My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 51 Pendapat Daddy


__ADS_3

"Xander, akhirnya kau mau untuk menjemput Queen. Tante tadi sudah khawatir sekali ketika tahu kalau ban mobil Quinn kempes," ucap Tiffany dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Apa ban mobilku menghubungi Mommy sebelum mereka kempes?" sindir Quinn sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Bahkan wanita itu tidak mau mengajak Xander untuk masuk ke dalam.


"Quinn, mandilah dan kenakan gaun yang sudah mommy pilihkan untukmu. Malam ini kita akan makan malam bersama dengan keluarga Xander. Tante Viana dan suaminya juga akan datang," ucap Tiffany.


Quinn sendiri tidak mau banyak protes. Wanita itu ingin segera masuk dan menghindari obrolan-obrolan yang tidak penting bersama dengan Xander dan ibu kandungnya. Sudah jelas dari awal Quinn tidak menyukai Xander. Tapi, Tiffany terus saja mendesaknya.


"Tante, kalau begitu saya permisi dulu. Saya juga harus pulang ke rumah dan mandi," ucap Xander berpamitan.


"Xander, kau harus bisa lebih sabar untuk menghadapi Queen. Dia memang seperti itu. Keras kepala sekali. Semakin dewasa dia semakin mirip dengan Daddynya. Tetapi jika kau berhasil meluluhkan hatinya, maka hanya kaulah yang akan menjadi dunianya." Tiffany memberikan nasihat dengan lembut.


Memang Tiffany ingin Quinn cepat mendapatkan kekasih. Tapi, Tiffany perlu mencari tahu bibit dan bobotnya. Sejak pertama kali bertemu Xander, Tiffany sudah menyukainya. Terlebih sikapnya yang sopan itu.


"Tante, saya akan selalu sabar untuk menghadapi sikap Queen. Tetapi apa yang bisa saya lakukan jika pada akhirnya Quinn justru mencintai pria lain?" Pertanyaan Xander membuat Tiffany terdiam. Wanita itu sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Xander tahu kalau kini Quinn juga dekat dengan pria lain.


"Soal itu ...." Tiffany bingung harus menjawab apa. Wanita itu hanya mengumpat dalam hati karena Xander tahu keadaan Quinn.


"Tante, pria yang sekarang dekat adalah sahabat saya sendiri. Di sini saya ingin bersaing secara sehat dengannya. Bisa saya akui kalau dia pria hebat. Bahkan terkadang saya sendiri berpikir apa mungkin saya sanggup untuk bersaing dengannya. Tetapi Anda tenang saja, Tante. Saya akan tetap berjuang untuk mendapatkan Quinn meskipun saya harus berhadapan dengan sahabat saya sendiri." Xander menghentikan kalimatnya. Pria itu menarik napas dalam-dalam.


"Ngomong-ngomong, ada satu hal yang ingin saya minta dari Tante. Jika pada akhirnya saya gagal meluluhkan hati Quinn dan Quinn tetap menginginkan pria lain, saya mohon sebagai orang tua. Tante tetap mendukung keputusan yang diambil oleh putri Tante sendiri." Permintaan Xander itu cukup meluluhkan hati Tiffany.


Mata Tiffany mengamati mimik wajah Xander. Tiffany benar-benar tersentuh dengan kebaikan Xander. "Xander, kau benar-benar pria yang baik. Rasanya tante akan menjadi mertua paling beruntung jika kau sampai menikah dengan Queen. Sebaiknya sekarang jangan pikirkan hal yang buruk-buruk. Lebih baik sekarang kita sama-sama berjuang untuk meluluhkan hati Queen. Tante yakin kalian pasti akan berjodoh."


"Oke. Rencana awal telah berhasil setidaknya calon mertuaku yang satu ini sudah memandangku sebagai pria yang baik." Xander membatin dalam hati. Pria itu mengukir senyuman penuh arti.

