Viana segera membuka kotak cincin lalu memberikannya kepada Xander. Pria itu mengambil tangan Audy dan menyematkan cincin pertunangan mereka. Setelah itu bergantian dengan Audy yang kini menyematkan cincin pertunangan ke jari manis Xander.


Setelah cincin tersemat dengan sempurna semua tamu undangan bertepuk tangan untuk mengucapkan selamat. Viana tersenyum bahagia dengan mata berkaca-kaca. Dia segera memeluk Xander dan juga Audy.


Sherin yang menyaksikan pertunangan itu hanya bisa menangis sedih. Dia terus saja memikirkan keadaan Quinn. Ditambah lagi kini Joo tidak ada di sisinya karena Joa harus menjaga anak Dimitri di rumah sakit.


"Kau tidak perlu menangis. Hari ini adalah hari bahagia Xander. Tadinya aku berpikir setelah Xander menemukan wanita yang mencintainya dan juga ia cintai maka penderitaannya akan berakhir. Tidak disangka justru di hari pertunangannya ia lagi-lagi harus dihadapkan dengan masalah baru. Andai saja malam ini Quinn ada di antara kita untuk merayakan pesta pertunangan Xander, mungkin kebahagiaan yang dirasakan Xander sangat-sangat sempurna," ucap Dokter Fei.


"Dok, Kenapa orang yang melahirkan bisa sampai koma? Aku tahu betul kalau selama ini Quinn sangat menjaga kesehatannya. Dia juga meminum vitamin yang sudah diresepkan oleh dokter. Tapi kenapa dia masih bisa mengalami kejadian buruk seperti ini?" tanya Sherin dengan wajah yang serius. Ia ingin mencari informasi seputar kehamilan untuk mempersiapkan dirinya sendiri.


"Nona Sherin, untuk masalah ini saya tidak bisa menjawab karena memang resiko setiap wanita yang ingin melahirkan anak mereka pasti selalu berbeda-beda. Terkadang ada ibu hamil yang selama masa kehamilannya tidak meminum vitamin apapun bahkan tidak menjaga makanan yang ia konsumsi tetapi ketika lahiran anak dan ibunya bisa sama-sama sehat. Tidak ada masalah sedikitpun.


Ada juga yang menjaga kesehatannya dengan sebaik mungkin. Tetapi ketika melahirkan dia harus di rawat secara intensif. Contohnya seperti yang terjadi pada Quinn saat ini. Saat tiba di rumah sakit Quinn sudah kehilangan banyak darah. Tim medis sudah melakukan tindakan dengan sangat cepat. Terlambat sedikit saja mungkin kemarin Quinn tidak bisa diselamatkan. Begitupun dengan bayi yang ada di dalam kandungannya," jawab Dokter Fei dengan serius.


Sherin mengangguk. "Terima kasih atas penjelasan singkatnya. Perjuangan menjadi seorang Ibu memang tidak mudah."


Dokter Fei kembali tersenyum. "Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya tidak bisa diukur dengan apapun."


Dokter Fei tiba-tiba mengambil ponselnya yang berdering. Pria itu segera mengangkat panggilan masuk tersebut. Untuk beberapa saat ia mendengarkan seseorang menjelaskan dalam telepon sebelum akhirnya pria tersebut memberikan respon yang juga membuat Sherin kaget.


"Apa? Quinn mulai sadar?" ujar Dokter Fei penuh semangat.


Sherin melebarkan kedua matanya. Ini adalah informasi yang sejak kemarin ia tunggu-tunggu. Setelah dokter Fei memutuskan panggilan telepon itu dan menyimpan ponselnya di dalam saku, Sherin cepat-cepat menagih sebuah penjelasan.


"Dok, apa benar kalau sekarang Quinn sudah sadar? Lalu bagaimana keadaannya?"


"Saya juga belum bisa memastikan Quinn sudah sadar atau belum. Tadi saat dokter datang untuk memeriksa, Quinn mulai menggerak-gerakkan tangannya. Ini pertanda baik untuk kesehatan Quinn. Saya harus segera ke rumah sakit untuk memeriksa langsung keadaannya."


"Saya ikut dok," minta Sherin.


"Nona, sebaiknya anda tetap disini saja. Pesta pertunangan Xander belum selesai. Jika semua orang yang disayanginya pergi dari pesta pertunangannya, dia pasti akan sedih. Nanti setelah pesta pertunangan selesai Anda bisa memberitahu Xander akan informasi baik ini," tolak Dokter Fei.


Sherin kembali diam. Wanita itu memandang seorang pelayan yang terlihat mencurigakan. "Siapa pelayan itu? Apa yang ingin dia lakukan?" Sherin kembali ingat dengan gerak-gerik musuh yang dulu sempat muncul di acara pesta Quinn.


"Nona, Saya permisi dulu," ucap Dokter Fei sebelum pergi.

__ADS_1


Sherin tidak lagi mempedulikan dokter Fei. Kini tatapan wanita itu hanya fokus pada seorang pelayan yang ditugaskan oleh Aldo untuk menjadi mata-mata. "Tidak salah lagi, pasti pelayan ini memiliki niat jahat," batin Sherin dengan penuh keyakinan.


__ADS_2