My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 46 Rencana Sherly


__ADS_3

"Sayang, Mommy sama Tante Viana ke halaman samping sebentar ya. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan. Kau dan Xander bisa mengobrol." Tiffany memandang ke arah Xander. "Xander, Tante titip Quinn ya."


"Baik, Tante," jawab Xander dengan senyuman ramah yang dipaksakan. Meskipun begitu, dia memang pria yang baik.


"Aku tahu tidak ada yang mereka bicarakan di sana. Mommy dan Tante Viana pasti sengaja pergi agar aku bisa berduaan bersama dengan pria ini. Dasar orang tua. Jalan pikirannya mudah sekali ditebak. Apa mereka pikir dengan cara seperti ini aku dan pria di depanku ini bisa berjodoh?" batin Quinn kesal.


"Quinn, Apa kau tidak suka bunga?" tanya Xander untuk memecah suasana sunyi di ruangan itu.


"Apa kau yang mengirim bunga itu?" Quinn bahkan bicara tanpa mau memandang wajah Xander. Dia lebih tertarik memperhatikan perabotan yang ada di rumah tersebut.


"Ya. Dan aku lihat dengan mata kepalaku sendiri ketika kau membuangnya ke tong sampah," sindir Xander. Pria itu ingin tahu seperti apa reaksi wajah Quinn. Apa wanita itu akan panik dan langsung mencari alasan. Atau meminta maaf secepatnya.


"Itu karena aku tidak suka dengan bunga," jawab Quinn tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Kenapa semua pria ketika ingin mendekati seorang wanita harus menggunakan cara yang sama? Tidak semua wanita menyukai bunga. Tidak semua wanita bisa luluh hanya dengan diberikan bunga!" sambung Quinn lagi hingga membuat Xander kaget bukan main. Jawaban wanita itu di luar perkiraannya.


"Ya, aku tahu. Kau ini adalah wanita yang begitu unik. Jadi untuk menghindari kesalahan yang sama, bisakah kau katakan padaku sebenarnya benda apa yang sangat kau sukai? Besok-besok ketika ingin bertemu denganmu lagi, Aku akan membawanya." Xander sendiri tidak habis pikir dengan dirinya. Kali ini dia justru menurunkan harga dirinya di depan seorang wanita. Selama ini justru dia selalu jual mahal jika ada wanita yang suka padanya.


"Tidak ada. Karena aku bisa membeli apapun yang aku inginkan," ketus Quinn dengan wajah jutek.


Xander mengangguk pelan. Sepertinya pria itu tidak mau menyerah. "Apa kau membenciku? Apa Aku melakukan kesalahan? Bukankah ini pertemuan pertama kita. Tetapi kenapa kau terlihat tidak suka dan bersikap seolah kita ini adalah musuh."


"Benar. Kenapa aku jadi menyalahkannya?" batin Quinn. "Maafkan Aku, Xander. Aku sama sekali tidak membencimu karena memang kau tidak pernah melakukan kesalahan. Aku hanya kesal dengan Mommy dan Tante Viana. Mereka suka sekali menjodoh-jodohkan," ucap Quinn pada akhirnya.


"Kau tidak suka dijodohkan denganku?" Xander menunjuk dirinya sendiri.


"Lalu, apakah kau suka jika dijodohkan denganku?" tanya Quinn balik tanpa mau menjawab pertanyaan Xander.


"Tidak ada alasan bagiku untuk menolakmu Quinn. Kau ini wanita yang sempurna dan unik. Aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama." Xander lagi-lagi mengukir senyum ramah agar Quinn terpikat olehnya.


"Tuan Xander yang terhormat. Tolong jangan katakan kata-kata manis seperti itu karena telingaku sudah sering mendengarnya. Setiap pria memang suka sekali merayu. Namun ketika ia berhasil mendapatkannya, dia juga akan sangat mudah untuk menyakiti dan mengabaikannya begitu saja."


