
"Kau sudah sehat, Quinn?" tanya Tuan Neo. Pria berusia paruh baya itu mendapatkan kabar dari Luca untuk mengawasi Quinn di tempat kerja. Sebagai bawahannya, tentu saja Tuan Neo mengikuti perintah Luca. Untuk itulah pagi-pagi Tuan Neo datang untuk melihat keadaan Quinn.
"Anda tahu kalau saya tidak enak badan?" Quinn terkejut karena Tuan Neo mengetahui keadaannya.
"Jangan terkejut. Biar bagaimanapun aku ini adalah bawahan Tuan Luca. Jangan bekerja terlalu berat, Nona Quinn," kata Tuan Neo.
"Baiklah, Tuan. Terima kasih atas kebaikan Anda. Kalau begitu aku akan bekerja dulu." Quinn mengembangkan senyumannya. Tuan Neo pun tak bisa menolak keinginan Quinn. Tuan Neo hanya akan mengawasi dan menghandle perusahaan selama Luca tidak masuk ke kantor.
Quinn mulai bekerja dengan penuh semangat. Padahal dia kemarin baru saja pingsan. Tapi, tidak ada yang bisa menyurutkan semangat Quinn. Wanita itu tetap bekerja dengan giat walaupun sudah banyak orang yang menasehatinya supaya dia tidak terlalu membuang tenaga dan mengabaikan kesehatannya.
Dari kejauhan, Sherly terus mengawasi gerak-gerik Quinn. Tadi pagi Sherly sudah memasang alat penyadap supaya bisa mengamati Quinn dan tidak melewatkan petunjuk apapun.
Saat Quinn bekerja giat, waktu pun terus berjalan. Tidak ada lagi yang bisa menegur Quinn yang memaksa bekerja itu. Sampai akhirnya waktu istirahat pun telah tiba. Sherly berjalan cepat menuju ke meja Quinn.
"Ayo, kita istirahat, Quinn. Sepertinya kita akan terlambat untuk mendapatkan lauk enak buat makan siang. Bagaimana menurutmu?" Sherly mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Quinn masih belum berdiri dari kursinya.
"Bisa tidak kau jangan sering mengomel begitu? Kau bisa cepat tua nanti, Sherly. Sedikit lagi. Sebentar ya." Quinn menyelesaikan pekerjaannya yang nanggung. Kali ini Sherly memilih mengalah. Walaupun ia juga tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
"Quinn! Di lobby perusahaan ada dua pria yang ingin bertemu denganmu. Bagaimana?" Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang datang. Itu Belle sang resepsionis.
"Kau datang ke sini sendiri? Bagaimana ciri-ciri dua tamu itu? Kau bagaimana bisa ada di sini?" tanya Quinn.
"Bukankah ini jam makan siang?" Resepsionis itu tersenyum. Membuat Quinn malu. Quinn hampir melupakan waktu istirahat. Wanita itu pun menganggukkan kepalanya. Kemudian Quinn berjalan cepat menuju ke lobby.
"Dua pria? Bukankah itu Dimitri dan juga Xander? Si*l! Bagaimana ini? Bisa-bisanya Quinn kedatangan dua orang itu," rutuk Sherly.
Wanita itu memutuskan untuk mengikuti langkah kaki Quinn. Sherly tidak bisa melewatkan sesuatu. Sherly harus ikut kemanapun Quinn pergi. Apalagi ini di kantor. Pasti akan sangat mudah Sherly buat mengikuti Quinn. Begitu Sherly dan Quinn tiba di lobby perusahaan, dua orang itu tersenyum.
"Mengapa kau ada di sini?" Dimitri bertanya kepada Xander mengapa dia ada di perusahaan Quinn.
"Kenapa kau bilang? Justru aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau ada di sini?" Xander bertanya balik.
"Kau tahu kalau Quinn bekerja di sini lalu kau mengikutinya!"
Yang membuat Dimitri heran adalah mengapa Xander berani datang ke perusahaan Quinn? Sedangkan dia sudah memberitahukan bahwa dia dan Quinn sedang menjalin hubungan.
__ADS_1
"Ini bukan perusahaanmu. Kenapa kau terlihat kesal?" Balas Xander.
"Tentu saja aku wajar bila ada di sini. Karena kekasihku ada di sini. Lalu kau? Sedang apa kau berada di sini? Ini perusahaan tunanganku." Dimitri tidak ingin kalah. Pria itu langsung mengatakan apabila dirinya merupakan kekasih Quinn. Mendengar kata-kata dari Dimitri membuat Xander kesal. Pria itu menatap tajam pada Dimitri yang membusungkan dada dan menyambungkan keberhasilannya dalam mendapatkan hati Quinn.
"Aku ini teman Quinn. Bukankah aku juga sahabatmu? Apakah pantas kau masih bertanya tentang hal itu?" Xander tidak ingin mengalah. Pria itu juga menegaskan bahwa hubungannya dan Quinn sama spesialnya. Walaupun hanya sebatas seorang teman saja.
"Tentu saja! Aku ini kekasih Quinn! Yang memiliki hak lebih banyak dibandingkan dirimu. Kau kan hanya teman biasa saja!" Dimitri memojokkan Xander. Pria itu tersenyum sinis ketika melihat Xander tampak kesal terhadapnya.
"Berhenti!" teriak Quinn.
Tentu saja dua pria itu tersentak kaget. Quinn berjalan menuju ke meja resepsionis. Di mana ada dua orang pria yang menghentikan aksi keroyokan itu.
