
Xander benar-benar merasa sial hari ini. Dimulai dari sopir pribadinya yang tiba-tiba sakit. Lalu dia harus bertemu dengan dua pria asing yang pada akhirnya mengajaknya bertarung. Sekarang pria itu harus gagal untuk menghadiri rapat penting dengan kliennya.
Kini Xander ada di pinggiran jalan sambil meneguk minuman kaleng yang baru saja ia beli di minimarket. Pria itu menghirup udara segar yang ada di sana untuk kembali menenangkan pikirannya.
"Benar-benar hari yang buruk. Kalau saja tadi aku tidak menolong wanita itu pasti aku tidak datang terlambat. Tetapi sekarang di mana wanita itu? Bagaimana kalau dia tertangkap lagi?" Xander kembali meneguk minumannya. "Untuk apa dua pria tadi mengejarnya?" tanyanya lagi dengan rasa penasaran yang sangat besar.
Kini justru pikiran dipenuhi dengan wajah Audy ketika wanita itu meminta tolong kepadanya. "Apa mungkin dua pria tadi itu adalah penagih hutang? Tapi dilihat dari kemampuan bela diri mereka sepertinya mereka bukan orang bayaran. Mereka seperti sebuah anggota mafia. Tapi itu tidak mungkin. Tidak mungkin wanita tadi bisa memiliki masalah dengan para mafia. Dilihat dari penampilannya saja dia seperti wanita yang sangat sederhana." Xander terus bicara di dalam hati.
Dia kembali meneguk minuman kaleng yang ada di genggaman tangannya. Pria itu memandang ke arah jalan dan memperhatikan satu persatu mobil yang lewat. Sebuah mobil hitam melintas dengan sangat cepat. Tanpa sengaja Xander melihat Audy yang sudah berada di dalam mobil itu. Dia seperti berontak dan ingin kabur dari sana.
"Bukankah itu wanita yang tadi? Kenapa dia bisa sampai tertangkap!" tanpa pikir panjang lagi Xander segera masuk ke dalam mobilnya dan mengejar mobil hitam tersebut.
Mobil hitam tersebut meluncur cepat menuju ke sebuah lapangan luas. Sudah ada helikopter yang menunggu mereka di sana. Setibanya di lapangan luas tersebut, mereka segera memaksa Audy untuk turun. Mereka memperlakukan Audy dengan sangat kasar. Sampai-sampai ada darah segar di sudut bibir wanita itu.
Xander yang baru saja tiba segera berlari untuk menyelamatkan Audy agar tidak sampai masuk ke dalam helikopter. Namun pria itu kembali menahan langkah kakinya ketika menyadari kalau ada banyak sekali pria bersenjata di lapangan tersebut. Mereka semua memandang ke arah Xander dengan tatapan tidak suka.
"Tuan, tolong saya. Mereka sudah menangkap saya dan akan membawa saya pergi. Saya mohon jangan biarkan mereka membawa saya pergi," lirih Audy dengan tatapan memohon.
"Sebaiknya anda pergi dari sini jika anda tidak mau mati konyol!" usir seorang pria yang kini memegang tangan Audy.
Xander memperhatikan satu persatu pria yang kini ada di dekat Audy. Dua pria yang tadi sempat bertarung dengannya juga ada di sana. Kali ini Xander semakin yakin kalau orang yang ingin menangkap Audy bukan orang sembarangan.
"Seharusnya saya yang bertanya kepada kalian sebenarnya kalian ini siapa? Berani sekali kalian menginjakkan kaki kalian di wilayah kekuasaanku. Apa kalian tidak tahu kalau wilayah ini milik White Snake!" teriak Xander gantian.
Mendengar nama White Snake disebutkan membuat segerombolan pria itu menjadi panik. Mereka kenal betul seperti apa kejamnya Geng Mafia White Snake. Bahkan mereka juga kenal dengan Dimitri dan Joa yang tidak lain adalah pemimpin geng mafia tersebut.
"Lalu apa hubungannya anda dengan White Snake? Kami tidak lama berada di tempat ini. Kami yakin White Snake juga tidak akan keberatan," ujar pria itu membela diri.
__ADS_1
"White Snake adalah geng mafiaku!" sahut Xander dengan penuh percaya diri.
Semua pria yang ada di sana tertawa geli mendengarkan jawaban Xander. Mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Xander.
"Jika memang benar White Snake milik anda, coba hubungi Tuan Joa. Jika dia ada di sini setelah anda memintanya datang, maka kami akan membebaskan wanita ini," tantang pria itu.
Jelas saja ini masalah yang sangat mudah bagi Xander. Pria itu segera mengeluarkan ponselnya. Namun ia sempat menahan jarinya karena sebenarnya Xander sendiri tidak menyimpan nomor telepon Joa. Pria itu memutuskan untuk menghubungi Sherin dan meminta bantuan adiknya.
