
Zack Lee memeluk Peiyu dari belakang. Pria itu lalu mengecup kekasihnya hingga berulang kali. Sudah lama ia merindukan momen manis seperti itu bersama dengan Peiyu.
"Rasanya masih seperti mimpi. Sayang, terima kasih. Karena kau sudah kembali padaku."
"Zack Lee, tiba-tiba saja aku kepikiran dengan mahkota itu. Apa tidak bahaya jika kita memberikannya kepada Joa dan Sherin? Bagaimana kalau musuh tahu yang sebenarnya? Dan mereka berniat untuk merebutnya kembali?" Peiyu gelisah memikirkan tentang mahkota itu.
"Sayang, tidak akan ada yang tahu kalau mahkota itu sudah ada di tangan Joa. Hanya kita berdua yang mengetahuinya. Aku percaya padamu. Semua rahasiaku ada pada mahkota itu. Hidup dan matiku juga ada di sana."
"Jika aku ada di lokasi pelelangan mungkin aku tidak bisa duduk dengan tenang ketika melihat mahkota ini dilelang di depan. Tapi sepertinya Chen Li tidak benar-benar mengetahui asal usul mahkota ini. Dia merebutnya hanya karena tidak ingin kalah darimu. Untuk itulah mungkin dia sebenarnya tidak tahu kalau mahkota ini memang milikmu," ujar Peiyu.
Zack Lee mengangguk setuju. "Dia tidak mengetahuinya. Tetapi tidak lama lagi dia pasti akan mengetahuinya. Tetapi aku sama sekali tidak khawatir jika Joa yang mengetahui semua rahasiaku. Aku percaya padanya. Pia adalah pria baik yang tidak pernah mau menghianati sahabatnya."
"Aku senang akhirnya kau bisa memiliki teman lagi. Waktu itu aku sangat sedih ketika Chen Li mengkhianatimu," ucap Peiyu.
Zack Lee mengecup bibir Peiyu. "Jangan sebut nama pria itu lagi di hadapanku. Aku tidak mau mengingatnya."
"Maafkan aku." Peiyu menyesali perkataannya. Ia tidak imgin menyakiti kekasihnya.
"Sayang, tapi aku tidak mau tinggal di kota ini aku ingin kita pergi ke tempat yang jauh. Tidak ada satu orang pun yang kenal dengan kita. Peperti apa yang kau lakukan dulu saat kau meninggalkanku."
"Tapi kenapa? Bagaimana dengan geng mafia yang kau miliki? Apa kau akan meninggalkannya begitu saja?"
"Aku memiliki banyak uang. Aku yakin bisa menghidupimu. Membelikan apapun yang kau inginkan dengan uangku itu. Aku janji. Aku pasti akan membahagiakanmu," janji Zack Lee.
Peiyu mengangguk. "Baiklah. Aku hanya mengikut saja. Aku juga tidak mau kau terus berada di lingkaran mafia ini. Keselamatanmu bisa saja terancam. Sebenarnya aku memiliki sebuah impian. Aku ingin memiliki sebuah toko roti. Aku akan menghabiskan waktuku untuk melayani pelanggan. Melihat mereka menyukai roti buatanku. Memberi kepuasan tersendiri di dalam hatiku. Tapi aku yakin kau pasti tidak akan setuju." Peiyu memajukan bibirnya.
"Kenapa kau bisa bicara seperti itu? Dari mana kau tahu kalau aku tidak setuju? Bukankah menjual roti adalah perbuatan yang tidak melanggar norma?" kesal Zack Lee.
"Ya itu jawabanmu yang sekarang. Tapi dulu kau jelas-jelas menentangku dan melarangku untuk menjual roti. Kau bilang itu pekerjaan yang sangat melelahkan. Padahal aku tahu di balik rasa lelah itu ada kebahagiaan dan kepuasan di dalam diriku." Peiyu tersenyum.
"Oke oke maafkan aku. Karena pernah mengatakan kalimat menyangsikan seperti itu di hadapanmu. Sekarang kita sebaiknya kita tentukan dari sekarang di mana kita mau tinggal. Aku akan membangunkan sebuah toko roti untukmu. Aku pastikan di hari pertama kau membuka toko roti akan banyak sekali pelanggan yang datang." Zack Lee sangat senang melihat impian sederhana Peiyu.
Peiyu tertawa mendengar pernyataan yang baru saja dikatakan oleh Zack Lee. "Jangan bilang kalau pelangganku datang karena mereka takut dengan ancamanmu."
"Tidak akan. Mereka datang karena memang menyukai roti buatanmu." Zack Lee kembali memeluk Peiyu dengan sangat erat. Pria itu sudah memantapkan diri untuk pergi dari zona nyamannya. Dia tidak mau bertemu dengan musuh dan berteman dengan senjata api.
__ADS_1
***
Joa segera berlari menuju ke parkiran. Pria itu terlihat sangat terburu-buru. Hari ini dia ada janji dengan Sherin. Pria itu ingin makan malam di kediaman keluarga Xander.