__ADS_1


Di dalam rumah, Quinn menahan langkah kakinya ketika melihat pintu ruang kerja yang biasa ditempati oleh Luca terbuka. Wanita itu berniat untuk menutupnya kembali sekaligus memeriksa isi di dalamnya.


Namun ketika ingin menarik pintu, gerakan Quinn berhenti ketika melihat Luca duduk di sana dan sibuk dengan beberapa berkas yang ada di hadapannya. Quinn merasa jika Luca seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Daddy sibuk?" ucap Quinn dengan hati-hati.


Luca mengangkat kepalanya sebelum menunduk lagi. "Masuklah."


Quinn segera masuk ke dalam. Tidak lupa wanita itu menutup pintu ruangan tersebut. "Sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan Daddy. Selama beberapa hari ini Daddy menghilang tanpa kabar. Apa Daddy marah padaku?"


"Tidak," jawab Luca singkat.


"Lalu, kenapa Daddy menghindariku?" Quinn akhirnya berani untuk bertanya kembali.


"Karena semakin dewasa kau semakin tidak patuh. Daddy tidak pernah marah padamu Daddy hanya sedang mengintropeksi diri. Daddy ingin mencari tahu di mana letak kesalahan Daddy. Tetapi sampai detik ini Daddy tidak menemukannya. Daddy hanya tidak mau membuat orang-orang yang aku cintai merasa kecewa," pungkas Luca.


"Daddy adalah Ayah terbaik yang ada di dunia ini. Aku selalu merasa bangga karena telah memiliki Ayah seperti Daddy. Perdebatan kemarin hanya perdebatan kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Bukankah Daddy sendiri yang mengajariku. Jika aku menginginkan sesuatu, aku harus bisa mendapatkannya. Apapun yang halangan yang nantinya ingin menjatuhkanku. Lalu aku menginginkan dia. Dan halangan itu ada pada Daddy. Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana? Apakah aku tetap mengikuti perintah yang dikatakan. Atau aku tetap memegang prinsip yang dulu sempat Daddy tanamkan kepadaku ketika aku masih kecil?" Quinn berhasil memojokkan Luca.


"Dia juga seorang ketua mafia. Musuhnya sangat banyak. Sama seperti Daddy. Daddy hanya tidak mau kau celaka Queen. Daddy sangat menyayangimu." Luca mengusap tangan Quinn.


"Jika saja dia bukan seorang ketua mafia, mungkin Daddy tidak akan seberat ini," imbuh Luca.


"Daddy, mau dia ketua mafia atau bukan itu sama sekali tidak mengubah segalanya. Musuh Daddy akan selalu ada. Mereka akan terus mengincar keluarga kita. Justru jika aku bersatu dengan Dimitri, itu akan semakin memperkuat pertahanan kita." Quinn membela Dimitri.


"Sayang, kau tidak benar-benar terjun ke dunia mafia. Kau hanya membantu mereka dalam hal teknologi saja. Kau tidak pernah tahu betapa kejamnya dunia gelap itu. Nahkan terkadang orang terdekatmu saja bisa menjadi musuh," elak Luca.

__ADS_1


"Jadi Daddy benar-benar tidak akan pernah merestui hubungan kami?" tanya Quinn.


Quinn menundukkan kepala dengan wajah kecewa. Quinn benar-benar sedih. Usahanya telah gagal untuk mendapatkan restu dari ayah kandungnya sendiri.


"Apakah kau akan marah pada Daddy jika Daddy katakan kalau Daddy tidak merestui hubungan kalian?" Tiba-tiba saja Luca ingin tahu seperti apa reaksi putrinya.


