My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 96 Pesta Malam


__ADS_3

"Quinn, selamat ulang tahun. Apa kau suka dengan hadiahku ini?" tanya Xander dengan penuh percaya diri. Masih dengan costum Spiderman. Pria itu berdiri tegap di depan Quinn sembari memberikan sebuah kado. "Ini hadiah dari mama. Mama minta maaf karena tidak bisa datang," jelasnya lagi.


"Xander, dari mana kau menemukan pakaian seperti ini?" ledek Dimitri. "Kenapa kau tidak membeli dua. Aku juga mau."


"Benarkah?" sahut Xander cepat.


Dimitri hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika Xander sampai serius, habislah sudah. Mana di sana ada banyak sekali rekan bisnis yang mengenalinya.


"Sepertinya sedikit panas," jawab Dimitri. Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku harus menghubungi seseorang. Aku pasti akan segera kembali."


"Jangan jauh-jauh," ucap Quinn.


"Tidak akan." Dimitri mengusap pipi Quinn sebelum pergi.


Kini hanya tinggal Quinn dan Xander di sana. Para tamu undangan terlihat fokus untuk menghabiskan aneka makanan dan minuman yang sudah disajikan.


"Terima kasih," ucap Quinn sambil tersenyum. "Xander, maafkan aku karena-"


"Sssttt." Xander melekatkan satu jarinya di depan bibir Quinn. "Jangan pernah ungkit masa lalu."


Quinn mengangguk lalu mengatur napasnya. "Kenapa tidak ganti pakaian saja? Apa kau tidak merasa kepanasan?"


"Aku ini seorang Hero. Lihatlah. Bukankah aku terlihat gagah?" Xander mengangkat kedua tangannya ke atas untuk memamerkan ototnya. Jelas saja hal itu membuat Quinn tertawa geli.


"Xander, terima kasih. Hari ini kau membuatku sangat bahagia." Quinn memeluk Xander dan itu membuat Xander mematung. Dia merasa semua ini tidak nyata.


"Apa aku bermimpi?" tanya Xander masih dengan tangan di atas.

__ADS_1


"Tidak. Kau memang pahlawan, Xander. Meskipun kau tahu kalau kemampuan yang kau miliki tidak akan mungkin menang melawan musuh. Tetapi kau tetap maju untuk menyelamatkan Dimitri. Itulah pahlawan sesungguhnya." Quinn melepas pelukannya. "Kau hebat! Sangat hebat!"


Xander tersenyum mendengar pujian dari Quinn. "Terima kasih, Quinn. Tapi, apa bisa kau memelukku sekali lagi?"


Quinn tertawa geli mendengarnya. Dia kembali memeluk Xander lalu menepuk punggungnya pelan. "Kita sahabat. Aku harap kau tidak pernah merusak persahabatan kita ini. Mulai sekarang kesulitan yang kau alami akan menjadi urusanku."


"Ya. Kita sahabat!" sahut Xander. Pria itu memeluk Quinn dengan erat. "Hanya saat ini saja. Ya. Setelah ini aku akan benar-benar membuang perasaan cinta yang ada di hatiku," gumam Xander di dalam hati.


Dari kejauhan, Dimitri hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dia sama sekali tidak marah. Pria itu sengaja pergi karena memang ingin memberikan waktu untuk Quinn dan Xander mengobrol. Dia tahu kalau Xander sulit jatuh cinta. Dan jika pria itu sudah jatuh cinta, pasti akan sangat sulit melupakannya perasaan cintanya begitu saja.


"Aku harap setelah ini tidak ada lagi nama Quinn dihatimu, Xander."


***


Pesta ulang tahun itu tidak berlangsung pada siang hari saja. Saat malam tiba pesta yang sesungguhnya telah disiapkan oleh Luca dan Tiffany. Pada malam hari tamu undangan tidak sebanyak saat siang hari. Malam ini akan ada pesta kembang api dan juga pesta dansa. Rata-rata tamu undangan yang datang sebaya dengan Quinn dan pastinya membawa pasangan.


Dua pria tangguh itu sangat fokus ketika mengawasi Dimitri dan Quinn dari kejauhan. Ketika dua sejoli itu sedang bermesraan mereka memutuskan untuk mengalihkan pandangan mereka. Bahkan tidak jarang mereka saling meledek ketika tanpa sengaja mereka melihat Dimitri dan Quinn bermesraan.


"Apa kau melihatnya lagi?" ledek Robin.