"Gawat! Sherin pasti akan memarahiku karena datang terlambat," gumam Joa. Ketika ingin masuk ke dalam mobil Joa menahan langkah kakinya. Dia melihat Zack Lee berdiri tidak jauh dari mobilnya terparkir. "Zack Lee?"
Zack Lee tersenyum melihat Joa. pria itu segera melangkah mendekat. "Aku memiliki banyak anak buah. Kali ini aku berani jamin kalau mereka akan setia dan tidak akan mungkin berkhianat. Aku menyerahkan mereka semua kepadamu. Kemampuan mereka tidak perlu diragukan lagi. Aku yakin mereka pasti bisa membantumu jika kau dalam kesusahan."
"Bagaimana denganmu? Kenapa kau menyerahkan orang kepercayaanmu kepadaku?" Joa terkejut dengan pernyataan dari Zack Lee.
"Aku dan Peiyu sudah memutuskan untuk pergi dan tinggal di tempat menjauh dari keramaian. Peiyu bilang dia ingin membuka usaha toko roti di sana. Kami akan hidup seperti orang sederhana. Kami akan bekerja seolah-olah kami tidak memiliki uang lagi. Anggotaku merasa sangat sedih ketika mendengar keputusan ini. Itulah yang membuatku tidak tega untuk meninggalkan mereka. Jadi aku menyerahkan mereka kepadamu," putus Zack Lee.
"Aku tidak bisa menerima mereka begitu saja jika mereka ingin menjadi bagian dari With Snake mereka harus melewati serangkaian pelatihan yang sudah aku persiapkan," tolak Joa.
Zack Lee tersenyum mendengarnya. Dari jawaban-jawaban Joa bisa disimpulkan kalau pria itu tidak menolak anggota milik checklist untuk menjadi bagian dari whitney. "Terima kasih, Joa. Aku harap bisnis bisa semakin jaya dan menjadi geng mafia paling kuat yang tidak mudah untuk dikalahkan."
Joa melirik jam di pergelangan tangannya. wajah pria itu menjadi panik karena dia sudah hampir terlambat. "Aku harus pergi menemui Sherin. Dia akan marah jika aku datang terlambat."
Zack Lee memberi jalan kepada Joa. Pria itu segera masuk ke dalam mobil. Sedangkan Zack Lee masih berdiri di sana sambil memandang mobil Joa yang kini melaju dengan kecepatan tinggi.
Ponsel Joa mulai berdering dan di situ sudah ada nama Sherin. Dia menjadi semakin panik karena harus terlambat seperti ini.
Dalam secepat kilat akhirnya Joa tiba di kediaman Xander. Di depan pintu sudah ada Sherin yang berdiri dengan wajah Melisa. wanita itu segera menghampiri Joa.
"Coba! Kenapa kau lama sekali? Bukankah aku bilang jam 07.00 sudah tiba di sini. Apa ada sesuatu yang menghalangimu?" ketus Sherin.
"Tidak ada. Ayo kita masuk."
Sherin segera merangkul lengan Joa dan membawanya masuk ke dalam. Wanita itu membawa kekasihnya menuju ke meja makan karena memang ingin memperkenalkan Joa kepada keluarganya.
Xander tersenyum melihat Joa muncul di sana dengan pakaian yang sangat rapi. Jarang-jarang pria itu melihat Joa dengan menggunakan jas rapi itu. "Sherin, apakah ini kekasihmu?" tanya Xander dengan ekspresi seolah-olah dia tidak kenal dengan Joa.
"Apa ini pria yang bernama Joa? Pria yang selama beberapa hari ini terus kau ceritakan kepada tante?" sahut Viana. Wanita paruh baya itu beranjak dari kursinya dan menyambut kedatangan Joa. Ia tersenyum ramah dan memperlakukan Joa layaknya keluarga sendiri.
Jeremy juga tidak mau ketinggalan. Dia beranjak dari kursi dan mengulurkan tangan untuk menyambut Joa. "Duduklah. Kita akan mengobrol setelah makan malam."
__ADS_1
"Baik, Paman," ucap Joa dengan wajah yang sangat gugup. Ini pertama kalinya dia berhadapan dengan orang yang lebih tua secara formal seperti ini. Ditambah lagi orang tua yang kini ia datangi adalah orang yang bakal menjadi mertuanya nanti jika ia dan Sherin jadi menikah.
Xander memandang Joa dan Sherin secara bergantian sambil tersenyum. Karena memang kondisinya sedang makan jadi pria itu tidak berani untuk meledek adik angkatnya tersebut. Sampai akhirnya makan malam itu pun berakhir. Semua piring dan gelas yang ada di atas meja telah dibereskan dan dibawa ke dapur.