"Quinn?" Xander berjalan mendekati Quinn. Akan tetapi, Quinn malah berjalan menuju ke arah Dimitri.
"Kau tidak apa-apa, Dimitri?" tanya Quinn.
Dimitri menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Sejujurnya Dimitri juga takut apabila Quinn pergi bersama temannya yang tak tahu diri itu. Untuk itulah, begitu Dimitri yang mengetahui bila Xander berniat datang ke kantor Quinn, maka Dimitri segera pergi.
"Aku baik-baik saja. Karena kemarin kau sakit, jadi aku datang membawa salad buah. Buatanku sendiri. Ini supaya tubuhmu tidak lemas lagi, Quinn," ungkap Dimitri.
Di depan matanya sendiri Dimitri masih saja ingin menjerat Quinn. Mereka berdua sahabat. Tapi, mengapa Dimitri tidak mau mengalah? Xander mengepalkan kedua tangannya.
Bruk!
Semua orang terkejut bukan main. Saat melihat Quinn terjatuh pingsan. Kota bekal makanan dilemparkan ke segala arah oleh Dimitri. Kemudian Dimitri mendekati tubuh Quinn.
"Sudah waktunya!" batin Sherly dalam hati.
"Tuan Dimitri, bawa Quinn ke rumah sakit XXCC saja." Sherly membujuk Dimitri supaya membawa Quinn ke rumah sakit yang telah ditentukan oleh atasannya.
"Kenapa harus ke rumah sakit itu? Tidak! Quinn harusnya dibawa ke rumah sakit terbaik yang ada di kota ini! Biar aku saja yang menggendongnya!" Xander berusaha menggendong tubuh Quinn.
"Tidak! Kau minggirlah! Aku ini kekasihnya. Jelas aku yang lebih berhak daripada kau!" Dimitri berhasil menggendong tubuh Quinn. Dia berniat untuk membawa ke tempat dokter ahli terbaik.
Di sisi lain, Sherly mulai panik. Wanita itu berusaha meyakinkan supaya Dimitri membawa Quinn pergi ke rumah sakit yang telah ditentukan. Namun, Sherly tidak kagi berani mendesak setelah mendapatkan tatapan tajam dari Xander.
__ADS_1
"Gawat! Pria ini sepertinya mencurigaiku. Tidak! Aku tidak boleh terlalu memperlihatkannya. Jangan sampai mereka berdua mencurigaiku. Ya Tuhan! Hancur sudah hidupku jadi begini! Dimitri si*lan ini pasti tidak akan membawa Quinn ke rumah skit yang aku katakan. Melihat dari perangainya dia memang terlihat buruk," oceh Sherly dalam hati.
Xander meminta supaya Dimitri menggunakan mobilnya. Namun, lagi-lagi Dimitri menolaknya. Membuat Xander berdecak kesal saat melihat Dimitri malah masuk ke dalam mobilnya sendiri.
"Si*l!" umpat Xander.
Dimitri dan Sherly pun bergegas untuk segera membawa Quinn menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Sherly terus gelisah. Bagaimana jika dia ketahuan? Semua orang pasti akan mendepaknya supaya berjauhan dengan yang lain.
"Dokter! Dokter! Tolong, dokter!" Dimitri berteriak sepanjang lorong rumah sakit. Pria itu juga masih dalam keadaan menggendong Quinn.
Seolah Dimitri sama sekali tidak terganggu dengan berat tubuh Quinn. Pria itu masih saja lari ke sana dan sini buat mencari dokter. Sampai akhirnya mereka semua mendapatkan dokter agar menangani Quinn.
"Dokter, tolong kekasih saya!" ucap Dimitri pada seorang dokter.
Tentu saja sang dokter hanya menganggukkan kepala tanpa berniat menjawabnya. Ketiga orang yang masih dilanda panik itu hanya duduk lemas di kursi tunggu. Dimitri dan Xander bertingkah lagi. Mereka berdua saling berdempetan tanpa benang. Berbeda dengan Xander dan Dimitri, Sherly justru tidak ingin Quinn selamat.
"Tapi, racun yang aku gunakan bukan untuk membunuh Quinn. Aku harus bagaimana ini? Dokter yang sudah disiapkan, mengapa Dimitri tidak mendengarkan aku berbicara?" gumam Sherly dalam hati.
"Dokter, bagaimana?" tanya Dimitri begitu melihat dokter yang menangani Quinn sudah keluar dari UGD.
Terlihat sang dokter menghela napas panjang. Pria berusia paruh baya itu, berdehem sejenak. "Nona yang Anda bawa ke tempat ini. Dia mengalami keracunan!" jelas Dimitri.
Deg! Sherly semakin tidak tahu harus bagaimana. Tidak menyangka akan datang hari ini. Sherly memejamkan kedua matanya. Ingin sekali Sherly menghilang.
"Racun? Racun apa?" tanya Dimitri.
"Bagaimana bisa keracunan? Itu mustahil!" bantah Xander.
"Pasien mengalami keracunan. Itu disebabkan pasien meminum kopi. Sehingga menyebabkan racun bereaksi. Jadi, intinya. Racun yang ada di tubuh pasien akan bereaksi aktif setelah pasien minum kopi. Untuk lebih jelasnya kami akan memeriksa lebih lanjut agar bisa mengetahui komponen-komponen dari racun itu," jelas dokter.
"Itu tidak mungkin," lirih Dimitri.
Deg!
"Sherly, kau akan hancur," batin Sherly.
__ADS_1
Akankah Quinn selamat dari racun itu?