
Quinn menunduk malu mendengarnya. Padahal tadinya dia sangat mengkhawatirkan Dimitri. Bahkan takut jika masih ada rasa sakit yang dirasakan oleh Dimitri. Tapi kenyataannya kini pria itu menunjukkan tanda-tanda kalau dia baik-baik saja. Bahkan masih sempatnya melamar Quinn dalam kondisi seperti sekarang.
"Tentu. Aku mau menikah denganmu." Quinn mengusap rambut Dimitri dengan penuh cinta. "Tapi nanti setelah kau sembuh. Kau harus menjalani rangkaian pengobatan yang tidak sebentar. Jadi, bersabarlah dan ikuti semua aturan dokter."
"Quinn, sejak pergi meninggalkan rumah sakit aku tidak bisa tenang. Aku selalu saja merasa takut. Aku tidak mau mati secepat itu." Dimitri mengambil tangan Quinn dan mengecupnya. "Hanya kau yang ada di dalam pikiranku. Apapun yang aku lakukan selalu ada wajahmu di depanku."
"Dimitri, begitupun denganku. Kau harus tahu betapa sakitnya hatiku ketika tahu kau disiksa di suatu tempat yang begitu mengerikan. Saat itu aku bersumpah untuk membalas perbuatan orang yang sudah berani menyiksamu!"
"Quinn, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi." Dimitri mengecup tangan Quinn yang ada di genggamannya. Mereka berdua saling memandang sebelum sama-sama tersenyum bahagia.
"Semua sudah berlalu. Sekarang saatnya kita menyusun rencana untuk pernikahan kita," ucap Quinn. Wanita itu mendekati wajah Dimitri sebelum mendaratkan kecupan manis dibibir kekasihnya. "Kau harus cepat sembuh."
Dimitri menaikan satu alisnya. "Kenapa hanya sebentar? Tidak bisakah lebih lama sedikit?" protesnya kesal. Quinn tertawa geli mendengarnya. Wanita itu kembali mendaratkan bibirnya di bibir Dimitri hingga akhirnya mereka berdua saling menikmati untuk waktu yang lama.
Xander yang tanpa sengaja melihat pemandangan itu memilih untuk segera keluar tanpa menimbulkan suara. Pria itu sakit hati dan cemas. Tetapi sekuat mungkin dia menghilangkan perasaan yang tidak seharusnya menetap di sana. Kebahagiaan Dimitri dan Quinn jauh lebih penting daripada perasaan cintanya.
"Tuan, anda tidak jadi masuk?" tanya Joa yang masih duduk di depan ruangan tempat Dimitri di rawat. Tadinya Xander izin masuk karena mau mengambil sesuatu yang tertinggal. Tidak di sangka ia justru disajikan dengan pemandangan romantis yang membuatnya iri.
"Tidak jadi. Dimitri sudah bangun. Sepertinya kita akan segera pulang." Xander duduk di samping Joa lalu memandang ke depan. "Apa kau sudah memeriksa semuanya? Pastikan tidak ada yang tersisa agar kita bisa pulang dengan tenang."
"Sudah, Tuan. Gabriel dan anak buahnya tewas di tempat kejadian. Bahkan bangunan megah yang mereka jadikan markas kini tidak bisa ditempati lagi. Kali ini musuh benar-benar kalah. Tapi saya tidak yakin jika ini pertarungan terakhir Bos Dimitri. Musuh kami sangat banyak. Bahkan bertambah setiap bulannya," jawab Joa apa adanya. Pria itu kembali mengingat beberapa rekan kerja sama Dimitri yang lada akhirnya memutuskan untuk membayar pembunuh bayaran karena ingin membuat Dimitri kalah saing.
"Lalu dimana Paman Luca? Apa tadi kau bertemu dengannya di lantai bawah?" Xander tadi sempat melihat pria paruh baya itu masuk ke dalam lift. Namun dia tidak sempat menyapanya karena jarak mereka cukup jauh.
"Tuan Luca sudah pulang. Dia menitipkan Nona Quinn kepada kita dan meminta kita segera pulang," jawab Joa. "Saya akan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Bos Dimitri."
"Jangan!" cegah Xander.
"Kenapa, Tuan? Bukankah Dokter bilang harus segera memberi tahu mereka setelah Bos Dimitri sadar?" Joa terlihat bingung ketika Xander mencegahnya untuk memanggil Dokter.
"Sebentar lagi. Quinn dan Dimitri butuh waktu untuk berdua. Jangan sampai kedatangan Dokter mengganggu mereka," jelas Xander. Pria itu tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya dia lihat tadi.
Joa kembali duduk. Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya. "Tuan, apa anda benar-benar sudah merelakan Nona Quinn?"
