
Sherly menangis pilu melihat tatapan Dimitri dan Luca yang begitu menakutkan. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Dia berharap tangisan palsunya bisa meluluhkan hati Luca dan Dimitri. Agar dia bisa terbebas dari hukuman yang ingin diberikan oleh orang-orang yang diperintahkan oleh Tuan Nio.
“Tolong selamatkan saya. Saya tidak pernah memiliki niat untuk mencelakai Quinn. Tolong. Dia mengancam saya,” ucap Sherly. Jika saja saat itu dia bisa berlutut, mungkin dia sudah berlutut dan memohon ampun. Sayangnya Dimitri mencengkram tangannya dengan begitu erat hingga membuatnya tidak bisa berlutut.
“Kau pikir kami percaya begitu saja dengan apa yang kau katakan? Cukup Quinn saja yang tertipu!” Dimitri mendorong Sherly hingga wanita itu terjungkal di lantai yang begitu keras. Lututnya berdarah hingga mengeluarkan rasa perih yang begitu luar biasa. Namun, tidak ada yang peduli di sana. Termasuk Luca.
“Joa, kurung wanita ini!” perintah Dimitri.
Luca mengernyitkan dahinya. Dia mengangguk pelan melihat Joa muncul secara tiba-tiba dan menyeret Sherly dengan begitu kasar. “Seperti inilah kerja mafia! Aku senang melihatmu bisa mengatasi masalah dengan mudah. Sayangnya masalah kita belum selesai. Kita harus tahu siapa dalang dari semua ini!” Pria paruh baya itu melangkah pergi. Dia ingin segera melihat putrinya.
__ADS_1
Tidak dengan Dimitri. Seperti apa yang dikatakan oleh Luca tadi. Musuh mereka masih berkeliaran di luar sana. Mereka harus segera menangkapnya. Jangan sampai lolos. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menangkapnya.
“Kau tidak ingin bertemu dengan Quinn?”
Pertanyaan Luca membuat Dimitri menahan langkah kakinya dan memandang wajah calon mertuanya itu. “Tugas saya belum selesai. Saya harus segera menyelesaikan semuanya. Sekarang keadaan Quinn juga sangat buruk. Saya tidak akan membuat Quinn menderita lebih jauh lagi. Dia akan ditangani oleh Dokter Fei tanpa ada gangguan pihak musuh. Untuk mewujudkan semua itu, saya harus mengalahkan mereka sebelum mereka menciptakan strategi baru untuk menyerang kita. Saya permisi, Tuan!”
Luca memandang punggung Dimitri sampai pria itu masuk ke mobil dan mobil yang ditumpangi melaju cepat. Setelah keadaan kembali sunyi, seorang pria berpakaian rapi muncul di sana. Di menunduk hormat di hadapan Luca. Seperti ada informasi yang ingin dia sampaikan.
“Kau yang membuat keributan di bawah tadi?” tanya Luca penuh selidik.
__ADS_1
“Benar, Tuan. Saya melihat sosok yang mencurigakan seperti ingin menyabotase mobil anda. Kami mengejarnya dan harus menggunakan senjata untuk melumpuhkannya,” jelas pria itu apa adanya.
“Lalu, kenapa keadaan berubah hening saat aku tiba di bawah?”
“Karena musuh yang kita hadapi hanya satu orang. Apa ada tugas lain yang ingin anda berikan kepada saya, Tuan?”
Luca melangkah menjauh lalu membelakangi pria tersebut. “Joni, kau pasti tahu kalau Quinn sangat berharga bagiku. Aku rela mengorbankan segalanya demi Quinn. Meskipun aku sudah memiliki dua anak laki-laki, selamanya Quinn akan tetap menjadi yang berharga. Dan kau tahu itu. Kenapa masalah ini sampai terjadi? Aku sangat kecewa padamu. Kau sangat tidak bisa dihandalkan!”
Joni langsung berlutut dengan kepala menunduk. “Maafkan saya, Bos. Saya memang salah! Saya janji akan mencari penawar racun itu. Meskipun nyawa saya taruhannya!”
__ADS_1