"Didengar dari cara bicara Anda sepertinya Anda ini sering sekali disakiti oleh pria. Apakah itu benar?" tebak Xander asal saja.


"Anggap saja seperti itu dan sekarang saya tidak mudah untuk percaya dengan kata-kata yang dikatakan seorang pria. Termasuk anda!" Rasanya Quinn ingin sekali segera kabur meninggalkan ruangan itu.


"Sayang sekali saya datang terlambat. Jika sejak dulu kita kenal mungkin detik ini kita sudah saling mencintai. Karena prinsip saya, jika menyukai seorang wanita maka saya akan selalu dan selalu melindunginya." Kali ini wajah Xander terlihat bersungguh-sungguh. Dia menunjukkan keseriusannya terhadap Quinn. "Apapun itu akan aku lakukan Quinn. Kau wanita yang pantas diperjuangkan," batin Xander.


"Keinginan Anda sangat sederhana. Semoga saja Anda bisa segera menemukan wanita yang juga menyukai anda." Quinn mengambil ponselnya yang baru saja berdering. Wajahnya berubah ceria ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh Sherly.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa dia pria yang membosankan? Jika kau tidak suka bagi saja padaku."


Quinn memasukkan ponselnya ke dalam tas sebelum dia memandang ke arah Xander lagi. "Apa anda suka club' malam?"


...***...


Xander masih tidak habis pikir ketika Quinn mengajaknya pergi ke club' malam. Meskipun begitu, dia tetap menurutinya. Xander ingin terlihat seperti pria yang berguna di mata Quinn.


Malam ini mereka akan datang ke club' malam yang cukup terkenal di kota itu. Quinn sendiri sempat berhenti di mall dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang terbuka dan cukup seksi. Entah apa yang sekarang ada di dalam pikiran wanita itu.


"Semoga saja rencana Sherly berhasil. Aku sudah susah-susah mengganti pakaianku menjadi seperti ini. Aku tidak mau sampai gagal. Pokoknya di depan Xander nanti, aku harus terlihat seperti wanita liar agar dia tidak jadi suka padaku. Karena jika dia benar-benar mencintaiku, bisa gawat. Aku akan sulit untuk menentang Mommy. Sebelum semua terlambat, sebaiknya sekarang aku buat dia mundur saja," batin Quinn sambil memandang ke luar jendela.


Depan perjalanan menuju ke club' malam memang mereka tidak saling bicara. Hingga tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran. Quinn langsung turun begitu saja tanpa mau menunggu Xander. Sedangkan Xander hanya tersenyum tipis melihatnya. Dia juga turun dan mengikuti Quinn dari belakang.


"Sebenarnya aku tidak terlalu suka tempat seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi?" umpat Quinn pada dirinya sendiri.


"Kau sering ke sini, Quinn?" tanya Xander yang kini sudah berada di samping Quinn.


"Ya. Aku sering sekali ke sini. Pria di sini cukup tampan dan gagah. Aku suka menari dan mencoba minuman yang ada," dusta Quinn dengan ekspresi yang menyakinkan.


"Oh ya?" Xander melirik penjaga di depan pintu. Mereka berdua sama-sama masuk ke dalam. "Minuman apa yang menjadi favoritmu?"


"Apa saja. Aku menyukai semua yang dijual di sini," sahut Quinn pada akhirnya. Mereka berdua duduk di kursi bar yang kosong.


Xander memesan dua minuman ketika bartender itu muncul dihadapannya. "Sepertinya biasa?" tanya pria itu.


Quinn memiringkan kepalanya ke samping. "Kau sering ke sini?"


Xander menggeleng. "Club' ini milik temanku. Aku hanya beberapa kali ke sini. Dan setiap kali ke sini aku selalu memesan minuman yang sama. Kau bisa mencobanya karena tidak mengandung alkohol," jawab Xander apa adanya.