Xander tersenyum tipis. "Untuk apa kau menanyakan hal bodoh seperti itu? Kau suka sekali ikut campur urusan pribadi orang lain."
"Jika berhubungan dengan kebahagiaan Bos Dimitri, saya terpaksa ikut campur Tuan," jawab Joa tanpa memandang.
"Joa, kau tahu sendiri kalau selama ini aku dan Dimitri sudah seperti saudara. Jika ada barang berharga milik Dimitri yang aku suka. Dia akan selalu memberikannya padaku tanpa syarat. Tapi untuk yang satu ini aku tidak memiliki keberanian untuk memintanya apa lagi sampai merebutnya.
__ADS_1
Aku memiliki apa yang tidak dimiliki Dimitri. Jadi, sebaiknya aku mengalah saja. Bukankah mengalah bukan berarti kalah? Mungkin jodohku masih menunggu di suatu tempat. Aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi agar bisa segera bertemu dengannya."
Penjelasan yang diucapkan Xander membuat Joa merasa jauh lebih tenang sekarang. Pria itu tidak perlu mengkhawatirkan hubungan persaudaraan Dimitri dan Xander lagi. Awalnya Joa sempat memiliki firasat kalau Dimitri dan Xander akan bermusuhan.
"Sepertinya sudah cukup waktu berduaannya. Joa, panggilkan Dokter. Aku akan ke dalam untuk bertemu dengan Dimitri." Xander beranjak dari kursi dan masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Joa segera pergi menuju ke tempat perawat dan Dokter berada.
...***...
Satu bulan kemudian.
"Mommy, apa aku gemukan? Kenapa pipiku terlihat lucu sekali?" protes Quinn. Berulang kali wanita itu memegang pipinya yang mulai berisi.
"Sayang, akhir-akhir ini kau memang suka makan malam. Jadi wajar saja jika berat badanmu naik," sahut Tiffany sambil tetap menyisiri rambut putrinya.
"Mom, jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau di acara pernikahanku dengan Dimitri nanti gaun yang kami pesan tidak muat lagi." Quinn memajukan bibirnya. Ledekan Tiffany membuat moodnya menjadi buruk.
"Jangan cemberut seperti itu. Kau terlihat jelek sekali Quinn." Tiffany memeluk putrinya dari belakang. "Lihatlah ke depan. Mau kau gemuk atau tidak, kau akan tetap menjadi putri Mommy."
Quinn kembali tersenyum. "Mom, apa Dimitri akan datang? Sejak dua jam yang lalu dia tidak memberiku kabar."
"Dia pasti datang. Mommy yakin saat ini Dimitri sedang menyiapkan kado yang bagus untuk wanita pujaannya." Tiffany menjauh dari Quinn lalu mengambil kado yang sudah dia persiapkan. "Quinn, ini hadiah dari mommy dan Daddy. Tadinya kami ingin memberikannya setelah acara ulang tahun selesai. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi. Kami justru ingin melihat kau memakainya di pesta ulang tahun ini." Tiffany meletakkan kotak berwarna biru di atas meja. Kotak berikut sedang itu memang berhasil membuat Quinn penasaran. Sampai-sampai wanita itu segera membukanya.
"Mom, ini pita yang sangat bagus. Terima kasih, Mom." Quinn segera memeluk Tiffany. Pita pemberian Tiffany dan Luca adalah hadiah paling istimewa yang ia terima setiap tahunnya. "Aku pasti akan memakainya. Apa mommy bisa membantuku untuk memakainya?"
"Tentu sayang." Tiffany segera memakaikan pita tersebut di kepala Quinn. Wanita itu terlihat anggun dan sangat manis. "Sepertinya tamu undangan sudah berkumpul. Ayo kita turun."
Quinn mengangguk. Dia beranjak dari kursi dan melangkah keluar bersama dengan Tiffany.
Setiap tahunnya memang ulang tahun Quinn selalu berkesan. Bukan karena pesta mewah yang di adakan. Tetapi karena semua keluarga selalu berkumpul dan mereka merayakannya dengan penuh cinta.
Setibanya di bawah, semua tamu undangan terlihat bahagia melihat Quinn. Tamu yang datang juga berasal dari karyawan perusahaan yang akan dipimpin oleh Quinn kedepannya. Beberapa dari mereka sempat merasa takut karena selama ini sudah bersikap kurang ajar terhadap Quinn. Namun sisanya justru bahagia karena memang selama ini mereka selalu bermimpi agar memiliki pemimpin yang bijaksana seperti Quinn.
