
Sherin benar-benar kesal ketika tahu kalau klien yang akan menolong perusahaannya dari keterpurukan adalah Zack Lee. Wanita itu bukan ingin mengucapkan terima kasih. Justru dia akan menyalahkan Zack Lee atas semua kegagalan yang kini dia dapatkan. Sherin tahu kalau semua ini sudah direncanakan oleh Zack Lee.
"Kenapa dia belum datang juga! Apa dia takut bertemu denganku?" ketus Sherin di dalam hati. Berulang kali dia memandang pintu ruangan rapat sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari. Sebenarnya bukan Zack Lee yang datang terlambat. Tetapi Sherin yang tiba terlalu cepat.
"Nona, apa anda mau minum?" tawar sekretaris Sherin.
"Tidak!" ketus Sherin cepat. Dia lagi-lagi memandang ke arah pintu.
"Kalau begitu saya turun dulu ke bawah Nona. Mungkin sebentar lagi Tuan Zack Lee akan segera tiba."
Sherin hanya mengangguk saja. Setelah sekretarisnya pergi wanita itu mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja. Ada senyum manis di bibirnya ketika ia melihat foto Joa yang kini ia jadikan wallpaper ponselnya. Wanita itu memang sudah tergila-gila dengan Joa.
Sayangnya ia tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. Dia takut ditolak. Dia takut kecewa. Apa lagi sampai sakit hati. Jadi Sherin memutuskan untuk memendam perasaannya sendiri. Meskipun kini status mereka tidak jelas. Tetapi Sherin sangat menikmatinya. Dia menyukai pertengkarannya dengan Joa. Dia merindukan perdebatan yang selalu terjadi di antara dirinya dan Joa.
"Joa, kenapa kau gagah sekali. Kira-kira kita berjodoh atau tidak?" Sherin terus saja berbicara di dalam hati. Sampai-sampai wanita itu tidak sadar ketika Zack Lee sudah masuk ke dalam ruang rapat. Pria itu terlihat tenang saat berdiri di depan pintu sembari memandang wajah cantik Sherin.
Sherin mengusap wajah Joa di ponselnya sambil tersenyum sendiri. Wanita itu kaget bukan main ketika melihat Zack Lee sudah ada di ruangannya. Bahkan ponsel yang sempat ia genggam sampai terpental di atas meja.
"Anda! Kenapa anda bisa ada di sini!" Sherin langsung beranjak dari duduknya karena terlalu kaget. Dalam seperkian detik dia kembali sadar. dalam waktu yang bersamaan, Sekretaris pribadinya kembali masuk.
"Tuan, maaf. Saya tidak melihat anda. Jadi anda harus repot-repot mencari ruang rapat," ucap sekretaris wanita dengan wajah merasa bersalah.
"Kau tidak perlu meminta maaf kepadanya karena aku yakin sebelum tiba di sini dia juga sudah tahu di mana ruang rapatnya," ketus Sherin masih dengan wajah yang jutek. Hal itu membuat sekretaris pribadinya sendiri tertegun. Wanita itu segera berjalan mendekati Celine untuk memperingatinya.
"Nona apa yang anda lakukan? Bukankah ini klien penting kita? Berbicaralah dengan nada sedikit lembut dan sopan agar dia tidak pergi," bisik sekretaris berharap Sherin mau mendengarkannya.
"Tapi aku tidak mau berkata sopan dengannya. Pergilah dari ruangan ini. Biar aku yang mengurus semuanya!" usir Sherin. Sekretaris wanita itu tidak memiliki pilihan lain selain pergi. Dia menutup rapat pintu ruangan sebelum berdiri tidak jauh dari ruangan rapat itu sendiri dengan wajah yang bingung.
"Apa seperti ini sambutan Anda terhadap klien anda, Nona?" tanya Zack Lee dengan sopan.
__ADS_1
Sherin kembali duduk. "Duduklah. Tidak enak jika bicara sambil berdiri," perintah Sherin.
"Bagaimana kalau aku tidak mau duduk? Nona Sherin, aku akui kalau kita ini memang tidak terlalu akrab. Tapi bukan berarti kita musuhan. Saya sendiri juga tidak tahu kalau klien yang saya datangi adalah anda. Perusahaan ini sangat kecil. Bagaimana mungkin Anda hanya memiliki sebuah perusahaan kecil?" tanya Zack Lee dengan wajah bingung.
Sherin mengukir senyum tipis. "Apa anda sedang menghina saya?"
"Saya sama sekali tidak sedang menghina anda. Tetapi saya hanya mengatakan fakta yang ada. Nona Sherin, dilihat dari penampilan anda dan gaya Anda selama ini anda itu seperti wanita sukses dengan harta yang berlimpah. Saya sama sekali tidak menyangka kalau anda adalah seorang pemimpin perusahaan yang hampir saja gulung tikar." Nada bicara Zack Lee yang serius justru membuat Sherin semakin muak.
"Cukup!" protes Sherin. "Perusahaan saya ini memang perusahaan kecil. Tetapi dia hampir saja mengalami kemajuan yang sangat pesat beberapa minggu yang lalu. Tepatnya saat saya belum kenal dengan Anda. Saya tahu Anda yang merencanakan semua ini.
Anda yang menarik semua klien saya hingga mereka semua pergi dan perusahaan saya mengalami kebangkrutan. Lalu dengan percaya dirinya Anda muncul seolah-olah Anda pahlawan. Untuk apa anda melakukan semua ini? Apa supaya saya kagum dengan Anda.