Jika dibandingkan dengan Joa, Robin sosok pria yang lebih humoris. Itulah yang membuat dia masih berada di sisi Dimitri sampai detik ini. Terkadang Dimitri bosan dengan sikap Joa yang kaku dan sangat dingin. Dia membutuhkan sosok Robin yang sesekali bisa membuatnya tertawa.


"Aku tidak melihat apapun karena mengawasi Bos Dimitri adalah tugasmu," sahut Joa tanpa memandang. Sebenarnya pria itu sempat melihat ketika Dimitri dan Quinn berciuman. Namun tiba-tiba saja dia merasa malu dan ada yang aneh hingga akhirnya ia tidak mau memandang ke arah Dimitri lagi.


"Apakah kau menginginkannya?" tanya Robin dengan nada yang cukup serius. Kali ini ekspresi Joa tidak tanggung-tanggung. Pria itu melempar tatapan tajam ke arah rekannya.


"Sepertinya ilmu bela dirimu sudah hebat, hingga sekarang kau begitu berani padaku!" tatapan Joa terlihat seperti sedang memperingati agar Robin tidak lagi meledeknya seperti tadi.

__ADS_1


"Joa, kadang-kadang kau ini terlalu percaya diri. Memangnya apa yang kau pikirkan? Aku hanya ingin menawarkan minuman ini kepadamu!" jawab Robin dengan ekspresi datar. Padahal sebenarnya kini hatinya bersorak kegirangan karena sudah berhasil mengerjai rekannya itu. "Jika kau tidak mau minum ya sudah."


Tiba-tiba Joa merebut gelas yang berisi minuman lalu meneguknya hingga habis. Pria itu lalu memasukkan tangannya ke dalam saku dan memandang ke segerombolan tamu yang sudah berkumpul.


"Joa, sepertinya hanya kita yang tidak memiliki pasangan. Lihatlah di ujung sana ada beberapa wanita yang duduk sendirian. Apakah kau tidak tertarik untuk mendekati mereka? Bukankah malam ini akan ada pesta dansa. Apakah kau tidak tertarik untuk berdansa dengan salah satu wanita seksi yang ada di sana?" kata Robin sambil memperhatikan satu persatu wanita yang sedang berkumpul di pinggiran kolam renang.


Memang dari gaya berpakaian saja wanita itu bisa dibilang sangat seksi. Robin sendiri tidak mengerti kenapa Quinn bisa memiliki rekan seperti mereka. Namun kehadiran mereka cukup menolong bagi beberapa pria single yang datang tanpa pasangan.


"Sekali lagi kau bicara omong kosong seperti ini aku akan benar-benar memukulmu Robin!" ketus Joa kesal. "Jika kau butuh pasangan pergi saja sana sendiri. Tidak usah mengajakku karena aku sama sekali tidak tertarik!"


"Ya sudah jika kau menolak!" sahut Robin dengan santai. Pria itu berlalu begitu saja menuju ke arah wanita yang kini duduk sendirian. Joa sendiri sama sekali tidak menyangka kalau Robin serius dengan apa yang dia katakan.


"Hai cantik. Kenapa kau sendirian di sini?" Robin duduk di depan si gadis lalu menatapnya dengan penuh kagum.


"Hai tuan. Kenapa anda meninggalkan teman Anda sendirian di sana? Lihatlah sekarang dia sangat kesal," ucap wanita seksi yang Robin sendiri belum tahu siapa namanya.


"Dia itu alergi dengan wanita," jawab Robin asal saja.


"Benarkah?" tanya wanita itu tidak percaya. "Sejauh ini belum ada seorang pria pun yang berani menolakku," sambung wanita itu lagi.


Tiba-tiba saja Robin kepikiran sebuah ide untuk mengerjain Joa. Dia tersenyum licik lalu memandang serius ke arah wanita itu lagi. "Aku akan membayarmu jika kau berhasil untuk mengajak temanku itu berdansa."


"Berdansa?" Wanita itu sedikit ragu. "Tapi, maaf. Aku tidak pandai berdansa. Bagaimana bisa aku memaksanya untuk berdansa?"


Robin terlihat sedikit kecewa karena rencananya harus gagal begitu saja. Namun tiba-tiba saja wanita itu mendekati Robin dan membisikkan sesuatu hingga akhirnya membuat wajah Robin kembali ceria bahkan sampai mengangguk setuju.


"Baiklah. Jika kau berhasil, aku akan membayarmu dua kali lipat!"

__ADS_1


__ADS_2