Kue tar dengan lilin angka 27 sudah ada di tengah lokasi pesta. Makanan dan minuman juga sudah berkurang jumlahnya. Tapi satu hal yang membuat Quinn tidak bersemangat. Dimitri belum tiba. Dia bahkan tidak tertarik untuk meniup lilin yang sudah meleleh.
"Quinn, apa lagi yang kau tunggu?" bisik Tiffany.
"Dimana Dimitri Mom? Apa benar dia baik-baik saja?"
Sejak kejadian sebulan yang lalu, perasaan Quinn selalu saja tidak tenang jika sampai Dimitri tidak ada kabar.
__ADS_1
"Sayang, tapi tamu undangan sudah menunggumu sejak tadi," bisik Tiffany lagi.
"Quinn gak mau lanjutin acara ini kalau Dimitri gak ada, Mom. Bukankah sejak awal Quinn sudah bilang sebaiknya jangan mengadakan pesta," protes Quinn. Meskipun dia marah, tetapi nada bicaranya tetap berbisik agar para tamu undangan tidak mendengarnya.
"Quinn, sebentar lagi kau akan menikah. Belum tentu tahun depan Mommy bisa merayakan ulang tahunmu seperti ini lagi." Tiffany memandang ke arah Luca. Dia berharap suaminya segera mendekat dan membantunya membujuk Quinn.
Luca melangkah mendekati Quinn. Pria paruh baya itu memuji penampilan Quinn agar Putrinya kembali ceria. "Quinn, ayo. Tunggu apa lagi?"
"Dimana Dimitri, Dad?" Pertanyaan yang sama kembali diucapkan oleh Quinn.
Selama satu bulan ini Dimitri harus direhabilitasi untuk menghilangkan rasa candu akibat obat yang sudah disuntikkan anak buah Gabriel. Meskipun begitu, sesekali Dimitri masih bisa datang ke rumah Quinn untuk bertemu. Hari ini bertepatan dengan hari keluarnya Dimitri dari tempat rehabilitasi. Quinn merasa takut. Dia tidak mau sampai calon suaminya menjadi pecandu akibat kesengajaan Gabriel.
"Kalau sekarang bagaimana? Apa kau masih mau menundanya?"
Tiba-tiba saja Dimitri sudah berdiri di samping Quinn. Pria itu terlihat tampan dengan setelan jas warna abu-abu. Tamu undangan kini justru fokus pada ketampanan Dimitri. Mereka semua sama sekali tidak menyangka kalau Quinn berpacaran dengan CEO ternama seperti Dimitri.
"Kenapa lama sekali?" protes Quinn. Wanita itu mencubit perut kekasihnya.
"Kadoku yang buat lama sayang," sahut Dimitri. Pria itu merangkul pinggang Quinn lalu membawanya untuk tiup lilin dan potong kue. "Sayang, lihatlah ke atas."
Quinn mengangkat kepalanya ke atas. Begitupun dengan semua orang yang ada di sana. Namun mereka semua bingung karena tidak ada apapun di sana.
"Dimitri!" protes Quinn. Wanita itu mematung melihat Dimitri berlutut dihadapannya. "Ini bunga paling istimewa untuk wanita istimewa."
Tiffany dan Luca hanya bisa tersenyum bahagia melihat Dimitri dan Quinn. Memang kesannya sederhana karena Dimitri hanya memberi hadiah sebuket bunga mawar.
"Terima kasih," ucap Quinn. Wanita itu memeluk bunga pemberian Dimitri lalu memeluknya dengan lebih cinta.
Tiba-tiba di atas muncul helikopter yang membawa tulisan selamat ulang tahun. Di dalam geli itu ada Xander yang kini bernyanyi lagu selamat ulang tahun untuk Quinn. Semua orang tertawa mendengarnya. Bukan karena suara Xander yang cempreng. Tetapi karena penampilan pria itu yang lucu. Bisa-bisanya Xander menggunakan kostum spiderman hingga membuatnya terlihat konyol.
"Apa itu Xander?" tanya Quinn tidak percaya. Wanita itu juga tertawa melihatnya.
"Ya. Bukankah hadiah Xander sangat istimewa?" ucap Dimitri.
"Istimewa?" Quinn memandang Dimitri dengan alis saling bertaut. "Dengan pakaian seperti itu?"
"Bukan Quinn. Jadi Xander adalah membuatmu tertawa. Dia tidak mau kau bersedih lagi."
Quinn terdiam sejenak sebelum tersenyum lagi. "Dia sahabat terbaikku."
__ADS_1
"Sahabat terbaikku juga. Aku tidak menyangka kalau Xander bisa sekonyol ini." Dimitri memandang ke atas lagi. Pertunjukan Xander kali ini memang membuat hiburan bagi semua orang.