
Audy dirias dengan begitu cantik. Gaun pengantin berwarna putih telah melekat ditubuhnya. Tidak lama lagi dia akan menikah dengan Aldo. Pria yang sangat mencintainya. Memang cinta Aldo sangat besar untuk Audy. Bahkan jika bisa diukur, mungkin jauh lebih besar dari cinta Xander terhadap Audy. Sayangnya pria itu terlalu menghalalkan semua cara demi mendapatkan wanita yang ia cintai.
"Nona, apa anda melamun lagi?" tanya si perias pengantin yang saat itu sudah hampir selesai. Selama merias pengantin, baru ini dia melihat ekspresi wajah pengantin wanita yang tidak bahagia. Padahal sudah jelas-jelas Audy akan menikah dengan orang hebat yang cukup terkenal di Roma.
"Berapa lama lagi? Aku ingin berdiri di depan jendela," tanya Audy. Wanita itu memandang perias pengantin melalui cermin.
"Sebentar lagi Nona. Saya akan merapikan selendang Anda dulu agar penampilan anda benar-benar sempurna."
Audy melirik ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Satu jam lagi dia akan menikah dengan Aldo. Sejak awal memang Audy sudah menebak kalau akhir hidupnya akan bersama dengan Aldo. Sekuat apapun ia menghindar dari Aldo pada akhirnya pria itu juga yang akan ia temui.
Sempat bermimpi untuk menikah dengan Xander. Namun sepertinya takdir tidak memihak hubungan mereka. Kini Audy lebih memilih pasrah kepada takdir yang sudah digariskan untuknya. Meskipun dia tidak mencintai Aldo, namun jika dia sudah menikah dengan Aldo nanti wanita itu akan berusaha untuk mencintainya dan melupakan Xander untuk selama-lamanya.
Semua ini dia lakukan demi kebaikan bersama. Audy tidak mau melihat Xander tersiksa Lagi. Hanya pengorbanan seperti ini yang bisa ia lakukan demi melihat pria yang ia cintai baik-baik saja.
"Sudah selesai Nona. Mari saya bantu. Bukankah tadi anda bilang anda ingin berdiri di depan jendela?" Wanita itu membantu Audy berdiri dan membawanya menuju ke jendela. Gaun pengantin menyeret lantai bersama dengan selendang yang kini dikenakan oleh Audy.
Sebuket bunga sudah ada di genggaman tangan Audy. Wanita itu berdiri di depan jendela untuk memandang matahari yang kini bersinar dengan terang. Dia berusaha mengukir senyuman yang selama beberapa hari ini hilang. Lagi-lagi buliran air mata menetes setiap kali ia ingat kalau cintanya dan Xander tidak bisa bersatu.
"Tinggalkan aku sendiri," perintah Audy.
"Baik, Nona," perias itu segera pergi meninggalkan ruangan. Kini hanya tersisa Audy sendirian di dalam.
Audy memandang ke bawah. Dia melihat ada banyak pengawal di mana-mana. Rasanya sangat mustahil jika ia bisa berhasil kabur dari tempat ini.
Ketika ingin memutar tubuhnya langkah Audy tertahan. Dia melihat di bawah ada segerombolan pria muncul dan menghajar orang-orang Aldo hingga mereka tewas. Gerakannya sangat tenang sampai-sampai mereka tidak menimbulkan suara dan membuat rekan pengawal yang lainnya yang juga ada di dekat situ mengetahui keberadaan mereka. Meskipun begitu, dari posisi Audy berada terlihat sangat jelas trik yang digunakan oleh mereka.
"Siapa mereka?"
__ADS_1
Audy sangat kaget ketika pintu tiba-tiba terbuka. Wanita itu memutar tubuhnya. Dia melebarkan kedua matanya melihat seorang wanita masuk dengan senjata api di tangannya.
"Cepat ganti bajumu kita akan pergi dari sini!" Wanita itu melempar pakaian ganti untuk Audy ke atas tempat tidur lalu kembali ke depan pintu untuk berjaga-jaga.
"Siapa kau?" tanya Audy yang saat itu masih dalam posisi berdiri di tempatnya.
"Kita tidak memiliki banyak waktu. Jika kau ingin pergi dari tempat ini ikuti saja perintahku!" sahut wanita itu mulai kesal.
Ternyata wanita itu adalah Queen. Saat kondisinya hamil seperti ini ia masih berani untuk turun tangan langsung di medan perang. Wanita itu merasa tidak tega jika membiarkan Xander dan Audy tidak berjodoh.