"Joa, beberapa hari ini Sherin terus saja bercerita tentangmu. dLdia bilang kalau kau memiliki sebuah geng mafia. Paman sama sekali tidak mempermasalahkan apa pekerjaanmu saat ini. Paman hanya ingin memberimu satu pesan yang harus kau ingat selama kau ada di sisi Sherin. Sherin ini sudah tidak memiliki orang tua lagi. Sebagai anak perempuan dia membutuhkan jutaan kasih sayang yang tidak ada batasnya. Paman harap kau bisa membahagiakan Sherin. Buat dia menjadi wanita paling beruntung meskipun sudah tidak memiliki orang tua kandungan lagi." Jeremy menarik napas dalam-dalam.
Joa mengangguk. "Baik, Paman. Saya janji akan menjaga Sherin dan membahagiakannya. Malam ini saya datang ke sini bukan hanya sekedar untuk ikut makan malam. Ada hal yang jauh lebih penting yang ingin saya katakan di depan om dan tante langsung."
Sherin mengernyitkan dahi karena memang sebelumnya Joa tidak mengatakan apapun kepadanya. "Joa sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Aku tidak mau kau bicara yang aneh-aneh," bisik sharing karena memang saat itu posisinya duduk di samping Joa.
Joa sama sekali tidak menghiraukan bisikan Sherin. Pria itu mengatur posisi duduknya. dahinya terlihat berkeringat meskipun kini mereka berada di ruangan yang sangat dingin. Xander yang tadinya berniat untuk meledek Joa lagi-lagi menahan keinginannya. Xander juga sudah tidak sabar untuk mendengar kalimat yang ingin dikatakan oleh Joa.
"Joa, katakan saja sekarang. Kau tidak perlu menunggu lagi," ucap Viana. Wanita paruh baya itu juga sudah tidak sabar mendengarnya.
"Om, Tante. Kedatangan saya malam ini ke rumah ini karena saya ingin melamar Sherin untuk menjadi istri saya," tegas Joa.
Sherin kaget bukan main mendengar pernyataan Joa. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Joa akan melamarnya secepat ini. Bahkan belum ada sebulan mereka jadian.
"Paman dan tante hanya bisa memberikan restu kepada kalian berdua. Jika memang kalian berdua sudah mantap untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Kami tidak bisa melarangnya." Viana memandang ke arah Sherin. "Sherin, apakah kau sudah siap untuk menikah dengan Joa?"
Sherin mengukir senyuman yang begitu manis. Wanita itu menjawab dengan anggukan saja. Xander menaikan satu alisnya.
"Kalian ini memang benar-benar pasangan yang serasi aku sangat iri melihatnya," ledek Xander.
"Xander, lihatlah bahkan adikmu sebentar lagi akan menikah lalu kau kapan?" kesal Viana.
"Aku belum berhasil menemukan jodohku. Jadi Mama jangan membalas masalah ini sekarang," balas Xander.
"Tante, apa yang dikatakan oleh Xander benar. Menemukan jodoh tidak semudah membalikan telapak tangan. Seumur hidupku juga baru Ini pertama kalinya aku dekat dengan seorang pria dan jatuh cinta. Bahkan awalnya aku berpikir kalau Joa tidak mungkin mencintaiku. Aku sempat putus asa meskipun jelas-jelas cintaku belum pernah ditolak olehnya. Jadi sebaiknya sekarang Tante tidak perlu menyudutkan Kak Xander lagi. Aku yakin suatu hari nanti Kak Xander pasti akan menemukan jodohnya. seperti yang sekarang aku rasakan." Lagi-lagi Sherin tersenyum lebar.
"Maafkan mama, Xander. Mama tidak ada niat untuk menyakiti hatimu," ucap Viana dengan wajah yang penuh rasa bersalah.
"Mama tidak perlu minta maaf. Xander juga tidak marah." Xander kembali tersenyum ia memandang ke arah Joa. "Jadi kapan rencananya kalian akan menikah?"
"Masalah itu akan saya diskusikan lagi bersama dengan Sherin. Yang paling penting Sekarang Paman dan Tante sudah merestui hubungan kami dan itu membuat saya merasa lega," jawab Joa.
__ADS_1
Viana dan Jeremy saling memandang sambil tersenyum. Mereka berpegangan tangan karena sudah tidak sabar menanti hari bahagia Sherin nantinya.
"Aku berharap semoga Kak Xander segera menemukan jodohnya. Aku tahu menjadi Kak Xander sangat tidak enak. Paman dan Tante terus saja mendesaknya agar cepat menikah. Tetapi dia belum juga menemukan jodoh yang pas dengan hatinya. Ditambah lagi dia pernah patah hati karena cintanya ditolak oleh Quinn. Bahkan lebih sakitnya lagi justru wanita yang ia cintai akhirnya menikah dengan sahabatnya sendiri. Jika aku ada di posisi Kak Xander mungkin detik ini aku masih terpuruk dengan keadaan. Tetapi Kak Xander sangat kuat. Dia pria yang sangat hebat. Aku yakin wanita yang dia cintai nantinya pasti akan menjadi wanita yang paling beruntung," gumam Sherin di dalam hati.