"Jalo Kak. Kakak ada di mana? Kenapa Kakak belum tiba juga di rumah?" tanya Sherin khawatir.
"Sherin, apakah sekarang Joa bersama denganmu?"
"Joa baru saja pulang. Ada apa, kak?"
Xander mengepal tangannya dengan sangat kuat. Dia tidak mau sampai gagal membawa Joa ke tempat itu. "Kirimkan nomor Joa ke nomorku. Aku ingin menghubunginya."
"Ya. Aku pasti akan segera pulang setelah urusanku selesai." Xander segera memutuskan panggilan telepon itu. Dia menunggu beberapa saat sampai Sherin mengirimkan nomor telepon Joa. Setelah nomor telepon Joa masuk ke dalam ponselnya, dia segera menekan nomor tersebut.
"Sudahlah, kau tidak perlu panik seperti itu. Kami semua tahu kalau kau berbohong. Sekarang kami sarankan lebih baik kau pergi saja dari sini. Biarkan kami membawa wanita ini pergi," ujar seorang pria yang ada di sana. Pria itu kembali memaksa Audy untuk masuk ke dalam pesawat.
"Tunggu!" teriak Xander.
Dia segera berlari ketika Audy dipaksa masuk ke dalam helikopter. Tiba-tiba seorang pria mengeluarkan senjata apinya dan ingin menembak ke arah kaki Xander. Dia tidak suka melihat Xander menghalangi rencana mereka.
DUARRRR
Xander kaget mendengar suara tembakan yang sangat dekat dengannya. Pria itu menunduk ke bawah untuk memeriksa tubuhnya. Dia ingin memastikan kalau peluru itu tidak mendarat di salah satu organ tubuhnya.
__ADS_1
Ketika mengetahui kalau tubuhnya baik-baik saja Xander kembali memandang ke depan. Kali ini pria itu terlihat bingung karena semua orang yang ada di sana terlihat ketakutan. Xander segera memutar tubuhnya ke belakang. Ada senyum simpul di bibirnya melihat Joa dan pasukan White Snake telah tiba di sana.
"Sekarang apa kalian berani menghindar lagi? Bukankah ini semua sudah jelas? Akulah pemimpin White Snake! Sekarang cepat lepaskan wanita itu. Biarkan dia pergi bersamaku!" perintah Xander.
Joa berdiri di samping Xander. Pasukan White Snake terlihat sangat waspada. Mereka memegang senjata api mereka lalu memperhatikan lawan mereka dengan tatapan yang begitu tajam.
"Siapa kalian? Berani sekali kalian membuat keributan di wilayah kekuasaan kami!" ujar Joa. Pria itu masih bisa bersabar karena dia juga ingin tahu sebenarnya siapa segerombolan orang yang kini berada di hadapannya.
Pria yang sempat menggenggam tangan Audy segera melepaskan wanita itu. Audy segera berlari menghampiri Xander. Dengan wajah yang sangat ketakutan wanita itu bersembunyi di balik tubuh kekar Xander. Ia hanya berani untuk mengintip orang-orang yang sudah menangkapnya dari belakang tunggu Xander.
"Tuan Joa, maafkan kami karena sudah membuat keributan di wilayah kekuasaan anda. Tetapi kami harus membawa pulang Nona Audy," ucap salah seorang pria bersenjata.
"Nona Audy?" Joa melirik wanita yang kini bersembunyi di balik tubuh Xander. "Sekarang dia bagian dari kami. Jika kalian ingin membawanya pergi hadapi dulu kami!" tantang Joa.
Mereka semua saling memandang dan seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Sampai akhirnya pria yang tadi bicara kembali mengeluarkan kata. "Baiklah kalau begitu kami akan segera pergi dari wilayah kekuasaan anda. Maafkan kami karena sudah mengganggu ketenangan anda."
Pria itu segera masuk ke dalam helikopter diikuti oleh anak buahnya yang lain yang kini masuk ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan lapangan luas tersebut. Saat orang-orang bersenjata itu benar-benar sudah pergi dan tidak ada lagi yang tersisa. Audy baru memberanikan diri untuk keluar dari belakang tubuh Xander. Wanita itu kembali bernapas lega.
"Terima kasih, Tuan," ucap Audy.
"Siapa mereka? Kenapa mereka ingin menangkapmu?" tanya Xander penasaran. Dia sudah terlibat sejauh ini. Pria ini kini ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terhadap Audy.
"Mereka pasukan Cosa Nostra," jawab Audy.
Joa menaikan satu alisnya. "Lalu, apa hubunganmu dengan mereka?"
"Mereka ...." Audy kembali menunduk. "Saya Adik dari pemimpin Cosa Nostra."
__ADS_1
Xander dan Joa sama-sama melebarkan kedua mata mereka. "APA?"