My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 167 Acara Keluarga


__ADS_3

Hari pernikahan Sherin dan Joa hanya tinggal menghitung hari saja. Dua insan yang sedang di mabuk asmara itu terlihat sibuk mengurus pernikahan mereka. Mereka sering pergi berduaan. Bahkan tidak jarang Joa menginap di kediaman Xander.


Malam itu, Joa baru saja selesai mandi. Dia ingin menemui Sharin untuk izin keluar sebentar. Tiba-tiba saja anggota White Snake meminta Joa ke markas. Mau tidak mau pria tangguh itu harus segera pergi ke sana.


"Joa," panggil Xander. Kebetulan pria itu juga baru saja keluar kamar yang jaraknya tidak jauh dari kamar Joa. "Kau mau kemana?"


Joa menahan langkah kakinya. "Mereka memintaku ke markas. Sepertinya ada masalah di sana," jawab Joa apa adanya.


"Bagaimana dengan Sherin? Bukankah kau sudah janji untuk melihat lokasi pesta malam ini?" Xander terlihat tidak setuju jika Joa harus pergi malam ini. Namun ia juga tidak berani mengatakannya secara langsung.


"Sebentar saja. Tapi aku tidak menemukan Sherin." Joa kembali memandang jam dipergelangan tangannya. "Kak, aku harus cepat. Tolong sampaikan kepada Sherin. Katakan padanya kalau aku akan segera kembali."


Xander tidak lagi sempat mengeluarkan kata karena Joa segera berlari pergi menuju ke tangga. Pria itu menghela napas kasar sebelum berjalan ke kamar Sherin. Namun, belum juga sampai di kamar Sherin dia kembali ingat dengan Audy.


Sudah beberapa hari ini wanita itu bersembunyi di markas White Snake. Xander tidak tahu bagaimana kabarnya karena memang dia tidak memiliki nomor telepon Audy. Tiba-tiba saja Xander tertarik untuk ikut dengan Joa ke markas White Snake.


"Aku harus segera mengejarnya!" gumam Xander sebelum berlari ke tangga. Dia bahkan melupakan pesan yang diucapkan Joa.

__ADS_1


Setibanya di halaman depan, Xander segera masuk ke dalam mobil Joa sebelum mobil tersebut melaju. Joa terlihat bingung ketika tiba-tiba saja Xander masuk ke dalam mobilnya.


"Ada apa Kak?"


"Aku ikut!" sahut Xander sambil tersenyum.


"Bagaimana dengan Sherin?" Joa terlihat khawatir.


"Soal Sherin kita pikirkan nanti. Ayo cepat jalan. Kenapa kau diam saja?" Xander mengatur posisi duduknya. Pria itu terlihat sangat santai. Berbeda dengan Joa yang kini justru terus saja memikirkan perasaan calon istrinya.


Tidak butuh waktu lama mereka berdua sudah tiba di markas White Snake. Kedatangan Joa memang sudah ditunggu-tunggu. Mereka menunduk hormat menyambut kedatangan Joa.


"Bos, Nona Audy membuat masalah. Dia membebaskan satu tahanan kita," jawab salah satu pasukan White Snake.


"Apa? Sekarang dimana dia?" Joa segera masuk ke dalam. Mendengar nama Audy membuat Xander semakin antusias. Pria itu mengikuti Joa dari belakang.


Di sebuah ruangan yang sangat luas, Audy duduk di sebuah sofa sembari menundukkan kepalanya. Wanita itu seperti merasa bersalah atas tindakan yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


"Gawat! Bisa-bisanya aku tertipu oleh pria itu. Dia benar-benar menjebakku. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" gumam Audy di dalam hati.


"Apa benar, anda sudah membebaskan tawanan saya?" ketus Joa dengan tatapan yang sangat tajam. Disamping pria itu ada Xander yang kini menatapnya dengan serius.


"Ya." Audy segera berdiri. "Dia bilang kalau anaknya menunggu di rumah. Aku tidak tega. Kenapa juga kalian menghukum pria tua seperti itu? Dimana hari nurani kalian?" Bukan meminta maaf justru Audy membuat masalah menjadi semakin rumit. "Kenapa aku bicara seperti ini," batin Audy bingung.


"Dia seorang pengkhianat! Pembunuh dan perakit bom. Jika dia sampai lolos, maka akan ada banyak nyawa yang hilang." Joa berusaha memberi penjelasan.


"Apa?" Audy sama sekali tidak menyangka kalau pria tua yang baru saja dia tolong adalah penjahat kelas kakap. Wanita itu memejamkan mata sambil mengigit bibir bawahnya. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau-"


"Kalau anda tidak tahu, sebaiknya anda jangan mengambil keputusan secara sepihak. Kalau anda ingin tahu, anda bisa bertanya!" ketus Joa kesal. Pria itu segera pergi dari sana.


Xander masih bertahan. Pria itu berdiri tidak jauh dari posisi Audy berada. "Kali ini kesalahanmu sangat fatal. Apakah kau lupa kalau kau sedang menumpang di markas orang lain? Jadi bertingkahlah seolah-olah kau itu tamu! Bukan tuan rumah."


"Tapi aku benar-benar tidak sengaja. Aku bosan berada di kamar terus jadi aku berkeliling. Aku berhenti di depan penjara seorang pria tua. Dia terlihat seperti pria yang penyakitan. Aku tidak tega melihatnya. Dia itu meminta aku untuk menemui anaknya dan menyampaikan pesan terakhir darinya. dia bilang kalau dia ditangkap hanya karena masalah sepele."


"Tapi, apapun penjelasanmu. Tetap saja kau salah!"

__ADS_1


"Ya. Aku akui aku salah. Lalu sekarang aku harus bagaimana?"


Xander kembali diam. Pria itu juga merasa segan dengan Joa. "Tidak ada cara lain. Kita harus menangkap pria tua itu lagi!"


__ADS_2