Terus saya mau dekat-dekat dengan anda? Tuan Zack Lee yang terhormat. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mau menjadi kekasih anda. Jadi jangan pernah berpikiran untuk merayu saya dan membujuk saya agar tertarik dengan Anda."
Zack Lee masih diam sambil memandang Sherin dengan ekspresi yang tidak terbaca. Pria itu bahkan tidak mau pergi meskipun kata-kata Sherin cukup melukai hati.
"Ada apa?" Zack Lee diam sejenak seperti sedang serius mendengarkan seseorang yang bicara di dalam telepon. Hingga tidak lama kemudian pria itu kembali mengeluarkan suara. "Aku akan segera ke sana!"
Pria itu memutuskan panggilan teleponnya. Dia Lalu memandang Sherin sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. "Sepertinya saya tidak lagi dibutuhkan di tempat ini. Lebih baik saya pergi sebelum diusir."
Zack Lee pergi begitu saja meninggalkan Sherin. Kali ini ekspresi pria itu memang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Dia terlihat seperti memendam sebuah masalah besar di pikirannya. Bahkan tidak ada ekspresi ketertarikan terhadap Sherin sedikitpun saat itu.
"Kenapa dia pergi begitu saja. Bukankah aku belum selesai bicara!" umpat Sherin kesal.
Tidak lama setelah Zack Lee keluar meninggalkan ruangan rapat, sekretaris pribadi Sherin kembali masuk ke dalam. Wanita itu berjalan menghampiri Sherin yang masih berdiri dengan wajah kesal.
"Nona, apa yang anda lakukan. Tuan Zack Lee satu-satunya harapan kita untuk membangun kembali perusahaan kita yang sedang terpuruk. Kenapa Anda memaki Tuan Zack Lee yang jelas-jelas tidak terlibat di dalam masalah kita."
"Kau tidak tahu apa-apa. Aku kenal dengannya. Dia adalah pria yang sangat jahat," jawab Sherin membela diri.
__ADS_1
"Anda sudah kenal dengannya, Nona? Ini aneh. Bukankah anda dan Tuan Zack Lee bermusuhan, tetapi kenapa Tuan Zack Lee mau menerima tawaran yang saya berikan."
Sherin mengernyitkan dahinya. "Tawaran yang kau berikan? Apa maksudmu?"
"Ya, benar Nona. Saat perusahaan kita mengalami keterpurukan Saya mencari informasi untuk menemukan investor yang baru. Lalu saya tahu kalau Tuan Zack Lee adalah orang baru di kota ini. Dia belum ada berinvestasi di perusahaan manapun. Jadi Saya memutuskan untuk mengajukan proposal ke perusahaan yang dipimpin oleh Tuan Zack Lee. Saya tidak menyangka kalau dia segera menerima tawaran kita."
"Apa ini sebuah kebetulan atau memang sesuatu yang sudah direncanakan oleh Zack Lee. Sulit sekali untuk percaya dengannya," gumam Sherin di dalam hati.
"Nona m, jadi bagaimana nasib perusahaan kita sekarang?"
"Ajukan proposal ke perusahaan Tuan Xander. Jika masih kurang, ajukan proposal ke Tuan Dimitri." Sherin segera pergi meninggalkan ruang rapat itu tanpa mau menjelaskan lagi.
...***...
Setibanya di lapangan parkir, Sherin memperhatikan keadaan sekitar sebelum masuk ke dalam mobil. Entah kenapa firasatnya menjadi tidak enak. Wanita itu segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera melajukannya dengan kencang.
Setelah beberapa KM melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Sherin mulai melihat sesuatu yang mencurigakan di dalam mobilnya. Wanita itu terbelalak kaget ketika seorang pria muncul di dalam mobilnya dan ingin mengikat lehernya dengan tali.
Cepat-cepat Sherin memberhentikan mobilnya. Namun sayangnya tali itu sudah melilit sempurna di lehernya. Sherin kesulitan untuk bernapas saat itu. Wanita itu berusaha berontak dan melepaskan tali yang ingin mencekiknya di leher. Tetapi tenaganya sama sekali tidak seimbang dengan kekuatan pria tersebut.
Tiba-tiba seseorang memecahkan kaca mobil Sherin. Saat itu Sherin sudah semakin kehabisan tenaga. Bahkan dia tidak lagi melihat seseorang yang ingin menolongnya. Pria itu segera memukul wajah pria misterius yang kini mencekik Sherin hingga tali yang ia genggam terlepas.
Sherin terjatuh dengan tubuh yang sangat lemas di depan setir mobilnya. Wanita itu merasa pusing. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari mobil dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Saat keluar Sherin tiba-tiba ditarik oleh seorang pria hingga akhirnya tubuhnya terjatuh ke pinggiran jalan. Sebuah mobil melaju cepat setelah Sherin terjatuh. Jika tidak segera menyingkir, mungkin dia akan celaka. Wanita itu baru sadar kalau dia turun di saat sebuah mobil melaju dengan cepat.
Tidak jauh dari mobilnya berhenti terlihat Joa yang sedang memukul seseorang yang tadi memiliki niat untuk mencekik Sherin. Pria itu memandang ke arah Sherin sejenak sebelum menghabisi lawannya hingga tewas.
"Joa?" gumam Sherin di dalam hati. Wanita itu memandang ke samping. Dia ingin mengetahui siapa yang baru saja menolongnya. Kedua matanya melebar ketika lagi-lagi ia bertemu dengan seseorang yang sangat ia benci. "Zack Lee?"
__ADS_1