Quinn memperhatikan club' malam itu dengan saksama. Hingga akhirnya dia menemukan Dimitri yang baru saja tiba. Kedua matanya melotot sampai hampir keluar. Wanita itu tidak percaya kalau dia akan bertemu dengan Dimitri di tempat itu.


"Gawat! Kenapa dia bisa ada di sini juga," batin Quinn. Namun Quinn tidak pernah kehabisan akal. Tiba-tiba saja sebuah rencana muncul di dalam pikirannya.


"Quinn, apa yang kau lihat?"


"Aku lihat ada pria tampan di sana. Aku akan mengajaknya menari." Quinn segera turun dan berjalan menghampiri Dimitri. Sedangkan Xander menopang kepalanya dengan tangan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mau sampai kapan dia bersikap seperti ini? Apa dia pikir aku tidak tahu kalau semua ini dia lakukan agar aku tidak menyukainya? Kau salah Quinn. Justru aku semakin tergila-gila padamu."


Dimitri beranjak dari sofa yang ia duduki melihat Quinn muncul di sana. Joa yang juga ada di sana terlihat tidak suka karena Quinn muncul di saat mereka akan melakukan transaksi penting.


"Quinn, apa yang kau lakukan di sini?" Dimitri memperhatikan penampilan Quinn dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Pakaianmu?" Pria itu segera membuka jas yang ia kenakan.


"Tolong aku," ucap Quinn.


"Tolong? Siapa yang ingin mencelakaimu Quinn?" Pria itu ingin menutupi tubuh Quinn yang terbuka dengan jas. Namun Quinn menolaknya.


"Ayo kita ke sana untuk menari." Tanpa menunggu persetujuan dari Dimitri, wanita itu menariknya dan mengajaknya untuk bergabung dengan yang lain.


Joa menautkan kedua alisnya. Di tambah lagi ketika Dimitri memberi kode agar pertemuan ini di ganti lain waktu.


"Tuan, maaf sekali. Bos Dimitri memiliki kesibukan lain," ucap Joa dengan senyuman penuh hormat.


"Kesibukan dengan seorang wanita maksudmu? Kalau sudah membuang-buang waktuku!" umpat pria itu sebelum akhirnya pergi.


Joa merapikan jasnya sebelum berdiri tegak sambil mengawasi Dimitri dari kejauhan. Pria itu sangat waspada karena takut ada musuh yang mengincar nyawa mereka.


"Hei, Quinn. Apa kau mabuk?" Dimitri mendekatkan hidungnya di mulut Quinn. Namun dia tidak mencium bau alkohol di sana.


"Aku tidak mabuk. Bahkan aku belum meminum apapun. Aku mau dijodohkan dengan seorang pria. Aku tidak suka. Jadi aku membawanya ke sini. Aku merubah penampilanku agar tidak lagi tertarik padaku," jelas Quinn singkat.


"Dijodohkan? Quinn, itu masalah yang gampang. Dimana dia? Aku akan memberinya pelajaran." Dimitri terlihat semangat sekali meskipun dia dan Quinn belum jadian.


"Jangan! Dia anak dari sahabat Mommy. Nanti bisa repot urusannya. Yang penting sekarang, kau menurut saja. Ikuti semua yang aku perintahkan. Bagaimana?" Quinn menanti jawaban dari Dimitri dengan perasaan ragu.


"Baiklah. Tapi, apa bayarannya?"


"Bayaran?" Quinn terlihat protes.


"Tidak ada yang gratis bukan?" Dimitri menyeringai.


"Kau ini. Memangnya berapa bayaranmu?"


"Aku tidak butuh uang. Aku butuh-" Dimitri menahan kalimatnya melihat seseorang berdiri di dekatnya. "Xander! Kenapa kau tidak memberi kabar kalau mau datang ke sini?"

__ADS_1


Quinn mengernyitkan dahi sebelum memandang ke samping. Wanita itu syok bukan main ketika melihat Xander yang baru saja di sapa oleh Dimitri adalah Xander yang bersama dengannya tadi.


"Ka ... kalian saling kenal?"


__ADS_2