"Aku tidak akan pernah marah sama Daddy. Bagaimanapun juga Daddy adalah orang tua kandungku. Tapi apakah tidak ada sedikit saja kebaikan Dimitri di mata Daddy? Apa dia memang benar-benar pria yang buruk? Bukankah Daddy sendiri yang bilang kalau setiap orang pernah melakukan kesalahan tugas kita memberinya kesempatan terakhir untuk berubah." Quinn mendaratkan satu kecupan di pipi Luca. Sepertinya itu merupakan sogokan supaya Luca bersedia memberikan restu.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Quinn membuat Luca kembali bernostalgia dengan dirinya sendiri. Dulu cara dia untuk mendapatkan Tiffany juga sangat buruk. Ada banyak sekali wanita yang patah hati dibuat olehnya.


Bukan hanya satu atau dua wanita yang ia tiduri bahkan ada beberapa. Meskipun pada akhirnya Luca bisa bertanggung jawab terhadap anak yang dilahirkan oleh Tiffany. Tetap saja pria itu pernah menyandang sebagai pria brengsek.


"Kenapa Daddy diam saja? Apa memang benar-benar tidak ada sedikitpun kebaikan Dimitri di mata Daddy?" batin Quinn dengan wajah kecewa.


"Sebenarnya bisa jadi akui kalau Dimitri sangat hebat dalam hal bela diri. Jika ada musuh yang menyerang daddy yakin dia pasti akan melindungimu. Begini saja. Jika memang kalian benar-benar saling mencintai, tunjukkan pada Daddy kalau kalian benar-benar mencintai. Dan kalau pada akhirnya kalian akan berjodoh tanyakan pada Dimitri. Untuk memilih antara dirimu atau geng mafianya. Jika dia memilihmu, maka ia harus meninggalkan geng mafianya. Lalu sebaliknya. Jika dia tidak memilihmu dia bisa kembali kepada geng mafianya," tegas Luca.


"Itu pilihan yang sangat sulit. Bagaimana kalau geng mafia itu sudah mendarah daging di tubuhnya? Bagaimana kalau kehidupan Dimitri bergantung pada geng mafianya? Jika dia melepas geng mafia yang selama ini ia pimpin, semua musuh akan segera menyerangnya dan itu akan mengancam nyawanya sendiri!" Quinn terlihat tidak setuju.


"Quinn, Daddy hanya meminta dia untuk memilih. Tidak memintanya benar-benar meninggalkan geng mafianya. Dari situ kita akan tahu seberapa besar cintanya terhadapmu!" Luca memberikan ide terbaik untuk putrinya.


Quinn kembali terdiam. Saran yang diberikan oleh ayah kandungnya itu memang cukup menarik. Namun Quinn sendiri merasa cemas. Dia takut jika pada akhirnya nanti Dimitri justru lebih memilih geng mafia yang selama ini ia pimpin daripada dirinya.


"Oh iya. Bagaimana dengan pria yang dijodohkan oleh Mommymu? Kau juga tidak boleh melupakannya. Jika sudah berhubungan dengan Mommy, Daddy juga tidak akan bisa berbuat apa-apa." Luca kembali mengingatkan Quinn kalau sekarang ada Xander yang harus mereka pikirkan.


"Daddy kepalaku benar-benar pusing. Sebaiknya aku ke kamar saja untuk mandi. Aku tidak mau membahas masalah ini lagi. Besok-besok jika waktunya sudah senggang, kita akan bicarakan lagi. Saran yang Daddy berikan tadi akan aku pikirkan lagi." Quinn mengecup pipi Luca sebelum pergi meninggalkan pria itu sendirian di dalam ruangan pribadinya. Ketika Quinn telah menghilang Luca membuka dua foto pria yang sejak tadi ada di atas mejanya.

__ADS_1


"Dimitri dan Xander. Sebenarnya mereka berdua sama-sama baik. Sepertinya putriku memang benar-benar hebat sampai-sampai diperebutkan oleh dua pria seperti ini." Kepala Luca mengangguk. Bohong bila Luca tidak ingin mengetahui siapa yang akan memenangkan Quinn. Senyuman lebar terbit di bibirnya.


"Persaingan yang menarik."


__ADS_2