"Tidak! Aku tidak ingin pergi dari sini. Jika aku pergi sekarang juga, maka akan ada seseorang yang menderita. Aku tidak mau melihatnya terluka lagi," jawab Audy. Wanita itu sangat mengkhawatirkan Xander.
Quinn tertegun mendengar jawaban Audy. "Apa seseorang yang menderita itu adalah Xander?" tanya Quinn langsung.
Audy juga kaget mendengar pertanyaan Quinn. "Ya. Apa kau mengenalnya? Apa kau ada bertemu dengannya? Bagaimana keadaan Xander? Apa dia baik-baik saja?" tanya Audy dengan penuh antusias.
"Jika kau ingin bertemu dengan Xander, ikuti perintahku. Kita tidak memiliki banyak waktu!" sahut Quinn tanpa mau menjawab semua pertanyaan Audy.
"CK! Kau ini!" umpat Quinn kesal. Dia segera mendekati Audy dan membantu wanita itu membuka resleting gaunnya.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Beberapa pria bersenjata muncul. Mereka terlihat murkah melihat Quinn ingin membebaskan Audy.
Quinn segera mengangkat senjata apinya dan menembak mereka satu persatu. "Pikirkan cara agar kita bisa segera pergi dari tempat ini. Aku tidak mungkin membawamu dengan penampilan seperti itu!" teriak Quinn.
Audy lari ke nakas. Dia mengambil gunting dan memotong pendek gaun pengantin yang kini ia kenakan. Sambil memotong, Audy memandang ke arah Quinn yang masih sibuk bertarung.
Dimitri muncul di kamar itu. Melihat istrinya bertarung dia segera menghajar satu persatu orang yang ada di dekat istrinya.
__ADS_1
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Dimitri khawatir.
Quinn mengangguk. "Aku baik-baik saja." Dia memandang ke arah Audy yang kini sudah siap untuk kabur. Wanita itu segera menarik tangan Audy dan membawanya pergi.
Dimitri berada di belakang Quinn dan Audy untuk menjaga mereka. Setelah tiba di depan kamar, mereka melihat Aldo dan anak buahnya yang sudah berdiri untuk menghalangi jalan mereka.
Dimitri berdiri di depan Quinn. Melindungi istrinya dari bahaya. Bersamaan dengan itu, Joa dan White Snake juga tiba di lokasi. Mereka menatap pasukan Aldo yang kini siap untuk menyerang.
"Berani sekali kalian membuat kekacauan dirumahku!" ujar Aldo geram. Dia memandang ke arah Audy yang kini sudah tidak menggunakan gaun yang utuh. Dia tahu kalau Audy masih memiliki niat untuk kabur dan meninggalkan dirinya. "Kau melupakan janjimu Audy?"
Audy hanya bisa menunduk. Dia sebenarnya juga bingung dan tidak tahu harus bagaimana. "Maafkan aku Aldo. Tapi ... Aku mencintainya."
Perasaan Aldo semakin sakit mendengarnya. Kini pria itu tidak mau memaafkan dan memberi kesempatan lagi. Dia bertekad untuk membunuh semua orang yang sudah mengecewakannya.
"Oke, ini pilihanmu!" Aldo mengangkat senjata apinya dan mulai menembak. Begitupun dengan anak buahnya.
Dimitri dan Joa sangat waspada. Mereka melindungi Quinn dan Audy. Salah satu pasukan White Snake berhasil membawa dua wanita itu pergi dari lokasi pertempuran.
"Nona, bagaimana ini? Saya tidak mau anda dan keluarga anda celaka," ucap Audy sambil berjalan.
"DIAMLAH!" teriak Quinn kesal. Dia juga sangat mengkhawatirkan suaminya. Akan tetapi kini ada seorang wanita yang terlalu banyak bicara.
Audy langsung terdiam ketika mendengar teriakan Quinn. "Maaf."
Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan mansion. Quinn melirik melalui spion mobil. Dia ingin memastikan kalau tidak ada yang mengikutinya.
"Nona, berhenti!" teriak Audy tiba-tiba.
__ADS_1
Quinn mengerem mobilnya secara mendadak. Di depan sudah ada segerombolan orang yang berbaris menghalangi jalan mereka.
"Kak Leonzio?" celetuk Audy dengan tatapan tidak percaya.